
Anak buah Papa Dewo tertunduk takut ketika mendengar pertanyaan tentang keberadaan bayi yang dilahirkan oleh Tia, karena mereka belum mendapatkan informasi tentang keberadaan Anak tersebut.
"Maaf Bos, kami masih mencari informasi tentang keberadaan bayi tersebut, karena pihak Rumah Sakit tidak bisa di ajak kerjasama, apalagi kemungkinan bayi tersebut sudah berusia 22 tahun, jadi OB yang kami suruh mencari informasi sedikit kesusahan."
"Aku tidak mau tau alasan kalian, kalian harus secepatnya mencari keberadaan Anakku !!" teriak Papa Dewo.
Anak buah Papa Dewo kembali bertugas mencari keberadaan bayi yang dilahirkan Tia, apalagi Papa Dewo hanya memberikan mereka waktu satu minggu, karena Papa Dewo ingin segera mendapatkan bukti sebelum pernikahan Dita dan Rizki yang akan dilaksanakan dua minggu lagi.
"Aku harus segera mendapatkan bukti karena aku takut kalau Dita dan Rizki adalah saudara, karena jika benar kenyataannya seperti itu, mereka berdua tidak boleh menikah, karena masih memiliki ikatan darah," gumam Papa Dewo dengan menatap fhoto mendiang Tia yang diam-diam selalu dia simpan.
......................
Rangga terus saja melamun dengan duduk di sofa yang menghadap ke arah luar jendela.
"Mas, Mas Rangga baik-baik saja kan?" tanya Kasih saat masuk ke dalam kamar.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, karena aku dan Dita sudah berkomitmen akan menjadi Teman," jawab Rangga dengan tertunduk sedih.
Kasih tau kalau saat ini Rangga sedang butuh waktu sendiri, dan Ahmad mengatakan kepada Kasih supaya tidak mengajak Rangga banyak bicara dahulu, karena Ahmad takut jika Rangga sampai melampiaskan emosinya kepada Kasih, sehingga Kasih memutuskan untuk kembali ke luar kamar, dan ternyata Ahmad sudah menunggunya di depan pintu.
"Om, kenapa Om berada di depan pintu kamar Kasih?"
"Om khawatir sama kamu, Om takut kalau Rangga sampai menyakiti kamu, makanya Om menunggu Kasih di sini."
"Makasih banyak ya karena Om selalu peduli terhadap Kasih melebihi siapa pun. Sebagai ucapan terimakasih, bagaimana kalau Kasih traktir Om jajan siomay kesukaan kita saat kita masih kecil?"
"Sepertinya ide yang bagus, kebetulan Om juga lagi pengen banget jajan siomay."
Kasih dan Ahmad memutuskan untuk berjalan kaki menuju tukang siomay yang tidak jauh dari kediaman Pratama, tapi tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju kencang sehingga hampir saja menabrak Kasih seandainya Ahmad tidak menarik tangan Kasih dan membawanya ke dalam pelukan.
"Kasih awas !!" teriak Ahmad dengan membawa Kasih ke dalam pelukannya.
Jantung keduanya berpacu cepat, apalagi saat ini netra mereka berdua saling bertemu.
Perasaan apa ini? kenapa jantungku berdebar saat melihat wajah Om Ahmad dari jarak yang begitu dekat. Kasih kamu harus sadar, saat ini kamu adalah perempuan bersuami, tidak seharusnya kamu memiliki perasaan seperti ini terhadap lelaki lain, apalagi Om Ahmad adalah orang yang sudah kamu anggap sebagai Om kamu sendiri, ucap Kasih dalam hati.
"Kasih, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ahmad ketika melihat Kasih yang terus saja melamun.
"Kasih baik-baik saja Om, hanya saja Kasih merasa terkejut. Terimakasih banyak ya, Kasih tidak tau seandainya tidak ada Om Ahmad yang menolong Kasih."
__ADS_1
"Berterimakasihlah kepada Allah SWT, karena segala sesuatu di Dunia sudah ditakdirkan oleh-Nya. Ya sudah, sebaiknya kita lanjutin lagi jalannya," ujar Ahmad, tapi Ahmad yang masih merasa kesal karena Kasih hampir saja tertabrak terus saja menggerutu.
"Seandainya Om bawa motor, Om bakalan kejar tuh orang yang tadi bawa motor ngebut, apalagi kalau sampai Kasihnya Om sampai kenapa-napa, Om gak bakalan maafin dia."
"Katanya segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, tapi kok Om masih aja kesel?"
"Om takut Kasih sampai kenapa-napa."
"Selama ada Om Ahmad di samping Kasih, Kasih pasti akan baik-baik saja, Om Ahmad kan My Hero."
"Maaf ya, karena Om tidak bisa selalu ada untuk Kasih, apalagi sekarang Om dinas di Makasar."
"Meski pun jauh di mata, Om selalu dekat di hati," ucap Kasih dengan tersenyum, dan hati Ahmad selalu menghangat melihat senyuman Kasih.
Kasih dan Ahmad membeli siomay, dan memakannya dengan lahap, sampai-sampai Kasih makan dengan belepotan.
