
Rizki tersenyum bahagia ketika Dita menanyakan keadaannya, karena Rizki merasa diperhatikan oleh Dita.
"Sekarang aku sudah lebih baik, terimakasih ya karena kamu sudah peduli kepadaku."
"Seharusnya aku minta maaf karena semalam aku sudah mengacuhkanmu, semalam aku terlalu khawatir kepada Rangga, sehingga aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi."
"Tidak apa-apa Dita, aku mengerti posisi kamu yang masih belum bisa melupakan Rangga, karena melupakan tidak semudah membalikan telapak tangan."
"Terimakasih banyak ya atas pengertiannya. Kalau begitu sebaiknya kita menyusul Ayah sama Tante Syifa ke dalam," ujar Dita, karena sebelumnya Dika dan Dokter Asyifa sudah masuk terlebih dahulu untuk memesan bubur.
"Dita, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," ujar Rizki.
"Tentang apa?" tanya Dita dengan mengerutkan dahinya.
"Apa semalam kamu serius mengatakan kepada Rangga jika aku adalah Calon Suami kamu? Dita, kamu harus tau kalau sejak dulu kita kuliah di Belanda, aku sudah jatuh cinta kepadamu, dan aku selalu berharap kamu akan menjadi pendamping hidupku."
Dita nampak terdiam karena semalam dia sengaja berbohong kepada Rangga supaya Rangga tidak mengganggunya.
Apa aku coba saja membuka hati untuk Rizki?mungkin dengan begitu Rangga tidak akan menggangguku lagi, dan semoga saja aku bisa melupakan Rangga jika aku menjalin hubungan dengan lelaki lain, ucap Dita dalam hati.
Setelah beberapa kali mengembuskan napas secara kasar, Dita akhirnya menjawab pertanyaan Rizki.
"Iya, aku serius dengan perkataanku," ujar Dita, dan Rizki langsung mengembangkan senyuman karena akhirnya penantiannya selama ini tidak sia-sia.
"Jadi artinya kamu mau menikah sama aku?"
"Iya Ki, aku tidak mau terus-terusan hidup dalam bayang-bayang masalalu. Saat ini Rangga sudah menikah dengan Kasih, dan aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka."
"Dita, terimakasih banyak karena kamu sudah memberikan aku kesempatan, aku pasti akan berusaha untuk membahagiakanmu serta membantu kamu melupakan Rangga. Aku tau kalau masih ada Rangga dalam hati kamu, tapi setidaknya kamu sudah berusaha untuk membuka hati untukku."
Rizki dan Dita masuk ke dalam warung bubur dengan bergandengan tangan, dan Dika tersenyum melihat Dita yang akhirnya mau membuka hati untuk Rizki.
"Sepertinya ada yang udah jadian nih," goda Dika.
"Yah, gak usah godain Dita deh."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita sarapan dulu mungpung buburnya masih hangat," ujar Dika, dan saat ini semuanya memulai sarapan sebelum berangkat ke Rumah Sakit.
Setelah semuanya selesai sarapan, Dita ikut mobil Rizki yang akan menemaninya praktek, karena kebetulan hari ini Rizki tidak ada jadwal praktek.
"Ki, Om titip Dita ya," ujar Dika saat masuk ke dalam mobilnya bersama Dokter Asyifa.
"Iya Om, Rizki pasti akan selalu menjaga Dita dengan segenap jiwa dan raga Rizki," ujar Rizki dengan terkekeh.
"Gak usah gombal Ki, yuk cepetan berangkat, bentar lagi aku harus praktek," ujar Dita, dan akhirnya semuanya menuju Rumah Sakit untuk bekerja.
Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Rizki terus saja mengembangkan senyuman, dan Rizki lebih banyak bicara dibandingkan dengan Dita, karena saat ini Dita terus saja memikirkan Rangga, sehingga Dita banyak melamun.
Berhenti memikirkan Rangga, Dita. Sekarang Rangga sudah menjadi Suami Kasih, dan saat ini kamu harus membuka lembaran baru dengan Rizki, ucap Dita dalam hati.
Lain hal nya dengan perjalanan Dita dan Rizki yang ditemani canda dan tawa, dalam mobil Dika hanya ada keheningan, karena Dika dan Dokter Asyifa sama-sama diam, sampai akhirnya Dokter Asyifa memberanikan diri untuk angkat suara.
"Pak Dika, terimakasih banyak ya karena Pak Dika sudah berkenan meminjamkan uang kepada saya. Maaf kalau saya sudah merepotkan Pak Dika," ucap Dokter Asyifa.
"Sekarang belum lebaran Syifa, kenapa kamu minta maaf terus? lagian aku tidak meminjamkan uang kepada kamu, karena aku ikhlas memberikannya," ujar Dika.
"Tapi uang sepuluh juta itu bukan uang yang sedikit, dan pasti Pak Dika mendapatkannya dengan susah payah bekerja."
