Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 53 ( Bertahan sakit, berpisah sulit )


__ADS_3

Kasih melangkahkan kaki ke luar dari dalam kamar yang sudah satu tahun ia tempati bersama Rangga, karena saat ini semua yang pernah dirinya miliki sudah menjadi milik Dita.


Sampai kapan aku bisa bertahan menjalani rumah tangga yang menyakitkan ini? saat ini aku berada dalam posisi bertahan sakit, untuk berpisah pun sulit, karena aku tidak mau menjadi beban kedua orangtua angkatku. Apa yang harus aku lakukan? batin Kasih saat ini bertanya-tanya.


Setelah Kasih dan Mama Wita ke luar dari dalam kamarnya, Dita terlihat melamun, karena dirinya tau betul jika saat ini Kasih pasti merasa sakit hati dengan semua perlakuan Mama Wita yang sudah pilih kasih.


"Sayang, kenapa Dita melamun terus? bukannya perempuan hamil itu tidak boleh stres?" ujar Rangga dengan memeluk tubuh Dita.


"Rangga, aku kasihan dengan nasib Kasih. Kenapa kamu tidak bisa bersikap adil? apalagi Mama terlihat sekali sudah pilih Kasih terhadap aku dan Kasih."


"Sayang, aku harus bagaimana? harus berapa kali aku bilang sama kamu, kalau dari awal aku menikah dengan Kasih, aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya dalam keadaan sadar. Kamu juga tidak mau kan aku menyentuh lagi minuman beralkohol?"


"Aku memang tidak mau kamu menyentuh minuman beralkohol lagi. Akan tetapi, apa bisa kamu melakukan semua itu demi aku? mungkin dengan kamu bersikap adil, Kasih akan merasa lebih diperhatikan oleh kamu. Rangga, saat ini aku sedang hamil muda, dan aku tidak bisa melayani kamu. Jadi, sekarang giliran Kasih yang akan melayani kamu sebagai seorang istri."


Rangga terlihat berpikir, karena semenjak menikah dengan Dita, dirinya memang sudah bersikap tidak adil terhadap Kasih.


"Baiklah jika itu kemauan kamu, malam ini aku akan tidur di kamar Kasih," ujar Rangga.


Dita memaksakan diri untuk tersenyum, padahal dalam hatinya Dita menangis karena merasa tidak rela Rangga menyentuh perempuan lain.


Dita, kamu tidak boleh seperti ini, Kasih sudah berbaik hati menyuruh Rangga untuk menikah denganmu, jadi kamu juga harus ikhlas berbagi Suami, seperti Kasih yang sudah ikhlas juga berbagi Suami denganmu, ucap Dita dalam hati.


......................


Malam pun kini telah tiba, dan Rangga dengan berat hati melangkahkan kaki menuju kamar Kasih.


"Mas Rangga, kenapa ke sini?" tanya Kasih yang melihat Rangga masuk ke dalam kamarnya.


"Kasih, maaf jika selama ini aku sudah bersikap tidak adil terhadap kamu, mulai sekarang aku akan berusaha untuk adil terhadap kamu dan Dita."


Kasih tau kalau Rangga melakukan semua itu pasti karena permintaan Dita, dan saat Rangga mendekati Kasih, Kasih langsung saja angkat suara.

__ADS_1


"Mas Rangga tidak perlu melakukan semuanya dengan terpaksa, karena Kasih tau jika Mas Rangga tidak bisa melakukan semua itu terhadap Kasih. Jadi, Mas Rangga tidak usah memaksakan diri lagi."


Rangga mengusap rambutnya secara kasar, karena lagi-lagi dirinya sudah menyakiti hati Kasih.


"Maaf Kasih, aku selalu menyakitimu," ucap Rangga dengan lirih, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Kasih.


......................


Dita tidak bisa memejamkan matanya, karena semenjak menikah dengan Rangga, baru kali ini Dita tidur sendiri, terlebih lagi Dita sudah membayangkan jika Rangga dan Kasih saat ini sedang bermesraan.


"Dita, tidak seharusnya kamu seperti ini. Kasih adalah istri Rangga juga, kenapa kamu menjadi egois ingin memiliki Rangga sendirian?" gumam Dita, dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.


Setelah Kasih tertidur, Rangga menuju kamar Dita untuk melihatnya, dan Rangga berjalan ke luar dari kamar Kasih dengan mengendap-endap seperti maling, padahal sebenarnya Kasih hanya pura-pura tidur saja.


