
Kasih akhirnya bertanya kepada Ahmad, karena Kasih tidak mengerti perkataan Ahmad.
"Maksud Om, apa yang salah?"
"Bukannya sekarang kita sudah resmi menjadi pasangan kekasih?"
"Iya, memangnya kenapa? jangan bilang Om_"
Ucapan Kasih terhenti karena Ahmad menyentil dahinya.
"Kasih, bisa tidak jangan pikir macam-macam? kamu sepertinya sudah tidak sabar sekali ingin segera menikah. Maksudnya, masa Kasih mau manggil Om terus kalau nanti kita sudah menikah?"
Kasih terlihat berpikir, karena dirinya tidak mungkin memanggil Ahmad dengan sebutan Om.
"Kalau nanti setelah kita menikah, kita bisa menggunakan panggilan Abi dan Umi, seperti biasa Anak-anak di Panti memanggil kita."
"Kalau sekarang kamu mau manggil aku apa?" tanya Ahmad dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Kasih, sehingga jantung keduanya berpacu cepat.
"Ekhem," tiba-tiba Ayah Ilham berdehem, sehingga mengejutkan Kasih dan Ahmad, dan keduanya terlonjak kaget seperti maling yang tertangkap basah.
"Ayah, kenapa sih jail sekali? kasihan Kasih dan Ahmad sampai kaget begitu," ujar Bunda Cinta yang saat ini berada di samping Ayah Ilham.
"Ayah sengaja bikin mereka kaget, supaya mereka tidak sampai khilaf, Bunda."
Kasih dan Ahmad tersenyum malu mendengar perkataan Ayah Ilham, dan keduanya menjadi salah tingkah.
"Kasih, Ahmad, sebaiknya sekarang kalian masuk. Kalian harus sabar nunggu tiga bulan lagi supaya bisa ngapa-ngapain," sindir Ayah Ilham, dan Bunda Cinta langsung menarik Ayah Ilham untuk masuk kembali ke dalam rumah.
Saat Kasih berdiri dari tempat duduknya untuk masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Ahmad menggenggam tangan Kasih.
"Kasih, kamu adalah sumber kebahagiaanku, dan aku ingin selalu berada di dekatmu, dari dulu, sekarang, dan selamanya. Aku harap kita akan selalu bersama hingga maut yang memisahkan," ucap Ahmad, kemudian memasukan sebuah cincin cantik berbentuk hati pada jari manis kiri Kasih.
"Ini cantik sekali Mas," ucap Kasih dengan malu-malu, karena belum terbiasa memanggil Ahmad dengan sebutan Mas.
"Tapi tidak secantik kamu sayang," ucap Ahmad dengan mencium tangan Kasih, sehingga membuat Kasih salah tingkah.
......................
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian..
Saat ini Kasih sudah selesai menjalani masa iddah nya, sampai akhirnya acara pernikahan Kasih dan Ahmad sudah diputuskan untuk dilaksanakan pada minggu depan.
Ahmad sibuk karena harus mempersiapkan dokumen untuk menikah secara Negara, belum lagi Ahmad baru menyelesaikan pembangunan rumahnya di samping Panti, karena setelah menikah, Ahmad akan langsung membawa Kasih ke Istana mereka, bahkan rumah tersebut Kasih sendiri yang menggambarnya, karena Ahmad ingin semuanya sesuai dengan keinginan Kasih.
Hari bahagia yang ditunggu-tunggu pun kini telah tiba, dan Kasih terlihat cantik dengan balutan busana pengantin yang begitu indah.
"Kamu cantik sekali Kasih, aku tidak percaya jika sebentar lagi kamu akan menjadi Tante ku," ucap Dita dengan memeluk tubuh Kasih.
"Makasih Keponakanku yang cantik, meski pun saat ini kamu sedang hamil, tapi kamu semakin cantik. Mas Rangga pasti semakin mencintai kamu," ujar Kasih.
"Tentu saja, semakin hari cintaku sama Dita semakin bertambah," ujar Rangga dengan memeluk tubuh Dita.
"Sayang, kenapa kamu masuk ke kamar Kasih tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? kamu sengaja kan ingin bertemu dengan Kasih untuk mengucapkan salam perpisahan?" tanya Dita dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca.
"Sayang, kenapa sih kamu jadi cemburuan sekali? aku ke sini karena mencari kamu. Bagaimana aku mau mengetuk pintu, kalau pintunya juga terbuka lebar seperti itu?" ucap Rangga mencoba membela diri.
Kasih menggelengkan kepalanya melihat sikap Dita dan Rangga, dan beberapa saat kemudian Bunda Cinta dan Syifa datang dengan menggendong sepasang Anak kembar Dika dan Syifa yang baru berusia dua bulan.
Dita tiba-tiba berhenti menangis ketika melihat dua bayi lucu yang saat ini berada di hadapannya.
"Iya, nanti kita bikin lagi kalau Anak pertama kita sudah lahir," goda Rangga.
