
Anindya sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Keadaannya sudah lebih baik sekarang. Rio bermaksud membawa kembali Anindya ke rumahnya. Tentu saja ia harus pamit kepada Vino karena barang barang Anindya yang masih berada di apartemen Vino.
"Selamat datang di rumah nyonya Rio." Rio mempersilahkan Anindya memasuki rumah bak seorang putri.
Anindya tersenyum dan mengerling manja melihat kelakuan konyol suaminya. Perempuan itu menghirup nafas dalam merasakan kedamaian ketika ia kembali ke rumah mereka.
" lni kamar kita" Rio membuka kamar Anindya yang sudah di sulap Rio menjadi kamar mereka berdua.
" Jadi kita satu kamar nih?" ledek Anindya.
" Kamu ingin pisah kamar terus? Ingat loh bayi kita butuh kehadiran Papanya tiap malam." Rio tersenyum penuh arti seraya mengedipkan sebelah matanya.
" Hihihi,,, alesan aja kamu." Anindya tertawa melihat suaminya mulai mengeluarkan tipu muslihatnya.
Rio membawa Anindya memasuki kamar mereka. Mendudukan Anindya di tepi pembaringan.
"Sekarang kamu istirahat ya, gak boleh capek capek." Rio membelai rambut Anindya penuh sayang.
Anindya tersenyum. Akhirnya perlakuan yang di nanti nanti selama ini ia rasakan juga. Perhatian dan kasih sayang dari Rio. Anindya mengusap wajah Rio lembut. Kedua matanya berkaca-kaca. Dia sangat merindukan saat-saat seperti ini. Dia kira dia tidak akan pernah merasakan lagi kebahagiaan seperti ini.
" Kenapa menangis?" Rio terlihat khawatir dan segera menyeka airmata Anindya yang jatuh keluar.
" Tidak apa-apa Rio." Anindya menggeleng dan memeluk tubuh Rio erat erat membuat laki laki itu sedikit susah untuk bernafas.
Rio membelai rambut Anindya dengan lembut. Membiarkan wanitanya itu bersandar di dadanya untuk sesaat. Rio pun menikmati suasana itu. Kedamaian dan ketenangan saat bersama dengan Anindya membuatnya terus jatuh cinta pada perempuan ini.
" Jangan pernah tinggalin aku lagi ya." Rio berbisik di telinga Anindya yang di balas anggukan kecil olehnya.
Rio mengecup kening Anindya dan Anindya pun memejamkan matanya menikmati keromantisan tersebut.
***
Vino duduk di kursi taman di belakang rumahnya. Sepeninggal Anindya dia merasakan ada sebuah lubang yang menganga dalam hatinya. Luka yang baru saja hendak mengering kini harus kembali terbuka lagi. Sangat sakit. Tapi ia juga tidak mau merampas sesuatu yang bukan miliknya tanpa suatu hal penyebab yang pasti.
" Nak,,, sudah lama mama tidak melihat Cindy main kesini." Ucapan wanita paruh baya itu membuyarkan lamunan Vino.
__ADS_1
Vino tergagap. Mamanya ini aneh, kan memang Cindy jarang main kesini. Ah,ini sih paling cuma akal akalan Mamanya saja yang ingin menyuruhnya untuk mengajak Cindy ke rumah,atau lebih tepatnya untuk mengajak Cindy kencan.
" Iya kalau mama ingin ketemu Cindy kenapa mama tidak suruh saja dia datang ke rumah." Vino cuek dan melanjutkan aktivitasnya membaca majalah bisnis yang sedari tadi berada di tangannya.
" Kamu saja yang menyuruhnya kemari ya Vin, biar lebih romantis lah." Perempuan yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu malah menggoda Vino.
Ya Ampun mama, tidak tahu apa kalau Cindy itu seorang Le*bi. Pikir Vino.
Vino sendiri teringat kesepakatannya dengan Cindy beberapa waktu yang lalu. Setelah melihat Rio dan Anindya kemarin terbersit keinginannya untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Mempunyai anak yang lucu sebagai pelengkap kebahagiaannya.
Tapi mengingat Cindy yang seperti itu rasanya mustahil mimpi itu bisa terwujud. Kini Vino mulai berpikir keras bagaimana caranya membatalkan keinginan orang tuanya untuk menjodohkan mereka. Dia harus membicarakan hal ini kembali bersama Cindy.
