
" Mas Rio tunggu...!"
Rio yang hendak memasuki mobilnya berhenti mendengar suara Gendis dari belakang. Terlihat gadis itu berlari kecil ke arahnya.
" Aku nebeng ya mas, cuma ke depan kok." Gendis merapatkan kedua tangannya depan dada.
Rio hanya tersenyum melihat tatapan gadis itu yang penuh pengharapan.
"Ayo masuk."
" Makasih mas Rio " Gendis nampak sumringah dan segera masuk ke dalam mobil Rio, duduk di bangku penumpang sebelah Rio.
Sementara tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka dari tadi. Sorot mata yang penuh dengan kebencian. Kedua tangannya terkepal erat.
"Sialan...!" umpatnya lirih.
Orang itu lantas mengambil ponsel dari dalam tasnya. Menelpon sebuah nomor.
" Ada satu lagi yang harus di bereskan." gumamnya pelan setelah teleponnya tersambung.
" Bantu aku sekali lagi oke."
Setelah itu dia menutup teleponnya dan sebuah seringai picik tersungging dari bibirnya. Kemudian ia pun pergi meninggalkan kantor.
Alunan musik pop terdengar santai di telinga Rio dan Gendis. Keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing. Gendis membayangkan seandainya setiap hari ia bisa terus bersama Rio, pasti hidupnya akan lebih indah. Membangun keluarga kecil bersama laki-laki pujaannya itu memang indah untuk di bayangkan. Selalu bisa membuatnya tersenyum sendiri. Rio memang sangat tampan. Makhluk itu begitu indah sehingga sulit untuk di deskripsikan dengan kata kata. Entahlah kenapa ia begitu sangat lebay ketika segala sesuatunya berhubungan dengan Rio. Tanpa sadar Gendis cengar cengir sendiri.
" Hei kamu kenapa?" tanya Rio menahan tawa.
"Ah,,, ng...nggak apa apa kok mas Rio." Gendis tersipu malu. Wajahnya merah padam menahan rasa malu. Dia menyesali kebodohannya tadi. Gadis itupun memalingkan mukanya ke arah jendela mobil. Mencoba menghindari tatapan mata Rio.
__ADS_1
Sementara itu Rio berusaha menahan tawanya. Entah apa yang di pikirkan gadis di sampingnya itu. Sehingga ia bisa cengar-cengir sendiri seperti orang gila.
Pikirannya tiba tiba teringat akan Anindya. Lagu yang sedang ia putar sekarang adalah lagu kesukaannya. Hampir setiap hari setiap pulang kerja tak pernah sekalipun ia lewatkan tanpa memutar lagu ini.
Dulu sempat bosan mendengarnya, tapi sekarang Rio ketularan Anindya yang memutar lagu ini tiap hari. Salah satu usahanya untuk menghilangkan sedikit rasa kangen terhadap istrinya itu.
Rio menarik nafas dalam. Entah dimana sekarang Anindya. Mungkin benar apa kata Vino, sekarang Anindya sudah memilih Vino dan hidup bahagia bersamanya.
Rasanya sudah hampir seluruh Bekasi ia kelilingi. Tapi jejak Anindya tidak ia temukan sama sekali. Ia hampir putus asa karena sama sekali tidak bisa menghubungi Anindya.
Harapan satu satunya adalah Vino. Tapi ia tidak yakin kalau lelaki itu akan memberi tahu keberadaan Anindya. Sikapnya pun sekarang berubah dingin. Mungkin karena Rio yang mulai menghindarinya.
Kalau bukan kepentingan atasan dan bawahan Rio dan Vino menghindari untuk saling kontak. Merekapun sudah sangat jarang bertegur sapa. Tidak seperti biasanya yang selalu terlihat akrab.
Rio bahkan berencana untuk pindah kerja karena sudah tidak nyaman dengan keadaan ini. Sudah beberapa perusahaan ia kirimi cv.l Tapi belum ada panggilan kerja untuknya.
" Mas Rio kenapa diam saja?" Gendis membuyarkan lamunan Rio. Gadis itu sebentar lagi akan turun. Tepat di pertigaan depan sana mereka akan berpisah.