"Kalau makan tuh pelan-pelan, Kasih masih saja kayak Anak kecil," ucap Ahmad dengan mengelap ujung bibir Kasih dengan tangannya, dan lagi-lagi Kasih merasakan debaran aneh dalam dadanya.
Tidak mungkin, tidak mungkin aku memiliki perasaan cinta terhadap Om Ahmad. Ini pasti hanya perasaan nyaman saja karena Om Ahmad selalu bersikap baik terhadapku, ucap Kasih dalam hati.
......................
"Dita sayang, Ayah sama Bunda berangkat dulu ya," ujar Syifa dengan memeluk tubuh Dita.
"Ayah sama Bunda hati-hati ya, selamat bersenang-senang," ujar Dita.
"Dita jangan terlalu banyak pikiran ya Nak, Anak buah Ayah juga sudah selesai mempersiapkan acara pernikahan Dita dan Rizki. Semoga segala sesuatunya berjalan dengan lancar," ujar Dika yang di Amini oleh semuanya kecuali Rangga.
Dika dan Syifa berangkat setelah berpamitan kepada semuanya, dan saat berada di Bandara, Dika yang dulu sering bergonta ganti pacar sebelum bertemu dengan Cinta, harus menutup wajahnya karena banyak mantan pacarnya yang pasti akan menghampiri Dika jika mereka mengenalinya.
Aman, mereka tidak mengenaliku, ucap Dika dalam hati, karena Dika memakai masker.
Dika sudah mengajak Syifa supaya menggunakan jet pribadi milik Pratama Grup, tapi Syifa menolaknya karena Syifa ingin menikmati perjalanan dengan banyak orang.
"Mas, kenapa sih daritadi pake masker terus?" tanya Syifa ketika sudah duduk di dalam pesawat.
"Mas takut kena debu saja."
Saat Dika membuka maskernya, Pramugari dalam pesawat yang juga mantan pacar Dika menghampiri Dika, dan langsung memeluk serta melakukan cipika cipiki kepada Dika, sontak saja membuat Syifa cemberut.
__ADS_1
"Andhika, kamu kemana saja? kenapa nomor kamu tidak bisa dihubungi? sekarang kamu tambah ganteng aja," ujar Melani.
Dika yang merasa tidak enak karena Syifa terus menatap tajam ke arahnya langsung saja melepas pelukan Melani.
"Maaf Mel, aku sudah punya istri, jadi tidak seharusnya kamu main nyosor aja," ucap Dika.
"Sekarang sepertinya kamu sudah berubah ya, padahal dulu kamu yang selalu agresif. Apa aku boleh meminta nomor handphone kamu?" tanya Melani.
"Maaf Mel, aku kan sudah bilang, kalau sekarang aku sudah punya istri, jadi aku tidak bisa memberikan nomor handphoneku," ujar Dika.
Syifa yang merasa kesal langsung saja angkat suara.
"Mbak pengen nomor Mas Dika kan? mana sini handphonenya, kebetulan saya saudaranya," ujar Syifa, tentu saja Melani langsung memberikan handphonenya kepada Syifa.
Syifa memasukan nomor handphonenya ke dalam handphone Melani, dan Melani mengembangkan senyuman karena mengira jika itu adalah nomor Dika.
"Makasih ya Mbak. Dika, nanti aku telpon kamu ya, banyak yang ingin aku bicarakan," ujar Melani dengan tersenyum genit, sehingga rasanya Syifa ingin sekali muntah.
Setelah kepergian Melani, Syifa menatap tajam Dika, sehingga membuat Dika salah tingkah.
"Sayang, Melani bukan siapa-siapa aku kok, lagian kenapa sih kamu pake ngaku saudaraku segala terus ngasih nomor handphone aku kepada Melani?"
"Aku tidak bertanya, jadi Mas tidak perlu repot-repot menjelaskan semuanya."
"Sayang kamu cemburu ya? aku minta maaf, dia sendiri yang tiba-tiba memelukku."
"Tapi Mas seneng kan dipeluk sama perempuan cantik?" sindir Syifa.
"Tapi di mataku kamu yang paling cantik. Apa kamu mau aku buktikan jika hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai?" ujar Dika dengan mendekatkan wajahnya.
"Mas mundur gak? jangan gila deh, kita saat ini sedang dalam pesawat."
"Aku tidak akan berhenti sampai kamu memaafkanku," ujar Dika dengan menyambar bibir Syifa, dan Syifa mendorongnya karena takut jika sampai ada orang yang melihatnya.
"Mas apa-apaan sih, bagaimana kalau sampai ada yang lihat?"
"Kita kan Suami istri, aku tidak peduli meski pun ada yang lihat, bahkan aku akan melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman kalau kamu masih belum juga memaafkanku," ancam Dika dengan tersenyum penuh arti.
"Iya, iya, aku maafin, tapi kalau sampai terjadi lagi, aku gak bakalan pernah maafin mas Dika."
__ADS_1
"Terus kenapa tadi kamu memberikan nomor handphoneku kepada Melani?"