Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 30 ( Pernikahan dadakan )


__ADS_3

Dokter Asyifa tidak pernah mengira jika Dika benar-benar akan menikahinya.


📞"Apa Mas Dika tidak bercanda?"


📞"Mana mungkin aku bercanda. Kamu siap-siap saja, setelah Shalat Maghrib aku akan menjemputmu, tapi kita harus merahasiakan semuanya dari Ibu dan Adikmu, dan kamu harus meminta surat pernyataan dari Bapak yang menyatakan jika beliau memberikan kuasa kepada Penghulu untuk menikahkanmu denganku," ujar Dika, kemudian menutup telponnya, dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Ayah Ilham, Bunda Cinta, Dita dan Rizki saat ini sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Yah, kenapa Ayah terlihat buru-buru?" tanya Dita saat melihat Dika masuk ke dalam rumah.


"Malam ini Ayah akan menikah," jawab Dika sehingga membuat semuanya merasa terkejut.


"Apa kami tidak salah dengar Kak?" tanya Bunda Cinta dengan tersenyum bahagia.


"Tidak Cinta, Kakak akan menikahi Syifa malam ini juga."


Dita menghampiri Dika yang masih berdiri, kemudian Dita mengajak Dika untuk duduk.


"Sebaiknya sekarang Ayah duduk dulu. Apa Dita boleh tau alasan Ayah yang mendadak ingin menikahi Tante Syifa?"


Dika menceritakan tentang kehidupan Dokter Asyifa yang malang, juga tentang kekejaman Ibu dan Adik tirinya yang akan menikahkan Dokter Asyifa untuk membayar hutang, sampai akhirnya semuanya mendukung keputusan Dika.


"Kami pasti akan mendukung Kakak. Kasihan Dokter Asyifa, selama ini hidupnya sudah menderita," ujar Bunda Cinta.


"Terimakasih ya, kalian sudah mendukung Kakak. Semoga ini adalah keputusan yang terbaik untuk kehidupan Kakak dan Syifa, dan pernikahan kami menjadi ibadah," ujar Dika yang di Amini oleh semuanya.


"Kalau begitu Dita bersih-bersih dulu sekalian memberitahu Kasih tentang pernikahan Ayah."


Dita memanggil Kasih untuk memberitahukan tentang pernikahan dadakan yang akan dilaksanakan oleh Dika, tapi saat Dita berada di depan kamar Kasih yang sedikit terbuka, hati Dita merasa sakit ketika melihat Rangga yang saat ini sedang terbaring di atas paha Kasih, dan Kasih terlihat mengelus lembut kepala Rangga.


Kamu tidak boleh begini Dita, bukannya itu yang kamu mau? kamu ingin melihat Rangga dan Kasih bahagia? ucap Dita dalam hati.


Dita memberanikan diri untuk mengetuk pintu, karena mereka sudah tidak memiliki waktu yang banyak untuk mempersiapkan pernikahan Dika dan Dokter Asyifa.


"Dita, ayo masuk," ucap Kasih saat membuka pintu kamar.


"Kasih, maaf kalau aku sudah mengganggu. Aku mau memberitahu kalian kalau Ayah Dika dan Tante Syifa akan menikah malam ini," ujar Dita.


"Alhamdulillah, akhirnya Om Dika memutuskan untuk menikah juga. Mas, ayo kita ke bawah, kita harus membantu persiapan pernikahan Om Dika," ujar Kasih.


"Kalau begitu aku ke kamar dulu," ujar Dita yang melihat Rangga melangkahkan kaki menuju ke arahnya.


Rangga melihat kesedihan di mata Dita, karena setiap Dita sedih, Rangga pasti akan merasakan sesak dalam dadanya.

__ADS_1


Kenapa kamu terlihat sedih Dita? bukannya kamu sendiri yang memintaku untuk belajar mencintai Kasih. Sekarang kamu pasti terluka melihat aku perhatian kepada perempuan lain, begitu juga denganku yang harus berpura-pura bahagia di depan Kasih, ucap Rangga dalam hati.


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Dita menumpahkan airmata yang tidak bisa ia bendung lagi.


Ternyata aku tidak sekuat itu, ternyata aku tidak sanggup melihat Rangga bahagia dengan perempuan lain. Kamu tidak boleh begini Dita, bukannya semua itu kamu yang menginginkannya? kamu seharusnya ikut bahagia ketika melihat Rangga dan Kasih bahagia, ucap Dita dalam hati.


Setelah merasa lebih baik, Dita membersihkan dirinya, kemudian Dita melangkahkan kaki turun ke lantai bawah untuk membantu persiapan pernikahan Dika dan Kasih.


"Dita sayang, kamu kenapa Nak?" tanya Bunda Cinta yang melihat mata Dita sembab.


"Dita baik-baik saja Bunda, hanya saja Dita sedikit tidak enak badan."


Rangga hendak melangkahkan kaki untuk menghampiri Dita, tapi Rizki lebih dulu menghampiri Dita.


Rizki menempelkan punggung tangannya pada dahi Dita.


"Sayang, kamu demam. Dita sudah minum obat belum?" tanya Rizki.


"Nanti saja minum obatnya, sekarang aku harus membantu persiapan pernikahan Ayah."


"Sebaiknya sekarang Dita duduk saja, makan, minum obat, terus istirahat. Aku tidak mau kalau sampai kamu sakit," ujar Rizki.