"Hmm ada mas Rio." Gendis mengangguk. Hatinya tiba tiba berdebar tak karuan. Kalau untuk Rio dia rela kena omel ibunya yang menyuruhnya cepat cepat pulang hari ini karena ada acara keluarga. Demi Rio ia rela motornya nginep lagi di bengkel malam ini. Pokoknya demi Rio ia rela melakukan apa saja.
" Temani aku makan ya." Rio mengedipkan sebelah matanya, membuat Gendis terkesima dan merasakan sebuah panah cinta tertancap di hatinya.
Gendis mengerjapkan matanya berusaha meraih kembali kesadarannya. Dengan penuh keyakinan Gendis mengangguk setuju.
Rio tersenyum. Ia sadar kalau gadis itu tergila gila padanya. Tapi kemudian rasa bersalah tiba tiba muncul di hatinya.
Maaf ya Gendis kalau aku tidak akan bisa membalas perasaanmu.
Rio mengajak Gendis untuk mampir dulu di sebuah mini market untuk membeli beberapa barang kebutuhannya yang sudah habis di rumah. Biasanya kegiatan ini selalu di lakukan bersama Anindya. Ah kenapa di setiap kegiatan ia selalu teringat Anindya. Rasa rindu ini sungguh membuat dadanya terasa sakit.
__ADS_1
Mereka melewatkan makan malam bersama di sebuah restoran yang dulu menjadi tempat makan malam pertama mereka saat Anindya menyuruh Rio pura pura mendekati Gendis. Kali itu Rio bersikap dingin terhadap Gendis. Dan malam ini ia ingin membayar kesalahannya saat itu.
Malam ini Rio bersikap sangat lembut dan sopan. Membuat Gendis makin jatuh hati padanya. Perasaan gadis itu makin di buat melayang oleh sikap Rio yang menurutnya sangat romantis. Rasanya ia tidak ingin malam ini cepat berlalu.
Lain halnya dengan Rio. Berkali kali bayangan Anindya muncul seperti fatamorgana yang merubah wajah Gendis menjadi sosok Anindya. Berkali kali pula ia terjebak oleh bayangan itu dan telah berhasil membuatnya menganggap Gendis sebagai Anindya. Rio merasa dirinya sudah hilang akal akibat kerinduan yang mendalam. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
Ya Tuhan kenapa semuanya jadi seperti ini? Rio tertunduk lesu. Ia menarik nafas berat, berusaha mengurangi beban berat yang terasa menghimpit dadanya.
" Ada apa mas Rio? " Gendis terlihat khawatir melihat perubahan sikap Rio yang tiba-tiba. Gadis itu memegang erat tangan Rio di atas meja.
"Tidak apa-apa Gendis, aku hanya sedikit lelah saja." Rio berusaha tersenyum menenangkan Gendis agar ia tak menyadari kekacauan hatinya kini.
" Ya sudah kalau begitu kita pulang saja ya." Gendis tidak tega untuk menahan Rio lebih lama meskipun sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengan Rio.
Rio pun mengangguk setuju. Mereka pun pulang dan Rio mengantarkan Gendis sampai rumahnya meskipun berkali kali gadis itu menolaknya. Tapi sebagai laki-laki ia tidak tega membiarkan wanita pulang malam naik kendaraan umum. Rasanya tidak akan tenang kalau hal itu ia biarkan.
Sementara itu di kejauhan.
" Aku harus singkirkan gadis bodoh itu secepatnya. Enak saja dia mau mengambil tempat yang seharusnya jadi milikku."
" Ia Kak,,,tenang saja aku pasti dukung kakak."
Keduanya tersenyum penuh arti. Rencana jahat mulai tersusun di kepala mereka berdua.
***BERSAMBUNG...
Hai readers! PENGANTIN DADAKAN ganti cover. Bagaimana bagus kan cover barunya?
Cuma pengen mengingatkan untuk jangan lupa like komen dan vote nya ya...
__ADS_1
Selalu author tunggu. Bantu Author untuk meningkatkan performa novel ini.
Terima kasih sudah setia menunggu lanjutan novel ini,,, salam cinta untuk kalian 😘😘😘***