
Anindya menangis sejadi-jadinya. Tak menyangka Rio benar benar hadir di depan matanya. Perasaan bahagia membuat dadanya seakan ingin meledak. Mulutnya tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Walau sebenarnya ada banyak unek unek yang ingin dia keluarkan.
Rio memeluk Anindya yang masih tersedu. Sebenarnya air matanya juga dari tadi mendesak ingin keluar tapi ia tahan karena dia laki laki yang tidak mungkin meraung raung menangis seperti itu.
Anindya memeluk erat tubuh lelakinya itu. Menumpahkan semua kerinduannya. Sesaat mereka lupa permasalahan yang ada diantara mereka. Rasa rindu ini mengalahkan semuanya.
Rio mengusap kepala Anindya,mengecup ubun ubunya penuh perasaan. Dia begitu bahagia karena akhirnya menemukan wanita yang sudah lama ia cari cari itu. Rasa rindu yang membuncah di antara keduanya seakan tumpah ruah saat itu.
Anindya melepaskan pelukannya setelah dirinya agak sedikit tenang. Rio mengusap air mata yang membasahi pipi Anindya dengan kedua ibu jarinya. Memandang wajah Anindya membuat perasaanya begitu tenang. Dia benar-benar tidak ingin berpisah lagi dengannya.
" Kenapa baru datang sekarang." Anindya merajuk manja.
"Iya,,, maafkan aku sayang, karena aku baru bisa menemukanmu sekarang. " Rio berkata lirih dan mengusap lembut pipi Anindya. Menatap kedua bola matanya yang masih terlihat sembab. Ternyata Anindya juga sama seperti dirinya. Sama sama rindu.
Dia tidak mau kalau sampai Anindya tahu bahwa untuk menemukannya ia harus rela bertekuk lutut di bawah kaki Vino. Ia tidak ingin Anindya merasa bersalah.
" Tidak Rio. Justru aku yang harusnya minta maaf. Aku sudah menghilang dan menutup semua akses komunikasi kita. Semua itu aku lakukan untuk memberi waktu pada diri kita masing masing untuk berpikir dan mengambil keputusan atas langkah yang akan kita ambil selanjutnya. " Anindya mulai serius berbicara.
Meskipun Rio masih ingin menikmati kerinduannya dengan Anindya lebih lama lagi,tapi ia sadar kalau ada hal serius yang harus di bicarakan.
Rio menarik nafas panjang. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Tapi ia sedang berusaha memilah kata katanya agar tidak menyinggung perasaan Anindya. Di pertemuan mereka kali ini dia tidak ingin ada pertengkaran yang terjadi.
" Bagaimana hubunganmu dengan Vino? Apa semua baik baik saja?" tanya Rio dengan suara perlahan.
Anindya terperangah mendengar pertanyaan Rio barusan. Dia menyadari kalau Rio sudah salah paham selama ini.
__ADS_1
" Rio kamu adalah satu satunya laki laki yang berhak memiliki aku." Anindya melingkarkan kedua tangannya ke belakang pinggang Rio.
" Jadi selama ini...?"
Anindya menggelengkan kepalanya. Berusaha meyakinkan Rio kalau ia tidak berbohong.
" Aku masih milikmu dan hanya milikmu Rio. Kamu tahu aku wanita seperti apa? Aku tidak mungkin mudah jatuh ke tangan orang lain begitu saja." Anindya mendongak dan memandang wajah Rio. Ada segurat kesedihan dalam tatapannya karena Rio masih meragukan dirinya.
Sesaat Rio terlihat berpikir. Tapi kalau melihat karakter Anindya yang tidak mudah jatuh cinta perkataan dia masuk akal juga. Rio kembali menarik nafas pelan. Berusaha berpikir jernih dan menyingkirkan semua ego dalam dirinya.
"Aku dan Vino hanya sebatas teman. Dia hanya ingin melindungiku." jelas Anindya dengan muka serius.
"Aku masih bingung Nin." Rio masih terlihat tidak mengerti dengan semua yang terjadi.
Begitu banyak hal yang terasa janggal menurutnya.
