
Syifa terlihat berpikir mengingat kapan terakhir dirinya menstruasi.
"Sepertinya Syifa terakhir menstruasi sebelum nikah deh, jadi pas nikah Syifa lagi masa subur. Semoga saja dugaan kita benar kalau kita akan segera diberikan titipan Anak oleh Allah SWT," ucap Syifa yang di Amini oleh Dika.
Setelah sampai Bandara Soekarno-Hatta, Dika kembali memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya, dan Supir pribadi keluarga Pratama sudah terlihat menunggu kedatangan Dika dan Syifa.
"Gitu deh kalau Casanova, takut kan ketemu para mantan," sindir Syifa.
"Yang penting sekarang cinta Mas hanya untuk Syifa. Meski pun Syifa bukan cinta pertama Mas Dika, tapi Syifa adalah cinta terakhir Mas Dika," ujar Dika dengan tersenyum.
"Udah deh gak usah gombal," ujar Syifa yang saat ini terus digandeng oleh Dika.
Ketika Melani melihat Syifa, Melani berniat untuk membalas perbuatan Syifa, dan saat ini Melani berjalan ke arah Syifa untuk menabraknya, tapi Dika yang melihat Melani berjalan ke arah Syifa langsung saja menarik tubuh Syifa sehingga membuat Melani tersungkur di atas lantai.
"Aww," Melani berteriak kesakitan, dan Melani merasa malu karena menjadi pusat perhatian banyak orang.
Dika membuka topi dan maskernya, dan Melani sudah tersenyum karena mengira Dika akan membantunya untuk berdiri.
"Jangan pikir kamu bisa menyakiti istriku, kalau sampai istriku dan bayi yang berada dalam kandungannya kenapa-napa, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan denganmu," ancam Dika kepada Melani, kemudian Dika mengajak Syifa untuk bergegas pulang.
Syifa menatap kagum Dika yang saat ini terus menggandengnya, dan Syifa tidak pernah mengira jika Dika begitu waspada, sampai-sampai Dika melihat gerak gerik Melani yang berusaha mencelakainya, padahal Syifa sendiri tidak melihat Melani.
"Mas, makasih banyak ya, Mas Dika sudah menyelamatkan Syifa, padahal Syifa tidak melihat Melani lho."
"Kamu bicara apa sayang, sudah kewajiban Mas sebagai seorang Suami melindungi istrinya. Syifa adalah istri Mas yang harus selalu Mas jaga dan lindungi dengan segenap jiwa dan raga Mas, jadi Mas harus selalu waspada supaya tidak ada orang yang menyakiti kamu.
__ADS_1
......................
Semuanya sudah berkumpul untuk menyambut kepulangan Dika dan Syifa, dan Dika terus mengembangkan senyuman saat masuk ke dalam rumah.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia nih?" sindir Ilham kepada Dika.
"Tentu saja, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah," ujar Dika, karena tadi sebelum sampai rumah Dika mengajak Syifa ke apotek terlebih dahulu untuk membeli tes kehamilan, dan Dika yang sudah merasa pemasaran langsung menyuruh Syifa melakukan tes.
"Selamat ya Bro, ternyata kamu hebat juga," ujar Ilham.
"Alhamdulillah, selamat ya Kak semoga Kakak dan bayi selalu diberikan kesehatan. Sebentar lagi Cinta bakalan menjadi Tante, semoga saja bayinya kembar seperti Cinta dan Kak Dika," ujar Cinta yang di Amini oleh semuanya.
Kasih merasa bahagia mendengar Syifa hamil, tapi sebagai seorang perempuan, Kasih juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu, dan hati Kasih berdenyut sakit ketika mendengar Syifa yang baru satu bulan menikah sudah hamil.
Ahmad yang sangat memahami perasaan Kasih langsung menggenggam erat tangan Kasih.
