
Saat ini Bunda Cinta dan keluarganya sedang melakukan sarapan sebelum semuanya berangkat untuk melakukan aktifitas di luar rumah.
"Dita sayang, makan yang banyak Nak, hari ini kan hari pertama Dita kerja," ujar Bunda Cinta dengan menambah lauk pada piring Dita.
"Udah Bunda, gak usah banyak-banyak, Dita juga harus sampai sebelum jam delapan. Meski pun Rumah Sakit milik keluarga Pratama, tapi Dita harus tetap profesional."
"Kamu tenang saja sayang karena kita akan menggunakan motor untuk berangkat ke Rumah Sakit, jadi kita akan sampai lebih cepat," ujar Dika.
"Kalian punya rencana apa sih, sampai-sampai Ayah harus menghandle pekerjaan Dika di kantor?" tanya Ayah Ilham.
"Kami punya misi untuk menaklukan hati Dokter cantik calon jodohnya Om Dika, Yah." jawab Dita.
"Kalau begitu ceritanya gak apa-apa deh Ayah sibuk di kantor, yang penting Dika segera sold out," celetuk Ayah Ilham dengan terkekeh.
"Emangnya aku barang dagangan apa," ujar Dika dengan cemberut.
"Bunda ikut ke kantor aja ya temenin Ayah kerja, kalau Bunda ikut, Ayah pasti bakalan tambah semangat kerjanya, apalagi sekarang gak ada Dika yang bakalan gangguin kita kalau lagi berduaan," ujar Ayah Ilham dengan memeluk tubuh Bunda Cinta.
"Woy ada bocah tuh, jangan main nyosor aja, kamu gak tau tempat banget sih Ham," ujar Dika dengan sewot.
"Bilang saja kamu cemburu," celetuk Ilham.
Bunda Cinta yang mendengar Ilham dan Dika terus saja berselisih paham, mencoba untuk menengahinya.
"Yah, Kak, bisa gak sehari aja kalian gak ribut? kalian itu harus jadi contoh yang baik untuk Anak-anak kita, udah tua aja masih saja ribut."
"Iya nih, Om sama Ayah dari dulu kayak Tom and Jerry aja, padahal Iqbal sengaja tidak banyak bicara supaya Bunda gak ngomel, eh giliran Iqbal diem, malah kalian yang ribut."
"Kalau gak ribut sama Dika kayaknya bagai sayur tanpa garam," ujar Ilham dengan nyengir kuda.
"Iya bener Ham, kalau gak ribut sama loe, berasa ada yang kurang," ujar Dika dengan terkekeh.
__ADS_1
"Jadi hari ini apa rencana kita?" tanya Bunda Cinta.
"Hari ini rencananya Kakak dan Dita akan berangkat ke Rumah Sakit, dan Kakak akan bekerja di sana sebagai OB. Kakak akan berpura-pura menjadi Ayah kandung Dita, dan kami akan menggunakan motor supaya penyamaran Kakak tidak terbongkar, karena Kakak akan pura-pura miskin," jawab Dika.
"Sepertinya Kakak udah jatuh Cinta ya sama Dokter Asyifa, sampai bela-belain nyamar segala," ujar Cinta dengan tersenyum.
"Mana mungkin seorang Dika suka sama perempuan bawel seperti dia, apalagi karena kejadian Kakak yang salah masuk Toilet, dia manggil Kakak lelaki mesum, ngeselin banget kan tuh perempuan," gerutu Dika.
"Jangan terlalu kesel Kak, nanti bucin baru tau rasa lho," goda Cinta.
"Iya Yah, lagian kalau Ayah udah kenal sama Dokter Asyifa, Dita yakin Ayah bakalan jatuh cinta."
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan jatuh cinta duluan," ujar Dika yang sebenarnya merasa kasihan mendengar kisah hidup Dokter Asyifa.
Dika dan Dita berangkat lebih dulu menuju Rumah Sakit, sedangkan Ayah Ilham terus memaksa Bunda Cinta untuk ikut ke Kantor sampai akhirnya Bunda Cinta bersedia untuk ikut, dan sebelum ke kantor, mereka akan mengantar Iqbal ke Sekolah terlebih dahulu.
......................
Sesampainya di Parkiran Rumah Sakit, Dika dan Dita hendak masuk ke dalam Rumah Sakit, dan saat ini mereka berpapasan dengan Dokter Asyifa yang baru datang juga.
"Iya Tante, hari ini kan hari pertama kita kerja, jadi harus semangat," ujar Dita.
Dokter Asyifa melirik ke arah Dika yang saat ini berada di samping Dita.
"Dita, kamu di antar sama lelaki mesum itu?"
"Iya Tante, mulai hari ini Ayah akan bekerja sebagai OB di Rumah Sakit," jawab Dita.
