Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 7 ( Cinta Segitiga )


__ADS_3

Setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, Kasih menghapus airmatanya, kemudian masuk ke dalam kamar, dan mencoba bersikap setenang mungkin, Kasih menatap iba kepada Rangga yang saat ini terlihat sedang menatap langit-langit kamar dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.


"Mas, kemana Dita?" tanya Kasih yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang telah terjadi antara Dita dan Rangga.


"Dita sudah kembali ke kamarnya," ucap Rangga dengan lirih.


Kasih mengompres dahi Rangga yang masih panas, dan tatapan Rangga saat ini terlihat kosong.


Begitu besar cinta yang kamu miliki untuk Dita Mas, tidak seharusnya aku bersikap egois dengan mempertahankan kamu untuk selalu berada di sampingku, tapi aku mohon, beri aku waktu untuk bisa menerima semua ini, dan setelah waktu itu tiba, aku akan mengembalikan kamu kepada perempuan yang kamu cintai yang tidak lain adalah saudaraku sendiri, ucap Kasih dalam hati dengan menahan airmata kepedihan yang ia rasakan.


"Kasih, terimakasih," ucap Rangga ketika Kasih mengompres dahinya.


"Mas tidak perlu mengucapkan terimakasih, bukannya sudah menjadi kewajiban istri untuk melayani Suaminya?"


Maaf Kasih, karena selama ini aku bukan Suami yang baik, meski pun aku menyayangimu, tapi sampai saat ini aku masih belum bisa mencintaimu, karena cintaku hanya untuk Dita. Aku harap suatu saat kamu mengerti dengan perasaan yang aku miliki untuk Dita. Kenapa aku harus terjebak cinta segitiga di antara Kasih dan Dita? yang satu ku cintai dan yang satu ku sayangi. Aku juga tidak mungkin menceraikan Kasih karena dia terlalu baik untuk aku sakiti? batin Rangga yang saat ini berada dalam dilema.


"Mas, Kasih ke dapur lagi ya mau ngambil makanan supaya Mas bisa segera minum obatnya," ujar Kasih, dan Rangga hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Kasih mencoba mengintip Dita saat melewati kamarnya, apalagi pintu kamar Dita sedikit terbuka.


Dita saat ini terlihat menangis, dan Kasih semakin merasa bersalah terhadap Dita dan Rangga, karena saat ini Kasih sudah menjadi penghalang untuk dua orang yang saling mencintai.


"Kenapa kami harus terlibat cinta segitiga? apa aku meminta cerai saja dari Mas Rangga supaya Mas Rangga dan Dita bisa menikah?" gumam Kasih.


......................


Dita terus menangis karena sekuat apa pun dirinya berusaha melupakan Rangga, Dita tetap saja tidak bisa.


"Bagaimana sekarang keadaan Rangga? apa panasnya sudah turun? Dita, untuk apa kamu masih memikirkan Suami orang lain, saat ini Rangga sudah mempunyai Kasih, dan pasti sekarang kondisi Rangga sudah lebih baik karena Kasih merawatnya," gumam Dita.

__ADS_1


Setelah selesai Shalat Dzuhur, Dita memutuskan untuk ke luar dari dalam kamarnya, dan Dita mengintip kamar Kasih yang pintunya terbuka.


"Kelihatannya Rangga sudah lebih baik, syukurlah kalau seperti itu," gumam Dita yang melihat Rangga memainkan handphone.


Ketika Dita hendak membalikan badannya untuk turun ke lantai bawah, tiba-tiba Kasih yang baru ke luar dari dalam kamar mandi memanggil Dita ketika melihat Dita berada di depan pintu kamarnya.


"Dita, kenapa tidak masuk?" tanya Kasih, sehingga Dita menghentikan langkah kakinya.


"Maaf Kasih, aku mau ke bawah dulu," ujar Dita yang merasa terkejut.


"Aku pikir kamu mau memeriksa kondisi Mas Rangga. Sebaiknya tolong periksa kondisi Mas Rangga dulu," ujar Kasih dengan menggandeng Dita untuk masuk ke dalam kamarnya.


Rangga tersenyum bahagia ketika melihat Dita, karena Rangga yakin jika Dita masih peduli padanya, makanya diam-diam Dita mengintipnya.


