
Setelah Rangga menyadari perkataan Syifa, Rangga langsung memeluk tubuh Dita dengan erat, meski pun saat ini Dita masih belum sadarkan diri.
"Alhamdulillah, akhirnya Tuhan menjawab semua do'aku," ucap Rangga yang menghujani Dita dengan ciuman.
Kasih yang tadinya memegang tangan Dita, secara perlahan melepas pegangannya tersebut, tapi tiba-tiba Dita terbangun dan memegang erat tangan Kasih.
"Kasih, jangan pergi, aku sangat menyayangi kamu, kalau kamu tidak bisa berbagi Suami denganku, aku akan mengalah demi kebahagiaan kamu, dan tadi aku juga sudah meminta cerai kepada Mas Rangga."
Semuanya terkejut mendengar perkataan Dita, karena semuanya tidak pernah mengira jika Dita sampai rela bercerai dengan Rangga demi kebahagiaan Kasih.
Kasih merasa terharu dengan perkataan Dita, kemudian Kasih memeluk tubuh Dita.
"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, aku juga sangat menyayangi kamu, hanya saja aku masih berusaha untuk ikhlas menerima takdir hidupku. Dita, kamu tidak bisa bercerai dengan Mas Rangga, karena saat ini kamu sedang hamil Anaknya. Selamat ya, sebentar lagi kita akan menjadi Ibu, dan aku akan menyayangi Anakmu, seperti Anakku juga," ucap Kasih yang sudah memutuskan akan tetap berbagi Suami dengan Dita, meski pun pada kenyataannya Rangga masih belum bisa bersikap adil.
Dita menangis terharu, dan tidak pernah mengira jika saat ini dirinya tengah hamil.
"Jadi, saat ini aku sedang hamil?" gumam Dita dengan airmata yang terus mengalir pada pipinya.
"Iya sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orangtua. Terimakasih sudah memberikan kebahagiaan untukku," ucap Rangga dengan memeluk tubuh Dita, sehingga Dita merasa tidak enak terhadap Kasih.
"Kasih, maaf ya, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu," ucap Dita dengan lirih.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah terhadapku, karena aku akan ikut bahagia jika kamu bahagia."
Semuanya bergantian mengucapkan selamat kepada Dita, dan Kasih menyuruh Rangga untuk selalu menemani Dita.
"Rangga, sebaiknya malam ini kamu tidur di kamar Kasih," ujar Dita.
__ADS_1
"Tidak Dita, saat ini kamu lebih membutuhkan Mas Rangga dibandingkan denganku, jadi sebaiknya Mas Rangga tidur di sini saja," ujar Kasih dengan tersenyum tulus.
Setelah semuanya berpamitan ke luar dari dalam kamar Dita, Rangga kembali memeluk tubuh Dita dengan erat.
"Sayang, kamu jangan berbicara seperti tadi lagi ya, aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa kamu."
"Maafin aku ya Rangga, aku tadi sudah terbawa emosi karena memikirkan perasaan Kasih. Aku dan bayi kita tidak akan bisa hidup tanpa kamu juga sayang," ucap Dita dengan memeluk tubuh Rangga dengan erat.
Rangga terus mengelus perut Dita yang masih datar dengan sesekali menciuminya.
"Sayang, baik-baik ya dalam perut Bunda, jangan bikin Bunda susah," ucap Rangga yang semakin hari semakin mencintai serta menyayangi Dita.
Rangga yang teringat dengan kedua orangtuanya memutuskan untuk memberitahukan kabar gembira tersebut kepada Mama Wita dan Papa Diki, kemudian Rangga mengambil handphonenya untuk menelpon Mama Wita.
Mama Wita yang mendengar kabar kehamilan Dita sampai berteriak histeris saking bahagianya, dan Mama Wita terus berpesan kepada Rangga supaya menjaga kandungan Dita dengan baik.
Keesokan paginya, Mama Wita sudah berkunjung ke kediaman Pratama, dan Papa Diki merasa tidak enak karena pagi-pagi buta, Mama Wita memaksanya untuk di antar menemui Dita.
"Tuan dan Nyonya Pratama, saya minta maaf karena istri saya sudah memaksa berkunjung pagi-pagi sekali, bahkan sejak semalam mendengar Dita hamil, istri saya tidak bisa tidur, dan langsung membuat rujak juga manisan mangga, sampai-sampai tengah malam saya yang disuruh ngambil mangga dari depan rumah ," ujar Papa Diki kepada Ayah Ilham dan Bunda Cinta.
