PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Mood Swing


__ADS_3

Sore itu Rio pulang kerja dengan penuh semangat. Tidak seperti biasanya, hadirnya Anindya yang sudah menantinya di rumah membuat Rio ingin buru buru sampai di rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Anindya membuka pintu dengan seulas senyum manis di bibir indahnya.


Gadis itu mencium tangan suaminya dan di balas dengan kecupan di kening Anindya. Sungguh Rio merasakan indahnya jatuh cinta ya sekarang ini.


" Apa kabar anak Papa?" Rio mengusap dan mencium perut Anindya. Anindya tersenyum melihat kelakuan suaminya itu.


"Ngapain aja seharian ini sayang?" tanya Rio masuk ke dalam rumah.


" Selain mendengarkan celetukan Hani, selebihnya aku cuma nonton Tv dan tiduran." Anindya mengangkat bahunya.


Teringat kembali kata kata Hani tadi pagi membuat emosinya kembali muncul. Dia tidak habis pikir akan mendapat omelan tidak jelas dari orang lain.


" Kenapa sih Mas, Hani sepertinya benci sekali sama aku, salahku apa coba ?" Anindya menggerutu sambil menyantap sate Padang pesanannya.


Rio hanya tersenyum. Sebenarnya dia merasa kasihan jika Anindya terus terusan menjadi korban patah hatinya Hani.


Bagaimana pun harus ada tindakan yang ia lakukan untuk Hani agar gadis itu tidak mengganggu istrinya lagi. Kekerasan verbal memang tidak bisa dilihat dengan kasat mata tapi sama menyakitkan dengan kekerasan fisik bahkan mungkin efek psikologisnya lebih berbahaya.


" Sabar sayang, jangan di lawan nanti juga bosen sendiri." Rio berusaha menyemangati istrinya itu.


Rio bingung sendiri harus bertindak apa pada Hani. Amanat almarhum Bapaknya Hani membuat ia sedikit segan untuk menegur gadis itu.


" Tapi mas kata katanya itu loh, bikin kupingku sakit mendengarnya." Anindya mengadu.


" Aku sengaja tidak keluar rumah, tapi malah mereka yang nyamperin ke rumah, terus aku harus bagaimana mas menghadapi mereka?" Anindya merengek.


" Nanti coba aku ngomong sama Hani deh." Rio menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Jangan mas, nanti aku di katain istri tukang ngadu lagi." Anindya cemberut.


"Loh terus aku harus bagaimana istriku yang cantik?" Rio gemas mencubit hidung Anindya.

__ADS_1


"Nggak tahu, kamu pikirkan solusinya dong." Anindya cemberut.


" Kamu sebenarnya suka tidak sih sama Hani? Kelihatannya gadis itu terobsesi sekali sama kamu mas." Anindya menatap lekat wajah Rio yang menjadi salah tingkah sendiri.


"Aku? Suka sama Hani? Cihh kamu jangan berpikir terlalu jauh sayang." Rio tertawa.


" Jawab sayang, kamu suka tidak sama Hani?" Anindya memaksa.


" Kamu pasti sudah tahu jawabannya sayang." Rio mencubit gemas hidung Anindya.


"Aku tidak tahu." Anindya menggeleng.


Rio menghembuskan nafasnya kuat kuat. Dasar wanita selalu menuntut jawaban yang dia sendiri sudah tahu jawabannya. Untuk apa coba mengulang ulang pertanyaan yang sama setiap saat. Rio menggerutu dalam hati.


" Jawabannya Tidak." Rio menjawab penuh penekanan pada kata tidak.


Anindya tersenyum puas. Sementara Rio merasa jengkel sendiri di buatnya.


" Malam ini kita tidur terpisah, aku sedang ingin sendiri." Anindya berkata ketus.


" Kenapa sayang, apa aku ada salah?" tanya Rio heran.


" Tidak." Anindya menggeleng. Jangankan Rio dia sendiri tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba merasa kesal dan sebel sama Rio.


" Ayolah jangan seperti itu dong sayang." Rio meraih tangan Anindya. Tapi langsung dikibaskan dengan keras oleh Anindya.


