
Semuanya menunggu Kasih di depan ruang operasi dengan harap-harap cemas, tapi kedua orangtua Rangga tidak datang ke Rumah Sakit, sehingga membuat Ayah Ilham merasa geram.
"Rangga, apa orangtua kamu tau kalau hari ini Kasih melakukan operasi?" tanya Ayah Ilham.
"Mereka sudah Rangga beritahu, tapi Mama bilang ada arisan jadi gak bisa datang, sedangkan Papa mewakili Rangga meeting," jawab Rangga yang merasa malu terhadap keluarga Kasih.
"Ayah masih bisa memaklumi Pak Diki yang tidak bisa hadir karena mewakili pekerjaan kamu, tapi Mama kamu terlihat sekali tidak peduli dengan Kasih. Apa arisan lebih penting daripada Menantunya?" ujar Ayah Ilham.
"Atas nama Mama dan Papa, Rangga minta maaf yang sebesar-besarnya."
"Sudah Yah, kita sekarang berdo'a saja untuk kesembuhan Kasih," ujar Bunda Cinta dengan memeluk tubuh Ayah Ilham.
Tiga jam kemudian, Operasi selesai, dan Kasih dibawa ke luar dari dalam ruang operasi untuk dipindahkan menuju kamar perawatan.
"Ki, bagaimana operasi Kasih?" tanya Dita.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, Dokter bedah sudah berhasil mengangkat rahim Kasih yang sudah rusak oleh sel tumor," jawab Rizki.
"Terimakasih banyak ya, karena kamu sudah membantuku."
"Memangnya kamu pikir aku ini siapa? aku adalah calon Suami kamu, jadi kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih. Kalau begitu sekarang kita menyusul yang lain ke kamar perawatan Kasih," ujar Rizki.
Rizki dan Dita masuk ke dalam kamar perawatan Kasih, dan Dita kembali merasakan sesak dalam dadanya ketika melihat Rangga mengelus lembut kepala Kasih.
Dita duduk di samping Syifa, kemudian Syifa memeluk tubuh Dita, karena Syifa tau kalau Dita pasti terluka melihat Rangga yang sudah menjadi Suami saudaranya sendiri.
"Sayang, Dita yang sabar ya, Bunda tau kalau semua ini berat untuk Dita, tapi Bunda yakin kalau Dita akan mendapatkan pengganti yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Rangga," bisik Syifa pada Dita.
"Makasih ya Bunda, Dita akan terus berusaha untuk sabar dan ikhlas melepas Rangga untuk Kasih," bisik Dita.
Beberapa saat kemudian Kasih sadar dari pengaruh bius, dan semuanya menghampiri Kasih yang masih terlihat lemas.
"Alhamdulillah Nak, akhirnya Kasih sadar juga," ucap Ayah Ilham dengan mengelus lembut kepala Kasih.
Kasih tersenyum melihat Rangga yang terus menggenggam erat tangannya, karena Kasih berpikir kalau Rangga tulus melakukan semua itu, padahal kenyataannya Rangga melakukan semua itu atas permintaan Dita.
"Mas, makasih banyak ya, Mas Rangga sudah mendampingi Kasih."
__ADS_1
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? aku adalah Suami kamu, sudah seharusnya aku selalu ada untuk kamu," ucap Rangga, tapi bukan wajah Kasih yang Rangga lihat, melainkan wajah Dita yang saat ini berada di sebelah Kasih.
"Kasih, mulai sekarang kamu harus jaga kesehatan, kamu tidak boleh sampai kecapean," ujar Dita.
"Iya siap Bu Dokter, sekarang aku kan udah punya Dokter Dita yang akan merawatku," ucap Kasih dengan tersenyum.
Semuanya bernapas lega karena sekarang Kasih sudah berhasil melakukan operasi.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, tadinya Ayah Ilham dan yang lainnya akan menginap di Rumah Sakit, tapi Dita melarangnya.
"Ayah, Bunda sama Iqbal pulang saja, biar Dita yang menjaga Kasih."
"Iya Cinta, biar aku yang membantu Dita menjaga Kasih," ujar Syifa.
"Gak perlu Bunda, biar Dita saja yang menjaga Kasih. Ayah Dika sama Bunda Syifa juga pulang aja, masa pengantin baru mau menginap di Rumah Sakit."
"Tapi kasihan kalau Dita di sini gak ada temen," ujar Syifa.
"Rizki bakalan nemenin Dita, Tante. Jadi, kalau ada apa-apa dengan Kasih, Rizki bisa membantu Dita untuk memberikan penanganan medis."
