
Sementara itu, alunan musik the Beatles mengalun menemani perjalanan pulang Vino dari rumah sakit. Bayangan mereka berpelukan begitu hangat membuat pikirannya menduga duga sesuatu yang sengaja mereka sembunyikan.
Tapi apa mungkin mereka berani berbohong. Vino mengernyitkan alisnya. Wait and see. Itulah yang akan dia coba lakukan sekarang. Vino memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang menerobos jalanan ibu kota yang masih ramai lancar.
Vino memasuki tempat parkir sebuah restoran mewah. Hari ini dia ada janji bertemu seseorang disana.
Pandangannya beredar mencari cari seseorang di dalam restoran yang sedikit sepi itu. Hingga terhenti pada sosok wanita muda yang membelakanginya. Wanita itu memakai dress cantik selutut warna biru muda, dengan rambut panjang tergerai indah. Dia tengah asik menikmati segelas lemon tea yang tersaji diatas mejanya.
" Sorry terlambat. " Vino menarik kursi dan duduk di depan gadis itu.
Gadis cantik itu tersenyum." Tidak apa apa. " sahutnya lembut.
" Kamu mau makan sekarang? Kita pesan ya. " Vino memanggil pramusaji. Kemudian memesan beberapa makanan untuk makan malamnya dengan gadis itu.
" Jadi kamu setuju dengan kesepakatan kita? " tanya Vino setelah ia selesai makan.
Gadis itu meletakkan sendok dan garpu diatas piring makannya yang sudah kosong. Ia lantas menyeruput lemon teanya yang masih tersisa setengah gelas lagi.
" Oke aku bersedia. Kita memang sama sama ingin kebebasan tapi kita terikat dengan tradisi orang tua dan merger perusahaan. Memuakan. " Gadis itu mendengus.
Vino mengangkat bahunya. Menyetujui perkataan gadis di depannya. Namanya Cindy. Anak tunggal dari kolega bisnis Papanya. Kedua orang tua mereka bersikeras menjodohkannya. Walaupun tahu kedua anaknya itu tidak saling tertarik satu sama lain.
" So... secepatnya kita beritahu papa dan mama kita ya. " Vino tersenyum puas. Cyndipun ikut tersenyum menampilkan kedua lesung pipi yang muncul di kedua pipinya.
" Tapi ingat tidak ada yang berhak mencampuri urusan masing masing. " Gadis itu menegaskan.
" Setuju." Vino mengangkat jempolnya pasti.
__ADS_1
Ia menyetujui pertunangannya dengan gadis itu agar orang tuanya berhenti menyuruhnya menikah. Ia tahu gadis di hadapannya ini tipe wanita yang menyukai kebebasan dan tidak mau terikat oleh suatu hubungan. Sangat pas dengan prinsip hidupnya saat ini. Setidaknya untuk sementara ini ia belum siap berkomitmen dengan siapapun.
" You know who l'am jadi kita hidup dengan kehidupan masing masing, don't judje apapun yang aku lakukan nanti oke. " sekali lagi Cindy menegaskan seperti kurang yakin.
" Oke... oke... aku ngerti. " Vino mengangkat bahunya.
Pertemuan itu dilanjutkan dengan obrolan ringan keduanya. Sebenarnya Cyndi gadis yang menyenangkan. Dia supel dengan wawasan yang luas, maklum Cyndi lulusan salah satu universitas terkenal di Amerika,sama seperti Vino. Tapi pergaulan di Amerika membuat gadis itu berbeda. Dia seorang Lesbi. Dan Vino tahu hal itu setelah Cyndi bercerita sendiri padanya. Perasaan menyayangkan dan prihatin sempat timbul, tapi ia berpikir pasti ada hal yang membuat Cyndi mengambil jalan hidupnya yang seperti itu. Walaupun ia tidak membenarkan tapi ia juga tidak berhak ikut campur dengan keputusan yang gadis itu ambil.
Ia hanya berkeinginan menuruti apa yang menjadi keinginan orang tuanya. Walaupun kadang ia berpikir kalau keputusannya ini benar benar konyol.