"Kenapa kamu diam? apa kamu tidak mau menerimaku sebagai calon Suami kamu, karena aku hanyalah seorang OB?" tanya Dika.
"Bukan begitu, selama ini saya tidak pernah melihat seseorang dari profesinya, karena apa pun pekerjaannya yang penting halal. Hanya saja saya merasa terkejut, karena kita baru saling mengenal, bahkan Pak Dika tau sendiri kehidupan saya seperti apa, saya adalah tulang punggung keluarga, jangankan memikirkan pernikahan, untuk berpacaran saja saya tidak pernah," ujar Dokter Asyifa, dan Dika begitu terkejut mendengarnya.
"Aku baru tau kalau di jaman modern seperti ini masih ada perempuan yang belum pernah berpacaran. Kamu tau, aku kagum sama kamu, karena kamu adalah perempuan hebat."
"Saya hanya perempuan biasa yang mencoba untuk bertahan hidup dari kejamnya Dunia," ujar Dokter Asyifa dengan tertunduk sedih, karena selama ini Dokter Asyifa selalu berjuang sendirian, dan dirinya selalu berharap mempunyai tempat untuk bersandar serta merasakan kebahagiaan pada suatu hari nanti.
"Syifa, aku mengerti apa yang kamu rasakan, tidak mudah berjuang sendirian tanpa memiliki tempat untuk bersandar. Apa kamu akan mengijinkanku untuk menjadi tempat bersandar bagimu?"
Dokter Asyifa merasa tidak percaya dengan perkataan Dika, karena ternyata Dika begitu memahami dirinya, sehingga Dokter Asyifa menitikkan airmata.
"Syifa, kamu baik-baik saja kan? kenapa kamu menangis?" tanya Dika yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Ini adalah airmata bahagia, karena saya tidak mengira jika ada seseorang yang memahami apa yang saya rasakan."
"Aku tau kalau semua ini terlalu cepat, tapi kita bisa memulainya dengan menjadi teman terlebih dahulu supaya kita bisa saling mengenal, dan kamu bisa menjadikan aku tempat untuk bersandar juga berbagi cerita. Jika memang kamu sudah merasa nyaman dan bisa membuka hati untukku, baru aku akan menjadikan kamu sebagai istriku, karena usia kita sudah tidak muda lagi, jadi kita bisa berpacaran setelah menikah."
"Terimakasih ya, karena Pak Dika sudah bersedia untuk menjadi teman saya."
"Bagaimana kalau sekarang kamu memanggilku dengan panggilan Mas saja? soalnya aku merasa sudah sangat tua jika kamu memanggilku Bapak," ujar Dika dengan terkekeh.
"Mas Dika, apa boleh saya bertanya?"
"Memangnya kamu mau nanya apa?"
"Apa Mas Dika pernah jatuh cinta?"
Dika menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Dokter Asyifa, karena Dika hanya pernah jatuh cinta satu kali saja, yaitu kepada Cinta.
"Aku pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, aku selalu merasa bahagia karena aku bisa mendapatkan perempuan yang cantik dan juga saleha, tapi ketika kami memutuskan untuk menikah, ternyata perempuan yang aku cintai adalah Adik kembarku sendiri, karena kami sudah terpisah dari semenjak bayi."
"Mas Dika yang sabar ya, semua itu pasti sangat menyakitkan."
"Iya kamu benar, makanya sampai sekarang aku belum menikah."
"A_apa? jadi Dita bukan Anak kandung Mas Dika?" tanya Dokter Asyifa yang merasa sangat terkejut.
"Bukan, tapi Dita adalah Anak angkatku, dan mendiang Ibu kandung Dita adalah Adik angkat dari kembaranku."
"Jadi Ibu kandung Dita sudah meninggal dunia?"
"Iya, Ibu kandung Dita meninggal ketika melahirkan Dita, makanya aku yang sudah membesarkan Dita semenjak Dita dilahirkan ke dunia ini."
"Lalu kemana Ayah Dita?"
"Kami tidak tau keberadaannya, dan kami hanya mempunyai selembar fhoto kebersamaan mendiang Ibunya Dita dengan Ayah kandungnya. Aku sudah pernah mencarinya, tapi aku tidak berhasil mencari keberadaan lelaki yang bernama Dewo."
Dokter Asyifa merasa tidak enak karena selama ini dirinya sudah salah paham kepada Dika.
__ADS_1
"Maaf ya Mas, selama ini saya sudah salah paham kepada Mas Dika, tapi saya kagum karena Mas Dika adalah sosok Ayah yang baik untuk Dita, bahkan Mas Dika sudah berhasil membesarkan Dita sampai menjadi orang yang sukses."
Maaf Syifa, aku belum bisa jujur tentang identitasku yang sebenarnya, tapi aku akan secepatnya jujur padamu setelah kamu bisa menerimaku apa adanya, ucap Dika dalam hati.