
Dita yang mendengar Dika dan Dokter Asyifa angkat suara secara bersamaan merasa penasaran bagaimana mereka bisa saling mengenal.
"Jadi kalian berdua sudah saling mengenal?" Tanya Dita.
"Ogah banget kenalan sama lelaki mesum seperti dia, Tante kesel banget sama lelaki yang ada di samping kamu, masa tadi dia masuk ke dalam Toilet perempuan, bahkan dia sudah melakukan hal yang tidak senonoh kepada Tante."
"Heh perempuan bawel, kamu jangan suka memfitnah orang, aku tadi membekap mulut kamu karena kamu duluan yang sudah berteriak minta tolong, padahal aku juga tidak ngapa-ngapain kamu. Bagaimana kalau nanti ada orang yang dengar teriakan kamu? Nanti aku dikiranya sudah macam-macam sama kamu, padahal aku kan hanya salah masuk toilet saja."
"Dita, kenapa sih kamu mau dijadikan sugar baby sama lelaki mesum seperti dia?" Tanya Dokter Asyifa, sehingga Dita dan Dika membulatkan matanya mendengar perkataan Dokter Asyifa.
"Kamu kalau bicara itu jangan sembarangan, bisa-bisanya kamu menuduhku menjadikan Anakku sendiri sebagai simpanan," ujar Dika, dan sekarang giliran Dokter Asyifa yang membulatkan matanya ketika mendengar bahwa Dita adalah Anak Dika.
"Astagfirullah Dita, jadi dia adalah Ayah kamu? Dasar lelaki mesum, pasti kamu sudah macem-macemin Anak gadis orang, makanya kamu nikah muda sampai akhirnya di usia kamu yang masih muda, kamu sudah mempunyai Anak gadis sebesar Dita."
"Bukan urusan kamu aku sudah mempunyai Anak gadis, tapi aku bangga karena Anak gadisku sudah berhasil menjadi seorang Dokter, bahkan sebentar lagi dia akan bekerja."
"Kamu tidak tahu malu sekali, kamu pasti mau memanfaatkan Dita untuk mencari uang kan, apalagi sejak kecil kamu sudah memberikan Dita untuk di adopsi oleh keluarga Pratama, benar-benar lelaki tidak bertanggungjawab, dan pasti istri kamu sudah meminta cerai karena dia tidak tahan dengan kelakuan kamu yang selalu mesum kepada setiap perempuan."
"Sepertinya Tante salah paham deh, tidak mungkin Ayah berbuat seperti itu, Ayah juga, kenapa sih bukannya minta maaf saat salah masuk Toilet," ujar Dita yang sudah terlanjur memanggil Dika dengan sebutan Ayah, padahal biasanya di depan oranglain Dita akan memanggil Dika dengan panggilan Om.
Ketika Dita hendak menjelaskan jika Dika bukanlah Ayah kandungnya, handphone Dokter Asyifa berbunyi, dan ternyata itu adalah telpon dari Ibu tirinya yang menyuruh pulang karena penyakit Ayah Dokter Asyifa kambuh.
"Dita sayang, maaf ya Tante harus pulang duluan, soalnya ada sesuatu yang terjadi di rumah. Tolong bilangin terimakasih sama Tuan Andhika, besok Tante akan mulai masuk kerja."
__ADS_1
"Tante sebenarnya, Om Dika_," perkataan Dita lagi-lagi terputus karena Dokter Asyifa kembali bicara kepada Dika.
"Heh lelaki mesum, jangan harap kamu bisa memanfaatkan Dita, karena aku tidak akan membiarkan Dita dimanfaatkan oleh Ayah yang jahat sepertimu. Selama ini aku sudah mengalami kemalangan dalam hidupku karena mempunyai orangtua yang juga mempunyai sifat serakah sepertimu, dan aku tidak ingin Dita mengalami hal yang sama, karena aku sudah menganggap Dita sebagai keluargaku sendiri," ujar Dokter Asyifa sebelum pergi, kemudian Dokter Asyifa berlari untuk mencari ojeg supaya dirinya bisa segera sampai di rumah.
Dika menggelengkan kepalanya ketika mendengar perkataan Dokter Asyifa yang sudah salah paham terhadap dirinya, dan Dita hanya tertawa ketika melihat Dika terus menggerutu.
"Dasar perempuan aneh, baru kali ini Ayah bertemu dengan perempuan Aneh dan bawel seperti dia."
"Tapi Dokter Asyifa cantik kan?" pancing Dita.
"Iya sih, Ayah akui kalau dia cantik seperti Bunda kamu."
"Dia adalah perempuan yang akan Dita jodohin dengan Ayah."
