PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Jebakan


__ADS_3

Anindya mengerjapkan matanya. Sinar mentari pagi yang menembus sela sela gordeng sangat membuat matanya silau. Kepalanya masih terasa berat. Seluruh tubuhnya terasa luluh lantak tak bertenaga.


Anindya memijit pelan pelipisnya. Berusaha untuk mengumpulkan sisa kesadarannya. Ada beban berat terasa di perutnya. Ia menyibak selimut putih yang menutupi tubuhnya. Sebuah tangan terkulai di atas perut polosnya. Tak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya. Hati Anindya berdesir. Ia menoleh ke tubuh laki laki di sampingnya. Terlihat Vino masih tertidur pulas.


Oh Tuhan, Anindya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Apa yang terjadi dengan dirinya dan Vino? Dan dimana ini ? Sudah siang, apa semaleman mereka di kamar ini? Anindya berusaha memutar kembali memorinya. Dia berjalan ke arah mobil Vino dan tiba tiba saja kepalanya terasa pusing terus dia tidak ingat apa apa lagi. Anindya meremas rambutnya sendiri. Semua ini membuatnya bingung.


Rio? Apa kabar Rio, sudah semalam dia tidak pulang,,, oohh pasti Rio marah. Anindya mengecek ponselnya yg di taro di dalam tasnya.


Lebih dari 50 panggilan tak terjawab dari Rio. Anindya serasa pengen nangis. Dia merasa bersalah sama Rio. Apa yang sebenarnya terjadi semalam antara dia dan Vino.


Vino menggeliat, dia merentangkan kedua tangannya sebelum membuka kedua matanya. Vino menoleh perempuan yang tengah terbaring disisinya dengan wajah gelisah.


" Anindya? " Vino mengucek matanya tak percaya.


Anindya tak kuasa lagi menahan tangisnya. Vino tak kalah terkejut melihat dirinya yang polos tanpa pakaian yang menempel satupun di badannya. Vino terbelalak dan mencoba mengingat kejadian semalam. Siapa yang memukul tengkuknya semalam? Vino masih merasakan sakit di bahunya yang mungkin memar karena pukulan itu.


Tapi yang lebih mengejutkan bagi Vino adalah kenapa dia bisa tidur dengan Anindya satu ranjang. Dalam keadaan tanpa busana pula. Sebenarnya apa yang terjadi. Mungkinkah dia dan Anindya semalem? Ah Vino menjambak rambutnya sendiri. Dia merasa bersalah pada gadis itu.


Secepat kilat Vino memakai celananya kembali. Dari dalam selimut, setelah itu ia keluar dari dalam selimut dan menutupi tubuh Anindya seluruhnya dengan selimut.


Dia memakai kemejanya kembali yang tergeletak di lantai. Kacau... Semua benar benar kacau.


Vino memeluk tubuh Anindya yang masih terisak. Diapun masih bingung dengan semua yang terjadi kini.


" Apa yang terjadi semalam?" tanya Anindya disela isak tangisnya.

__ADS_1


" Aku juga tidak tahu Nin, sepertinya kita di jebak. " Vino merasakan ada keanehan dalam kejadian ini.


" Bagaimana kalau kita benar-benar melakukan semua ini? " Anindya makin terisak, dia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Oh Tuhan apa yang harus ia katakan pada Rio nanti? Tapi demi Tuhan sedikit pun dia tidak ingat kejadian malam tadi.


" Sebaiknya kamu berpakaian dulu. " Vino mengelus lembut kepala Anindya.


Anindya membungkus rapat tubuhnya dengan selimut dan memungut bajunya yang berserakan di lantai selanjutnya dia pergi ke kamar mandi untuk memakai kembali bajunya.


Vino mencoba merunut kembali kejadian semalam. Dari kejadian Anindya yang tiba tiba pingsan, terus seseorang yang memukulnya dari belakang hingga dirinyapun pingsan dan berakhir dengan tidur tanpa baju dengan Anindya di hotel ini. Pasti semua ini ulah seseorang untuk mengerjainya. Tapi apa maksudnya?