" Baiklah ma,,, besok Vino coba menemui Cindy."
" Kenapa harus nunggu besok? Sekarang kan juga kamu bisa." Mamanya protes dan merengek membuat Vino jengah.
" Ya ampun mama Vino lagi malas keluar. Dan belum tentu Cindy juga mau di ajakin ketemuan kalau dadakan seperti ini." Vino sedikit kesal dengan Mamanya.
"Pasti mau, ayo cepet hubungi dia." Mamaya nyengir sambil menyodorkan ponsel Vino yang tergeletak diatas meja.
Dengan malas Vino mengambil ponselnya. Mamanya memang seperti itu kalau ada kemauan. Terdengar nada ponsel yang tersambung namun belum diangkat. Setelah menunggu beberapa detik baru terdengar suara Cindy menyapa.
" Hallo Cin, kamu free gak malam ini?" tanya Vino langsung to the poin.
" Hmm,,, kayaknya aku gak kemana-mana kok, kenapa?" jawab Cindy santai.
" Kita ketemuan ya."
" Oke"
"Aku jemput jam delapan."
" oke."
Klik.
__ADS_1
" Puas ma?" Vino menatap Mamanya yang tersenyum senang. Ia tahu kalau Vino adalah anak yang penurut dan sangat menyayanginya.
" Ya udah kamu siap siap gih,,, sebentar lagi maghrib loh." Mamanya menarik tangan Vino tak sabar.
"Aduh mama jam delapan masih lama, ngapain siap siap dari sekarang?" Vino meringis frustasi menghadapi sikap mamanya yang over antusias. Tapi tak ayal ia turuti juga ajakan Mamanya. Sekarang masuk kamar adalah hal paling aman untuk sembunyi dari pandangan Mamanya.
Vino merebahkan badannya. Sejuknya udara Ac yang menyala terasa menerpa kulitnya yang hanya memakai kaos oblong. Sesaat dia berpikir kata kata apa yang akan ia ucapkan saat bertemu Cindy nanti. Bagaimanapun sandiwara ini harua segera berakhir. Tapi bagaimana caranya, sedangkan ia tidak ingin membongkar aib Cindy dihadapan orang tua mereka masing-masing.
Ya Tuhan memikirkan ini semua membuat kepala Vino terasa berdenyut sakit. Sesuatu yang tidak mudah mengakhiri semua ini.
Tepat pukul delapan malam Vino menjemput Cindy ke rumahnya. Keluarga Cindy menyambut Vino dengan hangat dan tentu saja dengan senang hati.
" Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Cindy di dalam mobil.
" Ke hotel." ucap Vino sekenanya.
"Apa?" Cindy terbelalak.
Vino tak bergeming,ia terus memacu mobilnya di jalanan ibu kota yang sedikit ramai lancar.
" Vin, kan kamu tahu kalau aku..." Cindy meminta penjelasan dari Vino. Wajahnya terlihat gusar. Tapi ia hanya bisa menuruti keinginan Vino tanpa bisa protes.
Cindy duduk di samping Vino dengan terdiam. Dia sedikit kecewa dengan ajakan Vino. Mau apa coba pergi ke hotel malam malam begini.
Mobil Vino berhenti di lobby sebuah hotel berbintang lima. Petugas parkir segera menerima kunci yang di serahkan Vino dan memarkirkan mobil itu di parkiran hotel.
Cindy hanya bisa pasrah ketika Vino menuntun tangannya untuk menggandeng lengan Vino.
Setelah reservasi mereka pun mendapatkan sebuah kunci untuk sebuah kamar Vip. Vino segera mengajak Cindy yang masih belum mengerti dengan tindakan Vino menuju kamar yang telah di pesan.
Vino menutup pintu kamar setelah mereka masuk. Dia membuka jaket dan menaruhnya di sofa sebelah Cindy duduk.
"Kamu tidak mau mandi dulu?" tanya Vino
Cindy menatap Vino dengan tajam. Ini tidak bisa di biarkan. Dia harus segera pergi dari kamar ini...
__ADS_1
**BERSAMBUNG...
Ojo lali untuk tinggalkan jejak kalian ya,,,like,komen dan votenya selalu author tunggu😘**