Aku tau kalau di hati kamu hanya ada Dita, Mas. Dan aku sadar jika aku hanyalah penghalang untuk kalian. Mungkin sebaiknya aku pergi dari kehidupan kamu dan Dita supaya kalian bisa bahagia, ucap Kasih dalam hati yang sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Rangga dan Dita.


......................


"Sayang, kenapa kamu selalu berpura-pura kuat jika memang kamu tidak sanggup?" tanya Rangga dengan memeluk tubuh Dita.


"Rangga, kenapa kamu ke sini lagi? aku sudah bilang kamu harus tidur sama Kasih."


"Maaf Dita, aku sudah berusaha, tapi tetap saja tidak bisa, dan aku sudah memutuskan untuk secepatnya menceraikan Kasih."


"Tidak Rangga, jangan lakukan itu jika bukan Kasih yang memintanya. Aku akan menjadi orang jahat, dan semua orang akan memberikan cap pelakor terhadapku karena telah merebut kamu dari Kasih."


"Sebaiknya sekarang kita tidur, aku tidak mau kalau kamu dan bayi kita sampai kenapa-napa. Kamu jangan khawatir, apa pun kemauan kamu, aku akan selalu menurutinya."


Keesokan paginya Kasih meminta ijin kepada Rangga untuk pergi ke Pasar, karena Kasih ingin memasak makanan kesukaan Dita.


"Mas, aku ke Pasar dulu ya, Dita katanya pengen rendang sapi? aku mau beli bahan-bahan masakannya," ujar Kasih.

__ADS_1


"Kasih aku ikut ya," ujar Dita.


"Dita, saat ini kamu sedang hamil muda, jadi kamu tidak boleh banyak gerak dulu, apalagi aku juga ke Pasar mau jalan kaki sekaligus olahraga."


"Iya sayang, Kasih benar, kamu harus banyak istirahat, dan aku akan menemani kamu menjaga Anak kita."


"Bukannya kamu harus kerja?"


"Aku bisa kerja dari rumah supaya aku bisa menemani kamu," ujar Rangga dengan mengelus kepala Dita.


"Dita, Mas Rangga, kalau begitu aku pergi dulu ya," ujar Kasih.


"Kamu hati-hati ya Kasih, kalau ada apa-apa kamu telpon saja aku atau Mas Rangga," ujar Dita.


"Iya, kamu tenang saja, aku juga bukan Anak kecil, aku juga udah biasa pergi ke Pasar."


"Kasih, barusan aku udah transfer uangnya buat kamu belanja, kamu juga bisa sekalian belanja keperluan kamu," ujar Rangga yang selalu memberikan uang lebih banyak kepada Kasih dibandingkan Dita, karena Dita yang memintanya, apalagi Dita bekerja, jadi Dita punya penghasilan sendiri juga.


Kasih hendak melangkahkan kaki ke luar dari kediaman Argadana, dan Mama Wita yang melihat Kasih hendak pergi, langsung saja angkat suara.


"Mau keluyuran kemana kamu perempuan mandul?" sindir Mama Wita.


Kasih yang sudah terbiasa dipanggil seperti itu oleh Mama Mertuanya terlihat sudah kebal, meski pun hatinya selalu berdenyut sakit.


"Kasih mau belanja bahan-bahan masakan Mah, kebetulan Dita katanya ingin makan dengan rendang sapi," jawab Kasih.


Mama Wita tersenyum ketika mendengar Dita ingin makan sesuatu, karena Dita susah sekali makan.


"Bagus deh kalau seperti itu, sekalian kamu beli bahan-bahan untuk membuat rujak, dan buah-buahan yang segar ya, Cucuku pasti akan menyukainya," ujar Mama Dita dengan tersenyum bahagia, kemudian memberikan uang sebesar dua ratus ribu kepada Kasih.


Baru kali ini aku melihat Mama Wita tersenyum bahagia. Apalagi sampai memberikan uang untuk membeli buah-buahan. Belum lahir saja Mama Wita sudah menyayangi Bayi yang ada dalam kandungan Dita, apalagi kalau bayinya sudah lahir, ucap Kasih dalam hati dengan melangkahkan kaki menuju Pasar, tapi Kasih terkejut karena saat ini ada sebuah mobil yang berhenti di depannya.

__ADS_1


"Kasih," ucap pengemudi mobil tersebut dengan lirih, kemudian berlari memeluk tubuh Kasih yang masih diam mematung karena begitu terkejut melihat sosok yang saat ini memeluk tubuhnya.


__ADS_2