
Kasih merasa lebih tenang setelah menumpahkan tangisannya dalam pelukan Ahmad.
"Kasih, hidup mempunyai pilihan, jika memang kamu tidak sanggup, jangan pernah memaksakan diri, karena semua itu hanya akan menyakiti diri kamu saja," ucap Ahmad dengan mengelus lembut kepala Kasih.
"Makasih banyak Om, Kasih akan memikirkan lagi semuanya," ucap Kasih dengan terus memeluk tubuh Ahmad, karena dengan begitu Kasih merasa nyaman dan damai.
Ahmad sangat tau jika semua yang dirinya dan Kasih lakukan adalah salah, karena mereka berdua bukan muhrim, tapi perasaan cinta yang Ahmad rasakan kepada Kasih membuat Ahmad ingin selalu menjadi tempat bersandar untuk Kasih.
"Kita memang harus pasrah dengan takdir yang Allah SWT tentukan, tapi kita wajib berusaha memperbaiki semuanya, meski pun kita tidak pernah tau hasil akhirnya. Sebaiknya sekarang kita masuk, Om tidak mau kalau Kasih sampai sakit. Sebelum tidur, Kasih baca do'a dulu ya, Kasih harus terus berdzikir supaya merasa lebih tenang, kalau bisa nanti Kasih Shalat malam."
"Makasih banyak ya Om, Kasih tidak tau apa jadinya jika tidak ada Om Ahmad."
"Kasih tidak boleh berkata seperti itu, dan Kasih tidak boleh lupa kalau Kasih masih memiliki Allah SWT yang akan selalu ada untuk Ummat-Nya, dan Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar. Kasih jangan pernah putus asa ya," ucap Ahmad, kemudian mengantar Kasih menuju kamar tamu, tapi Kasih lebih memilih untuk tidur dengan Anak-anak perempuan di Panti Asuhan tersebut.
......................
Keesokan paginya, saat Rangga membuka mata, Rangga langsung mengembangkan senyuman, karena yang pertama kali Rangga lihat adalah wajah cantik Dita.
"Semua ini masih terasa seperti mimpi, dan aku tidak mau bangun dari mimpi indah ini," ucap Rangga dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh Dita.
Rangga kembali memejamkan matanya, dan pura-pura tidur ketika melihat Dita mengerjapkan matanya.
"Ternyata ini semua bukanlah mimpi, dan aku tidak pernah mengira jika akhirnya aku bisa menikah dengan lelaki yang aku cintai," ucap Dita dengan mengelus lembut wajah Rangga, kemudian diam-diam Dita mencuri ciuman karena mengira Rangga masih tidur.
Rangga langsung menekan tengkuk leher Dita, supaya Dita tidak bisa melepaskan ciumannya, sampai akhirnya Rangga melepaskan Dita ketika pasokan oksigen pada keduanya mulai menipis.
"Rangga, aku hampir kehabisan napas tau," gerutu Dita dengan mencebikkan bibirnya karena merasa kesal dengan ulah Rangga.
"Lagian salah sendiri kamu nakal pake curi ciuman segala," ujar Rangga dengan tersenyum.
Dita tersenyum malu, dan Dita hendak berlari ke dalam kamar mandi karena terlalu malu terhadap Rangga, tapi baru juga bangun, Dita langsung meringis kesakitan, karena saat ini seluruh badannya terasa remuk.
__ADS_1
"Awww," ucap Dita dengan lirih.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rangga.
"Aku sakit," jawab Dita dengan tertunduk malu.
"Bagian mana yang sakit?" goda Rangga dengan tersenyum, dan wajah Dita langsung memerah karena malu.
Rangga yang sudah mengerti jika Dita kesakitan karena ulahnya, langsung saja mengangkat tubuh Dita yang masih polos, sehingga Dita menutupi bagian dada serta inti tubuhnya menggunakan tangan.
"Kenapa ditutupi? aku sudah melihat semuanya bahkan merasakannya, jadi kamu tidak perlu malu-malu tapi mau," goda Rangga, sehingga Dita yang semakin malu menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Rangga.
Rangga membawa Dita ke dalam kamar mandi, kemudian Rangga memasukan Dita ke dalam bathub, kemudian Rangga ikut masuk juga.
