
" Assalamualaikum."
" Waalaikum salam Bapak. " Anindya terlihat bahagia mendengar suara Ayahnya di ujung telepon.
" Bagaimana kabar kalian nak? "
" Alhamdulillah kami sehat Pak. " Rio ikut nimbrung karena suara handphone sengaja di loudspeaker.
Bapak sama ibu sehat?" tanya Anindya.
" Alhamdulillah kami juga sehat nak. " jawab Pak Haryadi lagi.
" Bagaimana apakah sudah ada tanda tanda?" Terdengar suara tawa Pak Haryadi
" Tanda tanda apa Pak? " Rio mengernyitkan dahinya.
" Tanda itu tuh. " Pak Haryadi sedikit cengengesan juga terdengar suara cekikikan Bu Maryanti.
Anindya dan Rio saling pandang tidak mengerti. Mereka tidak tahu tanda tanda apa yang dimaksudkan Pak Haryadi. Keduanya tampak bingung.
" Ibu sama Bapak sudah tidak sabar pengen segera menimbang cucu Nak. " Bu Maryanti menjelaskan.
" Oohh. " spontan Anindya dan Rio menjawab serentak.
" Doain secepatnya Bu, Rio akan berusaha sekuat tenaga. " Rio cengengesan tak peduli dengan Anindya yang melotot dengan wajah merah padam karena malu.
" Iya, harus Nak Rio, bila perlu paksa Anindya untuk segera hamil hehehe... " Pak Haryadi malah mengompori menantunya itu. Rio tambah bersemangat menanggapinya. Sementara Anindya bergidik sendiri mendengarkan percakapan antara ayah dan suaminya itu.
" Sudah sudah apa apaan sih kalian? Geli dengernya tahu nggak? " Anindya menyudahi candaan dua lelaki itu.
" Hahahaha... Ya sudah kalau begitu kalian istirahat saja, Bapak dan Ibu doain semoga kalian cepat cepat di beri momongan secepat. " Pak Haryadi memungkas teleponnya.
" Aamiin " sahut Anindya lirih namun terdengar jelas di telinga Rio.
" Jadi kamu menyetujui usul Bapak? " Rio sumringah.
__ADS_1
" Ih apaan sih? " Anindya merasa wajahnya terasa hangat.
" Idiiihh mukanya merah. " Rio menggoda Anindya yang terlihat sangat malu. Gadis itu lari ke dalam kamarnya yang diikuti oleh Rio di belakangnya.
" Ngapain kamu ikut masuk? " Anindya mendorong tubuh Rio yang duduk disampingnya di tepi tempat tidur.
" Mau mengikuti saran Bapak. " Rio nyengir. Anindya memukul wajah Rio dengan bantal. Dia tak percaya kalau Rio akan menuruti nasehat ayahnya sekarang.
" Kata Bapak aku boleh paksa kamu untuk hamil. " Rio nyengir lagi. Membuat Anindya merinding memikirkan kalau Rio benar-benar memaksa dia melakukan 'itu'.
" Rio jangan macem macem ya. " Anindya mengambil bantal dan ditaruh untuk menutupi dadanya.
" Nin aku kan suamimu, masa nggak boleh macam macam. " Rio memelas.
" Enggak boleh. " Anindya menggeleng tegas.
" Duuuhh kaya gini amat hidupku, punya istri tapi tidak mau di sentuh sama sekali. " Rio meremas rambutnya sendiri.
Anindya menutup mulutnya menahan tawa. Ada rasa kasihan melihat wajah Rio yang frustasi.
Rio merebahkan tubuhnya diatas paha istrinya. Begini saja dia sudah bahagia. Anindya merasakan geli di pahanya apalagi saat Rio terus menggerakkan kepalanya.
Kini ia hanya pasrah membiarkan Rio berbuat semaunya.
" Sabar ya De, nanti kamu akan segera hadir di rahim mama. " Rio mencium perut Anindya yang hanya tertutup piyama tipis.
Anindya berdesir. Kata kata Rio barusan membangunkan naluri keibuannya. Ia juga sebenarnya sudah berkeinginan untuk menjadi ibu. Tapi ia masih takut untuk...
Anindya hanya bisa memandangi Rio yang terus menerus mencium perut rampingnya. Di usapnya rambut Rio lembut. Pria itu mendongak ketika di rasa jemari Anindya bergerak menelusuri tengkuknya. Tak sadarkah ia kalau baru saja membangkitkan jiwa laki lakinya? Uuhhh,,, Rio semakin mempererat pelukannya. Membenamkan wajahnya di perut ramping istrinya.
