PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Pikiran Nakal


__ADS_3

Anindya memasuki kamarnya dengan jantung berdebar. Kenapa ia tadi menuruti keinginan Rio untuk menciumnya. Mukanya kini memerah. Ah dia malu sekali.


Mencoba untuk segera memejamkan mata, tapi tidak bisa. Pikirannya terus menerus dipenuhi bayangan Rio tadi. Anindya tersenyum sendiri. Dia merasakan benih benih cinta mulai muncul di dalam hatinya. Kini dia menyadari hal itu saat dia merasa tidak rela wanita lain mendekati Rio.


Anindya terus di hantui bayangan Rio, sampai dia merasa jengkel sendiri. Rasanya jadi tidak tenang begini. Ingin rasanya lari ke kamar sebelah tapi ia malu.


Anindya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut mencoba mengusir bayangan wajah Rio dari otaknya. Tapi tetap saja wajah Rio enggan pergi dari benaknya.


" Aaahh kalau begini terus mana bisa aku tidur. " Anindya bangun dari tidurnya, mengacak rambutnya dengan kesal. Dia berjalan ke luar kamar. Apa Rio sudah tidur? Dia membuka pintu kamar Rio, mengintipnya dari celah yang sengaja dia buka sedikit. Terlihat Rio sudah tertidur pulas. Anindya menarik nafasnya pelan. Orang yang dipikirkannya malah sudah tertidur dengan lelapnya. Anindya sedikit kecewa dengan kebodohannya sendiri. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil minum.


Glek... Glek.


Dinginnya air dari dalam kulkas memasuki tenggorokannya. Segar. Mudah mudahan setelah ini ia bisa tidur dengan nyenyak. Ia tidak mau besok masuk kerja dengan kantung mata yang menghitam.


" Astagfirullah. " Anindya kaget ketika di lihat Rio sudah berdiri tepat di belakangnya.


" Kirain sudah tidur. " Anindya berusaha menutupi rasa gugupnya.


" Tidak bisa tidur. " Rio mengeluh sambil terus menatap wajah Anindya lekat.


" Kenapa? " tanya Anindya heran.


" Gara gara kiss night tadi, hayo kamu harus tanggung jawab. " Rio tersenyum menggoda.


" Iih kan kamu sendiri yang minta. " Anindya tersipu malu, padahal dalam hatinya mengakui kalau diapun mengalami hal yang sama.


" Tanggung jawab, kamu harus tidur malam ini denganku ya. " Rio sedikit memohon.


" Nggak ah. " Anindya jual mahal,padahal dalam hatinya bersorak kegirangan.


" Aku mohon, kamu tidak ingin sakitku kumat gara gara kurang istirahat kan? " Rio mencari alasan.


" Iya baiklah. " Anindya mendahului Rio berjalan ke kamar laki-laki itu, dia tidak mau ketahuan kalau sebenarnya dia senang dengan permintaan Rio tersebut.


Yes! Rio mengikuti langkah Anindya dengan perasaan berdebar. Untuk kali ketiga dia akan bobo bareng sama gadis cantik yang kini sudah jadi istrinya itu.


Keduanya kini telah berbaring dengan jantungnya yang berdebar. Suasana mendadak kaku.


" Ya sudah ayo tidur. " Anindya menoleh ke arah Rio yang sedang menatap langit langit kamar. Rio memiringkan badannya menghadap Anindya. Menatap lekat wajah cantiknya. Anindya tersipu malu ditatap seperti itu. Jantungnya makin berdebar tak karuan. Badannya mendadak panas hingga terasa keringat mulai keluar membuatnya sedikit gerah.


Rio menarik tubuh Anindya dalam pelukannya. Mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


" Ayo tidur. " ucapnya lembut.


Anindya memejamkan matanya. Menikmati kehangatan yang menjalar ke dalam hatinya. Menikmati setiap debaran jantungnya. Ah, ia ingin menikmati semua kebahagiaan ini.


Anindya menatap Rio yang sudah terpejam. Muka Rio sedikit memerah. Apakah dia demam lagi? Anindya mencoba mengecek dengan menempelkan tangan di dahinya. Sedikit hangat. Rio demam lagi.


" Jangan bergerak terus aku mohon. " Rio dengan wajah gelisah.


" Kamu demam lagi? " Anindya duduk di samping Rio.


