
Rizki akhirnya pamit kepada semuanya, karena bagaimanapun juga Rizki butuh waktu untuk memulihkan hatinya yang merasa sakit karena harus menghadapi kenyataan pahit jika Dita adalah Adiknya.
"Dita, kalau ada apa-apa jangan sungkan ya, bagaimanapun juga aku adalah Kakak kamu, meski pun aku tidak bisa melindungimu sebagai seorang Suami, tapi aku masih bisa melindungimu sebagai seorang Kakak. Kalau begitu saya pamit Om, semuanya, sekali lagi atas nama Mama, saya minta maaf yang sebesar-besarnya," ucap Rizki.
"Kamu yang sabar ya Ki. Semoga kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Dita," ucap Dika yang di Amini oleh semuanya.
"Hati-hati di jalan ya Kak, terimakasih atas semuanya," ucap Dita dengan tersenyum.
Langkah kaki Rizki terasa gontai saat ke luar dari Hotel yang seharusnya menjadi tempat acara pernikahannya dengan Dita, dan semua tamu undangan juga hendak pulang karena acara sudah tidak mungkin dilanjutkan lagi, tapi tiba-tiba Kasih angkat suara.
"Tunggu semuanya, acara akan tetap dilanjutkan, karena Dita akan tetap menikah," teriak Kasih, sehingga semua mata kini tertuju kepada Kasih.
"Apa maksud kamu Kasih?" tanya Dita yang merasa terkejut dengan perkataan Kasih.
Kasih melangkahkan kaki menghampiri Dita, kemudian Kasih berbicara dari hati ke hati dengan Dita.
"Dita, apa kamu masih belum sadar kenapa kamu batal menikah dengan Rizki? dari awal kalian tunangan cincin pertunangan kamu dan Rizki bahkan jatuh tepat di bawah kaki Mas Rangga, dan aku yakin jika semua itu adalah pertanda bahwa kamu dan Mas Rangga memang ditakdirkan untuk hidup bersama."
Dita hanya diam, karena saat ini dirinya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Di satu sisi Dita ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya, tapi di sisi lain Dita tidak mau menyakiti hati Kasih.
"Mungkin tidak akan ada perempuan di Dunia ini yang rela dimadu, tapi ini demi kebaikan semuanya. Aku ingin Mas Rangga memiliki keturunan, apalagi kamu dan Mas Rangga saling mencintai," sambung Kasih.
"Tapi aku tidak mau menyakiti hati kamu Kasih, karena aku menyayangi kamu seperti saudaraku sendiri," ucap Dita dengan lirih.
__ADS_1
"Tidak Dita, ini semua adalah keinginanku, justru aku akan bahagia jika kamu bisa bersatu dengan Mas Rangga, dan aku tidak akan terus-terusan merasa bersalah karena merasa telah merebut Mas Rangga dari kamu. Aku mohon, menikahlah dengan Mas Rangga."
Kasih berjalan ke arah Rangga, dan Kasih membawa Rangga menghampiri Dita, kemudian Kasih menyatukan tangan Rangga dan Dita.
"Mas, nikahi Dita, kalian berdua berhak bahagia, dan aku ikhlas dipoligami," ujar Kasih dengan menahan sesak dalam dadanya.
Rangga masih belum percaya jika Kasih benar-benar meminta Rangga untuk menikahi Dita.
"Kasih terimakasih banyak ya, selama ini kamu sudah menjadi istri yang baik, maaf jika aku sudah banyak menorehkan luka di hatimu," ucap Rangga yang sebenarnya selalu merasa bersalah terhadap Kasih.
Semua mata menatap kagum kepada Kasih yang terlihat tegar saat menyuruh Suaminya sendiri untuk menikah lagi, tapi Ahmad tau meski pun Kasih terlihat tegar, hatinya pasti sangatlah rapuh.
Dita dan Rangga saat ini sudah berada di depan Penghulu, dan Kasih sendiri yang memakaikan penutup kepala kepada Rangga dan Dita.
"Saudara Rangga, apa Anda sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Insyallah saya sudah siap," jawab Rangga dengan mantap kemudian menjabat tangan Pak Penghulu.
