
Dika saat ini mengetuk pintu ruangan Dokter Asyifa, karena Dika akan membersihkan ruangan tersebut, meski pun Dika tidak tau cara menggunakan peralatan kebersihan, karena selama ini Dika tidak pernah menggunakannya, jangankan menggunakannya, menyentuhnya pun Dika belum pernah.
Tok..tok
Dika mengetuk pintu sebelum masuk, dan setelah Dokter Asyifa mempersilahkan Dika untuk masuk, Dika pun masuk ke dalam ruangan Dokter Asyifa.
"Permisi Dok, saya mau membersihkan ruangan Dokter," ucap Dika.
"Silahkan Pak," ucap Dokter Asyifa tanpa melihat wajah Dika, karena saat ini Dokter Asyifa sedang terlihat sibuk memeriksa Dokumen peraturan Rumah Sakit yang Kepala Rumah Sakit berikan.
Dika yang tidak tau menggunakan alat pel, tidak memerasnya terlebih dahulu ketika menggunakannya di lantai, sampai akhirnya Dokter Asyifa terpeleset ketika hendak pergi ke Toilet, untung saja Dika berhasil menangkap tubuh Dokter Asyifa sebelum terjatuh di atas lantai
Deg..deg..deg.
Jantung Dokter Asyifa dan Dika berdetak kencang, karena saat netra keduanya bertemu.
"Astagfirullah, terimakasih karena Anda sudah menolong saya," ucap Dokter Asyifa dengan melepaskan diri dari pelukan Dika.
Sepertinya wajah perempuan ini tidak asing? apa dia perempuan yang sama yang dulu pernah bertabrakan denganku saat di acara penyambutan kedatangan mendiang Arya? batin Dika kini bertanya-tanya.
"Pak Dika, Anda baik-baik saja kan?" tanya Dokter Asyifa.
"Saya baik-baik saja, hanya saja saya sedang teringat dengan seseorang."
"Jangan bilang otak Anda mengalami korslet," celetuk Dokter Asyifa.
"Memangnya kamu pikir otak aku listrik, apa?"
"Maaf, saya cuma bercanda," ujar Dokter Asyifa dengan tersenyum, dan senyuman Dokter Asyifa mengingatkan Dika pada Cinta.
Dokter Asyifa berlalu menuju Kamar mandi, dan ketika ke luar dari dalam kamar mandi, Dokter Asyifa begitu terkejut melihat cara Dika bekerja.
"Pantas saja saya hampir terjatuh, ternyata cara Anda mengepel seperti itu. Kelihatan sekali kalau Anda tidak pernah bekerja," ujar Dokter Asyifa dengan mengambil lap pel dari tangan Dika.
__ADS_1
"Kalau mengepel lantai itu lap nya harus diperas dulu," ujar Dokter Asyifa yang saat ini mengajarkan Dika cara-cara menggunakan lap pel yang benar, dan Dika tersenyum melihat Dokter Asyifa yang tidak menyadari jika dirinya sudah mengepel seluruh ruangan kerjanya.
"Terimakasih banyak Dok karena sudah memberitahu saya bagaimana caranya mengepel yang baik dan benar, apalagi Dokter sudah berbaik hati membantu saya mengepel. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Dika dengan melangkahkan kaki ke luar dari ruangan Dokter Asyifa, meninggalkan Dokter Asyifa yang masih diam mematung saat Dika mengambil peralatan kebersihannya.
"Benar-benar lelaki mesum, bisa-bisanya dia mengerjaiku, tapi bukan salah dia juga sih, kan tadi aku yang mengambil lap pel dari tangannya," gumam Dokter Asyifa saat mencuci tangannya.
......................
Kasih dan Rangga sudah bersiap untuk berangkat menuju Rumah Sakit, dan saat ini mereka hendak berpamitan kepada Mama Wita dan Papa Diki yang sudah menunggu mereka untuk sarapan.
"Kasih, mau kemana kamu sudah rapi?"
"Kasih ada perlu Ma."
"Kalau gak bisa cari uang, tugas istri tuh diam di rumah nunggu Suami pulang kerja, bukannya keluyuran terus," sindir Mama Wita.
"Ma, Kasih bukan keluyuran, tapi Kasih dan Rangga akan melakukan pengobatan, siapa tau kami bisa segera mendapatkan keturunan," ujar Rangga.
"Udah mandul ya mandul aja, meski pun diobati sekali pun dia gak bakalan hamil. Rangga, sebaiknya kamu ganti istri saja, percuma kamu menikah dengan perempuan yang tidak bisa memberikan kita keturunan. Keluarga Argadana itu butuh penerus, hanya kamu yang menjadi harapan kami," ujar Mama Wita, dan Kasih lagi-lagi merasakan sakit pada hatinya ketika mendengar perkataan Mertuanya tersebut.