Anindya tidak mengerti kenapa Rio seperti itu. Ia berusaha melepaskan pelukan Rio yang semakin membuatnya terasa sesak.
" Rio lepas. " Anindya meringis.
Rio akhirnya melonggarkan pelukannya. Anindya meraih wajah Rio dan setengah memaksa mengarahkan wajah itu kearahnya. Terlihat kedua mata Rio yang sayu.
__ADS_1
" Kamu kenapa? " tanya Anindya dengan wajah polosnya. Rio memejamkan matanya berusaha mengatur nafasnya yang mulai memburu. Ia tak habis pikir kenapa Anindya bisa bersikap sepolos itu.
" Nin kenapa kamu tega nyiksa aku kaya gini?" Rio menatap sendu. Anindya semakin tidak mengerti maksud Rio. Menyiksa apa?
" Kamu ngomong apa sih? "
Rio menarik tangan Anindya yang berada diatas pipinya. Menciumnya dengan lembut penuh perasaan. Anindya tersenyum melihat kelakuan Rio. Apakah ia benar-benar sudah siap menjadi istri Rio? Melayaninya lahir batin? Anindya masih berpikir keras.
Tubuh Anindya terdorong ke belakang dan memaksanya untuk rebahan. Rio merangsek menggeserkan posisi tidurnya sejajar dengan Anindya. Kini wajah keduanya saling berhadapan. Rio menatap Anindya dan mengusap pipi lembut Anindya. Gadis itupun tak ingin melepaskan tatapannya dari dua bola mata Rio.
Ya ampun kenapa juga dia harus memperhatikan bibir Rio yang sedikit terbuka itu. Sadar Anindya, gadis itu memejamkan matanya mencoba mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba hadir dalam otaknya.
Melihat Anindya yang terpejam, naluri laki lakinyapun bangkit. Ia menganggap itu adalah sebuah kode dari Anindya. Perlahan ia mendekatkan bibirnya menyentuh bibir Anindya yang ranum yang sudah dari dulu ia dambakan untuk menyentuhnya.
Anindya kaget merasakan sentuhan hangat di bibirnya. Kedua matanya membulat ketika Rio mulai ******* bibirnya perlahan. Nafasnya tiba tiba terasa pendek. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Oh my God ciuman pertamanya diambil Rio. Sesaat perasaannya melayang, nyaman dan tenang ia rasakan. Pengalaman pertama ini sungguh membuatnya terkesan. Ia bersyukur cita-citanya dari dulu terlaksana kalau ia hanya akan mempersembahkan ciuman pertamanya untuk suaminya.
Rio melepaskan kecupannya dari bibir Anindya yang masih terpejam. Nafasnya memburu. Ia tak percaya kalau baru saja dia melakukan itu pada Anindya. Apakah Anindya akan memarahinya?
Tidak ada reaksi dari gadis itu. Dia hanya tertunduk malu dan merasakan hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya. Rio mengamati wajah yang memerah itu.
" Apa ini yang pertama? " tanya Rio ragu.
Anindya menggangguk pelan. Rio meraih tubuh Anindya dalam pelukannya. Dia sungguh bahagia. Anindya sudah menjaganya untuknya. Walaupun dia tahu Anindya sempat akan menikah dengan orang lain sebelumnya. Teringat perkataan Anindya dulu yang sempat bertekad untuk menjaga ciuman pertamanya yang akan ia berikan untuk suaminya nanti. Ia tidak menyangka kalau Anindya tetap mempertahankan prinsipnya dari dulu.
"Terima kasih sudah menepati janjimu." bisik Rio di telinga Anindya. Gadis itu tersipu malu ia benamkan wajahnya di dada Rio yang bidang.
Rio mengusap lembut rambut Anindya. Malam masih sangat panjang, entahlah apa ia sanggup untuk tidak melakukan apa apa lagi malam ini. Sementara tak bisa dibohongi ia sudah sangat berjuang keras untuk bisa menahan diri.
" Rio. " Anindya memainkan jemarinya di dada Rio membuat laki laki itu memejamkan matanya menahan sesuatu yang hampir saja tak bisa ia bendung lagi.
***BERSAMBUNG*...
Update malam ya,,,
__ADS_1
Duuhh maaf lagi puasa malah nulis ginian. Yang udah ngalamin pasti cengar cengir inget jaman pengantin baru.
Don't forget, tong hilap, ojo lali like, komen, votenya ya sayangku 😘😘**