
Rangga saat ini menjemput Kasih menuju kediaman Pratama, dan ternyata Kasih sudah selesai bersiap, sehingga Kasih dan Rangga langsung menuju Rumah Sakit untuk menemui Dita.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Rangga hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, karena Rangga terus saja memikirkan Dita, apalagi Rangga takut kalau Dita sampai benar-benar menikah dengan Rizki.
"Mas Rangga baik-baik saja kan?" tanya Kasih.
"Aku baik-baik saja," jawab Rangga singkat.
Setelah sampai parkiran Rumah Sakit, Rangga dan Kasih langsung menuju ruang praktek Dita, karena saat ini Dita sedang istirahat makan siang di ruangannya.
Rangga sudah merasa bahagia karena akan bertemu dengan Dita, tapi saat Rangga dan Kasih masuk ke dalam ruang praktek Dita, senyuman pada bibir Rangga langsung hilang karena melihat Rizki yang saat ini sedang menyuapi Dita makan.
"Sudah Ki, aku bisa makan sendiri," ujar Dita yang tidak enak karena di sana ada Rangga dan Kasih.
"Dita, siapa ini?" tanya Kasih saat melihat Rizki yang terlihat begitu perhatian kepada Dita.
"Kasih, kenalin, ini namanya Rizki, dan Rizki adalah calon Suami aku."
Kasih terkejut ketika mendengar Dita sudah memiliki calon Suami, karena Kasih pikir Dita masih mencintai Rangga.
"Dita, apa bisa kita bicara berdua saja?" tanya Kasih dengan mengajak Dita untuk ke luar dari ruang kerjanya, sedangkan Rizki berpura-pura tidak melihat keberadaan Rangga.
"Kamu puas karena sekarang telah berhasil mendapatkan Dita?" sindir Rangga.
"Tentu saja aku sangat puas, karena dari dulu aku sudah menunggu Dita membuka hatinya untukku, dan sekarang impianku untuk menjadikan Dita sebagai istri dan Ibu dari Anak-anakku sudah di depan mata," ujar Rizki dengan tersenyum mengejek.
"Kamu jangan pernah bermimpi Rizki, karena selamanya Dita hanya akan menjadi milikku," ujar Rangga.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu kepadamu, karena sebentar lagi Dita akan menjadi milikku. Apa kamu sadar kalau kamu hanya masalalunya? apa kamu sudah lupa juga kalau sekarang kamu sudah mempunyai istri? harusnya kamu tidak boleh bersikap egois Rangga, karena sikap kamu sudah menyakiti hati dua wanita sekaligus."
Rangga ingin sekali menghajar Rizki, tapi Rangga menahan semuanya karena Rangga tidak mau kalau Dita semakin menjauh darinya, bahkan mungkin Dita akan membencinya.
......................
__ADS_1
Setelah berada di luar ruang praktek Dita, Kasih langsung saja angkat suara.
"Dita, kamu jujur sama aku, kamu masih mencintai Mas Rangga kan? lalu kenapa sekarang kamu malah menerima Rizki?"
"Kasih, Rangga sudah menjadi Suami kamu, jadi aku tidak pantas jika masih memiliki perasaan kepada Suami oranglain."
"Tapi aku ikhlas untuk berbagi Suami dengan kamu Dita, dan aku ingin kamu menikah dengan Mas Rangga."
"Kasih, tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang rela untuk dimadu, karena tidak akan ada juga lelaki yang bersikap adil. Jadi, kamu jangan berbicara seperti itu."
"Tapi aku adalah perempuan cacat yang tidak akan bisa memberikan keturunan untuk Suamiku."
"Kalian bisa kan mengadopsi Anak Yatim Piatu, kalau memang kalian tidak bisa memiliki keturunan?"
"Semuanya tidak segampang itu Dita, kamu tau sendiri kan kalau orangtua Mas Rangga menginginkan keturunan, dan mereka pasti tidak akan bisa menerima seorang Anak angkat."
"Maaf Kasih, aku tidak akan bisa mengabulkan keinginanmu, karena sebentar lagi aku dan Rizki akan menikah."
