
"Nak kapan kalian pulang?" tanya Pak Haryadi di ujung telpon.
Rio melirik Anindya yang sedang memegang ponsel dengan suara memakai mode loud speaker.
Memang sudah lama mereka tidak pulang ke Bandung. Orang tua mereka pasti sudah kangen. Anindya menyikut lengan Rio meminta jawaban darinya.
" InsyaAllah secepatnya kami akan pulang Pak."
"Alhamdulillah, kalau begitu kami tunggu ya, sekalian sykuran empat bulanan kehamilan Anindya disini saja." saran Pak Haryadi.
"Iya pak,,, boleh juga tuh, nanti Rio urus cuti kerja dulu ya pak." Rio tersenyum.
Rio sudah terlihat sibuk dari pagi mengutak atik mobilnya yang akan di ajak pergi hari ini. Mereka akan pulang ke Bandung hari ini. Keinginan ibu hamil yang merengek ingin pulang kampung dari beberapa hari yang lalu.
Setelah urusan cuti selesai dia urus, pagi ini setelah selesai berkemas mereka akan langsung cus ke Bandung untuk bertemu orang-orang tersayang.
" Sudah siap belum mas?" tanya Anindya keluar dari dalam rumah dengan perut yang sudah terlihat makin membesar.
" Sebentar sayang" Rio menutup kap mobil dan menstarter mobilnya sekali lagi. Dia tersenyum setelah semuanya di rasa aman.
" Sudah siap semua barang barang yang akan di bawa?" tanya Rio yang masuk ke dalam rumah.
" Sudah mas." jawab Anindya.
Rio keluar dengan mengangkat koper besar dan sebuah tas kecil milik Anindya. Anindya mengunci semua pintu dan jendela. Mereka akan berada di Bandung kurang lebih selama seminggu.
" Iya pak,,, kita lagi di jalan sekarang." Anindya menjawab telepon dari Pak Haryadi ayahnya sesaat setelah mobil keluar dari pekarangan rumah.
" Bawa mobilnya hati hati mas, takut dede bayi ke ganggu." Anindya mesem.
" Oke sayang." Rio menjawil dagu Anindya kemudian mengelus perut istrinya. Terasa ada gerakan halus dari dalam perut istrinya itu.
" Anak kita lagi main bola kayaknya." Rio tertawa merasakan pergerakan bayi dalam perut Anindya.
" Bukan mas dia lagi senang karena mau bertemu kakek dan neneknya." Anindya tersenyum.
Perjalanan Bekasi- Bandung tidak membutuhkan waktu lama. Apalagi jalanan tidak terlalu macet karena bukan weekend. Anindya sudah tidak sabar untuk bertemu ibu dan bapaknya, juga ibu mertuanya.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Bandung. Pak Haryadi dan Bu Maryanti sudah menunggu kedatangan anak dan menantunya. Keduanya tampak sumringah menyambut kedatangan mereka.
" Ibu kangen sekali nak." Bu Maryanti memeluknya erat tubuh Anindya. Ada tetes air mata mengalir dari sudut matanya.
" Sama Bu Anin juga kangen." Anindya tak mau melepaskan pelukan ibunya.
Pak Haryadi mengusap lembut rambut Anindya. Kerinduan yang besar antara anak dan orang tua kini terbayar sudah.
" Sudah lama rasanya tidak tidur di kasurku ini." Anindya merebahkan badannya di atas kasur di dalam kamarnya.
__ADS_1
Rio menghampiri dan ikut merebahkan badan di sampingnya. Lalu ia memiringkan tubuhnya hingga bisa menatap jelas wajah Anindya yang tampak berseri seri.
Rio mencubit hidung Anindya gemas. Aura wanita hamil terpancar jelas di wajahnya. Ia merasa kalau Anindya berkali kali lipat cantiknya saat hamil seperti ini. Hingga membuatnya semakin betah berlama-lama di sisi Anindya.
" Apaan sih mas" Anindya manyun manja.
Rio menarik tubuh Anindya dalam pelukannya. Mengusap lembut rambut panjangnya.
" Inget gak saat malam pertama kita, kamu malah nyuruh aku tidur di sofa."
" Hihihi,,, iya aku inget." Anindya tertawa geli mengingat kejadian dulu. Rasanya baru kemarin mereka menikah, masih dengan terpaksa, tahu tahu sekarang malah punya anak. Sungguh lucu.
" Kamu kejam sayang, pundakku sakit pas bangun tidur waktu itu." Rio memanyunkan bibirnya.
Cup. Anindya mengecup bibir Rio. Rasanya gemas melihat Rio yang sedang merajuk seperti itu.
" Berani ya kamu sekarang." Rio membelalakkan matanya dengan senyum tipis dibibirnya. Wajah Anindya merona merah. Dia tidak mengerti kenapa dia bisa seagresif itu sekarang.
Cup. Rio mendaratkan kecupan di pipi Anindya.