Rangga menahan api cemburu saat melihat Rizki yang begitu perhatian kepada Dita, dan Kasih mencoba mengalihkan Rangga dengan mengajaknya membantu persiapan pernikahan Dika.


Dika yang baru selesai mandi merasa terkejut ketika kamarnya sudah disulap dengan indah menjadi kamar pengantin.


"Keluargaku sepertinya sangat bahagia karena aku akan menikah, sampai-sampai mereka mempersiapkan semuanya meski pun waktunya sangat mepet," gumam Dika yang saat ini merasa bahagia sekaligus sedih, karena setelah Dika menikah, Ilham dan Cinta pasti akan pindah ke rumah mereka.


Sebenarnya aku merasa berat untuk berpisah dengan Cinta, tapi aku tidak boleh terus-terusan egois, apalagi aku yakin kalau Syifa sama baiknya dengan Cinta, ucap Dika dalam hati, kemudian mengganti pakaian sebelum menjemput Dokter Asyifa.


"Kak, memangnya Kakak tidak mau menyuruh oranglain untuk menjemput Dokter Asyifa?"


"Tidak sayang, Kakak berangkat sendiri saja, kalau Kakak menyuruh oranglain, nanti Ibu tirinya Syifa pasti akan merasa curiga."


"Ya sudah kalau begitu Kakak hati-hati ya."


Dika melajukan mobilnya menuju rumah Dokter Asyifa, dan Dika menelpon Dokter Asyifa yang telah selesai bersiap.


Setelah Dokter Asyifa berpamitan kepada Ayahnya dan mengambil surat kuasa yang dibuat oleh Pak Komar, Dokter Asyifa ke luar dari dalam rumah.


"Syifa, kamu mau kemana?" tanya Mayang yang mencegatnya.


"Aku mau pergi, dan kemana pun aku akan pergi, itu bukan urusanmu, jadi sebaiknya kamu jangan menghalangi jalanku," ujar Dokter Asyifa.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa pergi, kamu pasti akan pergi dengan Tuan Dika kan?" tanya Mayang.


Bu Susi yang mendengar keributan dari luar rumah langsung menghampiri asal keributan.


"Kenapa sih kalian malah ribut?" tanya Bu Susi.


"Syifa mau keluyuran Bu, padahal dia kan harus merawat Bapak," adu Mayang.


"Syifa, memangnya kamu mau pergi kemana?' bentak Bu Susi.


"Syifa mau pergi dengan saya, jadi kalian jangan berani menghalanginya," ujar Dika, kemudian menarik lembut tangan Dokter Asyifa.


Mayang merengek ingin ikut dengan Dika dan Syifa, tapi Dika menatap tajam kepadanya.


"Kalau kamu memaksa untuk ikut dengan kami, jangan salahkan aku kalau aku memberitahukan kepada Ibunya Rangga jika kalian sudah menipunya," ancam Dika, sehingga membuat nyali Mayang dan Bu Susi menciut.


Dika membukakan pintu mobil untuk Dokter Asyifa, kemudian melajukannya menuju kediaman Pratama.


Setengah jam kemudian mereka berdua sampai di depan gerbang kediaman Pratama, dan Dokter Asyifa begitu terkejut ketika melihat rumah mewah yang saat ini berada di depan matanya.


"Mas, kenapa kita ke sini?" tanya Dokter Asyifa yang masih belum mengetahui tentang identitas Dika yang sebenarnya.


"Kita akan menikah di sini," jawab Dika.


"Apa ini rumah Tuan Andhika Pratama?" tanya Dokter Asyifa.


"Iya, karena Andhika Pratama adalah aku," ujar Dika sehingga membuat Dokter Asyifa merasa terkejut, tapi sesaat kemudian Dokter Asyifa tertawa karena mengira jika Dika bercanda.


"Mas Dika gak usah berbohong, aku akan menerima Mas apa adanya, jadi aku tidak peduli meski pun Mas hanya seorang OB," ujar Dokter Asyifa dengan menggenggam erat tangan Dika.


"Ya sudah, terserah kamu saja, yang pasti aku sudah berkata jujur, dan kamu jangan menyalahkan aku dan mengatakan kalau aku sudah berbohong," ujar Dika, kemudian mereka berdua turun dari mobil.


Bunda Cinta langsung menghampiri Dika dan Dokter Asyifa yang terlihat turun dari mobil.


"Syifa, kenalin, ini adalah Bundanya Dita sekaligus Adik kembarku," ujar Dika.


Pantas saja Mas Dika susah melupakan Cinta, karena ternyata Cinta sangat cantik, dia juga sepertinya baik, ucap Dokter Asyifa dalam hati.


"Terimakasih ya Kak, karena Kak Syifa sudah mau menikah dengan Kak Dika," ujar Bunda Cinta dengan memeluk tubuh Dokter Asyifa.


"Seharusnya saya yang mengucapkan terimakasih karena Mas Dika sudah sangat baik terhadap saya dan keluarga."


"Ya sudah kalau begitu kita masuk ke dalam, karena Kak Syifa harus dirias dulu," ujar Bunda Cinta, dan setelah Dika menganggukkan kepalanya, Dokter Asyifa ikut Bunda Cinta masuk ke dalam rumah karena saat ini sudah ada MUA yang menunggu untuk mendandani Dokter Asyifa.

__ADS_1


__ADS_2