Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 48 ( Ciuman pertama )


__ADS_3

Ahmad menghela napas panjang ketika mendengar pertanyaan Kasih, karena selama ini Ahmad selalu berharap Kasih bisa ikut dengannya kemana pun dirinya pergi, tapi saat ini situasi dan kondisinya tidak memungkinkan, karena Kasih masih berstatus istri dari Rangga.


"Kasih, Om bukannya tidak mau mengajak Kasih, tapi saat ini status Kasih masih istri Rangga. Apa nanti kata orang kalau kita tinggal bersama? Meski pun dari semenjak kecil kita sudah dibesarkan bersama sebagai saudara, tapi pada kenyataannya tidak bisa dipungkiri jika kita berdua tidak memiliki hubungan darah."


Kasih terlihat berpikir, karena perkataan Ahmad ada benarnya juga.


"Iya Om, Kasih mengerti. Maaf jika Kasih mempunyai pikiran seperti itu, karena entah kenapa Kasih tidak ingin berada jauh dari Om."


Aku juga selalu ingin berada di dekatmu, tapi aku tidak mau berharap terlalu banyak, karena aku takut jika Kasih hanya menganggapku sebagai Om nya saja, ucap Ahmad dalam hati.


"Kasih, jika memang suatu saat nanti Kasih menyerah dengan rumah tangga Kasih dan Rangga, orang pertama yang bisa Kasih cari adalah Om, karena Om akan selalu ada saat Kasih butuhkan."


"Tapi kita berada di tempat yang berbeda, bagaimana bisa Om selalu ada untuk Kasih?"


"Kita mungkin terpisah oleh jarak dan waktu, tapi Kasih bisa sebut nama Om tiga kali, nanti Om pasti akan datang," ucap Ahmad dengan tersenyum, sehingga membuat Kasih tertawa.


"Emangnya Om Ahmad itu Om Jin apa? Om ada-ada aja."


"Kamu semakin cantik kalau tersenyum, Kasih."


"Apa Om?" tanya Kasih yang ingin memastikan kalau dirinya tidak salah dengar.


"Tidak apa-apa, sebaiknya sekarang kita pulang, karena besok pagi Om harus berangkat supaya tidak terjebak macet."


Setelah menempuh dua jam perjalanan, Ahmad dan Kasih akhirnya sampai di kediaman Pratama, dan saat ini semuanya sedang terlihat berkumpul di ruang keluarga, kecuali Rangga dan Dita yang masih akan menginap di Hotel satu malam lagi.


"Sayang, akhirnya kalian pulang juga. Kasih baik-baik saja kan?" tanya Bunda Cinta dengan memeluk tubuh Kasih.


"Alhamdulillah Kasih baik-baik saja Bunda. Oh iya, Dita sama Mas Rangga kemana? apa mereka belum pulang?"


Semuanya merasa tidak enak untuk menjawab pertanyaan Kasih, tapi bagaimanapun juga Kasih berhak tau tentang Rangga yang masih berstatus Suaminya.


"Iya Nak, Dita dan Rangga masih akan menginap di Hotel satu malam lagi. Sekarang sebaiknya Kasih dan Ahmad makan dulu gih," ujar Bunda Cinta.

__ADS_1


Kasih terlihat sedih, karena bagaimanapun juga semua itu begitu berat untuk Kasih.


"Kasih tadi udah makan kok. Kalau begitu sekarang Kasih ke kamar dulu ya," ujar Kasih kemudian berlalu menuju kamarnya.


Kasihan Kasih, pasti saat ini Kasih merasa sedih, ucap Ahmad dalam hati, tapi Ahmad tidak bisa melakukan apa pun untuk Kasih, karena itu sudah menjadi keputusan Kasih sendiri.


Setelah sampai di dalam kamarnya, Kasih langsung menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


"Kamu harus kuat Kasih, ini semua adalah keinginan kamu, jadi kamu harus ikhlas melihat Rangga dan Dita bahagia, karena dari awal mereka sudah saling mencintai," gumam Kasih dengan lirih, dan tidak terasa Kasih sampai tertidur di atas lantai.


Ahmad yang mengkhawatirkan Kasih, terus saja mondar mandir di dalam kamarnya.


"Sebaiknya aku temui Kasih, kasihan dia, pasti saat ini Kasih sedang sedih," gumam Ahmad, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar Kasih.


