Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 28 ( Getaran aneh dalam dada )


__ADS_3

Rangga dan Kasih pulang menuju kediaman Pratama. Sepanjang perjalanan, Rangga hanya diam saja, begitu juga dengan Kasih yang memberikan waktu kepada Rangga, karena saat ini Rangga masih terlihat sedih.


Setelah mobil yang Rangga dan Kasih tumpangi tiba di halaman kediaman Pratama, Rangga akhirnya berbicara sebelum turun dari mobil.


"Kasih, maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi Suami yang baik untuk kamu," ucap Rangga dengan lirih.


"Mas, Kasih sangat mengerti posisi Mas Rangga saat ini, jadi Mas Rangga tidak perlu meminta maaf."


"Bagaimanapun juga aku adalah Suami kamu, seharusnya sebagai seorang Suami, aku selalu membahagiakanmu, karena kamu sudah menjadi tanggung jawab di Dunia dan Akhiratku. Mulai sekarang aku akan berusaha menjadi Suami yang baik untukmu, dan kita akan membuka lembaran baru," ujar Rangga dengan memeluk tubuh Kasih, tentu saja semua itu membuat Kasih merasa bahagia.


Mas Rangga pasti berubah karena mendengar perkataan Dita. Terimakasih Dita, kamu memang saudaraku yang baik, tapi aku masih berharap jika kamu akan bahagia bersama Mas Rangga, karena bagaimanapun juga aku tau kalian berdua masih saling mencintai, ucap Kasih dalam hati.


......................


Bunda Cinta dan Ayah Ilham sudah menunggu Kasih pulang, karena mereka ingin tau kapan Kasih akan melakukan operasi.


"Sayang, kapan Kasih akan melakukan operasi?" tanya Bunda Cinta saat melihat Rangga dan Kasih pulang.


"Kasih sudah memutuskan akan melakukan operasi besok. Kasih minta do'anya ya."


"Kami pasti akan mendo'akan yang terbaik untuk Kasih. Semoga operasi Kasih berjalan lancar, dan Kasih bisa segera sembuh," ujar Ayah Ilham yang di Amini oleh semuanya.


Setelah membicarakan rencana operasi Kasih, Kasih dan Rangga pamit menuju kamar mereka untuk beristirahat.


Ayah Ilham dan Bunda Cinta merasa bahagia ketika melihat Rangga yang lebih perhatian kepada Kasih, karena pada saat Rangga dan Kasih berjalan menaiki tangga, Rangga terlihat menggandeng tubuh Kasih.


"Yah, Alhamdulillah ya, Rangga sekarang lebih perhatian terhadap Kasih," ujar Bunda Cinta.


"Iya Bunda, Kasih juga terlihat bahagia. Semoga saja semua Anak kita selalu bahagia."


"Amin Yah, semoga saja. Bunda juga berharap Kak Dika dan Ahmad segera menikah."


"Bagaimana kabar Ahmad sekarang Bunda?"


"Alhamdulillah Ahmad baik Yah, tadi Ahmad telpon, katanya Ahmad akan mengambil cuti untuk pulang menemui kita."


"Ayah bangga kepada Ahmad, karena semenjak kecil, Ahmad sudah menjadi Anak yang saleh, bahkan Ahmad memilih untuk tinggal di Pesantren supaya bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk bekal di Dunia dan akhirat, apalagi sekarang Ahmad sudah berhasil menjadi seorang Abdi negara yang jujur."


Ahmad yaitu Adik angkat Cinta yang selalu berprilaku baik dari semenjak kecil. Sekarang Ahmad sudah menjadi seorang Polisi dengan segudang prestasi, bahkan di usianya yang masih terbilang muda, Ahmad sudah menjadi seorang Kapolres, tapi sampai saat ini Ahmad masih belum memutuskan untuk menikah, karena sebenarnya dari dulu Ahmad sudah jatuh cinta kepada Kasih, tapi Ahmad menutupi semuanya, karena Ahmad takut jika keluarganya akan kecewa jika mengetahui tentang Ahmad yang mencintai Keponakannya sendiri, meski pun pada kenyataannya Ahmad dan Kasih tidak memiliki hubungan darah.


......................

__ADS_1


Seharian ini Dika memilih untuk membersihkan ruang praktek Dokter Asyifa, karena Dika ingin lebih mengenal sosok Dokter Asyifa, dan saat jam makan siang, Dika membawa banyak makanan untuk dirinya dan Dokter Asyifa.


"Syifa, sebaiknya kita makan dulu, sekarang sudah lewat jam istirahat, kenapa daritadi kamu kerja terus," ujar Dika, karena saat ini Dokter Asyifa terlihat membaca banyak dokumen serta memeriksanya secara teliti.


"Mas, aku gak enak sama Tuan Andhika. Tuan Andhika sudah memberikan pekerjaan untukku, jadi aku harus lebih giat dalam bekerja, jangan sampai aku mengecewakannya."


"Syifa, Tuan Andhika pasti akan marah kalau mengetahui Karyawannya masih belum makan, padahal ini sudah lewat jam makan siang. Apa kamu tidak kasihan kepadaku yang sudah merasa kelaparan?" bujuk Dika.


"Ya sudah, kalau begitu kita makan dulu, Pasien hari ini juga sudah habis," ujar Dokter Asyifa dengan menghampiri Dika yang duduk di sebelah ruang praktek Dokter Asyifa.