"Dita kamu harus tau kalau sejak menikah denganku Mas Rangga sering mabuk-mabukan untuk melampiaskan kekesalan serta amarahnya, bahkan dia hanya menyentuhku ketika dalam keadaan mabuk. Tapi yang dia sebut hanya nama kamu."
Kasih, aku yakin suatu saat nanti Rangga akan bisa mencintai kamu, karena aku sudah bulat dengan keputusanku untuk menikah dengan Rizki."
"Apa kamu mencintainya?" tanya Kasih, karena Kasih masih melihat tatapan penuh cinta antara Dita dan Rangga.
"Semua itu bukan urusan kamu, yang pasti aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dengan Rangga, tapi Rizki adalah lelaki yang baik, dan aku rasa tidak akan sulit untuk jatuh cinta kepadanya." ujar Dita, kemudian kembali masuk ke dalam ruang prakteknya, begitu juga dengan Kasih yang ikut masuk juga.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rizki dengan menggenggam tangan Dita, dan Rizki sengaja memanas-manasi Rangga.
"Aku baik-baik saja Ki."
"Kalau kamu tidak enak badan sebaiknya kamu pulang saja, biar aku yang lanjutin prakteknya."
"Makasih banyak ya, tapi aku beneran tidak apa-apa kok, aku hanya sedikit pusing saja."
__ADS_1
"Dita, maaf ya kalau kedatangan kami ke sini sudah mengganggu kamu," ucap Kasih yang merasa bersalah kepada Dita, apalagi saat ini wajah Dita terlihat pucat setelah berbicara dengannya.
"Kamu sama sekali tidak ganggu kok. Apa kamu datang ke sini karena kamu sudah siap untuk melakukan operasi pengangkatan rahim?"
"Memangnya kapan aku bisa melakukan operasi?"
"Jika kamu sudah siap, kapan pun kita bisa melakukan operasi, karena kemarin aku sudah membicarakannya dengan Dokter bedah, tapi lebih cepat akan lebih bagus supaya sel tumornya belum menyebar pada organ tubuh lainnya."
"Baiklah kalau begitu besok aku akan melakukan operasi," ujar Kasih yang sudah pasrah dengan apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya.
Rizki yang mendengar perkataan Dita langsung saja berinisiatif untuk membantunya, apalagi Kasih adalah saudara Dita, pastinya tidak akan mudah bagi Dita jika harus menyaksikan Kasih di operasi.
"Sayang, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Rizki kepada Dita.
"Ki, apa bisa besok kamu mendampingi Dokter bedah di ruang operasi? karena aku pasti tidak akan kuat jika harus melihat Kasih di operasi."
"Tentu saja sayang, aku akan melakukan apa pun untuk kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir," ujar Rizki dengan mengelus lembut kepala Dita, sontak saja semua itu kembali memancing emosi Rangga.
Rangga terus mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang saat ini bergejolak dalam dadanya.
Sepertinya Mas Rangga cemburu melihat Dita dan Rizki yang sengaja memperlakukan Dita dengan romantis, ucap Kasih dalam hati.
Dita memperlihatkan fhoto USG serta riwayat penyakit Kasih untuk Rizki pelajari.
"Kasih, kamu yang sabar ya, kami pasti akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan kamu."
"Terimakasih banyak ya Mas Rizki."
"Kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, karena aku akan secepatnya menikahi Dita," ujar Rizki.
Rangga yang sudah tidak kuat menahan api cemburu, langsung saja ke luar dari ruang praktek Dita, tanpa berpamitan pada semuanya.
Brugh
__ADS_1
Rangga menutup pintu ruang praktek Dita dengan kencang, kemudian dia berlari menuju taman belakang Rumah Sakit.
Dita, Kasih dan Rizki begitu terkejut dengan sikap yang ditunjukan Rangga, apalagi saat berpacaran dengan Dita, Rangga adalah sosok yang begitu baik, tapi setelah menikah dengan Kasih, Rangga berubah menjadi sering mabuk untuk melampiaskan amarahnya.