"Belum juga lahir, udah mau produksi lagi. Kamu gak tau aja kalau melahirkan itu sakit, Rangga." ujar Syifa, dan Dita terlihat ketakutan.
"Kalau begitu Dita tidak mau melahirkan," ujar Dita sehingga membuat semuanya terkejut.
"Sayang, sebentar lagi Dita akan melahirkan, dan Dita pasti akan bahagia setelah bayinya lahir, bahkan rasa sakitnya akan langsung hilang," ujar Bunda Cinta.
"Benar seperti itu Bunda?" tanya Dita dengan mata yang berbinar.
"Tentu saja benar, Bunda Syifa saat melahirkan si kembar juga seperti itu. Kamu itu Dokter kandungan Dita, masa melahirkan saja takut."
"Apa kita akan terus berada di sini?" tanya Kasih, sehingga semuanya melihat kepada Kasih.
"Kenapa semuanya melihat Kasih?" tanya Kasih yang terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Sepertinya sudah ada yang tidak sabar ingin segera menjadi Ibu Kapolres," goda Dita.
"Ya sudah, kalau begitu kita turun ke bawah, kasihan Ahmad sudah dari tadi menunggu di depan Penghulu. Kenapa kita malah jadi mengobrol ya Kak, padahal tujuan kita ke sini kan mau menjemput Kasih," ujar Bunda Cinta kepada Syifa.
Semuanya turun ke lantai bawah, dan Ahmad menatap kagum saat melihat Kasih yang begitu cantik.
Setelah Kasih duduk di samping Ahmad, Pak Penghulu pun memulai acara ijab kabul.
Ahmad mengucap ijab kabul pernikahan dengan satu kali helaan napas, dan setelah para saksi mengucapkan Sah, Ahmad akhirnya bisa bernapas lega.
"Alhamdulillah, akhirnya Mas bisa menikahi bidadari paling cantik di Dunia ini," bisik Ahmad saat Kasih mencium punggung tangannya, kemudian Ahmad terlihat enggan melepaskan ciumannya dari kening Kasih, sampai tiba-tiba Ilham menyindirnya.
"Ahmad, sekarang masih siang, sepertinya kalian sudah tidak sabar ingin segera malam," sindir Ayah Ilham sehingga membuat Ahmad dan Kasih tersipu malu.
Setelah acara resepsi selesai, Ahmad berencana untuk langsung membawa Kasih ke rumah baru mereka.
"Memangnya kalian tidak mau menginap di sini dulu?" tanya Ayah Ilham.
"Maaf Kak, tapi nanti Ahmad dan Kasih tidak akan leluasa, takutnya Kakak mengintip kami," ujar Ahmad dengan terkekeh.
"Sekarang aku sudah menjadi Ayah Mertuamu, dasar Menantu gak ada Akhlak," ujar Ayah Ilham, dan semuanya tertawa melihat Ahmad dan Ayah Ilham yang terus saja berdebat.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya," ujar Ahmad.
Ahmad dan Kasih bergantian memeluk semuanya, dan Ayah Ilham terlihat sedih melepas Kasih, yaitu sosok Adik sekaligus Anak angkatnya.
"Ahmad, Ayah titip Kasih ya, jaga dan selalu bahagiakan dia. Ayah yakin kalau kamu akan menjadi imam yang baik untuk Kasih."
"Pasti Ayah Kakak, Ahmad akan menjaga istri Ahmad yang cantik ini segenap jiwa dan raga Ahmad."
Ahmad dan Kasih akhirnya pulang menuju rumah mereka di Bogor, dan Kasih begitu terkejut ketika melihat rumah yang sama persis seperti yang dia gambar.
"Selamat datang di istana kita sayang, mulai sekarang kamu adalah Ratu di rumah ini," ujar Ahmad, kemudian menggendong Kasih menuju kamar pengantin mereka.
Kasih tersenyum bahagia, karena semuanya seperti mimpi.
Semuanya seperti mimpi yang indah. Dulu sebelum aku menikah dengan Mas Rangga, aku pernah memimpikan tentang malam pertama yang indah, tapi ketika aku menikah dengan Mas Rangga, aku tidak mendapatkannya, bahkan saat itu tidak ada malam pertama untuk kami. Tapi sekarang akhirnya aku merasakan malam pertama yang sesungguhnya dengan lelaki yang tulus mencintaiku. Terimakasih Tuhan, karena setelah semua badai rumah tangga yang aku alami, akhirnya aku mendapatkan kebahagiaan juga, dan ternyata benar jika kita bersabar semua akan indah pada waktunya. Semoga selamanya kami selalu diberikan kebahagiaan, Amin. Ucap Kasih dalam hati.
__ADS_1
...TAMAT...
Terimakasih bagi yang sudah berkenan membaca Karya receh saya, sehat dan sukses selalu untuk semuanya, jangan lupa baca Karya receh lainnya, 🤲🙏