*****
Rio akhirnya keluar dari rumah sakit setelah 5 hari ia di rawat. Kini ia bisa kembali ke rumah dan merasakan lagi kebebasannya. Tapi Anindya masih berlagak seperti satpam baginya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, tidak boleh makan ini, harus makan itu. Rio cuma bisa pasrah dengan semua perintah Anindya yang ingin segera melihat ia pulih kembali.
" lya bu dokter. " Rio cengengesan mendengar wejangan Anindya yang begitu panjang kali lebar sebelum ia pergi bekerja. Hari itu ia harus masuk kerja karena sudah cuti tiga hari untuk menjaga Rio di rumah sakit. Untung terpotong libur sabtu minggu kalau tidak bisa bisa ia di pecat karena kelamaan ijin.
Rio masuk kembali ke dalam rumah saat Anindya sudah melaju motornya keluar dari pekarangan dan menghilang di belokan ujung jalanan gang rumahnya.
" Mas Rio tunggu!" sebuah suara menghentikan langkah Rio. Ia menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Hani setengah berlari memasuki pekarangan. Di tangannya tertenteng sebuah rantang.
" Udah sembuh mas. " Hani memegang tangan Rio.
" Alhamdulillah sudah mendingan Han. " Rio tersenyum. Ia mempersilakan Hani duduk di kursi yang ada di teras rumah.
" Ini Hani bawakan bubur dan sayur untuk mas Rio. " Hani menyerahkan rantang itu ke Rio.
" Waah jadi merepotkan saja nih. " Rio menerima rantang dari Hani. Sebenarnya dia risih telah merepotkan tetangganya itu.
__ADS_1
" Nggak kok,,, Hani senang membuatnya untuk mas Rio. " Hani terlihat malu malu kucing.
" Kamu hebat Hani masih kecil sudah jago masak. " Rio mengacak rambut Hani yang sudah Rio anggap adik sendiri.
" Udah gede kali. " Hani cemberut karena Rio masih saja menganggapnya anak kecil. Padahal dia sudah berkali-kali menunjukkan kalau ia sangat menyukai Rio.
" Iya deh yang sudah merasa ibu ibu. " Rio terkekeh, sementara Hani terlihat makin cemberut.
" Memang mbak Anindya tidak bisa masak ya?" tanya Hani menyelidiki.
" Uuuhhh Anindya itu jago masak,setiap masakan yang ia bikin itu sangat enak. Pokoknya bikin ketagihan deh. " Rio begitu bersemangat menceritakan kepiawaian istrinya dalam mengolah makanan.
Hani cemberut mendengar pujian Rio untuk Anindya. Seolah dia tidak rela Anindya melebihi kemampuan dirinya.
" Kamu sudah punya pacar belum? " tanya Rio tiba tiba. Ia tahu Hani menyukainya. Makanya dia berusaha memangkas tunas cinta Hani sebelum berkembang.
" Belum, kenapa? " Hani berbinar, dia menyangka Rio akan menyatakan perasaannya.
" Cari laki laki yang baik,yang sayang sama kamu dan mamah kamu,yang bisa menggantikan sosok ayah untuk melindungi keluarga kalian." pesan Rio. Hani memang anak yatim. Ayahnya meninggal karena kecelakaan saat ia masih duduk di bangku SMA.
Hani terlihat kecewa mendengar pesan Rio. Ia terlihat berusaha menahan perasaan marahnya. Kedua tangannya terkepal erat. Ia benci saat Rio selalu menolaknya seperti ini. Ia benci dengan penolakan ini.
Hani pergi meninggalkan Rio tanpa pamit. Rio masih terduduk di kursi menatap kepergian Hani begitu saja. Gadis itu menoleh lagi saat sampai di pagar rumahnya. Ia menatap Rio dengan tatapan aneh yang membuat Rio bergidik.
**BERSAMBUNG ...
Maaf ya disini Author tidak bermaksud menyindir atau memojokan satu golongan tertentu, ini murni dari pemikiran Author sendiri. Mohon maaf bila ada yang tersinggung 🙏🙏
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca sampai episode ini. Tak henti Author minta dukungan dari readers semuanya untuk like dan komen serta Vote nya untuk mendukung Novel ini agar lebih banyak di kenal oleh readers yang lainnya di mangatoon ini. Salam cinta untuk kalian semuanya 🙏🙏🙏💝💝**