PENGANTIN DADAKAN

PENGANTIN DADAKAN
HARGA DIRI


__ADS_3

Vino memutuskan untuk pergi menyusuri detail resort sendirian. Ia melihat Anindya begitu lelah hari ini hingga tak berani membangunkan tidur lelapnya.


Udara dingin terasa menusuk hingga ke tulang sumsum. Padahal hari sudah merangkak siang. Dan matahari pun sudah bersinar garang. Tapi tetap saja udara puncak masih terasa dingin di kulit.


Vino duduk santai di atas sofa lounge yang menghadap hamparan bukit yang menghijau. Deretan pohon hutan pinus pun terlihat dari sini. Mungkin besok tempat itu akan menjadi destinasi selanjutnya. Anindya pasti menyukainya.


Terlihat beberapa orang duduk berbincang dengan rekannya. Ruangan terbuka ini memang dikhususkan untuk pengunjung yang ingin bersantai sambil memandang ciptaan Tuhan yang begitu indah ini.


Dari sini terlihat jelas panorama gunung gede pangrango dan hutan pinus yang terhampar luas. Langit yang cerah namun tetap menyisakan kabut di beberapa titik. Lereng bebukitan yang ditumbuhi rumput hijau seakan menjadi permadani yang berundak.


Ini bukan kali pertama ia berkunjung ke resort itu. Bukan karena pemilik resort itu adalah teman ayahnya, tapi terlebih karena ia suka dengan view yang ditawarkan di resort tersebut.


Vino masih asik menikmati pemandangan indah di hadapannya ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.


"Pak Vino."


Vino terhenyak. Seketika ia menoleh. Terlihat sosok laki-laki tinggi berdiri tegak di hadapannya. Sejujurnya ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu sekarang. Tiba tiba rasa resah mulai menyeruak dalam dadanya.


" Rio."


Rio duduk di hadapan Vino. Jelas sekali kalau dia terlihat canggung. Vino pun menampakkan wajah datar.


"Ada yang ingin saya bicarakan sama Bapak."


" Sepertinya tidak ada yang harus kita bicarakan." Vino seperti enggan menanggapi. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


Rio berusaha menahan rasa kesalnya. Bagaimana pun Vino adalah harapan satu satunya untuk menemukan keberadaan Anindya.


"Saya minta waktunya sebentar saja, saya hanya ingin bertanya soal Anindya." Rio langsung ke pokok permasalahannya. Dia tahu kalau Vino tidak ingin berbasa basi dengannya.


Vino mengerutkan alisnya berpura-pura tidak mengerti maksud Rio.


" Kenapa kamu tanya saya?"


" Karena saya yakin bapak tahu keberadaan Anindya. Bapak pernah bilang pada saya kalau Anindya sedang mengandung anak bapak, jadi mana mungkin bapak meninggalkannya begitu saja."


" Terus apa untungnya saya kasih tahu kamu. Sudahlah Rio jangan ganggu lagi Anindya. Urus saja kehidupan kamu yang baru bersama wanita itu." Vino mulai tersulut emosi.


Rio tidak mengerti. Wanita yang mana yang di maksud Vino. Tidak ada wanita lain selain Anindya di hidupnya.


Vino berdiri dan bermaksud meninggalkan Rio yang masih mematung. Tapi tangannya keburu di cengkram Rio. Vino mendengus kesal dan mencoba mengibaskan tangan Rio. Tapi terlihat Rio berlutut dengan wajah tertunduk. Vino terkejut melihat Rio seperti itu.


Vino terkesiap. Dia tidak menyangka Rio akan berbuat seperti itu. Sebesar itukah rasa cinta Rio terhadap Anindya? Vino yakin Rio sudah menekan harga dirinya hingga titik terendah sampai sampai dia rela berlutut di bawah kakinya.


Lagi lagi Vino mendengus kesal. Ia jengkel pada Rio yang mampu berjuang demi cintanya. Sedangkan ia sendiri hanya mampu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Anindya. Itupun sampai saat ini gadis itu masih tak mau membuka hati untuknya. Vino merasa dirinya amat menyedihkan.


