
Kasih dan Rangga saat ini sudah sampai di kediaman Argadana, dan kedua orangtua Rangga sedang terlihat bersantai di teras depan rumah.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa," ucap Kasih dan Rangga secara bersamaan, kemudian mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Wita dan Papa Diki.
"Rangga sayang, kenapa sih Rangga baru pulang sekarang? Mama kangen karena dari kemarin belum ketemu sama Rangga," ucap Mama Wita dengan memeluk tubuh Rangga.
"Ma, Rangga juga menginap cuma satu malam, lagian rumah keluarga Pratama juga dari sini tidak terlalu jauh," ujar Rangga kepada Mama Wita yang selalu saja bersikap berlebihan.
"Iya Ma, lagian Rangga itu sudah punya istri, jadi Mama jangan terlalu memanjakan Rangga," ujar Papa Diki.
"Kalian tidak mengerti perasaan Mama, Mama itu sudah pengen menimang Cucu, tapi sampai sekarang Kasih belum juga memberikan keturunan. Jangan-jangan Kasih mandul," sindir Mama Wita dengan mendelikkan matanya.
"Mama tidak boleh berbicara seperti itu, ucapan adalah do'a, bagaimana kalau Kasih jadi beneran mandul," ujar Papa Diki.
"Tentu saja Mama akan menyuruh Rangga menikah lagi. Rangga kan Anak kita satu-satunya kalau bukan dari Rangga, kita akan mendapatkan Cucu dari siapa lagi Pa."
Hati Kasih rasanya sakit ketika mendengar perkataan Mama Wita, kemudian Kasih memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
"Ma, Pa, maaf, Kasih permisi dulu," ujar Kasih yang sudah tidak tahan lagi membendung airmatanya.
"Kasih tunggu," teriak Rangga, tapi Kasih terus berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
"Mama kenapa sih berkata seperti itu di depan Kasih? Mama juga seorang perempuan, seharusnya Mama mengerti perasaan Kasih," ujar Rangga.
__ADS_1
"Rangga, kenapa kamu jadi nyalahin Mama? yang seharusnya kamu salahkan adalah istri kamu, kenapa sudah satu tahun kalian menikah dia masih belum hamil juga."
"Ma, mungkin Tuhan belum percaya kepada Rangga dan Kasih untuk diberikan titipan. Seharusnya Mama sabar dan tidak menyakiti hati Kasih."
"Rangga, kamu itu Anak Mama, seharusnya kamu lebih membela Mama dibandingkan Kasih, karena seorang istri itu ada bekasnya, tapi seorang Ibu tidak akan pernah ada bekasnya, kamu harus ingat jika kamu itu lahir dari rahim Mama. Jadi, jangan sampai kamu menjadi Anak durhaka."
"Ma, tidak Mama ingatkan pun Rangga ingat tentang semua itu, tapi saat ini Kasih adalah Istri Rangga, dan Kasih sudah menjadi tanggung jawab Dunia dan Akhirat Rangga. Bukannya rezeki Suami akan lancar apabila membahagiakan istrinya?"
"Mama cape ngomong sama kamu, sekarang yang kamu pikirkan cuma istri kamu, tapi kamu tidak pernah memikirkan perasaan Mama."
Papa Diki yang mendengar Mama Wita dan Rangga terus saja berdebat, mencoba untuk menengahinya.
"Ma, Rangga, tidak seharusnya kalian terus berdebat, Papa cape mendengarnya. Ma, bukannya Mama daritadi menunggu Rangga untuk membicarakan tentang rencana acara Ulang tahun pernikahan Rangga dan Kasih yang pertama? kenapa sekarang Mama malah ribut sama Rangga sih."
"Oh iya Pa, Mama sampai lupa kalau kita akan membuat pesta yang meriah untuk Anniversary pernikahan Rangga. Papa juga harus mengundang semua kolega bisnis Papa," ujar Mama Wita yang terlihat begitu antusias.
"Rangga, tunggu dulu, Mama belum selesai bicara?" teriak Mama Wita yang merasa geram, karena Rangga tidak mau mendengarkannya.
"Lihat kelakuan Anak kita Pa, sekarang Rangga berubah setelah menikah dengan Kasih, pasti karena Rangga sudah dihasut oleh perempuan mandul itu," gerutu Mama Wita yang tidak terima dengan sikap Rangga.