Hanya Om Ahmad yang paling mengerti Kasih, bahkan Mas Rangga yang notabene nya adalah Suami Kasih, terlihat tidak peduli apalagi sampai memikirkan perasaan Kasih, ucap Kasih dalam hati.
......................
Hari ini adalah hari pernikahan Dita dan Rizki, dan Dita sudah terlihat cantik dengan mengenakan gaun pengantin, tapi tidak terlihat sedikit pun senyuman pada bibirnya.
"Calon pengantin seharusnya tersenyum supaya semakin cantik," ucap Rangga yang saat ini berdiri di belakang tubuh Dita.
"Rangga," ucap Dita dengan lirih, dan tanpa terasa airmata Dita menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
Dita saat ini berdiri dengan tubuh menghadap kepada Rangga, dan Rangga mengelap airmata yang terus mengalir pada pipi Dita.
"Aku yakin setelah menikah dengan Rizki kamu akan bahagia," ucap Rangga.
Dita hanya terdiam, tapi airmatanya terus saja menetes membasahi pipi.
Kamu salah Rangga, karena kebahagiaanku adalah kamu, ucap Dita dalam hati.
"Dita, meski pun kita tidak ditakdirkan hidup bersama, tapi selamanya kamu akan selalu ada di hatiku. Semoga kamu selalu bahagia, dan sebagai Teman sekaligus saudara, aku akan selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu," ucap Rangga, kemudian memeluk tubuh Dita.
"Terimakasih Rangga, aku juga akan selalu berdo'a untuk kebahagiaan kamu dan Kasih," ucap Dita dengan menahan sesak dalam dadanya.
Selamat tinggal cinta pertamaku, mulai sekarang aku akan membuka lembaran baru dengan lelaki yang mencintaiku, dan aku akan berusaha mencintainya juga. Mungkin akan sulit untuk aku melupakan cinta kita, karena namamu akan selalu terukir di dalam hatiku, Rangga. Ucap Dita dalam hati.
Secara perlahan Rangga melepas pelukannya pada tubuh Dita, dan Rangga terlihat mengelap airmatanya juga.
"Kamu cantik sekali Dita," ucap Rangga dengan mencium kening Dita, kemudian Rangga berjalan mundur dan ke luar dari dalam kamar Dita.
Setelah Rangga tidak ada lagi di depan matanya, Dita langsung menjatuhkan tubuhnya, karena tubuhnya langsung terasa lemas ketika melihat kepergian Rangga yang akan benar-benar pergi dari hidupnya.
Ahmad yang melihat Rangga ke luar dari dalam kamar Dita, langsung masuk ke dalam kamar Dita, kemudian Ahmad membantu Dita berdiri.
"Dita istighfar, kamu tidak boleh begini, kamu harus kuat, kamu pasti bisa melewati semuanya. Ikhlas dan pasrah adalah kunci dari semua masalah. Om tau semua ini pasti sangat sulit untuk Dita," ucap Ahmad dengan memeluk tubuh Dita.
"Om, kenapa Dita tidak ditakdirkan menikah dengan lelaki yang Dita cintai?"
__ADS_1
"Sabar sayang, tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, dan yakinlah kalau Allah SWT pasti memberikan yang terbaik untuk Ummat-Nya. Apa sekarang Dita sudah siap? saat ini semuanya sudah menunggu Dita untuk turun," ujar Ahmad.
Setelah Ahmad membantu Dita menghapus airmatanya, dan Dita memperbaiki make up nya, Ahmad menggandeng Dita untuk turun ke lantai bawah, karena saat ini semuanya sudah berkumpul untuk berangkat ke Hotel bintang lima tempat acara akan diselenggarakan, kecuali Dika dan Syifa, yang sudah menginap di Hotel dari kemarin supaya Syifa tidak merasa kecapean, karena setelah Rizki dan Dita ijab kabul, Syifa dan Dika akan melaksanakan resepsi pernikahan yang akan digelar bersamaan dengan resepsi pernikahan Rizki dan Dita.