"Sayang, kalau Rizki mau nemenin Dita, kita pulang saja. Rizki, Om titip Dita ya," ujar Dika dengan menepuk bahu Rizki.
"Iya, kami percaya sama kamu Nak, kalau begitu kami pulang dulu. Kasih sayang, semoga Kasih cepat sembuh ya," ucap Ayah Ilham, kemudian semuanya pulang menuju kediaman Pratama, kecuali Dita, Rizki dan Rangga yang akan menunggu Kasih di Rumah Sakit.
Rizki dan Dita duduk di sopa, sedangkan Rangga duduk di samping ranjang perawatan Kasih.
Suasana terasa canggung karena saat ini hanya ada mereka berempat dalam satu ruangan, bahkan Rangga merasa cemburu ketika Rizki menidurkan kepalanya di atas paha Dita.
"Sayang, besok kamu jadi kan ikut aku ke rumah?" tanya Rizki.
"Iya Ki, besok aku jadi kok ikut kamu ke rumah."
"Aku sudah tidak sabar ingin segera besok, Keluargaku pasti bakalan senang berkenalan dengan kamu," ucap Rizki dengan terus mengembangkan senyuman.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu tidur saja, biar aku yang jaga Kasih, kasihan kamu pasti cape setelah tadi membantu di ruang operasi," ujar Dita kepada Rizki.
"Tidak sayang, kamu saja yang tidur, nanti kita gantian kalau aku udah ngantuk," ujar Rizki kemudian bangun, dan menepuk pahanya untuk Dita tidur.
__ADS_1
"Aku tidur sambil duduk saja Ki," ujar Dita yang merasa tidak enak, karena saat ini Rangga terus saja melihatnya.
"Kalau kamu tidur sambil duduk, nanti pinggang kamu sakit," ujar Rizki, kemudian menarik tubuh Dita untuk tidur di atas pahanya. Mau tidak mau akhirnya Dita terpaksa membaringkan tubuhnya di atas paha Rizki.
Rangga terus mengepalkan tangannya melihat Dita dan Rizki, dan Kasih yang berada di sampingnya sangat paham jika Rangga pasti merasa cemburu.
"Mas, kalau Mas Rangga ngantuk, Mas Rangga tidur saja," ujar Kasih, tapi Rangga yang terus melihat ke arah Dita tidak mendengar perkataan Kasih.
Kasih menghela nafas panjang melihat Suaminya yang masih memiliki perasaan untuk perempuan lain.
Ternyata kamu masih belum bisa melupakan Dita, tapi aku masih saja mempertahankan rumah tangga ini, padahal jelas-jelas aku tau kalau cinta Mas Rangga hanya untuk Dita. Apa aku meminta cerai saja kepada Mas Rangga supaya Dita mau menikah dengannya? ucap Kasih dalam hati.
Saat Kasih dan Rizki tertidur, Rangga menghampiri Dita yang saat ini mengganti cairan infusan Kasih yang telah habis.
"Dita, apa kamu bisa ikut aku sebentar?" tanya Rangga.
"Maaf Rangga, aku tidak bisa meninggalkan Kasih," ujar Dita.
Tiba-tiba Rangga memeluk tubuh Dita dari belakang.
"Aku mencintaimu Dita, aku sangat mencintaimu, dan aku tidak bisa berpura-pura lagi mencintai Kasih," ucap Rangga dengan lirih.
"Lepaskan aku Rangga, kenapa kamu selalu egois? kenapa kamu hanya memikirkan perasaan kamu sendiri? Aku tau kalau semua ini berat untuk kita, tapi aku yakin kalau kamu bisa melupakan perasaan yang kita miliki."
"Dita, aku tidak ingin melihat kamu menikah dengan Rizki."
"Maaf Rangga, tapi aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Rizki, dan kamu tidak bisa melarangnya," ujar Dita.
Rangga melepaskan pelukannya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi ketika Kasih secara perlahan membuka matanya.
"Kasih, apa kamu mempunyai keluhan?" tanya Dita saat Kasih membuka matanya.
"Aku hanya merasa lemas saja, kepalaku juga terasa sedikit pusing," jawab Kasih.
"Kalau begitu aku akan memberikan kamu vitamin dan obat pusing," ujar Dita, kemudian mengambil obat dan memberikannya kepada Kasih.
"Dita, apa benar kalau besok kamu akan pergi ke rumah Rizki?"
__ADS_1
"Iya benar Kasih, Rizki akan memperkenalkan aku kepada keluarganya."
"Apa kamu tidak bisa merubah keputusan untuk membatalkan pernikahan kamu dengan Rizki demi Mas Rangga?"