"Pokoknya aku tidak mau tidur sama kamu titik." Anindya masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.


Rio hanya bisa melongo menyaksikan kelakuan aneh istrinya. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Main game sebentar untuk menghilangkan penat di kepalanya.


Tapi tidak bisa tetap saja pikirannya terfokus pada Anindya yang tiba-tiba marah tidak jelas seperti itu. Dia sendiri tidak tahu salahnya di mana.


Rio menggaruk kepalanya frustasi. Wanita hamil memang aneh aneh kelakuannya. Malam ini ia harus tidur sendirian lagi. Mudah-mudahan hanya untuk malam ini saja. Rio mendengus kesal.


Rio masuk ke kamar belakang, merebahkan badannya di atas kasur. Dia tidak percaya kalau malam ini ia di tendang Anindya dari kamarnya sendiri.

__ADS_1


Rio menatap kosong langit langit kamar. Mungkinkah ini bawaan bayi. Mood swing atau perubahan emosi dan suasana hati yang naik turun biasa dialami ibu hamil pada tri mester pertama.


Penyebabnya adalah perubahan tubuh dan hormon pada ibu hamil. Peningkatan hormon estrogen dan progesteron selama kehamilan di trimester pertama mengakibatkan mood ibu hamil naik turun.


Setidaknya itu yang pernah Rio baca di internet tentang kehamilan. Rio tersenyum sendiri. Mungkin saat ini Anindya sedang mengalami salah satu gangguan psikologis pada ibu hamil.


Sabar Rio, kamu harus jadi suami yang tangguh, Rio memberi semangat pada dirinya sendiri. Ia pun memejamkan matanya sambil memeluk guling yang ia anggap Anindya.


Di kamar depan.


Anindya memeluk bantal guling di sampingnya. Biasanya Rio yang dia peluk. Sedang apa ya dia sekarang? Anindya merasa gelisah sendiri. Dari tadi ia hanya gulang guling tidak jelas.


Sudah satu jam berlalu tapi matanya tidak mau terpejam. Pikirannya terus terpaut pada Rio. Dia menyesal sudah marah marah tidak jelas pada Rio. Entah kenapa ia merasa tiba-tiba kesal pada Rio, bahkan untuk di sentuh olehnya saja ia tidak mau. Tapi kenapa sekarang ia malah merindukannya.


Anindya mengacak acak rambutnya kesal. Dia tidak bisa tidur, dia ingin Rio ada di sampingnya kini.


Kira kira dia marah tidak ya? Kalau aku samperin dia, dia mau terima gak ya?


Pikiran itu terus berkecamuk di dalam otaknya. Ingin menemui Rio tapi ia gengsi dan malu. Di tahanpun ia tidak bisa tidur.


Ya Tuhan apa yang harus dia lakukan sekarang?


Ah, tidak tahan lagi Anindya pun bangun dsn berjalan perlahan menuju kamar belakang. Di bukanya perlahan pintu itu. Mengintip sedikit dari celah pintu yang terbuka.


Terlihat Rio sedang tidur membelakanginya. Anindya masuk dan berjalan jinjit agar tidak membangunkan Rio yang sepertinya sudah terlelap.


Rio yang masih terjaga menyadari kalau Anindya memasuki kamarnya diam diam. Dia berusaha menahan tawanya dan pura pura tertidur pulas.


Terasa tubuh Anindya rebah di belakangnya. Tangan gadis itu sudah melingkar di perutnya. Rio hanya tersenyum. Benar dugaannya Anindya tidak benar-benar marah.


Rio pura pura menggeliat dan membalikkan badannya menghadap Anindya. Dia membuka matanya sedikit, terlihat Anindya salah tingkah dan malu malu, namun gadis itu dengan cepat membenamkan mukanya ke dalam pelukan Rio.


Rio mengecup pucuk kepala Anindya tanpa membuka matanya. Dia meneruskan tidurnya dan tak ingin membuat Amindya menjadi semakin malu karena menggodanya.


Anindya merasa lebih tenang sekarang, setelah Rio memeluknya dengan lembut. Memang sandaran paling nyaman adalah tubuh suaminya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2