Persaingan bisniskah? Atau persaingan cinta? Vino benar benar pusing di buatnya. Tinggal menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia yakin ini belum berakhir. Pasti ada skenario yang sudah dipersiapkan orang itu. Vino mengepalkan tinjunya kuat kuat.


*****


" Rio maafin aku" Anindya terisak sambil memeluk Rio kuat kuat. Sikap Rio begitu dingin kali ini. Tidak seperti biasanya. Anindya tahu pasti kalau Rio sangat marah. Tapi kali ini dia benar benar tidak berdaya. Hatinya pun sangat hancur mengingat kejadian semalam.


Anindya masih menangis tersedu ketika Rio mendorong pelan tubuhnya. Menatap kedua mata Anindya yang sudah sedikit bengkak karena terus menerus menangis.


" Sebaiknya kamu mandi dulu." Rio menatap sendu. Ada segurat luka di hatinya.


Anindya mengangguk, selanjutnya dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Isak tangisnya berlanjut di kamar mandi. Di bawah guyuran air shower Anindya menangis sejadi jadinya. Apa yang harus ia lakukan kalau dia dan Vino benar-benar melakukan hubungan terlarang itu? Anindya menggosok badannya dengan keras. Ia merasa jijik dengan badannya sendiri. Ia tak habis pikir kalau ia sudah menodai kesucian pernikahan mereka. Bagaimana dia sanggup menghadapi Rio saat ini. Ya Tuhan kenapa semua ini harus terjadi di saat kebahagiaan baru saja aku reguk? Aliran air bening dari mata Anindya berbaur dengan derasnya kucuran air dari shower.


*****


Rio menatap nanar layar ponselnya. Sungguh ia kehilangan kata kata melihat beberapa foto yang baru saja terkirim ke ponselnya dari nomor tak di kenal. Nafasnya tersengal. Dadanya seperti di hantam Palu gadam. Hancur lebur.

__ADS_1


Kedua matanya terasa panas. Amarahnya sudah sampai di ubun ubun. Dia tidak menyangka Anindya tega berbuat seperti itu.


" Aaahhh...!!!!" Rio tiba tiba berteriak histeris mengeluarkan semua sesak di dadanya. Anindya yang baru saja selesai mandi terkejut melihat Rio yang seperti itu.


" Apa yang kamu lakukan semalam dengan Vino hah? " Rio menyergap Anindya yang masih memakai kimono handuknya dengan rambut basah terbungkus handuk putih.


Anindya tersudut ke tembok kamar. Dagunya dalam cengkraman kuat tangan Rio yang terlihat begitu marah. Anindya merasa sangat takut melihat kilatan kemarahan di mata Rio.


" Lepasin Rio, semua tidak seperti dugaanmu. " Anindya terbata tangannya berusaha melepaskan tangan Rio dari pipinya. Terasa sakit.


Rio menatap tajam mata Anindya yang mulai basah kembali dengan air mata.


" Simpan air mata palsu kamu, aku sudah tidak percaya kamu lagi Anindya. " suara Rio meninggi. Tubuhnya terhempas ke lantai saat Rio mendorong tubuhnya.


" Lihat,,, kamu masih menyangkal setelah lihat foto ini? " Rio geram. Suaranya bergetar menahan emosi.


Anindya melihat foto di layar ponsel milik Rio. Terlihat dia memeluk tubuh Vino dalam keadaan tertidur.


Anindya menangis pilu. Sama sekali dia tidak ingat kejadian itu. Lantas bagaimana dia akan membantah kalau dia sendiri tidak yakin.


BERSAMBUNG...


Sambil menunggu update episode selanjutnya yang agak tersendat karena kesibukan Author yang nyambi bikin kue lebaran🤗kalian bisa tengokin novel Author yang lainnya yg juga masih on going. CINTA 36 HARI. Ceritanya tak kalah seru dari ini loh.


Jangan lupa untuk selalu dukung Author supaya tetap semangat untuk terus berkarya

__ADS_1


Like, komen dan votenya tetap Author tunggu dari kalian, salam cinta untuk kalian semua, selamat menunaikan ibadah puasa😘😘 


__ADS_2