PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Mirip??


__ADS_3

"Haii...nama kamu siapa?" sapa seorang gadis cantik yang baru saja memasuki ruangan ketika Anindya tengah asik melihat lihat suasana ruangan kantor yang masih sepi. Hari itu dia sengaja datang lebih awal, seperti saran Rio kemarin. Belum ada yang datang, baru dia dan gadis itu yang ada di ruangan.


" Eeehh iya mbak, namaku Anindya " Anindya tersenyum ramah ke arah gadis yang cantik yang tinggi semampai itu.


" Aku Gendis. " Gadis itu mengulurkan tangannya yang di sambut hangat oleh Anindya.


" Kamu sepupunya Pak Rio ya? " Gendis tersenyum manis, ada dua buah lesung pipi menempel di wajahnya. Manis sekali. Mungkin kalau Anindya jadi cowok sudah jatuh cinta pada gadis itu.


" l...iya..." jawab Anindya tergagap. Mulai saat ini dia harus membiasakan diri mengakui dirinya sebagai sepupunya Rio.


"Kamu cantik. "puji Gendis.


" Mbak juga cantik "


" Jangan panggil mbak deh, kayaknya kita seumuran. " Gendis tertawa.


" Oh,, oke Gendis " Anindya mengedipkan sebelah matanya.


" Semoga betah ya kerja disini. " Gendis menepuk bahu Anindya


" Aamiin. " sahut Anindya.


" Aku juga belum lama Kerja disini. Tapi udah ngerasa betah, orang nya enak enak Nin, kocak kocak semua biarpun kebanyakan ibu ibu. " jelas Gendis.


" Oohh alhamdulillah deh kalau begitu. " Anindya tersenyum lega.


" Hmmm,,, Pak Rio sudah punya pacar belum sih? " Gendis mengalihkan obrolan.


Rio lagi yang di bahas, benar kata Rio kalau nanti pasti banyak yang bertanya tentang dia kepada dirinya. Huuuuhhh.


" Nggak tahu ya Dis, aku nggak ikut campur kalau masalah itu. " kilah Anindya.


" Masa nggak tahu sih" Gendis terlihat sedikit kecewa.


"Beneran nggak tahu. " Anindya tertawa garing, menutupi gejolak hatinya yang sedikit aneh.


" Tolong cari tahu ya Nin, please! " Gendis menangkupkan kedua tangan depan dadanya .


Anindya menggaruk kepalanya. Pusing. Habis ini entah siapa lagi yang akan memohon seperti ini padanya.


" Oke nanti aku cari tahu ya. " Anindya menyerah.

__ADS_1


" Terima kasih Anindya. "Gendis memeluk Anindya yang terbengong.


" Hei pagi-pagi udah berpelukan saja kayak teletubies. " Seru Pak Imam yang baru saja memasuki ruangan itu.


" Hihihi,,, salam perkenalan buat anak baru Pak. " kilah Gendis.


" Ooalah... Kamu yang sepupunya Pak Rio kan? " tanya Pak lmam.


" Iya pak hee..."


"Cantik ya kamu,,, sedikit mirip sama Rio." puji Pak Imam.


Mirip? Apanya? Saudara juga bukan. Anindya heran.


"Iya sih kalian rada mirip satu sama lain. " Gendis ikutan menilai dengan menatap lekat wajah Anindya yang bersemu merah.


" Hahahaha.... Namanya juga saudara pasti ada mirip miripnya dikit. " Anindya berusaha tersenyum walaupun dia tidak mengerti letak kemiripan dirinya dan Rio.


" Pagi-pagi sudah bergosip aja nih." Rio tiba-tiba nyelonong masuk ke ruangan. Hari ini laki laki itu memakai kemeja biru muda dan celana hitam. Rambutnya yang pendek memakai pomed dan dibuat sedikit acak acakan khas anak muda. Pantas saja para gadis di perusahaan itu banyak yang klepek klepek di buatnya. Ternyata kalau di lihat lihat Rio memang tampan, kharismatik, dan keren. Ah Anindya kemana saja kamu selama ini, baru menyadari kalau Rio memang ganteng.


"Tuh kan mirip. " seru Pak Imam memandang bergantian ke arah Rio dan Anindya. Rio menatap Anindya heran, dan bertanya lewat bahasa isyarat. Anindya mengangkat kedua bahunya.