Dita terlihat canggung ketika hendak memeriksa Rangga, apalagi saat ini Rangga terus saja menatap wajahnya.


Dari tatapan mata Mas Rangga saja sudah terlihat jika Mas Rangga begitu mencintai Dita. Aku akan berusaha membuat kalian kembali bersama, dan aku sudah memutuskan untuk rela dimadu supaya Mas Rangga bisa memiliki keturunan, dan Mas Rangga pasti bahagia bisa menikah dengan perempuan yang sangat dicintainya, ucap Kasih dalam hati.


"Eh, iya aku baik-baik saja Kasih. Sekarang Demam Rangga sudah turun, jadi kamu tidak perlu khawatir. Kalau begitu aku ke bawah dulu ya," ujar Dita yang hendak melangkahkan kaki ke luar dari dalam kamar Kasih dan Rangga.


"Dita, terimakasih," ucap Rangga dengan tersenyum, dan Dita hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Dita langsung menuju dapur menghampiri Bunda Cinta yang saat ini sedang memasak.


"Bunda, apa ada yang bisa Dita bantu?"


"Tidak perlu sayang, sedikit lagi juga beres. Oh iya, kenapa Kasih belum turun?" tanya Bunda Cinta.


"Memangnya Bunda tidak tau kalau Suaminya Kasih sakit?" tanya Dita.

__ADS_1


"Pantas saja tadi pagi kalian tidak sarapan ke bawah. Bunda tadinya ingin memanggil kalian untuk sarapan bersama, tapi Bunda gak enak takut ganggu, jadi Bunda sarapan berdua saja sama Om Dika."


"Memangnya Ayah sama Iqbal kemana?" tanya Dita.


"Ayah sama Iqbal berangkat ziarah ke makam Nenek. Tadinya Bunda mau ikut juga, tapi tiba-tiba perut Bunda mules dan bolak balik terus ke kemar mandi."


Beberapa saat kemudian Dika menghampiri Cinta dan Dita yang sedang berada di dapur.


"Sayang, apa sekarang Dita sudah merasa lebih baik?" tanya Dika.


"Alhamdulillah, Dita sekarang sudah lebih baik. Makasih banyak karena semalam Ayah sudah mendengar curhatan Dita," ujar Dita dengan memeluk tubuh Dika.


Dita lebih dekat dengan Dika, karena sejak bayi Dika yang sudah merawatnya, sedangkan Kasih lebih dekat dengan Ilham, karena semenjak bayi, Ilham juga yang telah membesarkan Kasih.


"Apa Kak Dika sudah mengetahui tentang hubungan Rangga dan Dita?" tanya Cinta.


"Iya, dan Kakak tidak bisa berbuat apa-apa karena baru mengetahuinya sekarang. Seandainya Kakak tau dari dulu sebelum Rangga menikah dengan kasih, mungkin saat ini Dita yang sudah menikah dengan Rangga."


"Yah, masalah jodoh kan sudah Tuhan atur, mungkin Rangga memang bukan jodoh Dita, dan Dita yakin jika Tuhan akan memberikan pengganti yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Rangga. Ayah tidak lupa kan kesepakatan kita?"


"Tidak sayang, Ayah juga sepertinya sudah mendapatkan kriteria yang cocok untuk Dita."


"Dita juga sudah punya Calon yang cocok untuk Ayah, jangan harap Ayah bisa menghindar lagi, karena Dita sudah menargetkan pernikahan Ayah tahun ini juga."


Cinta terlihat bingung mendengar percakapan antara Dika dan Dita, sampai akhirnya Cinta bertanya kepada mereka.


"Sebenarnya kalian ngomongin apa sih? kok gak bilang-bilang sama Bunda."


"Bunda, Dita sama Ayah Dika sudah sepakat kalau Ayah Dika akan mencarikan jodoh untuk Dita, dan Dita akan mencarikan jodoh untuk Ayah Dika."

__ADS_1


"Bagus deh kalau seperti itu, Bunda akan dukung kalian supaya mendapatkan jodoh yang bisa membawa kebahagiaan Dunia dan Akhirat," ucap Cinta yang di Amini oleh Dika dan Dita.


__ADS_2