" Iiihh kamu nakal mas..." Anindya mencubit pinggang Rio. Laki laki itupun memeluk tubuh Anindya dengan mesra.
Anindya membenamkan kepalanya di dada bidang Rio. Memainkan jemarinya di situ.
" Geli sayang." Rio terkekeh.
Anindya malah ndusel ndusel di ketek suaminya. Aroma tubuh suaminya seakan menjadi candu sekarang baginya. Kadang saat Rio pulang kerja pun ia tidak di bolehkan mandi dulu sebelum Anindya puas mencium aroma tubuhnya.
" iiihh kamu sini mas..." rengek Anindya mencoba meraih kembali tubuh Rio. Pria itu
menahan tawanya, Anindya terlihat sangat manis kalau sedang merengek seperti itu.
Rio kembali mendekat dan pasrah ketika Anindya mendusel ndusel lagi di keteknya. Ya Ampun kelakuan ibu hamil yang satu ini ada ada saja ya.
Perjalanan cinta mereka memang sungguh di luar dugaan. Berawal dari sekedar sahabatan, hingga bencana itu datang tiba-tiba. Sebuah pernikahan dengan pasangan pengantin dadakan. Siapa sangka akan menjadi kenangan termanis bagi mereka saat ini.
" Sayang..."
" Hem..."
"Apa kamu bahagia menjadi istriku?"
" Bahagia banget mas, walaupun kita sempat terpisah dulu, tapi aku senang ternyata kamu gak nyerah begitu saja." Anindya mendongak melihat wajah Rio yang juga tengah memperhatikannya.
" Pokoknya aku tidak mau kita pisah lagi, apapun alasannya. Tetap disisiku ya sayang." Rio mengecup kening Anindya dengan lembut.
Anindya mengangguk ia makin mempererat pelukannya di tubuh Rio. Merasakan gejolak cinta yang makin besar diantara keduanya.
__ADS_1
" Ada yang bangun mas." Anindya tersenyum nakal.
" Dari tadi kali..." Rio mendesah.
" Hihihi,,, suruh tidur lagi mas, masih siang, bangunnya nanti malam saja." Anindya tertawa geli.
" Mana bisa suruh tidur lagi, hayo tanggung jawab ya." Rio kini yang tersenyum nakal. Anindya menutup mukanya. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum malu.
Tok tok...!
" Nak, ayo makan dulu, ibu sudah masakain pepes ayam buat kalian." Bu Maryanti mengetuk pintu kamar dari luar.
" Yaaahhh..." Rio menghentikan gerakan tangannya yang sudah bergerilya di tubuh Anindya. Anindya tertawa kecil.
" Ayo bangun mas, tidak enak kalau harus membuat ibu dan bapak menunggu terlalu lama.
" Nanti malam di lanjut ya." Rio merajuk.
" Kalau aku gak ngantuk mas." Anindya tertawa.
" Gak akan aku biarin kamu tidur nyenyak sayang." Desis Rio.
Anindya dan Rio segera bangun. Tak sabar ingin mencicipi pepes ayam buatan ibunya yang sudah pasti enak.
*****
Angin pantai memainkan rambutnya yang panjang terurai. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Menyembunyikan sepasang mata yang menyimpan kesedihan.
Sudah bertahun-tahun ia disini. Di Pulau Dewata Bali. Berharap bisa melupakan orang yang sangat ia cintai. Tapi ternyata usahanya sia sia.
Bertahun lamanya bayangan pria itu tetap bersemayam di hatinya, menempati sudut ruang di sanubarinya.
Laki laki yang dulu begitu mencintainya. Tapi dengan penuh sesal harus ia campakan demi impiannya.
Kini semua mimpinya telah terwujud. Apakah pria itu masih mengingatnya?
Air laut membasahi sepasang kaki telanjangnya. Pandangannya tetap menerawang ke depan. Menatap deburan ombak yang saling kejar mengejar tanpa henti.
Dulu di sini, di pantai ini dia dan laki laki itu pernah mengukir nama mereka di atas pasir. Sungguh kenangan yang tidak bisa di lupakan sampai saat ini. Masih terpatri diingatan saat mereka begitu bahagia tertawa bersama menjalani cinta yang indah. Seakan tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka.
Tapi semuanya hancur saat egonya muncul. Sebuah agency model menawarinya untuk gabung menjadi seorang model. Dari catwalk ke catwalk, dari negara satu ke negara lain terus berpindah. Hingga mimpinya menjadi super model tercapai.
Kini ia sudah jenuh dengan semuanya. Ia merindukan cintanya yang dulu. Cintanya yang ia tinggalkan waktu itu.
Air laut kembali menerpa kakinya. Hembusan angin kencang meniup rambutnya membuat sebagian wajahnya tertutup.
Dia ambil sebatang ranting di dekat kakinya. Menulis kembali kenangan yang dulu. Sebuah nama yang masih terukir indah di hatinya. Yang Masih menjadi pemilik hatinya.
__ADS_1
**TANIA LOVE RIO.
BERSAMBUNG**...