
" Makasih bunganya ya." ucap Anindya setelah mereka jauh dari hingar bingar pesta.
" Kamu suka? " Vino tersenyum.
" Suka.... Tapi aku lebih suka mawar merah. " Anindya tertawa.
" Oke lain kali aku kirim kamu bunga mawar merah. " Vino ikut tertawa.
" Maaf ya kalau saya tidak sopan kemarin, saya tidak tahu kalau Bapak Vino ini Direktur perusahaan. " Anindya berubah sopan
Vino tertawa mendengar Anindya yang mendadak jadi formal begitu.
" Santai aja kali, biasa aja kan sekarang bukan di kantor dan bukan jam kerja, jadi anggap saja aku bukan Direktur kamu, anggap saja kita teman. " Vino duduk di bangku taman. Anindya pun duduk di sebelahnya.
Malam itu rembulan bersinar tak cukup terang. Sinarnya tertutup awan hitam. Taman di belakang rumah cukup luas, mungkin ada sebesar rumah Anindya di kampung. Semerbak bunga Tanjung menusuk hidung. Lampu taman bersinar temaram menambah suasana romantis malam ini. Anindya jadi kepikiran Rio saat ini. Dia merasa bersalah sudah meninggalkannya begitu saja tadi.
" Anin,,, beneran Rio sepupu kamu? " tanya Vino tiba tiba.
" eeehhhmmm... Iya benar. " jawab Anindya ragu, sebenarnya ingin jujur tapi takut kalau nanti ia atau Rio di keluarkan.
" Tapi kalian tidak seperti sepupuan. " selidik Vino.
" Terus seperti apa? " Anindya mengerutkan dahinya.
" Seperti pacar atau bahkan seperti suami istri. " jawab Vino santai.
" Ha ha... masa sih seperti itu.? " Anindya tak percaya kalau mereka terlihat sedekat itu. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Mungkinkah Vino mencium kebohongannya? Gawat kalau begitu.
__ADS_1
" Iya kalian terlihat dekat sekali. " Vino tersenyum membuat Anindya semakin salah tingkah.
" Iya kita memang dekat satu sama lain,,, lagian kalau kita suami istripun mana mungkin bisa kerja di perusahaan kamu,kan hal itu di larang. " Anindya terlihat berusaha menutupi rasa gugupnya.
" Syukurlah. " bisik Vino perlahan.
" Apa... "
" Nggak. " Vino tersenyum.
Pria itu menatap Anindya yang tertunduk malu. Cantik, mengingatkannya pada seseorang yang pernah hadir di hidupnya.
" Tulis no hapemu disini. " Vino menyodorkan ponsel miliknya. Anindya mengambil ponsel Vino perlahan. Ia memasukkan no hapenya. Ah serasa ada yang salah dengan perbuatannya kali ini. Bagaimana pun status perkawinannya dengan Rio tetap saja kedudukannya sekarang adalah seorang istri bukan lagi seorang gadis single. Tapi kalau ia menolak takut Vino tersinggung dan marah. Sementara itu tahu sendiri kedudukan Vino di perusahaan. Situasi ini benar benar membuat Anindya serba salah.
" Terima kasih. " Vino tersenyum manis membuat jantung Anindya berdesir.
Vino memang tampan, membuat siapa saja gadis yang melihat pasti terpikat. Apalagi dengan harta dan kekuasaan yang ia miliki membuatnya di kejar kejar banyak gadis. Sudah beberapa orang gadis dari lingkungan yang setara dengannya terang terangan menyatakan perasaannya. Tapi Vino menolak semuanya. Hatinya masih tertutup rapat semenjak kepergian kekasih hatinya menghadap Illahi.
Tapi sejak kali pertama melihat Anindya di perusahaannya semangat itu kembali muncul. Ia juga mendadak menyetujui permintaan ayahnya untuk segera mengambil alih tampuk kekuasaannya.
Anindya membuat Vino terpesona semenjak pertama kali berjumpa. Wajahnya yang sedikit mirip dengan Erina membuat ia kembali menemukan kembali harapan cintanya. Gunung es yang sudah lama membeku di hatinya perlahan mencair.
Anindya merasa risih. Ia kemudian mengajak Vino untuk kembali ke dalam. Mereka berjalan meninggalkan taman belakang.
Rumah ini sangat besar. Seperti istana menurut Anindya yang biasa hidup sederhana di kampungnya.
Rio menatap penuh cemburu ke arah Anindya yang baru tiba. Anindya sendiri merasa salah tingkah melihat tatapan Rio.
__ADS_1
" Ini sepupumu ku kembalikan. " Vino tertawa sembari menepuk halus pundak Rio.
Rio tersenyum. Vino kembali menemui tamu yang lain.
" Maaf... " Anindya tertunduk.
" Untuk apa? " tanya Rio acuh.
" Kamu tidak cemburu? " tanya Anindya mencoba menyelami isi hati Rio.
" Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku. " kini Rio yang tertunduk. Kepercayaan dirinya seolah terjun bebas jika di bandingkan dengan sosok Vino. Tak ada lagi alasan untuk tidak melepaskan Anindya saat ini.
" Tapi aku dan Vino tidak ada apa apa. " jelas Anindya gusar.
" Belum, dan aku yakin Vino suka sama kamu. " Rio menatap mata Anindya.
Anindya memalingkan wajahnya ke arah lain. Berusaha menyembunyikan keresahan hatinya. Entah kenapa ia malah merasa sedih, ketika tidak ada niat sedikit pun dari Rio untuk mempertahankan hubungan mereka. Apa mungkin Rio memang sudah tidak menginginkannya?
" Aku mau pulang. " Anindya tak sanggup berada lagi di tempat itu dengan hati yang sekacau ini. Lebih baik ia pulang dengan atau tanpa Rio sekalipun.
" Baiklah,,, kita pamit dulu sama Pak Baskoro."
Pak Baskoro awalnya menahan mereka untuk pulang lebih awal tapi pada akhirnya diapun mengizinkannya. Sepasang mata Vino menatap kepulangan mereka dengan kecewa.
Sepanjang perjalanan pulang hanya kebisuan yang menemani mereka. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Semua harapan dan rencana kini menguap perlahan. Buyar. Sementara Anindya merasa hatinya patah malam ini. Kecewa dengan sikap Rio yang mengabaikannya.
__ADS_1
**BERSAMBUNG ...
Yuk like dan komennya masih Author tunggu ya,,, Author akan senang dan lebih bersemangat lagi jika kalian pun bisa menghargai karya Author. 💝💝**