
Ahmad terlihat melamun mendengar perkataan Bunda Cinta, karena Ahmad tidak mungkin menikah dengan perempuan lain yang tidak Ahmad cintai, karena saat ini hatinya masih milik Kasih.
"Kak, Ahmad takut menyakiti hati perempuan yang Ahmad nikahi, jika Ahmad sampai memaksakan diri menikah dengan perempuan yang tidak Ahmad cintai. Ahmad tidak mau nasib perempuan itu seperti Kasih yang hidup menderita tanpa mendapatkan cinta dari Suaminya."
Bunda Cinta terlihat berpikir, karena perkataan Ahmad ada benarnya juga.
"Ahmad benar, Kasih bahkan harus rela dipoligami supaya Rangga bisa menikah dengan perempuan yang dicintainya, dan sebagai seorang perempuan, Kakak sangat mengerti perasaan Kasih. Kasih pasti menderita dan merasakan sakit pada hatinya, hanya saja dia berusaha menyembunyikan perasaannya dari kita semua."
"Kak, apa boleh Ahmad bersikap egois?"
"Apa maksud Ahmad?"
"Ahmad akan selalu menunggu Kasih sampai suatu saat nanti Kasih bisa mencintai Ahmad. Dan jika sampai Kasih menyerah dengan pernikahannya, maka Ahmad akan menikahi Kasih."
"Kenapa Ahmad jadi seperti ini karena seorang perempuan? sampai kapan Ahmad akan menunggu Kasih, jika Kasih saja tidak mengetahui perasaan Ahmad?" tanya Bunda Cinta yang tidak habis pikir dengan pemikiran Ahmad.
"Ahmad akan tetap menunggu Kasih meskipun Ahmad harus menghabiskan waktu seumur hidup Ahmad," ujar Ahmad, dan Bunda Cinta tidak bisa berkata apa-apa lagi.
......................
Keesokan paginya, Dita dan Rangga bergegas pulang menuju kediaman Pratama, karena Dita ingin bertemu dengan Ahmad sebelum kembali ke Makasar.
Sepanjang perjalanan, Rangga terus menggenggam erat tangan Dita, dengan sesekali menciuminya, dan saat ini Dita kembali tertidur karena masih mengantuk.
"Sayang, kita sidah sampai," bisik Rangga dengan menciumi wajah Dita.
"Aku masih ngantuk, kamu sih semalam ngajakin begadang," gumam Dita dengan mengucek matanya yang masih terasa mengantuk.
"Ya sudah kalau begitu kamu tidur lagi saja, biar aku gendong kamu," ujar Rangga, tapi Dita bergegas bangun.
"Gak usah Rangga, aku bisa jalan sendiri," ucap Dita, karena Dita tidak mau Kasih merasa sakit hati jika sampai Rangga menggendongnya.
Dita pasti tidak mau kalau Kasih melihat aku dan dirinya bermesraan. Semoga saja aku bisa menahan tidak bersikap mesra kepada Dita saat di depan Kasih, ucap Rangga dalam hati.
Rangga membuka pintu mobil untuk Dita.
"Silahkan turun Ratuku," ucap Rangga dengan membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Rangga, kamu apa-apaan sih," ujar Dita dengan tersenyum.
Kasih yang melihat Dita dan Rangga dari atas balkon kamarnya merasakan sesak dalam dadanya.
"Mas Rangga dan Dita terlihat sangat bahagia, bahkan Mas Rangga memperlakukan Dita seperti Ratu. Aku saja selama menikah dengannya tidak pernah dibukakan pintu mobil, bahkan Mas Rangga tidak pernah memanggilku dengan panggilan sayang," gumam Kasih, dan tidak terasa airmatanya menetes membasahi pipi.
Ahmad mengetuk pintu kamar Kasih untuk berpamitan.
"Kasih, kamu kenapa?" tanya Ahmad.
"Kasih tidak kenapa-napa Om."
"Kamu bisa membohongi oranglain, tapi kamu tidak akan pernah bisa membohongi Om. Lihat mata Om, apa Kasih sakit hati melihat Rangga dan Dita?"
"Iya, Om benar, Kasih tidak sanggup melihat Mas Rangga dan Dita bermesraan, tapi Kasih lebih tidak sanggup lagi berpisah dengan Om Ahmad."
Kasih langsung menutup mulutnya, karena kata-kata itu ke luar begitu saja dari bibirnya.
Ada apa denganku? kenapa aku mengatakan semua itu kepada Om Ahmad? Bagaimana kalau Om Ahmad sampai salah paham? tapi entah kenapa aku merasa berat untuk berpisah dengan Om Ahmad, ucap Kasih dalam hati.
"Kamu tenang saja, Om tidak akan salah paham sama Kasih. Selama ini Kasih sudah menganggap Om sebagai Om kandung Kasih sendiri kan, makanya Kasih tidak mau berpisah dengan Om?"