"Apa? Ayah tadi hanya salah ngomong, dia tidak cantik sama sekali. Dia itu bar bar, dan dia juga_" Dika terlihat berpikir.
"Ya..dia bawel, dan Ayah tidak mungkin suka dengan perempuan seperti itu."
"Ayah bisa bicara seperti itu karena Ayah belum mengenalnya, begitu juga Dokter Asyifa yang belum mengenal serta mengetahui siapa Ayah sebenarnya."
Dika terlihat berpikir, karena selama ini banyak perempuan yang mendekatinya hanya demi kekayaan saja, sampai akhirnya terbesit ide untuk pura-pura miskin.
"Bagaimana kalau Ayah pura-pura miskin saja? selama ini banyak perempuan yang mendekati Ayah hanya karena harta yang Ayah miliki, dan mereka tidak pernah benar-benar tulus mencintai Ayah, makanya tidak ada yang membuat Ayah jatuh cinta kepada perempuan lain selain Bunda kamu. Kalau memang nanti Dokter Asyifa jatuh cinta kepada Ayah yang miskin, Ayah bersedia untuk menikah dengannya."
__ADS_1
Dita nampak berpikir, sampai akhirnya Dita menyetujui usul Dika.
"Kalau begitu Dita setuju dengan usul Ayah, dan Dita akan selalu mendukung Ayah."
"Besok Ayah akan mulai bekerja menjadi OB di Rumah Sakit, mungpung pekerjaan Ayah di kantor sedang tidak banyak."
"Apa mereka tidak akan mengenali Ayah?"
"Kalau dandanan Ayah berbeda, mereka tidak akan mengenali Ayah, lagipula selama ini Ayah jarang sekali ke Rumah Sakit, jadi tidak akan ada yang mengenali Ayah sebagai Andhika Pratama pemilik Rumah Sakit, karena sekarang Ayah akan berpura-pura menjadi Ayah kandung Dokter Dita," ucap Dika dengan tersenyum.
Beberapa saat kemudian makanan yang Dita pesan datang.
"Kasihan sekali Dokter Asyifa tidak bisa makan bersama kita," gumam Dita.
"Sudahlah sayang, kapan-kapan Dita bisa mengajak dia makan bersama lagi. Oh iya, sepertinya kisah hidup Perempuan bawel itu sedikit rumit?"
"Iya Yah, Dokter Asyifa adalah korban dari perceraian kedua orangtuanya. Sejak kecil beliau tinggal bersama Neneknya, karena kedua orangtuanya menikah lagi, tapi setelah Nenek Dokter Asyifa meninggal dunia, mau tidak mau Dokter Asyifa tinggal bersama Ayah dan juga Ibu tirinya."
"Bagaimana ceritanya dia bisa menjadi seorang Dokter?" tanya Dika yang merasa penasaran.
"Dokter Asyifa mendapatkan beasiswa sejak dirinya masuk di bangku SMA, meski pun dia tidak mendapatkan dukungan dari siapa pun, tapi dia bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang Dokter dengan Sekolah sambil bekerja, karena dia ingin sekali membantu orang sakit yang tidak mempunyai uang, sebab dulu saat Neneknya sakit, tidak ada Dokter yang mau mengobatinya karena mereka tidak mempunyai uang, sampai akhirnya Nenek Dokter Asyifa meninggal dunia, dan dia bertekad ingin menjadi seorang Dokter."
Dika merasa tersentuh dengan cerita Dita tentang Dokter Asyifa, karena Dika teringat dengan perjuangan Cinta sebelum bertemu dengan Dika. Dulu Cinta selalu bekerja keras demi membahagiakan orang-orang yang dia sayang, bahkan Cinta sampai menjadi Asisten rumah tangga untuk menyekolahkan Adik-adiknya, meski pun Tia dan Ahmad hanyalah Adik angkat Cinta.
__ADS_1
"Setelah Ayah mendengar cerita tentang perempuan bawel itu, Ayah jadi merasa kagum kepadanya, karena ternyata dia seorang pekerja keras, sama dengan Bunda kamu yang selalu berusaha untuk membahagiakan orang-orang yang dia sayang."
"Dita sebenarnya kasihan sama Dokter Asyifa, karena setelah dia mempunyai pekerjaan, kedua orangtua kandungnya terus saja membebani dia dengan meminta uang hasil kerja kerasnya, padahal semenjak kecil Dokter Asyifa sudah mereka telantarkan, tapi setelah dewasa, mereka menjadikan Dokter Asyifa sebagai tulang punggung keluarga, makanya sampai saat ini Dokter Asyifa masih belum menikah."