" Aku baik baik saja kalau kamu tidak banyak bergerak, ayo tidur lagi. " Rio menatap Anindya dengan mata yang sayu.


Anindya merasa heran melihat wajah Rio yang sedikit aneh. Dia pun berbaring lagi. Rio memeluk pinggangnya erat. Membenamkan wajahnya disamping kepalanya hingga nafasnya terasa panas di telinganya. Anindya tidak kuat menahan geli di telinganya. Ia mendorong wajah Rio menjauhi kepalanya.


" Kenapa sih ribet banget mau tidur juga. " Rio sedikit frustasi.


" Geli. " Anindya meringis.


Rio menarik kembali tubuh gadis itu. Ia malah mengecup telinga dan tengkuk gadis itu. Anindya menggelinjang merasakan bulu kuduknya langsung berdiri.


" Geli Rio. " Anindya tertawa dan mendorong tubuh Rio.


Rio tertawa melihatnya." Habisnya kamu nakal nggak bisa diam. " Rio mencubit hidung bangir Anindya.


Rio memainkan anak rambut gadis itu.


" Terima kasih sudah merawat ku selama sakit. " ucapnya lirih.


Anindya merasakan kedamaian dalam hatinya. Ia membalas perkataan Rio dengan memeluk pria itu. Sesuatu yang baru kali ini dia lakukan selama berkali-kali ia tidur dengan Rio.


Rio sedikit terkejut mendapatkan pelukan dari Anindya tapi juga sekaligus bahagia. Kemajuan yang signifikan, pikirnya. Rio pun memeluk erat tubuh gadis itu dan mereka pun terlelap dalam mimpi masing-masing.


*****


"Selamat pagi. " Anindya mengecup pipi Rio yang masih terlelap. Ia kemudian bangun perlahan agar Rio tidak ikutan bangun karenanya.


" Mau kemana? " Rio menarik tubuh Anindya untuk kembali tidur disampingnya.


" Aku mau masak untuk kita sarapan nanti. "


" Tidak usah masak, sarapannya nanti kita beli saja. " Rio masih memejamkan matanya.

__ADS_1


" Terus aku ngapain udah terlanjur bangun begini, sholat subuhpun masih lama." Anindya mengeluh.


" Tidur lagi temenin aku. " Rio memeluk tubuh gadis itu. Udara pagi yang dingin mendadak hangat oleh hawa yang berasal dari tubuh gadisnya itu. Membuat Rio makin mengencangkan pelukannya.


Anindya akhirnya menuruti keinginan Rio. Dia menstel alarm hapenya jam lima pagi agar tidak kesiangan untuk sholat subuh.


*****


Di mobil.


Rio tersenyum sendiri sambil menyetir. Hatinya di penuhi bunga bunga. Dia merasa bahagia sekali hari ini. Kejadian malam tadi membuatnya merasa hubungannya dengan Anindya yang semakin dekat. Semoga saja ini benar benar menjadi awal yang indah ke depannya.


" Hei sadar,,,, kenapa senyum senyum sendiri? " Anindya menepuk bahu Rio. Membuat laki laki itu tersadar dari lamunannya.


" Inget semalam. " Rio menggoda.


" Iihh ngapain diinget inget. " Anindya tersipu malu. Blush on di pipinya mendadak terlihat lebih tegas lagi warnanya.


" Lucu. " Rio tertawa.


" Kamu tuh semalam aneh. " Anindya mendelik.


" Aneh kenapa? " tanya Rio penasaran.


" Mukanya aneh. "


Rio ingat semalam pas Anindya yang bergerak terus membuat pikirannya sedikit nakal. Waktu itu dia berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Mungkin itu yang Anindya maksud wajahnya aneh.


" Itu semua gara gara kamu. "


" Loh kok aku? " Anindya tidak terima di salahkan begitu saja.


" Iya lah coba kamu diam, tidur yang manis tidak banyak bergerak. "


" Apa hubungannya? Aku kan juga bukan patung yang tidak boleh bergerak. " Anindya cemberut.


" Dasar anak kecil. " Rio mengacak rambut Anindya gemes.


Anindya mendengus kesal dia membenarkan kembali rambutnya yang jadi berantakan. Rio tertawa melihatnya. Dia gemes dengan Anindya yang masih polos itu. Tak sabar untuk menjadi suami seutuhnya untuk Anindya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2