"Mas, kenapa makanannya banyak sekali?"


"Kamu harus makan yang banyak supaya kamu selalu sehat."


"Terimakasih ya_" ucap Dokter Asyifa, tapi Dika menempelkan telunjuknya pada bibir Dokter Asyifa.


"Kita ini Teman, jadi kamu jangan terus mengucapkan maaf dan terimakasih. Kalau kamu ingin mengucapkan terimakasih, sekarang kamu makan yang banyak."


Dokter Asyifa selalu merasa heran kepada Dika, karena Dika bisa membeli makanan yang mahal, bahkan Dika bisa memberikan uang kepada oranglain.


Mungkin Mas Dika mempunyai pekerjaan sampingan, makanya Mas Dika mempunyai uang yang cukup, ucap Dokter Asyifa dalam hati.


"Mas, apa Mas Dika pernah bertemu dengan Tuan Andhika?" tanya Dokter Asyifa, sehingga membuat Dika tersedak makanan.


Dokter Asyifa langsung menepuk tengkuk leher Dika secara perlahan, kemudian memberikan Dika segelas air.


"Kalau makan pelan-pelan, biar gak tersedak," ujar Dokter Asyifa.


"Makasih Syifa."


Setelah merasa lebih baik, Dika mencoba menjawab pertanyaan Dokter Asyifa.


"Kenapa kamu menanyakan Tuan Andhika? apa kamu juga ingin mendekatinya seperti perempuan-perempuan di luar sana yang berusaha untuk mendapatkannya?"


"Aku tidak pernah sedikit pun berniat untuk mendekati Tuan Andhika, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih saja karena dia sudah memberikan aku pekerjaan. Jangan bilang Mas Dika cemburu?" ujar Dokter Asyifa dengan tersenyum.


"Kamu jangan terlalu percaya diri, nanti kamu yang akan duluan jatuh cinta kepadaku, karena banyak orang yang bilang kalau aku kembarannya Tuan Andhika, bahkan aku lebih genteng dari dia," ujar Dika dengan terkekeh, dan Dokter Asyifa memutar malas bola matanya.


"Kambuh lagi PD nya," ujar Dokter Asyifa dengan menggelitik pinggang Dika.


"Sekarang kamu sudah berani ya iseng sama aku," ujar Dika dengan membalas menggelitik pinggang Dokter Asyifa, sehingga mereka tertawa bahagia, dan baru kali ini Dokter Asyifa bisa tertawa lepas, begitu juga dengan Dika, setelah sekian lama, Dika akhirnya merasakan getaran aneh dalam dadanya untuk seorang perempuan.

__ADS_1


"Sudah Mas ampun, aku ngaku kalah," ujar Dokter Asyifa dengan mengangkat kedua tangannya.


Mata Dokter Asyifa dan Dika saling memandang, dan baru kali ini Dokter Asyifa juga merasakan getaran aneh dalam dadanya.


Terimakasih Tuhan, karena engkau telah mengirimkan Mas Dika dalam kehidupanku, sosok Malaikat tak bersayap yang bisa membuat hatiku merasa bahagia, ucap Dokter Asyifa dalam hati yang sudah merasa nyaman saat berada dekat Dika.


......................


Setelah selesai jam kerja Dokter Asyifa, Dika mengajaknya untuk pulang bersama.


"Syifa, sebaiknya sekarang kita pulang bareng saja," ujar Dika.


"Apa tidak merepotkan?" tanya dokter Asyifa yang merasa tidak enak.


"Tentu saja tidak, rumah kita kan searah, dan Tuan Dika sengaja meminjamkan mobilnya supaya aku bisa mengantar jemput kamu juga."


Dokter Asyifa dan Dika berjalan menuju ruang praktek Dita untuk mengajak Dita pulang bersama, kebetulan Rizki dan Dita juga sudah ke luar dari dalam ruang praktek.


"Sayang, Dita mau pulang bareng sama Ayah, atau mau pulang sama Rizki?" tanya Dika.


"Dita pulang sama Rizki saja ya, kebetulan Rizki mau main ke rumah."


"Ya sudah kalau begitu kalian berdua hati-hati ya, Ayah yakin Rizki akan menjaga Anak Ayah dengan baik," ujar Dika dengan tersenyum.


"Om tenang saja, Rizki pasti akan selalu menjaga Dita."


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita pulang, Bunda kamu pasti sudah masak, jadi kalian jangan makan di luar ya," ujar Dika.


Dokter Asyifa terlihat bertanya-tanya ketika Dika mengatakan Bunda kamu kepada Dita, karena Dika belum menceritakan tentang Cinta yang menjadi Ibu angkat Dita, sampai akhirnya Dokter Asyifa memberanikan diri bertanya kepada Dika saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Mas, apa aku boleh bertanya?" tanya Dokter Asyifa.


"Kalau kamu mau bertanya, ngomong aja langsung, gak perlu meminta ijin segala," jawab Dika.


"Jadi selain mempunyai Ayah angkat, Dita juga mempunyai Ibu angkat ya?"


"Jangan bilang kamu cemburu kepada Ibu angkat Dita?"


"Gak usah bercanda terus deh, aku hanya merasa penasaran saja Mas Dika di rumah tinggal sama siapa aja."


"Ya sudah, kalau begitu kamu ikut ke rumahku saja sekarang, biar aku kenalin kamu kepada semuanya."

__ADS_1


__ADS_2