
" Mom, aku mau liburan ya." ucap Tania di kantor Agency Madam Soraya.
Perempuan yang sudah tidak muda lagi itu mengernyitkan alisnya. Menatap tajam ke arah Tania.
" Mau liburan kemana? ke Bali?" tanyanya.
" Ke Bandung." jawab Tania
" Bandung?" Madam Soraya heran karena Tania lebih memilih Bandung untuk tempat liburannya. Ia kira Tania akan memilih Bali, atau tempat yang lebih terkenal untuk destinasi liburannya.
" Iya Mom." jawab Tania.
" Berapa hari?" Madam Tania duduk di kursinya dengan santai.
" Sebulan." jawab Tania.
" No,,, kelamaan honey... seminggu aja." Tukas Madam Soraya.
Tania mendengus kesal. Seminggu di Bandung terlalu sebentar.
" Dua minggu Mom." Tania memelas.
" Tidak ada tawar menawar sayang, job kamu sudah menunggu." Madam Soraya tersenyum.
Tania berdesis kesal. Persetan dengan job.
Tania meninggalkan ruangan Madam Soraya. Ia bergegas menuju apartemennya. Sudah tidak sabar untuk segera meluncur ke Bandung.
Tania memasukkan beberapa potong baju ke dalam kopernya. Hari itu juga ia akan langsung ke Bandung. Tidak ingin memunda waktu lagi.
Celana jeans ketat, t-shirt putih, rambut hitam tergerai dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Tidak memakai banyak make up hanya bedak dan eyeliner juga sedikit lipglos di bibirnya. Tapi Tania sudah terlihat sangat cantik.
Dia memutuskan untuk nyetir sendiri ke Bandung. Mobil yang di pakainya begerak menyusuri jalanan yang ramai lancar.
" Tunggu aku Rio" gumamnya tersenyum.
*****
" Sayang perut aku aaahhh...." Teriak Anindya dari dalam kamar mandi.
Rio segera berlari menghampiri Anindya.
" Kenapa sayang?"
__ADS_1
Rio mendapati tubuh Anindya yang lemas, darah segar sudah mengalir di kedua kakinya. Rio panik.
" Ibu tolong." teriak Rio.
" Kenapa?" Bu Hera datang tergopoh.
Wajah Rio sudah pucat pasi. Sementara Anindya terus merintih kesakitan dengan wajah yang sudah putih seperti kapas.
" Cepat bawa ke rumah sakit Rio." Bu Hera ikut panik.
Rio segera mengangkat tubuh Anindya dan membawanya ke mobil.
" Mas perutku sakit sekali..." rintih Anindya memegangi perutnya.
" Sabar ya sayang, kita ke dokter." Rio segera menyalakan mesin mobil dan langsung menuju rumah sakit terdekat. Ia sudah kelihatan panik tapi berusaha untuk tetap konsentrasi menyetir. Sesekali ia berpaling pada Anindya yang terus merintih kesakitan
" Sabar sayang sebentar lagi kita sampai." Mobil Rio memasukinya area rumah sakit. Langsung berhenti di depan ruang IGD.
Petugas rumah sakit dengan sigap memindahkan tubuh Anindya ke atas ranjang dorong dan membawanya ke ruang tindakan.
Rio menunggu dengan jantung berdebar. Ya Tuhan selamatkan istri dan anak hamba.
Rio berjalan mondar mandir di depan ruang tindakan. Terlihat sekali kalau ia begitu tegang.
" Rio duduk sini." Bu Hera menepuk bangku kosong di sampingnya.
Pintu terbuka seorang perawat keluar tergopoh-gopoh.
" Bagaimana istri saya sus?" tanya Rio panik.
" Istri bapak kehilangan banyak darah." jawab suster berlalu pergi dengan cepat, lalu kembali dengan membawa kantung darah di tangannya.
Rio terlihat makin frustasi. Kedua matanya sudah memerah menahan tangis.
Terdengar suara tangis bayi yang lirih dari dalam. Sangat kecil. Rio berdebar. Mungkinkah itu anaknya? Lahir sebelum waktunya? Rio mengusap mukanya kasar.
