Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 27 ( Lebih baik dicintai daripada mencintai )


__ADS_3

Dita merasa sedih dengan perubahan sikap Rangga, tapi saat ini dirinya tidak berhak ikut campur urusan Rangga dan Kasih.


"Kasih, sebaiknya sekarang kamu susul Rangga, saat ini dia pasti membutuhkan keberadaan kamu ujar Dita yang merasa khawatir.


"Maaf Dita, sebaiknya kamu saja yang menyusul Rangga," ujar Kasih.


"Kenapa harus aku? Rangga adalah Suami kamu, sedangkan aku bukan siapa-siapa Rangga lagi," ujar Dita.


"Rangga akan lebih bahagia jika kamu yang menghampirinya, dan Rangga pasti akan mendengarkan perkataan kamu dibandingkan dengan siapa pun juga, karena selama ini bahkan Rangga sering menentang Mamanya demi kamu."


Dita nampak berpikir, karena bagaimanapun juga Dita harus berbicara kepada Rangga, supaya Rangga benar-benar bisa melupakan Dita.


Sebaiknya aku berbicara kepada Rangga secara baik-baik, siapa tau dengan begitu Rangga bisa mencintai Kasih dan melupakan aku, ucap Dita dalam hati.


"Ki, apa boleh aku berbicara dengan Rangga?" tanya Dita yang menghargai Rizki, karena bagaimanapun juga sekarang Rizki adalah kelasihnya.


"Pergilah, bagaimanapun juga kalian harus berbicara secara baik-baik supaya Rangga bisa menerima semuanya," jawab Rizki.


Setelah Dita berpamitan kepada Rizki dan Kasih, Kasih memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Rizki.


"Rizki, aku tau kalau kamu sangat mencintai Dita, tapi kamu ingin melihat Dita bahagia kan?" tanya Kasih.


"Tentu saja, apa pun akan aku lakukan untuk kebahagiaan Dita."


"Apa kamu bisa melepaskan Dita untuk Rangga?"


"Kenapa kamu meminta aku untuk melepaskan Dita demi Suami kamu?"


"Karena aku tau kalau selama ini yang Rangga cintai hanyalah Dita, begitu juga dengan Dita yang sangat mencintai Rangga."


"Kasih, seharusnya kamu memperjuangkan cinta Suami kamu, bukan malah menyuruhku untuk melepaskan Dita."


"Selama satu tahun aku dan Rangga berumah tangga, aku sudah berjuang untuk mendapatkan cintanya, tapi ternyata Rangga tidak pernah melihatku sebagai istrinya, karena Rangga hanya mencintai Dita, apalagi sekarang aku adalah seorang perempuan cacat yang tidak akan bisa memberikan keturunan untuk Suamiku."

__ADS_1


"Aku mengerti perasaan kamu, tapi seharusnya sebagai seorang Suami, Rangga bisa menerima kamu apa adanya, dan kamu sebagai seorang Istri tidak seharusnya berhenti berjuang, karena aku juga akan memperjuangkan cintaku. Kamu tidak tau kalau selama empat tahun aku sudah menunggu Dita membuka hatinya untukku."


Kasih akhirnya diam, karena dia tidak mungkin memaksa Rizki, karena bagaimanapun juga Rizki berhak menentukan pilihan hidupnya.


......................


Hati Dita rasanya sakit melihat Rangga yang saat ini terlihat menangis, sampai akhirnya Dita duduk di kursi samping Rangga.


"Rangga," ucap Dita dengan lirih.


Rangga yang mendengar suara Dita langsung saja membalikan badannya, kemudian memeluk tubuh Dita dengan erat.


"Biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Rangga ketika Dita hendak angkat suara.


"Rangga, aku tau kalau semua ini berat untuk kita, tapi aku yakin kalau kita berdua bisa melewati semua ini, dan seiring waktu kamu pasti bisa melupakanku."


"Tidak Dita, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku sudah mencobanya, tapi semua itu ternyata sangat sulit, karena aku sangat mencintai kamu," ucap Rangga yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu tidak tau Rangga, rasa cintaku kepadamu mungkin lebih besar dari yang kamu bayangkan, bahkan mungkin lebih besar dari rasa cinta kamu untukku, tapi Cinta tidak harus saling memiliki."


"Rangga, kamu jangan pernah menyalahkan Tuhan, karena Tuhan itu Maha Adil, Tuhan tau apa yang terbaik untuk Umatnya. Selama ini bukan Tuhan yang tidak adil, tapi kamu yang tidak pernah mencoba membuka hati kamu untuk Kasih."


"Cinta tidak bisa dipaksakan, seberapa kuat pun aku mencoba melupakan kamu dan membuka hatiku untuk Kasih, tetap saja tidak bisa. Aku harus bagaimana Dita?"