"Kalau begitu Om berangkat dulu ya, jaga diri Kasih baik-baik," ucap Ahmad, kemudian mengelus lembut kepala Kasih.
Langkah kaki Ahmad terasa berat ketika akan ke luar dari dalam kamar Kasih. Ketika Ahmad membalikan badannya, Ahmad begitu terkejut ketika merasakan tangan Kasih melingkar pada pinggangnya.
"Kasih pasti akan merindukan Om Ahmad. Om cepat kembali ya."
Ahmad membalikan badannya, kemudian memeluk erat tubuh Kasih.
"Om juga akan sangat sangat merindukan Kasih. Nanti kalau Om libur, insyaallah Om bakalan pulang," ucap Ahmad dengan mengelus lembut kepala Kasih, kemudian mengajaknya untuk turun ke bawah.
"Kalau begitu sekarang kita turun, semuanya pasti sudah menunggu untuk sarapan."
......................
Rangga terus menggenggam erat tangan Dita saat masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Syifa yang melihat kedatangan Dita dan Rangga langsung berdiri menghampiri pasangan pengantin baru tersebut.
"Ekhem, pengantin baru, sepertinya Dunia berasa milik berdua, sampai sampai gandengan terus kayak truk," sindir Syifa, kemudian memeluk tubuh Dita.
"Bunda, Dita kan jadi malu."
"Malu-malu tapi mau kan?" goda Syifa.
"Kamu nakal banget sih sayang, kayak gak pernah ngalamin aja," ujar Dika dengan memeluk tubuh Syifa.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita sarapan, Bunda udah lapar banget," ujar Syifa, karena semenjak hamil, napsu makan Syifa semakin bertambah.
Ahmad dan Kasih turun dari lantai atas, dan Kasih tersenyum kecut ketika melihat Rangga yang terus menggenggam erat tangan Dita.
Dita yang melihat Kasih, langsung melepaskan pegangan tangan Rangga kepadanya, kemudian Dita menghampiri Kasih dan memeluk tubuhnya.
"Kasih, maaf ya, kamu pasti sakit hati kan melihat aku bersama Rangga?" bisik Dita.
"Dita, kamu juga adalah istri Mas Rangga, jadi kamu berhak melakukan apa pun yang kalian mau, dan kamu tidak perlu memikirkan perasaanku."
Dita merasa enak, karena sikap Kasih terhadapnya terlihat berubah, dan Ahmad mencoba mencairkan suasana dengan mengajak semuanya untuk sarapan.
Setelah semuanya berkumpul di meja makan, acara sarapan pun dimulai, tapi semuanya hanya diam tanpa ada yang mengeluarkan sepatah kata pun, sampai akhirnya setelah selesai sarapan, Ahmad berpamitan kepada semuanya.
"Kak, Ahmad berangkat dulu ya, semoga semuanya selalu diberikan kesehatan serta kelancaran," ujar Ahmad dengan mencium punggung tangan Bunda Cinta, kemudian Bunda Cinta memeluk tubuh Ahmad, karena di mata Bunda Cinta, Ahmad adalah Adik kecilnya.
"Ahmad yang sabar ya, Allah SWT pasti mempunyai rencana yang indah untuk Ummat-Nya," bisik Bunda Cinta.
"Iya Kak, terimakasih."
Ahmad bergantian menyalami semuanya, dan Ahmad kembali berpesan kepada Rangga supaya menjaga Kasih dan Dita.
"Rangga, Om titip Kasih dan Dita. Om selalu berharap kamu bisa menjaga mereka dengan baik, dan selalu bersikap Adil, karena kalau kamu tidak bisa Adil terhadap Kasih. Om akan merebut Kasih dari kamu," ujar Ahmad dengan tersenyum, dan semuanya menganggap Ahmad bercanda, kecuali Dita dan Bunda Cinta yang mengetahui isi hati Ahmad.
"Kasih jaga diri baik-baik ya, Kasih harus selalu ingat pesan Om," ucap Ahmad dengan menggenggam erat tangan Kasih, tapi Kasih terlihat enggan melepaskannya.
"Kasih, Om harus berangkat sekarang, nanti bagaimana kalau Om sampai ketinggalan pesawat?"
__ADS_1
Dengan berat hati, secara perlahan Kasih melepaskan pegangan tangannya kepada Ahmad, dan Kasih merasa separuh jiwanya pergi ketika melihat mobil yang ditumpangi Ahmad melaju meninggalkan kediaman Pratama.
Kenapa aku merasa separuh jiwaku pergi ketika melihat Om Ahmad meninggalkanku? ucap Kasih dalam hati, dan tidak terasa airmata Kasih menetes membasahi pipinya.