
Ayah Ilham yang merasa tidak tenang karena belum meminta maaf kepada Dita, memutuskan untuk menyusul Bunda Cinta ke kamar Dita, dan Ayah Ilham yang mendengar percakapan Dita dengan Bunda Cinta dari luar kamar, langsung masuk ke dalam kamar Dita.
"Dita sayang, maafin Ayah Nak, Ayah sudah bersikap keterlaluan kepada Dita. Tidak seharusnya Ayah bersikap seperti itu, hanya saja Ayah merasa kasihan terhadap nasib Kasih yang malang."
"Yah, Dita mengerti perasaan Ayah. Maafin Dita juga ya, sebagai keluarga seharusnya kita saling memahami," ucap Dita dengan memeluk tubuh Ayah Ilham.
"Ayah tau kalau Dita dan Rangga masih saling mencintai, bahkan Kasih juga mengusulkan supaya Rangga melakukan poligami, asalkan perempuan itu adalah Dita. Apa Dita mau menikah dengan Rangga?"
Dita begitu terkejut mendengar pertanyaan Ayah Ilham, karena dalam hati kecilnya, Dita ingin sekali bisa menikah dengan Rangga, tapi Dita tidak mau menyakiti Kasih.
"Tidak Yah, Dita akan menolak keinginan Kasih, karena tidak akan pernah ada perempuan satu pun di dunia ini yang rela untuk dimadu. Meski pun mulut Kasih berkata ikhlas, tapi tidak dengan hatinya, dan Dita tidak mau menyakiti hati Kasih."
"Nak, lalu bagaimana dengan hati Dita? Ayah tau kalau Dita dan Rangga saling mencintai. Jadi, Dita jangan membohongi perasaan Dita sendiri."
"Yah, mencintai tidak harus memiliki, dan Rangga hanya untuk Kasih, karena Dita tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka."
"Apa Dita masih tersinggung dengan perkataan Ayah yang tadi? Maaf jika perkataan Ayah sudah membuat Dita menolak untuk menikah dengan Rangga."
"Tidak Yah, meski pun Ayah tidak mengatakan semua itu kepada Dita, Dita juga akan tetap pada pendirian Dita."
Semuanya sangat mengerti dengan perasaan Dita yang berat untuk mengambil keputusan, karena jika Dita memilih untuk menikah dengan Rangga, sama saja Dita menyakiti hati Kasih, sehingga Dita memutuskan untuk mengorbankan hatinya demi kebahagiaan Kasih.
"Ilham, Cinta, aku sudah menemukan calon Suami yang tepat untuk Dita, jadi kalian tidak perlu khawatir karena Anakku tidak akan mengganggu hubungan Kasih dengan Rangga," ujar Dika yang masih merasa kesal terhadap Ayah Ilham.
"Dika, aku tau kalau kamu pasti masih marah atas perkataanku tadi, dan aku benar-benar minta maaf atas semua itu. Tadi aku sudah terbawa emosi, dan aku akan mendukung keputusan Kasih. Kalau memang Kasih sudah ikhlas Rangga melakukan poligami, aku akan mendukungnya, karena bagaimanapun juga orangtua Rangga ingin memiliki keturunan," ujar Ayah Ilham.
__ADS_1
"Tapi tidak denganku, karena aku tidak akan ikhlas jika Dita sampai menjadi istri kedua dari saudaranya sendiri, Anakku masih laku dengan lelaki lajang, jadi kalian tidak perlu repot-repot memberikan Suami Kasih untuk Dita," ujar Dika dengan nada yang tinggi.
Dita dan Bunda Cinta mencoba menengahi perdebatan antara Dika dan Ayah Ilham supaya mereka berdua tidak terus berselisih paham, sampai akhirnya Bunda Cinta memutuskan untuk membawa Ayah Ilham ke luar dari kamar Dita.
Setelah Bunda Cinta dan Ayah Ilham ke luar, Dita mendekati Dika, kemudian memeluk tubuh Ayah angkatnya tersebut.
"Yah, Dita tau kalau Ayah sangat menyayangi Dita, begitu juga dengan Dita, meski pun kita berdua tidak memiliki hubungan darah, tapi cinta dan kasih sayang lebih kental daripada darah. Makasih ya, karena Ayah selalu ada untuk Dita," ucap Dita.
"Apa pun akan Ayah lakukan demi kebahagiaan kamu Nak," ujar Dika dengan mengelus lembut kepala Dita.
"Kalau begitu sekarang Ayah istirahat, bukannya tadi Ayah sudah janji akan tidur dengan Iqbal?"
"Astagfirullah, Ayah sampai lupa, untung saja Iqbal tidak mendengar keributan yang telah terjadi, karena tadi Anak itu sudah tidur. Kalau begitu Ayah ke kamar Iqbal dulu ya, sekarang Dita tidur juga," ujar Dika dengan mencium kening Dita, kemudian Dika ke luar dari kamar Dita menuju kamar Iqbal.