"Kenapa ikutan masuk?" tanya Dita.
"Aku mau mandi juga sayang."
Wajah Dita sudah terlihat ketakutan ketika melihat senyum nakal terbit pada bibir Rangga, apalagi saat Rangga mendekatkan wajahnya.
"Aku hanya mau membantu menggosok punggung kamu, memangnya kamu pikir aku mau ngapain? atau kamu mau kita ngapa-ngapain?" goda Rangga dengan mengusap lembut punggung Dita, juga memberikan pijatan lembut, sampai akhirnya keduanya terbuai dalam permainan yang mereka ciptakan, dan acara mandi pun berlangsung cukup lama.
Setelah keduanya membersihkan diri, Rangga kembali menggendong tubuh Dita ke luar dari dalam kamar mandi, dan Dita terus saja menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Rangga.
"Kenapa sih dari tadi sembunyi terus? kita tidak lagi main petak umpet sayang."
"Kamu nakal sekali, aku kan udah bilang masih sakit?"
"Tapi barusan udah gak terlalu sakit kan? malah tadi kelihatannya kamu yang lebih bersemangat."
"Rangga, jangan godain aku terus," ucap Dita dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan, karena Dita masih merasa malu jika menjurus pada pembicaraan yang fulgar.
__ADS_1
"Sayang, kamu yang sudah menggoda aku, kalau sekarang kamu tidak memakai bajunya, aku bisa khilaf. Kamu tidak mau kan kalau aku memakanmu lagi?" ujar Rangga, dan Dita yang menyadari jika dirinya masih polos bergegas mengambil bajunya dari dalam lemari, kemudian berlari ke dalam kamar mandi.
Rangga tersenyum melihat tingkah malu-malu Dita yang terlihat gemas di matanya.
"Sayang, jangan lari-lari, nanti kamu jatuh. Lagian apa susahnya sih tinggal pakai baju di sini," teriak Rangga dengan terkekeh.
Rangga memesan sarapan supaya dikirim ke dalam kamarnya, karena rencananya Rangga dan Dita masih akan menginap di Hotel.
"Rangga, kapan kamu pesan sarapan?" tanya Dita ketika ke luar dari dalam kamar mandi, karena saat ini sarapan sudah tertata rapi di atas meja.
"Aku kasihan sama kamu kalau harus turun ke bawah, pasti kamu masih merasa sakit kan? apalagi cara jalan kamu terlihat berbeda," ujar Rangga, dan pipi Dita kembali bersemu merah.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita sarapan dulu, kasihan sayangku pasti lapar. Kita harus banyak makan untuk persiapan nanti siang," ujar Rangga, kemudian menyuapi Dita makan.
"Apa, nanti siang?" tanya Dita dengan menelan ludahnya.
"Aku cuma bercanda sayang, jadi kamu tidak perlu takut seperti itu. Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu lagi, kecuali kamu yang minta," goda Rangga dengan menaik turunkan alisnya, dan Dita memutar malas bola matanya.
"Rangga, aku bisa makan sendiri, jadi sebaiknya kamu juga sarapan mungpung makanannya masih hangat."
"Aku mau disuapi juga sama kamu," ujar Rangga dengan manja, dan saat ini keduanya sedang menikmati indahnya menjadi pasangan pengantin baru.
......................
Setelah selesai sarapan, Kasih dan Ahmad berpamitan kepada Anak-anak Panti, karena besok Ahmad akan kembali ke Makasar.
"Umi dan Abi harus sering main ke sini ya," ucap Anak-anak Panti Asuhan.
"Iya sayang, insyallah Umi bakalan sering main ke sini. Kalian jangan nakal ya, ingat, kalian harus nurut sama Ibu panti, jangan lupa bantu pekerjaan Bu Panti juga sebisa kalian ya," ujar Kasih.
"Iya Umi," ucap semua Anak dengan serempak.
__ADS_1
Rasanya Kasih berat meninggalkan Panti Asuhan, apalagi Kasih harus kembali menghadapi kenyataan jika sekarang dirinya bukan lagi satu-satunya istri Rangga.
"Om, apa bisa Kasih ikut Om Ahmad ke Makasar?"