"Sudahlah Ma, bagaimanapun juga kita harus mendukung keputusan Rangga, kalau memang Rangga tidak mau kita mengadakan acara secara meriah, kita tidak bisa berbuat apa-apa."
"Pokoknya setuju atau tidak, Mama akan tetap mengadakan pesta secara meriah, kalau perlu Mama akan mencarikan istri baru untuk Rangga. Apa kata orang kalau mengetahui jika keluarga Argadana masih belum memiliki pewaris."
Papa Diki yang tidak mau berdebat dengan istrinya akhirnya hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
......................
Rangga semakin merasa bersalah kepada Kasih, karena saat ini Kasih terlihat menangis.
"Kasih, maafin Mama ya, aku tau kalau perkataan Mama sudah menyakiti hati kamu," ucap Rangga dengan memeluk tubuh Kasih.
"Tidak apa-apa Mas, Kasih mengerti perasaan Mama yang sudah ingin menimang Cucu, karena pada kenyataannya Kasih memang tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Argadana. Jadi, Kasih tidak boleh seperti ini, dan seharusnya tadi Kasih mengatakan tentang semua kebenaran yang Kasih alami, tapi Kasih belum siap Mas," ucap Kasih dengan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Rangga.
"Kasih, Mas tau kalau semua ini berat untuk kita, tapi apa pun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama. Oh iya, kapan jadwal Kasih melakukan check up? nanti biar Mas antar Kasih berobat."
"Sebenarnya besok Kasih akan mulai diberi pengobatan oleh Dita," jawab Kasih.
Rangga tertegun mendengar jawaban Kasih, karena sebenarnya dia ingin sekali bertemu dengan Dita, tapi Rangga tidak mau terus-terusan menyakiti hati Kasih jika sampai Rangga tidak bisa menahan perasaannya kepada Dita.
"Kalau memang Kasih ingin melakukan pengobatan oleh Dita, sebaiknya Mas tidak perlu ikut saja," ujar Rangga dengan tertunduk sedih.
"Justru Kasih ingin Mas Rangga ikut, supaya kalian bisa kembali dekat," ujar Kasih, dan Rangga merasa terkejut dengan perkataan istrinya.
"Kasih, apa maksud kamu? aku tidak mau kalau nanti kamu akan sakit hati jika aku bertemu dengan Dita."
"Mas, tadi Kasih kan sudah bilang kalau Kasih akan membantu Mas Rangga untuk kembali bersatu dengan Dita, dan Kasih akan ikut bahagia jika Mas Rangga bisa bahagia dengan perempuan yang Mas Cintai," ujar Kasih dengan tersenyum, meski pun saat ini hatinya berdenyut perih karena bagaimanapun juga Kasih hanyalah perempuan biasa.
"Kasih aku tau kalau hatimu terluka, jadi kamu jangan memaksakan diri untuk tersenyum, karena dibalik senyum kamu ada luka yang mendalam," ujar Rangga dengan mengusap lembut kepala Kasih.
Rangga sadar betul jika selama satu tahun menikah dengan Kasih, Rangga bukanlah Suami yang baik, bahkan Rangga sangat jarang memberikan Kasih nafkah batin, karena dalam hati Rangga hanya ada Dita.
__ADS_1
"Mas, Kasih akan berusaha untuk ikhlas jika Mas Rangga melakukan poligami, asalkan perempuan itu adalah Dita. Tadi Mas dengar sendiri kan kalau Mama mengatakan akan mencarikan istri untuk Mas Rangga? dan Kasih tidak mau Mas melakukan Poligami hanya untuk mendapatkan keturunan, tapi Mas tidak bahagia karena lagi-lagi Mas harus menikah dengan perempuan yang tidak Mas cintai."
Hatimu terbuat dari apa Kasih, bagaimana bisa kamu bahagia melihat aku bahagia dengan perempuan lain, bahkan perempuan itu adalah saudara kamu sendiri. Meski pun aku ingin sekali bisa menikah dengan Dita, tapi aku tidak ingin ada hati yang terluka, apalagi selalu melihat kamu tersenyum dibalik luka, ucap Rangga dalam hati.