" Kami memang dekat,,, tapi hubungan ini hanya sebatas teman saja." Ulang Anindya berusaha meyakinkan Rio.
Rio terdiam. Mencoba mengambil benang merah antara perkataan Anindya dan pengakuan Vino.
" Terus apa benar kamu sedang hamil?" tanya Rio lagi.
Anindya tersenyum sumringah. Dia lalu berdiri di depan Rio dan memperlihatkan perutnya yang mulai membuncit.
Rio mengusap perut Anindya. Terlintas pertanyaan dalam benaknya. Anak siapa sebenarnya yang ada dalam perut Anindya ini.
__ADS_1
"Hmm... sepertinya kamu tidak senang." Anindya cemberut melihat ekspresi datar di wajah Rio.
Rio tersenyum getir. Bagaimana ia akan senang kalau ternyata itu adalah anak Vino. Tapi teringat kembali tujuannya bertemu Anindya. Dia hanya ingin memastikan gadis itu akan memilih siapa. Tak perduli dengan kandungan Anindya. Sekalipun itu anak Vino dia akan tetap menerima kalau Anindya masih ingin hidup bersamanya.
" Sabar ya Nak, ayahmu tidak mau mengakuimu sebagai darah dagingnya." Anindya melengos pergi menuju balkon.
Rio terkejut mendengar perkataan Anindya. Jadi benar itu anaknya. Ah, jahat sekali kalau ia berpikir janin itu bukan darah dagingnya.
Tapi lagi lagi pikirannya terbantahkan mengingat foto foto yang ia terima di ponselnya dulu. Sudahlah Rio ingat tujuan kamu. Bukan masalah kehamilan Anindya tapi mengambil hati Anindya sekarang yang lebih penting. Benaknya.
Rio menghampiri Anindya dan memeluk gadis itu dari belakang. Bagaimanapun dia sangat mencintainya. Dia ingin melupakan semua yang terjadi dan memulai lagi dari awal.
" Jangan ngambek dong sayang, nanti anak kita ikutan benci papanya sendiri." Rio mengecup samping leher Anindya. Membuat gadis itu menggelinjang geli.
Rio tertawa geli melihat pipi Anindya yang memerah. Sudah lama ia tidak melihat ekspresi itu. Anindya menghujani Rio dengan cubitan cubitan pelan di pinggang dan lengannya. Rio hanya tertawa dan sesekali mengaduh ketika cubitan itu sedikit terasa sakit.
Tak tahan di cubitin terus Rio menarik tangan Anindya ke arahnya hingga tubuh Anindya jatuh ke dalam pelukannya. Keduanya memejamkan mata menikmati rasa rindu yang kini telah menemukan muaranya.
Untuk beberapa saat lamanya mereka berpelukan seakan tak mau terpisah lagi satu sama lain. Berkali-kali Rio mengecup pucuk kepala Anindya penuh cinta.
Sepasang mata melihat nanar dua insan yang sedang menumpahkan rasa rindu dari bawah sana. Dia tersenyum kecut mengingat kelakuannya yang seperti anak kecil. Dengan langkah berat dia meninggalkan tempatnya bersembunyi. Berulang kali dia merutuk dirinya sendiri atas kesalahan yang sudah ia lakukan. Kini ia merasa lega telah menyambung kembali hubungan yang sempat ia putus secara paksa. Tapi rasa sakit tetap masih terasa. Tapi ia yakin seiring berjalannya waktu sakit ini pasti sembuh.
Namun dilain tempat terlihat seseorang yang juga sedang memperhatikan Rio dan Anindya. Bedanya terlihat kilatan kebencian di matanya. Dia tidak suka melihat adegan itu. Wajahnya begitu dingin. Ada sisi lain yang kejam tersembunyi dalam dirinya. Dengan cepat ia pergi menyelinap diantara kerumunan orang yang sedang bersantai.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Doakan ya readers novel ini akan segera kontrak jadi bisa kontinue untuk update. Makanya bantu author agar lebih semangat lagi. Like,komen dan vote sangat penting agar performa novel ini cepat meningkatkan. Barangkali lupa untuk like yuk scroll lagi ke atas dan sematkan jempol cantik kalian 😘😘