
Tangan Kasih bergetar hebat saat Dita meminta Kasih untuk menyuapinya, sampai akhirnya Kasih menjatuhkan piring yang saat ini ia pegang, karena dalam piring tersebut sudah tercampur obat penggugur kandungan, dan Kasih mengurungkan niatnya untuk mencelakai Dita.
Apa yang telah aku lakukan? bisa-bisanya aku termakan oleh hasutan Mama untuk mencelakai Dita. Sebaiknya nanti malam aku harus segera pergi dari sini supaya aku tidak mempunyai pikiran jahat lagi untuk mencelakai saudaraku sendiri, ucap Kasih dalam hati.
"Kasih, kamu baik-baik saja kan? apa kamu sakit? sebaiknya kamu istirahat saja. Maaf, aku sudah merepotkanmu, kamu pasti kecapean kan?" tanya Dita yang terlihat mengkhawatirkan Kasih.
Kasih langsung berhambur memeluk tubuh Dita, dan Kasih begitu menyesal karena sudah sempat memiliki pemikiran jahat untuk mencelakai Dita.
"Maaf ya Dita, tadi piringnya licin, jadi aku tidak sengaja menjatuhkannya. Kalau begitu aku ambil lagi yang baru ya," ujar Kasih.
"Tidak perlu Kasih, sebaiknya kita makan sama-sama saja, kamu juga pasti sudah lapar kan?" ajak Dita dengan menggandeng tubuh Kasih untuk masuk ke dalam rumah.
Dita terlihat lahap memakan masakan Kasih, dan semuanya terlihat bahagia karena akhirnya Dita mau makan juga.
"Kasih, masakan kamu memang selalu enak, baru kali ini aku merasa tidak mual saat makan. Makasih ya, aku beruntung mempunyai saudara seperti kamu," ucap Dita dengan memeluk Kasih.
Mungkin kamu tidak akan berkata seperti itu seandainya tadi kamu tau kalau aku hampir saja mencelakaimu, ucap Kasih dalam hati.
"Aku yang beruntung karena memiliki saudara sebaik kamu Dita. Kamu harus jaga diri baik-baik ya, kamu harus selalu menjaga kesehatan dan kandungan kamu," ujar Kasih.
"Kamu jangan berbicara seperti itu, perkataanmu membuat aku takut saja, kamu seperti ingin meninggalkanku," ujar Dita dengan mengeratkan pelukannya.
Maaf Dita, aku memang akan meninggalkanmu, dan semua itu aku lakukan demi kebaikan semuanya, terlebih lagi demi kebahagiaan serta keselamatan kamu dan bayi yang saat ini ada dalam kandunganmu, karena aku yakin jika aku terus berada di dekatmu, Mama akan terus berusaha mencari cara supaya aku berbuat jahat kepadamu, batin Kasih, dan tidak terasa airmatanya menetes membasahi pipi.
__ADS_1
"Kasih, kenapa kamu menangis? apa ada orang yang sudah menyakiti hati kamu? cepat katakan sama aku, siapa pun orang yang menyakiti kamu, aku akan memberinya pelajaran," ujar Dita.
"Tidak Dita, aku hanya menangis bahagia karena melihat kamu makan dengan lahap masakanku. Ya sudah kalau begitu sekarang kamu nambah lagi ya, aku akan menyuapi kamu makan," ujar Kasih, dan mata Dita langsung berbinar.
Maaf Dita, aku tidak bisa mengatakan semuanya. Aku tidak pernah menyangka jika Ibu kandung yang selama ini selalu aku rindukan, tega-teganya ingin menjerumuskanku untuk melakukan sebuah kejahatan, ucap Kasih dalam hati.
......................
Malam pun kini telah tiba, semua orang sudah terlelap dalam tidurnya, dan Kasih sudah bersiap untuk pergi dari kediaman Argadana setelah sebelumnya Kasih membereskan pakaian serta barang-barangnya yang berharga.
Kasih berjalan mengendap-endap menuju lantai bawah, tapi tiba-tiba lampu menyala karena Rangga hendak mengambil air menuju dapur.
Rangga terkejut melihat Kasih membawa tas yang berukuran cukup besar.
"Mas Rangga," ucap Kasih dengan lirih.