Rangga mengucap ijab kabul pernikahan dengan lantang, dan Ahmad terus menggenggam erat tangan Kasih untuk memberikannya kekuatan. Meski pun saat ini Kasih tersenyum, tapi tetap saja hatinya berdenyut perih ketika harus melihat Suaminya sendiri menikahi perempuan lain, terlebih lagi perempuan itu adalah saudaranya sendiri.
Semuanya mengucap Hamdalah ketika para Saksi mengucapkan Sah pada pernikahan Rangga dan Dita, kemudian Rangga mengulurkan tangannya kepada Dita, dan Dita mencium punggung tangan Rangga yang saat ini telah sah menjadi Suaminya.
Rangga mencium kening Dita dengan penuh kasih sayang, dan Kasih tersenyum kecut, karena dulu Rangga sama sekali tidak melakukan semua itu, bahkan dulu Rangga tidak terlihat bahagia.
__ADS_1
Mas Rangga terlihat sangat bahagia karena impiannya untuk menikahi Dita akhirnya terwujud juga. Mas Rangga juga terlihat sangat mencintai Dita. Kasih, kamu harus sadar karena sejak awal Mas Rangga tidak pernah mencintai kamu, ucap Kasih dalam hati.
Kasih dan Ahmad menjadi orang pertama yang mengucapkan Selamat kepada kedua mempelai.
"Dita, Mas Rangga, selamat ya, semoga kalian selalu bahagia dan secepatnya diberikan keturunan," ucap Kasih yang di Amini oleh Dita dan Rangga.
"Kasih, maaf ya karena aku telah merebut Rangga dari kamu," ucap Dita yang merasa tidak enak terhadap Kasih.
"Tidak Dita, seharusnya aku yang meminta maaf, karena akulah yang sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian, jadi kamu jangan pernah merasa tidak enak terhadapku," ujar Kasih dengan memeluk tubuh Dita.
"Rangga, aku titip Keponakanku ya, jangan pernah kamu menyakiti Dita atau pun Kasih, dan sebagai Suami yang memiliki dua istri, kamu harus bersikap adil terhadap istri-istri kamu, karena kalau kamu menyakiti Dita atau Kasih, kamu akan berhadapan denganku, dan akan aku pastikan aku akan memisahkan kamu dari kedua Keponakanku," ucap Dika dengan menepuk bahu Rangga.
"Insyaallah Rangga akan berusaha bersikap adil Om, meski pun tidak akan ada manusia di Dunia ini yang akan benar-benar bisa bersikap adil."
Mama Wita langsung berhambur memeluk Dita, karena dirinya sangat bahagia Rangga bisa menikah dengan perempuan yang baik dan juga pintar, dan Mama Wita tidak peduli dengan masalalu Ibu kandung Dita yang menjadi Pelakor.
"Dita sayang, Mama bahagia karena akhirnya kamu menjadi Menantu Mama. Semoga kalian berdua bisa segera memberikan keturunan untuk kami ya, tidak seperti perempuan mandul itu," sindir Mama Wita terhadap Kasih.
"Ma, bagaimanapun juga Kasih adalah Menantu Mama juga, dan Dita harap Mama menyayangi Kasih seperti Anak kandung Mama sendiri," ujar Dita yang merasa kasihan dengan nasib Kasih, karena Mama Wita selalu saja menyakiti hati Kasih.
"Sayang, kamu tidak perlu membela dia, dia itu tidak ada gunanya," ujar Mama Wita, dan kali ini Rangga ikut angkat suara.
"Cukup Ma, kasihan Kasih karena selama ini Mama selalu bersikap jahat kepadanya. Kalau Mama seperti itu terus, Mama akan kehilangan Rangga juga, karena Rangga akan membawa Dita dan Kasih ke luar dari rumah Mama," ancam Rangga, sehingga membuat Mama Wita tidak bisa berkutik.
__ADS_1
Sebaiknya sekarang aku mengalah dulu, kalau Rangga nekad membawa Dita dan Kasih pindah rumah, berarti nanti aku tidak bisa dekat dengan Cucu-cucuku, ucap Mama Wita dalam hati.