
Dita beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Mama Wita.
"Saya bukan kekasih Rangga, karena hubungan kami telah berakhir sejak Rangga menikah dengan Kasih, jadi kami sudah menjadi mantan."
"Tapi Kasih adalah perempuan mandul, makanya sekarang Tante menjodohkan Rangga dengan Mayang supaya keluarga Argadana bisa memiliki penerus, karena hanya Rangga satu-satunya Putra tunggal kami."
"Apa keturunan begitu penting untuk Anda, sehingga Anda tidak memikirkan perasaan Kasih? Saya tidak habis pikir kenapa Anda mempunyai pemikiran seperti itu, padahal Anda sendiri adalah seorang perempuan," ujar Dita yang merasa geram.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita pulang saja," ujar Dika, dan Mama Wita kembali terkejut ketika Dika memanggil sayang kepada Dita, karena Mama Wita mengira jika Dita adalah istri dari Dika.
"Apa kamu adalah istri Tuan Dika?" tanya Mama Wita.
"Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan apa pun tentang hubungan kami. Kalau begitu kami permisi dulu," ujar Dita yang saat ini digandeng oleh Dika untuk pulang, tapi langkah mereka terhenti karena Mayang angkat suara.
"Tunggu perempuan sombong, kamu berani sekali mengacuhkan Tante Wita, dan sebagai calon Menantunya, aku tidak terima dengan sikapmu yang tidak sopan."
"Kamu bilang aku perempuan sombong? lalu aku harus menyebut kamu apa? apa aku harus memanggil kamu dengan sebutan Pelakor?" tanya Dita dengan tersenyum mengejek.
"Tutup mulut kamu, kamu tidak berhak menghinaku."
"Kalau kamu tidak mau aku sebut pelakor, aku harus memanggil kamu ulat bulu atau ulat keket? kamu juga seorang perempuan kan? seharusnya kamu bisa merasakan seandainya saat ini kamu yang berada di posisi Kasih. Apa kamu rela jika Suami kamu melakukan Poligami?" tanya Dita, dan Mayang diam tanpa bisa menjawab pertanyaan Dita.
Rangga juga ikut bicara, dan Rangga merasa malu kepada Dika dan Dita, karena bagaimanapun juga mereka adalah keluarga Kasih.
"Ma, harus berapa kali Rangga mengatakan sama Mama kalau Rangga tidak akan menikahi Mayang. Jadi, sebaiknya Mama suruh Mayang pergi dari rumah ini."
"Maaf Nyonya, sebagai Paman dari Kasih, saya juga tidak akan membiarkan Anda menyakiti keponakan saya, kecuali memang Kasih sendiri yang sudah membuat keputusan dan mengijinkan Rangga untuk melakukan Poligami, karena saya sangat yakin jika tidak ada satu pun perempuan di Dunia yang ikhlas untuk dipoligami. Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Dika dengan terus menggandeng Dita sampai akhirnya mereka pergi dari kediaman Argadana.
__ADS_1
Mama Wita yang merasa penasaran terhadap sosok Dita kembali bertanya kepada Rangga.
"Rangga, siapa Dita sebenarnya? apa dia istri Tuan Dika?" tanya Mama Wita.
"Dita adalah saudara sekaligus Dokter yang saat ini mengobati penyakit Kasih, jadi Mama bisa menebak sendiri ada hubungan apa di antara Dita dan Om Dika," ujar Rangga dengan berlalu meninggalkan Mama Wita dan Mayang yang masih terlihat kesal.
Jadi Dita adalah anggota keluarga Pratama juga? Dita sangat berbeda dengan Kasih, dan Dita lebih cantik juga berpendidikan, aku jadi menyesal menikahkan Rangga dan Kasih, karena sebelumnya aku tidak mengetahui siapa Dita sebenarnya. Tuan Dika juga terlihat sangat menyayangi Dita, apalagi Dita juga berprofesi sebagai seorang Dokter. Sebaiknya aku menjodohkan Rangga dan Dita saja, aku yakin kalau Rangga dan Dita masih saling mencintai, ucap Mama Wita dalam hati dengan tersenyum penuh arti.
"Tante bagaimana dengan perjodohanku dan Rangga," rengek Mayang.
"Sebaiknya sekarang Mayang pulang ya, Tante akan membicarakan semuanya terlebih dahulu dengan Rangga."
"Ya sudah kalau begitu Mayang pulang, tapi besok Mayang akan kembali lagi."