Ahmad mengetuk pintu serta memanggil nama Kasih sebelum masuk, tapi tidak ada jawaban, sehingga membuat Ahmad semakin merasa khawatir.


"Kasih, Om masuk ya," ucap Ahmad, kemudian secara perlahan Ahmad membuka pintu kamar Kasih.


"Mas Rangga," ucap Kasih dengan lirih.


Hati Ahmad berdenyut sakit ketika mendengar Kasih memanggil nama Rangga dalam tidurnya.


"Saat kamu sedang tidur pun, hanya nama Rangga yang kamu panggil," gumam Ahmad kemudian hendak melangkahkan kaki untuk ke luar dari dalam kamar Kasih, tapi tiba-tiba langkah Ahmad terhenti karena Kasih memegang tangannya.


"Rangga, jangan pergi, jangan tinggalkan aku Rangga," ucap Kasih masih dengan mata yang masih tertutup.


Kasih menarik tangan Ahmad yang dia kira sebagai Rangga, sampai akhirnya Ahmad jatuh tepat di atas tubuh Kasih dengan bibirnya yang bersentuhan dengan bibir Kasih.


Ahmad begitu terkejut karena itu adalah ciuman pertamanya.


"Astagfirullah," ucap Ahmad, kemudian berdiri dari atas tubuh Kasih.


......................

__ADS_1


Bunda Cinta yang hendak masuk ke dalam kamar Kasih tidak sengaja melihat Ahmad yang mencium Kasih, sehingga Bunda Cinta menutup mulutnya karena begitu terkejut, dan Bunda Cinta mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Kasih.


Ahmad bergegas ke luar dari dalam kamar Kasih, dan Ahmad begitu terkejut ketika mendengar suara Bunda Cinta yang memanggilnya.


"Tunggu Ahmad," ujar Bunda Cinta.


"Ka_kak," ucap Ahmad dengan lirih.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Bunda Cinta, kemudian Ahmad dan Bunda Cinta menuju teras balkon untuk mengobrol.


"Ahmad, Kakak lihat apa yang barusan Ahmad lakukan kepada Kasih," ucap Bunda Cinta dengan lirih, karena dirinya merasa kecewa terhadap Ahmad.


"Kak, maaf, Ahmad tidak sengaja melakukan semua itu, karena Tadi Kasih tiba-tiba mengigau memanggil nama Rangga, kemudian Kasih menarik tangan Ahmad sampai akhirnya Ahmad terjatuh di atas tubuhnya, dan Ahmad tidak sengaja menciumnya," ucap Ahmad dengan tertunduk malu terhadap Bunda Cinta.


Bunda Cinta terlihat berpikir, kemudian beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum akhirnya angkat suara.


"Ahmad, Kakak tau kalau Ahmad tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja, tapi Kakak melihat tatapan Ahmad kepada Kasih terlihat berbeda. Sekarang Ahmad jujur, apa Ahmad mencintai Kasih?" tanya Bunda Cinta.


"Iya Kak," jawab Ahmad dengan lirih.


"Sejak kapan Ahmad memiliki perasaan itu?"


"Ahmad tidak tau sejak kapan rasa itu hadir pada hati Ahmad, tapi semua itu sudah lama Ahmad rasakan, karena Kasih adalah cinta pertama Ahmad. Ahmad sudah berusaha melupakan Kasih, tapi ternyata semua itu tidak semudah yang Ahmad bayangkan, karena semakin haru rasa cinta itu semakin besar."


"Kenapa Ahmad tidak pernah mengatakan semua itu kepada Kakak? seandainya dulu Ahmad jujur kepada kami tentang perasaan Ahmad terhadap Kasih, kami pasti akan menikahkan kalian."


"Jadi Kakak tidak marah sama Ahmad?"


"Kenapa Kakak harus marah? Ahmad dan Kasih tidak memiliki hubungan darah, dan kita tidak bisa melarang seseorang jatuh cinta."


"Tapi sekarang semuanya sudah terlambat Kak, karena Kasih sudah menjadi milik Rangga, dan Ahmad tidak mau menjadi pebinor dalam rumah tangga mereka. Biarlah Ahmad menyimpan semuanya di dalam hati saja."


"Tapi sampai kapan Ahmad akan seperti ini? sekarang usia Ahmad sudah cukup untuk membina rumah tangga, dan Kakak sangat berharap Ahmad segera menikah."

__ADS_1


__ADS_2