"Mas, apa bisa kita bicara di luar supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan kita?" tanya Kasih, dan Rangga mengikuti langkah Kasih untuk berbicara di teras depan rumahnya.
"Sekarang kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Rangga.
Kasih beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, karena dirinya merasa berat untuk mengatakan semuanya.
"Mas, ceraikan aku," ucap Kasih dengan lirih.
__ADS_1
"Kasih, apa kamu ingin pergi dari rumah ini? aku minta maaf karena selama ini sudah bersikap tidak adil kepada kamu. Apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?" tanya Rangga.
"Iya Mas, aku sudah sangat yakin dengan keputusan yang aku ambil, karena aku tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan kamu dan Dita. Dita pasti sedih kan jika Mas Rangga tidur di kamarku? begitu juga denganku yang sebenarnya tidak rela berbagi Suami."
Rangga menghela nafas panjang, karena dirinya memang sudah berniat untuk menceraikan Kasih, meski pun Dita sudah melarangnya. Akan tetapi, saat ini Kasih sendiri yang meminta cerai, jadi Rangga pikir Dita tidak akan menyalahkan dirinya jika sampai menceraikan Kasih.
"Kasih, maaf karena selama ini aku tidak pernah bisa mencintaimu, dan sebenarnya aku juga tidak tega karena setiap malam Dita diam-diam selalu menangis. Kamu sendiri pasti tau alasannya? Jadi, mulai sekarang aku menjatuhkan talak kepadamu, sekarang aku membebaskanmu dari pernikahan yang menyakitkan ini, dan aku akan segera mengurus perceraian kita."
Hati Kasih berdenyut sakit ketika mendengar kata talak yang di ucapkan oleh Rangga, tapi Kasih berusaha untuk tegar menghadapi semuanya, karena Kasih sendiri yang sudah memintanya.
"Semoga di luar sana kamu mendapatkan kebahagiaan dari lelaki yang tulus mencintai kamu. Maaf jika selama kita menikah, aku hanya menorehkan luka pada hatimu. Terimakasih banyak ya, karena selama kita menikah, kamu sudah menjadi istri yang baik untukku," ujar Rangga dengan memeluk tubuh Kasih.
"Mas, aku titip Dita ya, semoga kalian juga selalu bahagia. Aku sudah menulis surat untuk kalian, kamu pura-pura saja tidak mengetahui tentang kepergianku supaya Dita tidak menyalahkanmu. Apa boleh aku menganggap Mas Rangga sebagai saudaraku sendiri?"
"Tentu saja, kamu bisa menganggapku sebagai Kakakmu sendiri, kalau ada apa-apa kamu bisa meminta bantuanku. Oh iya, sekarang kamu mau pergi kemana biar aku antar?"
"Tidak perlu Mas, nanti Dita curiga kalau kamu tidak ada di kamar, lebih baik aku naik taksi saja."
"Tidak Kasih, sekarang ini tengah malam, dan sangat berbahaya jika kamu pergi sendirian. Kalau begitu, aku akan menyuruh Supir untuk mengantarmu. Kamu hati-hati ya, jaga diri baik-baik," ucap Rangga kemudian mencium kening Kasih untuk yang terakhir kalinya.
Baru kali ini Mas Rangga terlihat tulus memberikan ciuman pada keningku. Meski pun Mas Rangga hanya menganggapku sebagai saudara, tapi aku merasa bahagia, ucap Kasih dalam hati.
Setelah Rangga menelpon Supir dan meminta kepada Supir untuk mengantar Kasih serta merahasiakan kepergian Kasih, Kasih naik ke dalam mobil, kemudian melambaikan tangan untuk yang terakhir kalinya kepada Rangga yang secara hukum Agama sudah menjadi mantan Suaminya.
__ADS_1
Kasih meminta Supir untuk mengantarnya menuju Panti Asuhan Kasih Bunda, dan untuk sementara Kasih memutuskan untuk tinggal di sana.
Sebaiknya untuk sementara waktu aku tinggal dulu di Panti Asuhan, semoga saja nanti Om Ahmad bisa datang untuk menjemputku, dan aku akan ikut ke Makasar untuk membuka lembaran baru serta mencari pekerjaan di sana, ucap Kasih dalam hati.