" mirip apanya? " tanyanya heran dan berdiri persis di samping Anindya.


" Hahahaha... Iya lah hidung kami sama sama mancung. " Rio terbahak. Tangannya mencubit hidung Anindya pelan. Ada rasa gemas terlihat di mata Rio. Anindya salah tingkah dan mencubit pinggang Rio, membuat pria itu meringis kesakitan.


Sementara Gendis hanya terpaku di meja kerjanya. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah Rio. Dia nampak malu malu.


"Kalau kaya gini kalian tidak seperti saudara tapi kaya orang pacaran. " Pak Imam menggoda. Anindya sedikit cemas, takut penyamaran mereka terbongkar.


" Hahahaha,,, saya memang lagi nyari pacar yang kaya dia Pak. " jawab Rio santai. Tangannya melingkar di pundak Anindya. Membuat gadis itu sedikit risih.


" Selera Pak Rio memang tinggi saya acungi jempol. Anindya memang cantik banget Pak. "puji Pak Iman tidak berhenti dari tadi.


Anindya tertunduk malu. Mukanya makin memerah. Dia senang menerima pujian seperti itu tapi sekaligus juga takut kedok mereka terbongkar kalau Rio terus terusan bersikap seperti ini terhadapnya.


" Nin kita sarapan dulu yuk. Tadi pagi kan belum sempet sarapan. Nanti kalau kamu pingsan gara gara kelaparan gimana? "Rio mengajak Anindya sarapan di kantin perusahaan.


"Permisi pak" Anindya pamit pada Pak lmam yang masih berdiri di depannya.


"kita mau sarapan dulu pak. " Rio pun pamit.

__ADS_1


" Oh iya silakan. " Pak lmam kembali ke meja kerjanya.


Anindya mengikuti Rio berjalan menuju kantin. Lumayan besar. Ruangan itu di penuhi dengan meja dan kursi kosong yang hanya diisi beberapa saja oleh karyawan yang sedang mengisi perutnya. Ada yang beli makan dari luar dan ada juga yang beli langsung di kantin karena memang menjual menu sarapan seperti nasi uduk, nasi kuning, ketoprak dan lain lain.


Rio memilih ketoprak sementara Anindya lebih memilih nasi kuning sebagai menu sarapannya.


" Kata mereka kita mirip Nin. " Rio berkata sambil menyuap makanannya.


" Siwer kali mata mereka. " Anindya tak acuh.


" Mungkin karena emang kita jodoh "


" Uhuk....uhuk..." Anindya terbatuk mendengar ucapan Rio barusan. Laki laki itu memberikan gelas minum kepadanya.


"Santai jangan buru buru makannya, nggak ada yang bakal minta ini. " Rio menepuk punggung Anindya pelan.


Anindya mendelik ke arah Rio. Bukan terburu buru yang bikin dia keselek tapi omongannya barusan yang bikin dia seperti itu. Rio ngeselin.


" Sudah jangan marah lagi, aku cuman bercanda jangan di masukin ke hati. " Rio membenarkan anak rambut yang menutupi mata Anindya.


Anindya menepis tangan Rio. Matanya semakin mendelik.


" Kamu mau buka identitas kita? " Anindya geram.


" Gak ada yang lihat kok " Rio celingak celinguk melihat orang di sekitarnya. Semua asik dengan makanannya masing-masing.


" Tapi tetap harus hati-hati, jangan sampai mengundang perhatian mereka. " bisik Anindya tertahan.


" Haha... Parno banget kamu. " Rio malah tertawa melanjutkan makannya.


" Ihhh ngeyel banget sih kamu. Pokoknya berhenti ngasih perhatian ke aku kaya tadi,kalau nggak aku mendingan ngundurin diri sekalian sebelum ketahuan. " ancam Anindya.


" Oke,,, baiklah. " Rio menyerah mendengar ancaman Anindya. Bagaimana pun ini adalah kesempatan Rio untuk selalu dekat dengan Anindya. Dan dia tidak mau kehilangan kesempatan itu.


BERSAMBUNG...


Visualisasi Anindya, semoga readers suka yaaa,,,,


Terimakasih sudah membaca karya Author yang pertama. Maaf kalau banyak typo dan penyampaian yang masih kurang bagus karena Author masih belajar nulis...🙏🙏


Nantikan kisah selanjutnya yaaa😉.

__ADS_1



__ADS_2