Kalau dipikir-pikir Mayang tidak cocok sama sekali dengan Rangga, apalagi dia sangat manja, pasti nanti dia hanya akan merepotkanku saja. Sebaiknya aku memberikan usul kepada Rangga untuk menikahi Dita, mereka juga sepertinya masih saling mencintai, ucap Mama Wita dalam hati, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar Kasih dan Rangga.
"Mas, apa tadi Dita ke sini?" tanya Kasih.
"Iya, tadi Dita datang ke sini dengan Om Dika."
"Dita ternyata sangat cantik ya, udah gitu dia berpendidikan. Mama jadi menyesal menikahkan kamu dengan Kasih, kalau Mama tau Dita juga adalah bagian dari keluarga Pratama, dulu Mama tidak akan memaksa kamu untuk menikahi Kasih, apalagi Tuan Dika terlihat menyayangi Dita," celetuk Mama Wita yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Rangga dan Kasih.
Kasih sebenarnya merasa sakit hati dengan perkataan Mama Wita, tapi Kasih sudah terbiasa mendengar perkataan Mama Wita yang selalu berbicara seenaknya.
"Ma, tidak seharusnya Mama berkata seperti itu di depan Kasih, karena Dita hanya masalalu Rangga."
"Tidak apa-apa Mas, perkataan Mama memang benar, dan Om Dika memang sangat menyayangi Dita, karena Om Dika adalah Ayah angkatnya. Apa Mama setuju jika Dita menikah dengan Mas Rangga?" tanya Kasih.
__ADS_1
Mama Wita langsung membulatkan matanya karena tidak mengira jika Kasih akan lebih dulu mengusulkan Rangga untuk menikahi Dita.
"Tentu saja, karena Dita pasti bisa memberikan keturunan untuk keluarga Argadana."
"Kasih juga sudah memberikan saran kepada Mas Rangga untuk melakukan poligami, asalkan perempuan itu adalah Dita, karena Kasih tau kalau Mas Rangga dan Dita masih saling mencintai."
"Ternyata kamu sadar diri juga Kasih, bagus deh kalau kamu mendukung Rangga dan Dita untuk menikah."
Mama Wita terlihat begitu bahagia mendengar perkataan Kasih, karena itu yang Mama Wita harapkan, sedangkan Rangga saat ini berada dalam dilema karena di satu sisi Rangga ingin sekali bisa menikah dengan perempuan yang dia cintai, tapi di sisi lain, Rangga tidak ingin menyakiti Kasih.
"Kasih, apa yang kamu katakan? meski pun pada kenyataannya aku masih mencintai Dita, tapi aku tidak mungkin menyakiti hati kamu dengan melakukan poligami, karena aku tidak mungkin bisa adil terhadap kalian."
"Mas, meskipun Mas Rangga tidak bisa adil sekali pun, Kasih akan tetap berusaha untuk ikhlas, apalagi sekarang rahim Kasih harus di angkat, jadi Kasih sudah tidak mungkin memberikan keturunan untuk Mas Rangga."
Mama Wita terlihat tidak peduli terhadap Kasih, bahkan Mama Wita enggan menanyakan penyakit yang Kasih derita.
"Iya Rangga, Mama pasti akan mendukung kamu untuk menikahi Dita, bukankah selama ini itu yang selalu kamu impikan, karena Mama sudah mengetahui semuanya ketika membakar fhoto kamu dan Dita dulu, dan kamu selalu menulis di belakang fhoto jika impian kamu adalah menikah dengan Dita, dan hidup bahagia dengan Dita selamanya," ujar Mama Wita yang sengaja memanas-manasi Kasih.
"Cukup Ma, Mama tidak perlu mengungkit masalalu, karena sekarang semuanya sudah terlambat, dan Dita tidak akan mau menikah dengan Rangga."
"Semuanya belum terlambat Rangga, karena Dita masih belum menikah, jadi kamu masih memiliki kesempatan untuk menikahinya."
"Apa Mama pikir Dita tidak mempunyai perasaan setelah apa yang Rangga lakukan kepadanya? Rangga sudah menyakiti hati Dita Ma, dan semua itu gara-gara Mama," ujar Rangga, kemudian melangkahkan kaki ke luar dari rumahnya karena saat ini Rangga butuh waktu untuk sendiri.
Setelah Rangga ke luar, Mama Wita memutuskan untuk bekerjasama dengan Kasih menyatukan Rangga dan Dita.
"Kasih, Mama harap kamu mau membantu Mama untuk menyatukan Rangga dan Dita."
__ADS_1
"Iya Ma, Kasih pasti akan melakukan apa pun untuk menyatukan Mas Rangga dan Dita."