Vino tersenyum kecut ketika melihat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.


" Bangun Rio."


Rio masih tidak bergeming. Demi Anindya dia rela kehilangan harga dirinya di depan Vino. Rasa rindu yang sudah semakin dalam tak sanggup lagi ia tahan. Setidaknya ia ingin bertemu dan berbincang dengan gadis itu untuk terakhir kalinya. Kalau toh pada akhirnya Anindya lebih memilih untuk bersama Vino dia akan ikhlas menerimanya. Baginya kebahagiaan Anindya diatas segalanya. Walau pada akhirnya dia akan merasakan sakit jika ternyata memang benar Anindya memilih Vino.

__ADS_1


Ada perasaan bersalah tiba tiba menyelusup dalam hati Vino. Dia menjadi ragu atas tindakan yang telah ia ambil. Apakah ia telah memisahkan dua orang yang saling mencintai? Meskipun bukan itu tujuannya. Tapi tetap saja ia merasa menjadi pribadi yang begitu egois.


Rio masih tertunduk dan berlutut. Dia sudah tidak peduli dengan orang-orang yang melihat aneh kelakuannya. Bahkan mulai terdengar kasak kusuk diantara mereka. Rio memejamkan matanya. Sebenarnya dia merasa sedih harus melakukan ini semua tapi apa boleh buat diapun tak bisa lagi menahan keinginan hatinya untuk segera bertemu Anindya.


" Bangun Rio." suara Vino melunak. Dia meraih tubuh Rio untuk berdiri.


"Ikut aku." lanjutnya lagi.


Vino melangkah pergi diikuti Rio dari belakang. Langkah kakinya terasa bergetar. Mungkinkah Vino akan membawanya pergi menemui Anindya. Rasa rindu ini kian membuncah. Dadanya berdebar kencang. Bayangan wajah Anindya seolah sudah menari nari di pelupuk matanya.


Vino berhenti di depan sebuah pintu kamar. Rio tertegun karena ternyata kamar itu bersebelahan dengan kamar yang ia tempati. Kalau benar ini adalah kamar Anindya berarti jarak mereka sudah begitu dekat. Ya Tuhan kebetulan ini apakah sebuah pertanda atau hanya kebetulan belaka?


Vino membuka pintu kamar itu dan mempersilahkan Rio untuk masuk. Dengan sedikit ragu Rio memasuki kamar itu. Vino tidak ikut masuk, ia masih berdiri di luar sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.


Rio melihat sesosok tubuh tergolek di atas tempat tidur. Walaupun dari belakang dia tahu kalau itu adalah Anindya. Hatinya berdesir seakan tak percaya kalau orang yang selama ini dia rindukan siang dan malam kini hadir tepat di depan mata.


Perlahan dia berjalan menghampiri Anindya yang masih tertidur pulas. Wajahnya masih tetap cantik seperti dulu. Seulas senyum bahagia tersungging di bibir Rio. Perlahan dia menyibak anak rambut yang menutupi pipi Anindya.


Rio terus mengamati wajah Anindya tanpa berkedip. Ia begitu rindu pada gadis itu. Perlahan dia mengusap pipi Anindya. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia memicingkan matanya yang masih terasa berat. Samar terlihat bayangan Rio di depan matanya. Laki laki yang baru saja hadir dalam mimpinya. Diapun tersenyum tapi kemudian menutup matanya kembali.


Ya Tuhan ternyata aku masih belum terbangun dari mimpi. Tuhan pun tahu kalau aku merindukannya hingga masih di beri kesempatan untuk menikmati mimpi ini sebentar lagi. Benaknya.


Rio gemas melihat Anindya yang tertidur kembali. Diapun mengecup wajah Anindya bertubi-tubi. Gadis itupun terperanjat dan terbangun.


"Rio!" jeritnya tertahan. Dia mengucek matanya berkali kali tak percaya dengan apa yang dia lihat. Lalu sejurus kemudian air matanya berderai membasahi pipinya yang tirus.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2