Saat ini Kasih dan Rangga sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kasih sebenarnya ingin sekali menanyakan tentang luka pada wajah Rangga, tapi Kasih tidak berani untuk bertanya, sampai akhirnya Rangga yang terlebih dahulu angkat suara, karena bagaimanapun juga Kasih berhak tau yang sebenarnya telah terjadi.
"Kasih, apa kamu ingin tau apa yang telah terjadi dengan wajahku?" tanya Rangga.
"Jika memang Mas Rangga keberatan untuk menceritakannya, Mas Rangga tidak perlu mengatakan semuanya kepada Kasih."
"Aku tau kalau kamu merasa penasaran dengan yang sebenarnya telah terjadi kepadaku, apalagi semua ini ada hubungannya dengan Dita, karena luka ini aku dapat dari Calon Suami Dita," ujar Rangga yang masih merasa kesal saat kembali mengingat Rizki.
Kasih merasa terkejut dengan perkataan Rangga, karena Kasih tidak pernah mengetahui jika Dita mempunyai Calon Suami.
"Tidak mungkin seperti itu, Mas pasti salah paham, karena Dita tidak pernah memiliki kekasih selain Mas Rangga."
__ADS_1
"Sebenarnya sejak kami kuliah, aku tau kalau Rizki sudah jatuh cinta kepada Dita, tapi saat Rizki mengetahui kalau Dita sudah menjadi kekasihku, Rizki tiba-tiba menjauh dari kami, tapi sekarang sosok Rizki kembali hadir, mungkin karena Rizki sudah mendengar jika aku sudah menikah, makanya dia berniat untuk kembali mendapatkan Dita, tapi aku tidak rela kalau Dita sampai menikah dengan Rizki, atau pun lelaki lain," ujar Rangga yang tidak menyadari perkataannya.
Kasih tersenyum kecut mendengar perkataan Rangga, apalagi Kasih melihat amarah pada diri Rangga, karena saat ini Rangga terus saja mengepalkan tangannya.
"Mas, kalau memang Mas Rangga dan Dita ditakdirkan berjodoh, apa pun halangannya, kalian berdua pasti akan bisa bersatu, apalagi Kasih sangat yakin dengan kekuatan cinta yang kalian miliki."
"Terimakasih ya, karena kamu selalu mengerti perasaanku, aku minta maaf jika perkataanku selalu menyakiti hatimu Kasih, tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku jika sudah membahas tentang Dita," ucap Rangga yang merasa bersalah terhadap Kasih.
"Tidak apa-apa Mas, perasaan memang tidak akan pernah bisa dibohongi. Mas, Kasih minta maaf ya, karena Kasih tadi tidak ijin terlebih dahulu kepada Mas Rangga saat Kasih di ajak oleh Ayah dan Bunda ke sini."
"Seharusnya aku yang meminta maaf, karena Ayah Ilham membawa kamu pulang ke sini pasti karena mendengar perkataan Mama yang selalu saja menyakiti perasaan kamu. Mama memang sudah keterlaluan, mungkin sebaiknya untuk sementara waktu kamu tinggal di sini saja."
"Apa Mas Rangga tidak ingin tinggal di sini juga?" tanya Kasih yang sebenarnya merasa berat jika harus berpisah jauh dengan Rangga.
"Nanti aku pikir-pikir lagi Kasih, karena bagaimanapun juga, aku tidak enak kepada keluarga kamu, apalagi mereka mengetahui kalau aku masih mempunyai perasaan untuk Dita, dan pasti nanti suasananya akan terasa canggung."
"Iya Mas, Kasih mengerti, saat ini kita berada dalam posisi yang sulit. Semoga saja Dita mau menerima Mas Rangga untuk menjadi Suaminya, dan nanti kita bisa hidup bahagia bersama," ucap Kasih, dan dalam hatinya Rangga mengamini perkataan Kasih.
"Kasih, kapan kamu siap untuk melakukan operasi?"
Kasih sebenarnya merasa takut, tapi bagaimanapun juga Kasih harus segera melakukan operasi sebelum sel tumor pada rahimnya menjalar ke organ tubuh Kasih yang lainnya.
"Besok Kasih akan bertanya kepada Dita kapan Kasih bisa melakukan operasi, karena siap atau tidak, Kasih harus secepat mungkin melakukan operasi. Meski pun nanti, Kasih akan benar-benar menjadi seorang perempuan cacat, karena tidak memiliki rahim."
"Kamu jangan sedih ya, kamu harus tetap semangat demi orang-orang yang menyayangimu. Sebaiknya sekarang kamu istirahat," ujar Rangga dengan membantu Kasih untuk berbaring, kemudian Rangga juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Kasih, dan lagi-lagi bayang-bayang Dita terus menari-nari dalam pikirannya.
__ADS_1