"Bagus deh kalau Ayah kamu mau kerja juga, jangan sampai dia menjadikan kamu sebagai tulang punggung keluarga. Meski pun bekerja sebagai OB, yang penting pekerjaannya halal. Oh iya Dita, apa Dita sudah menyampaikan terimakasih Tante sama Tuan Andhika?"
Dita melirik Dika yang senyum-senyum sendiri, karena Dika merasa lucu ketika identitasnya tidak dikenali oleh Dokter Asyifa.
__ADS_1
"Udah kok, Om Dika titip pesan katanya selamat bergabung di Rumah Sakit Pratama, semoga Rumah Sakit Pratama semakin maju dengan bergabungnya Dokter Asyifa."
"Iya, Amin. Tante jadi penasaran sama Om kamu, banyak orang yang bilang kalau dia tampan, dia juga baik hati. Pasti dia lelaki sempurna dan menjadi idaman semua wanita," puji Dokter Asyifa, dan lagi-lagi Dika senyum-senyum sendiri mendengar perkataan Dokter Asyifa yang memujinya.
Dokter Asyifa yang melihat Dika senyum-senyum sendiri kembali angkat suara.
"Heh lelaki mesum, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? aku itu bukan muji kamu, tapi aku muji Tuan Andhika. Jadi, kamu gak usah GR. Yuk Dita, kita masuk saja. Maaf ya Dita, tapi menurut Tante, Ayah kamu itu aneh," bisik Dokter Asyifa.
"Tante belum kenal Ayah saja, Ayah tidak seperti yang Tante pikirkan, karena pada kenyataannya, Ayah sangat baik, dan juga bertanggungjawab."
"Masa sih, tapi yang Tante lihat dia itu lelaki mesum, dari tampangnya aja pecicilan, slengean gitu deh."
"Bukannya Tante sering bilang kalau kita tidak boleh menilai buku dari sampulnya? Nanti kalau Tante udah kenal sama Ayah, Tante pasti bakalan berubah pikiran."
"Kita lihat saja nanti, tapi Dita jangan kecewa ya kalau Tante gak bisa jadi Ibu tiri Dita," bisik Dokter Asyifa lagi, karena Dokter Asyifa takut Dika merasa tersinggung jika sampai mendengarnya.
Dita, Dika dan Dokter Asyifa masuk ke dalam ruangan Kepala Rumah Sakit sebelum memulai bekerja, dan Kepala Rumah Sakit langsung membungkukkan badannya ketika melihat Dika.
"Tuan Andhika, kenapa Anda datang ke sini tidak memberikan kabar terlebih dahulu?" tanya Kepala Rumah Sakit.
Dokter Asyifa terlihat heran ketika melihat Kepala Rumah Sakit terlihat menghormati Dika, sehingga Dokter Asyifa langsung saja angkat suara.
"Maaf Pak Kepala, sepertinya Anda telah salah mengenali orang, karena Tuan Dika ini bukan Tuan Andhika, tapi beliau adalah Ayah Dokter Dita yang akan menjadi OB baru di Rumah Sakit ini."
"Iya benar sekali Pak Kepala, saya adalah Ayah Kandung Dokter Dita, dan mulai hari ini saya akan menjadi OB di sini," ujar Dika dengan memberikan kode kepada Kepala Rumah Sakit supaya mengerti maksud pembicaraan Dika.
"Kalau begitu selamat bergabung di Rumah Sakit Pratama, Pak Dika, Dokter Dita dan Dokter Asyifa, semoga kita bisa bekerjasama dengan baik untuk memajukan Rumah Sakit," ujar Kepala Rumah Sakit yang masih terlihat bingung.
Setelah Dita dan Dokter Asyifa ke luar dari ruangan Kepala Rumah Sakit, Dika langsung saja mengatakan jika dirinya sengaja berpura-pura menjadi OB untuk melihat kinerja semua Karyawan Rumah Sakit, dan Dika meminta kepada Kepala Rumah Sakit supaya membantunya menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya.
"Apa Anda sudah paham dengan maksud dan tujuan saya?" tanya Dika yang tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya jika Dika berpura-pura menjadi OB untuk membuat Dokter Asyifa jatuh cinta.
__ADS_1
"Iya Tuan, saya mengerti, dan saya pasti akan menyembunyikan identitas Tuan yang sebenarnya dari semua Karyawan Rumah Sakit," jawab Kepala Rumah Sakit, dan Dika memilih menjadi OB di sekitar ruangan Dokter Asyifa dan Dita, supaya bisa selalu mengawasi Dita dan juga mendekati Dokter Asyifa.
Semangat Dika, kamu pasti bisa menaklukan hati perempuan bawel itu, ucap Dika dalam hati dengan terus mengembangkan senyuman.