Ayah Ilham dan Bunda Cinta tersenyum bahagia karena orangtua Rangga terlihat begitu antusias menyambut kehamilan Dita, meski pun Ayah Ilham dan Bunda Cinta merasa sedih saat memikirkan perasaan Kasih.
"Makasih banyak ya Jeng, Jeng Wita sudah repot-repot membawakan manisan dan rujak mangga untuk Dita. Kalau begitu, mari saya antar ke kamar Dita," ujar Bunda Cinta.
Setelah Bunda Cinta mengetuk pintu kamar Dita, Bunda Cinta mengajak masuk Mama Wita dan Papa Diki, dan saat ini Dita terdengar sedang muntah di kamar mandi.
Rangga terus memijit tengkuk leher Dita, kemudian Rangga membantu Dita berjalan secara perlahan menuju tempat tidur.
__ADS_1
"Dita sayang, kasihan sekali kamu Nak sampai mual muntah terus. Cucu Nenek sayang jangan nakal ya, kasihan Bundanya sampai mual muntah begitu," ujar Mama Wita dengan membantu menggandeng tubuh Dita menuju tempat tidur, dan Mama Wita terlihat mengelus perut Dita.
Kasih yang melihat perlakuan manis Mama Wita kepada Dita dari depan pintu kamar Dita merasakan sakit pada hatinya.
Mama Wita terlihat sangat menyayangi Dita, berbeda sekali dengan perlakuannya terhadapku, bahkan hanya ada kebencian di matanya karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Rangga, ucap Kasih dalam hati, kemudian kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Bunda cinta yang melihat Kasih, langsung menyusul Kasih supaya bisa menghiburnya.
"Sayang, apa Bunda boleh masuk?" tanya Bunda Cinta saat berada di depan pintu kamar Kasih, dan Bunda Cinta langsung menghampiri Kasih yang saat ini terlihat menangis.
"Bunda," ucap Kasih, kemudian berhambur memeluk tubuh Bunda Cinta.
"Sayang, Bunda tau bagaimana sakitnya perasaan Kasih. Maaf ya Nak, Bunda tidak bisa melakukan apa pun untuk Kasih," ujar Bunda Cinta dengan mengelus lembut kepala Kasih, dan Bunda Cinta ikut menangis juga.
"Kasih sendiri yang sudah memutuskan untuk berbagi Suami dengan Dita, dan sejak awal Kasih sudah tau jika semuanya akan seperti ini. Jadi, Kasih akan menikmati rasa sakit ini sendiri Bunda."
"Kasih, kenapa Kasih masih saja bertahan dengan rumah tangga yang menyakitkan seperti yang Kasih jalani saat ini? mungkin jika Kasih memutuskan untuk menyerah, di luar sana ada seorang lelaki yang menunggu Kasih dan sangat mencintai Kasih."
"Tidak mungkin Bunda, Kasih adalah perempuan cacat, Kasih tidak bisa memberikan keturunan, dan pasti tidak ada lelaki yang bisa menerima semua itu. Kasih tidak sepintar Dita, Kasih hanya akan menjadi beban keluarga jika Kasih bercerai dengan Mas Rangga. Mungkin selama ini Mas Rangga tidak mencintai Kasih, tapi sebagai seorang Suami, Mas Rangga selalu memenuhi semua kebutuhan Kasih."
"Nak, kenapa Kasih bisa berpikir seperti itu? Kasih tidak pernah merepotkan kami, karena rasa sayang kami kepada Kasih dan Dita, sama seperti rasa sayang Ayah dan Bunda kepada Iqbal. Jika memang Kasih sudah tidak sanggup lagi menjalani rumah tangga dengan Rangga, keluarga Pratama akan selalu mendukung semua keputusan Kasih, kamu tidak sendirian Nak, Kasih masih memiliki kami.
"Makasih Bunda, karena selama ini Bunda selalu tulus menyayangi Kasih."
"Nak, sudah menjadi kewajiban kami sebagai orangtua menyayangi Anak-anaknya. Apa Bunda boleh bertanya sesuatu kepada Kasih?"
"Memangnya Bunda mau bertanya tentang apa?"
__ADS_1
"Apa Kasih mempunyai perasaan lebih kepada Om Ahmad?"