Beberapa saat lamanya pintu terbuka dan dokter perempuan yang menangani Anindya itu keluar.
" Bagaimana dok istri saya." tanya Rio bergetar.
" Istri bapak sudah melahirkan secara prematur. Tapi sekarang keadaannya kritis karena kehilangan banyak darah. Anak bapak laki laki. Silakan kalau mau lihat dulu sebelum di bawa ke ruang bayi." jelas dokter.
Rio merasa tubuhnya lemas tak berdaya. Apalagi saat melihat Anindya terbujur lemah di atas ranjang dan di dorong oleh dua orang perawat menuju ruang ICU.
__ADS_1
" Anindya,sayang bangun." Rio tak kuasa lagi menahan tangisnya. Tangisnya pecah saat melihat Anindya yang tak sadarkan diri tergolek lemah di atas tempat tidur. Wajahnya begitu pucat dengan selang infus dan transfusi darah menempel di kedua tangannya.
" Maaf Pak ibu Anindya harus segera mendapat tindakan." Suster memberi tahu karena Rio sempat menahan laju tempat tidur yang di dorong suster itu.
Rio segera melepaskan pegangannya dan membiarkan Anindya di bawa oleh perawat perawat itu.
" Bapak mau lihat bayinya dulu." Seorang suster keluar dan memberi tahu Rio yang masih terisak.
" Iya suster." Rio segera masuk ke dalam ruangan. Terlihat bayi mungil yang ringkih di dalam sebuah tabung inkubator.
Lagi lagi air mata Rio mengalir tak terbendung. Ia lantunkan Adzan di dekat telinga anaknya itu walaupun terhalang dinding kotak inkubator.
Tangan mungil itu bergerak gerak pelan. Kepalanya terus bergerak lemah dengan penutup Mata menutupi kedua bola matanya.
" Suster, bayi saya sempurna kan sus?" Rio dengan suara parau.
" Alhamdulillah sempurna pak, cuma karena lahir prematur bayi bapak masih perlu perawatan intensif agar kondisinya lebih kuat." jelas suster.
" Tolong lakukan yang terbaik suster untuk anak dan istri saya." suara Rio bergetar.
" Pasti Pak, kami akan lakukan yang terbaik pada setiap pasien kami." Jawab Suster berusaha meyakinkan Rio.
Suster segera membawa bayi laki-laki Rio ke dalam ruang bayi. Rio menatap bayinya dengan nanar.
Bu Hera sudah menangis dari tadi. Perempuan separuh baya itu tak kuat lagi untuk berpura pura tegar di hadapan Rio.
Rio memeluk tubuh Bu Hera, berusaha membuat ibunya tetap tenang meskipun ia sendiri di landa keresahan dan kekhawatiran yang besar.
Rio segera menelpon orang tua Anindya untuk memberi tahu tentang keadaan Anindya sekarang. Terdengar di telepon Pak Haryadi dan Bu Maryanti sangat panik dan mereka memutuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Rio segera menuju ruang ICU, tapi belum saatnya jam besuk jadi ia hanya bisa menunggu di luar saja.
" Mah, Rio ke musholla dulu ya." Rio pamit
Ia ingin menenangkan diri dulu dengan menemui RabbNya. Bu Hera mengangguk. Rio pun segera keluar dari rumah sakit dan menuju mushola yang berada di sebelah parkiran rumah sakit tersebut.
Dengan langkah gontai Rio mengambil air wudhu dan membasuh wajahnya. Hatinya terus menjerit melaungkan doa doa untuk kesembuhan orang orang yang ia sayangi.
Selesai menunaikan dua rakaat shalat sunah mutlak, iapun memanjatkan doa untuk istri dan anaknya. Air mata berlinang dan ia menangis lagi di hadapan RabbNya. Berharap semuanya mendapatkan pertolongan dariNya. Karena sesungguhnya tidak ada daya dan Upaya melainkan atas kuasaNya.
Rio menyudahi ritual ibadahnya saat hatinya mulai sedikit tenang. Ia pasrah kan semuanya pada Sang Maha Pengatur Hidup. Ia pun kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit untuk menunggu jam besuk agar bisa menemui Anindya di ruang ICU.
BERSAMBUNG
__ADS_1