PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
Takdir


__ADS_3

Rio memandangi wajah lemah Anindya. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Kedua orang tua Anindya sudah menangis dari tadi melihat anak semata wayangnya tergolek lemah seperti itu.


Kata dokter ada masalah dengan plasenta Anindya hingga ia mengalami kelahiran prematur dan pendarahan hebat. Banyak kasus ibu melahirkan seperti ini yang tidak. bisa bertahan hidup.


Rio merasa lemas setelah mendengar penjelasan dokter tadi. Ia tidak kuat lagi untuk menahan air matanya untuk tidak mengalir. Ia sangat terpukul menghadapi kenyataan pahit ini. Tidak ada prediksi dokter sebelumnya untuk hal ini. Dokter selalu mengatakan kandungan Anindya baik baik saja.


" Berdoa saja semoga ada keajaiban untuk ibu Anindya." ucap dokter waktu itu.


Rio sudah meminta dokter untuk menyelamatkan Anindya bagaimana pun caranya. Tapi pihak rumah sakit sudah angkat tangan karena memang segala upaya terbaik sudah mereka lakukan. Sekarang hanya tinggal menunggu mukjizat Tuhan saja.


" Sayang kamu harus kuat ya,,,demi anak kita, demi aku..." Rio terisak. Hatinya terasa sakit. Ia tdak bisa membayangkan kalau Anindya benar benar pergi meninggalkannya.


Ya Tuhan beri kesempatan pada hamba untuk membahagiakan Anindya.


Rio mengusap kepala Anindya. Wanita itu seperti tengah tertidur pulas. Wajahnya begitu tenang, tapi pastinya menyimpan sakit yang begitu dahsyat.


" Anak kita sempurna sayang, pipinya persis seperti kamu, tirus." Air mata Rio menetes membasahi tangan Anindya yang berada dalam genggamannya.


" Kamu harus bangun melihat anak kita yang tampan." Rio mengusap air matanya yang terus mengalir.


Bu Maryanti dan Pak Haryadi tidak kuat melihat Rio seperti itu, mereka memutuskan untuk meninggalkan Rio yang sedang mencurahkan isi hatinya.


" Waktu itu kamu bertanya apa permintaan aku setelah menang taruhan, kamu ingat?"

__ADS_1


" Baiklah aku akan memberi tahumu sekarang... Aku ingin kamu sembuh dan kembali ke sisiku sayang." Rio kembali tersedu.


Hatinya terasa hancur sekarang. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan istrinya itu.


" Kamu janji akan menuruti permintaanku, kamu harus tepati janji itu sayang." Rio mengecup tangan Anindya yang dipenuhi selang, sekujur tubuhnya juga di penuhi selang selang kecil yang menempel.


Ada beberapa pasien yang juga dirawat di ruang itu. Bahkan baru saja seorang anak kecil meninggal dunia. Di ruang ini seolah nyawa manusia di pertaruhkan, jarang ada yang bisa keluar dengan selamat.


Mengingat itu membuat Rio merinding. Tapi Rio tidak mau putus harapan, ia terus berdoa untuk keselamatan Anindya. Ia yakin urusan maut di tangan Tuhan. Ia tidak boleh mendahului ketetapan Tuhan.


Ya Rabb, garis takdir kami sudah Engkau tulis di lauhul mahfudz, tapi aku mohon jangan ambil Anindya saat ini. Aku belum siap kehilangan Anindya Tuhan.


Rio tertunduk merasakan dadanya yang sesak karena kesedihan yang mendalam. Anindya yang kritis, bayinya yang masih dalam inkubator yang belum sempat ia tengok lagi. Rasanya membuat pikirannya benar benar kacau dan menghancurkan semua mimpi indahnya selama ini. Kini ia harus berjuang untuk kesembuhan istri dan anaknya. Bahkan ia juga harus bersiap untuk menerima kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi.


" Maaf Pak Rio, jam besuknya sudah habis." seorang suster menyadarkan Rio dari lamunannya. Suster muda itu sesaat memeriksa peralatan yang menempel di tubuh Anindya.


" Ingat sayang, kamu janji akan menuruti permintaanku,,, aku tagih janji itu sekarang." Rio dengan suara bergetar dan mengecup kening Anindya untuk pamit.


Rio segera keluar dari ruangan walaupun sebenarnya ia sangat ingin menemani Anindya. Tapi peraturan yang tidak membolehkan pasien ICU di temani saat dalam perawatan. Menjadikan Rio hanya bisa menunggu jam besuk di buka untuk bisa menemani Anindya kembali.


Di luar ruangan sudah berkumpul orang tua dan mertuanya. Kesedihan terpancar dari wajah semuanya. Tidak ada yang mengira musibah ini akan terjadi.


Rio memeluk Pak Haryadi dengan erat. " Maafkan Rio Pak yang tidak bisa menjaga Anindya." Kembali Rio menangis tersedu. Membuat tubuhnya berguncang. Pak Haryadi dengan tubuh tuanya yang semakin ringkih membalas pelukan Rio, ia mengusap punggung Rio untuk berusaha memberi ketenangan pada menantunya itu.

__ADS_1


" Jangan berkata seperti itu, semua ini sudah takdir dari Yang Kuasa." Pak Haryadi mencoba membesarkan hati Rio untuk tidak menyalakan diri sendiri. Walaupun sebenarnya hatinya tak kalah hancur.


Bu Maryanti yang berada dalam pelukan Bu Hera sudah berhenti menangis, tapi tatapan wanita setengah baya itu begitu kosong, menandakan ia mengalami kesedihan yang teramat dalam.


Sedangkan Bu Hera sendiri masih sesekali mengusap air mata dengan sapu tangan miliknya yang sudah begitu basah dengan air mata.


Kedua wanita itu sangat menyayangi Anindya. Mereka pun tidak rela kalau sampai Anindya tidak terselamatkan.


Di ruang Bayi.


Rio menatap anaknya yang masih berbobot kurang dari 2 kilogram dari balik dinding kaca. Begitu mungil dan lemah. Tangan tangan kecilnya sesekali bergerak pelan. Ia masih belum bisa membuka matanya.


Semuanya kembali terisak. Diantara bayi bayi yang lain, anaknya lah yang paling ringkih. Selang selang kecil juga terpasang di tubuh bayi mungil itu.


Rio tidak kuat melihatnya. Bayi yang masih merah itu harus menderita sedemikian rupa di awal kehidupannya.


Bayangan ia menggedong bayinya sesaat setelah di lahirkan kini tidak terkabul karena jangankan menggendong, menyentuhnya pun dokter belum mengizinkan.


Air matanya kembali menetes. Semoga Tuhan memberi kekuatan pada anaknya.


Berjuanglah anakku....


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2