"Sekarang aku tidak mengenal kamu Rangga. Mana Rangga yang dulu? mana Rangga yang selalu bersikap manis dan baik, Rangga yang tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, Rangga yang selalu sempurna di mata semua orang? kenapa kamu berubah?"


"Kamu tidak tau apa yang aku alami setelah berpisah dengan kamu, Mama selalu mengancamku akan bunuh diri saat aku menolak untuk menikahi Kasih. Aku seperti orang gila, aku kehilangan separuh jiwaku. Semua itu karena kamu tidak ada di sampingku lagi Dita, karena bagiku kamu adalah napasku, kamu adalah hidupku."


"Rangga, dengarkan aku baik-baik. Kamu pasti bisa menjalani hidup tanpa aku, jangan sia-siakan hidup kamu. Sebelum kamu menyayangi oranglain, kamu harus mencintai diri kamu sendiri. Aku tidak mau kamu sampai sakit karena pola hidup kamu yang tidak sehat."


Rangga hanya diam mendengarkan kata-kata Dita, dan secara perlahan Rangga melepaskan pelukannya.


"Rangga, Apa aku bisa meminta sesuatu dari kamu?"

__ADS_1


"Apa pun yang kamu minta pasti aku akan melakukannya, walau pun aku harus mengambilkan bintang di langit."


"Aku minta, kamu kembali menjadi Rangga yang dulu, jauhi minuman beralkohol karena itu hanya akan merusak kesehatan kamu, dan aku sangat berharap kamu bisa mencintai Kasih. Cintai Kasih seperti kamu mencintaiku."


Dita menempelkan telunjuknya pada bibir Rangga saat Rangga hendak berbicara, karena Dita tau kalau Rangga pasti akan menolak permintaannya untuk mencintai Kasih.


"Anggap saja ini adalah permintaan terakhirku, dan aku tidak menerima penolakan. Meski pun kita tidak bisa saling memiliki, biarlah kita menyimpan semuanya di dalam hati sebagai kenangan yang terindah," ujar Dita, dan Rangga hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Sekarang sebaiknya kita kembali menemui Kasih dan Rizki, dan kita akan memulai membuka lembaran baru dengan orang-orang yang mencintai kita, karena lebih baik dicintai daripada mencintai."


Rangga terus menggenggam erat tangan Dita ketika berjalan menuju ruang praktek Dita, sampai akhirnya dengan berat hati Rangga dan Dita melepaskan pegangan tangan mereka setelah sampai di depan pintu, dan keduanya sama-sama menghela nafas panjang.


Selamat tinggal masalalu, terimakasih karena telah hadir dan mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan, ucap Dita dan Rangga dalam hati, dan tanpa terasa airmata keduanya kembali menetes.


"Dita, kamu harus bahagia meski pun hidup tanpa aku," ucap Rangga dengan menahan sesak dalam dadanya, karena Rangga sudah memutuskan akan memenuhi semua permintaan Dita.


"Begitu juga dengan kamu Rangga, aku akan selalu mendo'akan kebahagiaan kamu dengan Kasih," ucap Dita, kemudian membuka pintu ruang prakteknya.


Rizki dan Kasih melihat Dita dan Rangga yang saat ini masuk kembali ke dalam ruang praktek Dita, dan mereka tau kalau Dita dan Rangga habis menangis karena mata keduanya terlihat sembab.


"Kasih, sebaiknya sekarang kita pulang, sebentar lagi jam istirahat Dita habis," ujar Rangga.


"Kasih, besok aku akan menjadwalkan operasi kamu, dan nanti malam kamu harus mulai puasa dulu ya," ujar Dita dengan memeluk tubuh Kasih.


"Terimakasih banyak ya Dita, kalau begitu sekarang aku pulang dulu," ucap Kasih.


Rangga menggandeng tubuh Kasih dengan melihat ke arah Dita, dan Dita menganggukkan kepala serta tersenyum kepada Rangga.


Setelah kepergian Kasih dan Rangga, Rizki mendekati Dita, kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.


"Aku tau kalau semua ini pasti sangat berat untuk kamu, aku harap kamu mau berbagi suka dan duka denganku, dan aku akan berusaha untuk selalu ada untukmu," ucap Rizki.


Dita akhirnya kembali menumpahkan tangisannya dalam pelukan Rizki, karena ternyata Dita tidak sekuat itu melepaskan lelaki yang ia cintai.

__ADS_1


"Terimakasih banyak atas semuanya, terimakasih karena kamu sudah mengerti aku. Aku pasti akan berusaha untuk mencintai kamu, dan kita akan membuka lembaran baru," ucap Dita.


__ADS_2