"Rangga, kamu itu jadi Anak gak ada sopan santunnya, orangtua lagi bicara malah nyelonong begitu saja," teriak Mama Wita.
"Sudah Ma, mungkin Rangga tidak mau berdebat dengan Mama, Rangga tidak ingin menjadi Anak durhaka" ujar Papa Diki mencoba menenangkan istrinya.
......................
Rangga membukakan pintu mobil untuk Kasih, setelah Rangga dan Kasih masuk ke dalam mobil, Rangga kembali meminta maaf kepada Kasih.
"Kasih, atas nama Mama, aku minta maaf yang sebesar-besarnya, aku tau kalau perkataan Mama sudah menyakiti hatimu."
"Mas, semua itu bukan kesalahan Mas Rangga, jadi Mas Rangga tidak perlu meminta maaf atas kesalahan yang tidak Mas Rangga perbuat."
"Tapi Mama sudah keterlaluan, bisa-bisanya Mama menyuruhku untuk mengganti istri. Memangnya Mama pikir kita tidak punya perasaan."
__ADS_1
"Mas, Mama berkata seperti itu karena Mama ingin sekali segera menimang Cucu."
"Tapi tidak dengan menyakiti hati kami juga, karena bagaimanapun kamu adalah Menantunya, seharusnya Mama menganggap kamu sebagai Anak kandungnya sendiri."
"Sudahlah Mas, bagaimanapun juga Mama adalah orangtua kita yang harus selalu kita hormati," ucap Kasih dengan tersenyum tulus.
Kasih begitu baik, tapi kenapa aku masih belum juga bisa mencintainya? selama ini aku selalu saja terbayang dengan kebersamaanku bersama Dita, karena waktu tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan selama itu Dita selalu menemaniku di dalam suka atau pun duka, dan Dita selalu ada untukku saat aku membutuhkan. Seandainya waktu itu bisa terulang kembali, aku pasti akan memperjuangkan cintaku dengan Dita. Maaf Kasih jika aku masih saja memikirkan perempuan lain, ucap Rangga dalam hati.
Setengah jam kemudian, Rangga dan Kasih sampai di Rumah Sakit keluarga Pratama, dan mereka langsung menuju ruangan Dita sebelum Dita membuka jadwal prakteknya.
Setelah mengetuk pintu, Kasih dan Rangga masuk ke dalam ruang praktek Dita, dan Dita begitu terkejut ketika melihat Rangga yang ternyata mengantar Kasih.
Kamu harus profesional Dita, saat ini kamu adalah seorang Dokter yang akan mengobati Pasien, dan kamu harus menganggap jika Rangga adalah Suami Pasien, bukan seseorang yang selalu mengisi hati kamu, ucap Dita dalam hati.
"Dita, kamu cantik sekali mengenakan seragam Dokter, selamat ya, akhirnya impian kamu terwujud, dan aku bangga sama kamu," ucap Kasih dengan memeluk tubuh Dita.
"Terimakasih banyak Kasih, aku tidak akan mungkin berhasil tanpa dukungan dari kalian."
Dita dan Rangga kini saling menatap, dan dalam mata mereka selalu tersirat kerinduan yang mendalam.
Dita sayang, selamat ya. Aku bersyukur karena cita-cita kamu menjadi seorang Dokter akhirnya terwujud juga, meski pun kita berdua harus mengubur cita-cita kita menjadi Suami istri, karena mungkin semua itu tidak akan pernah bisa terwujud. Ternyata mencintai tanpa memiliki itu sangat menyakitkan, ucap Rangga dalam hati, dan tanpa terasa airmata Rangga menetes membasahi pipinya.
Dita menyuruh Kasih untuk berbaring, karena saat ini Dita akan melakukan USG.
Dita menggerakkan alat USG nya, dan Dita menghela nafas panjang ketika melihat kondisi rahim Kasih.
"Kasih, kenapa selama ini kamu tidak pernah memeriksakan kondisi rahim kamu? seharusnya ketika kamu mengalami sakit saat menstruasi, kamu harus segera memeriksakannya."
"Ini semua salahku, karena aku tidak pernah memperhatikan istriku," ucap Rangga.
"Iya, semua itu memang salah kamu Rangga, seharusnya sebagai seorang Suami, kamu bisa menjaga Istri kamu baik-baik, kamu harus memperhatikan kesehatan dia," ujar Dita yang merasa kesal terhadap Rangga.
"Dita, semua itu bukan salah Mas Rangga, tapi semua ini sudah takdir dari Tuhan, karena Tuhan lebih tau apa yang kita butuhkan daripada yang kita inginkan, dan mungkin Tuhan mempunyai rencana lain yang lebih indah untukku, dan aku akan sangat bahagia jika melihat Mas Rangga dan kamu hidup bahagia," ujar Kasih dengan tersenyum, dan Dita merasa terkejut dengan perkataan Kasih.
__ADS_1
"Apa maksud kamu Kasih?" tanya Dita.