Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 39 ( Acara pertunangan Dita dan Rizki )


__ADS_3

Setelah merasa lebih baik, akhirnya Dita bersiap untuk menghadiri acara pertunangan, meski pun mata Dita terlihat sembab karena terus saja menangis.


"Aku tidak boleh seperti ini, kasihan Rizki kalau aku masih saja memikirkan Rangga, bagaimanapun juga ini sudah menjadi keputusanku, dan aku tidak boleh menyakiti hati Rizki," gumam Dita.


Beberapa saat kemudian, Bunda Cinta masuk ke dalam kamar Dita.


"Sayang, Dita baik-baik saja kan? Bunda tau kalau semua ini berat untuk Dita. Apa Dita sudah yakin? karena Bunda tidak mau Dita merasa terpaksa."


"Dita sudah memutuskan akan membuka lembaran baru dengan Rizki, dan Dita tidak mau menyakiti hati oranglain Bunda, karena Dita tau bagaimana rasanya sakit hati."


"Anak Bunda sekarang sudah dewasa. Semoga Dita selalu bahagia, dan Dita bisa melupakan masalalu, meski pun Bunda tau semua itu pasti sangat sulit."


"Amin Bunda, Dita tidak mau terus-terusan hidup di masalalu, karena kita tidak boleh terus melihat ke belakang, tapi kita harus melihat ke depan."


"Ya sudah, kalau begitu Bunda bantu Dita bersiap supaya mata Dita yang bengkak seperti bola tenis ini tidak terlalu terlihat," ujar Bunda Cinta, dan Dita tersenyum mendengar candaan Bunda Cinta.


Keluarga Rizki kini telah datang, dan Bunda Cinta mendampingi Dita untuk turun dari menuju tempat acara akan berlangsung.


Sesaat netra Rangga dan Dita saling menatap, tapi mereka sudah bisa mengontrol perasaannya, karena baik Dita mau pun Rangga sudah memutuskan untuk menjadi teman.


Semua mata menatap kagum melihat kecantikan Dita, dan Rizki terus saja mengembangkan senyuman karena akhirnya perempuan yang sangat dicintainya sebentar lagi akan menjadi miliknya.


Mama Lisa sebelumnya meminta maaf kepada keluarga Dita karena Papanya Rizki tidak bisa hadir dikarenakan masih berada di luar kota, dan akhirnya acara pertunangan Rizki dan Dita pun dimulai.


Rangga sebenarnya merasa tidak sanggup ketika melihat Dita dan Rizki yang saat ini sudah berdiri untuk bertukar cincin, tapi Kasih terus menggenggam erat tangan Rangga supaya Rangga tidak pergi dari tempat acara.


Rizki sudah memasukan cincin pertunangan ke dalam jari manis Dita, tapi saat giliran Dita akan memasukan cincin pertunangan pada jari manis Rizki, tangan Dita terlihat bergetar sehingga menyebabkan cincin pertunangan terjatuh dan menggelinding tepat ke bawah kaki Rangga.


Semua mata menatap ke arah Rangga, apalagi hampir semua yang berada di tempat acara mengetahui hubungan Rangga dan Dita, kecuali keluarga Rizki.


Rangga secara perlahan berjongkok untuk mengambil cincin tersebut, kemudian dengan langkah yang berat Rangga menghampiri Dita dan Rizki untuk memberikannya, meski pun Kasih sudah menawarkan untuk memberikannya kepada Dita dan Rizki, karena takut kalau Rangga tidak akan sanggup.

__ADS_1


"Dita, aku yakin kalau kamu pasti bisa. Kamu berhak bahagia meski pun tanpa diriku," ucap Rangga dengan lirih saat memberikan cincin pertunangan kepada Dita.


"Terimakasih Rangga," ucap Dita dengan mata yang berkaca-kaca.


"Semoga kalian selalu bahagia," ucap Rangga, kemudian melangkahkan kaki ke luar dari tempat acara, karena Rangga sudah tidak sanggup melihat semuanya.


Kasih hendak menyusul Rangga, tapi Ahmad melarangnya.


"Rangga saat ini butuh waktu untuk sendiri, jadi kita harus memberikan waktu untuknya, karena bagaimanapun waktu yang akan menyembuhkan segalanya."


Rizki menghela napas panjang melihat Dita yang terus menatap kepergian Rangga.


"Dita, kalau memang kamu masih ragu, sebaiknya kamu kejar Rangga sebelum kita melangkah lebih jauh," bisik Rizki.


"Tidak Rizki, aku sudah yakin untuk membuka lembaran baru, karena akan banyak hati yang tersakiti jika aku kembali pada masalalu," ucap Dita, kemudian memasukan cincin pertunangan ke dalam jari manis Rizki.


"Terimakasih Dita, karena telah memilihku untuk menjadi masa depanmu," ucap Rizki dengan tersenyum bahagia, dan suara tepuk tangan pun terdengar setelah keduanya selesai bertukar cincin.


"Selamat tinggal cintaku, semoga kamu selalu bahagia, karena selama ini aku hanya memberikan luka untukmu," gumam Rangga dengan airmata yang terus mengalir pada pipinya.


Semua yang hadir mengucapkan selamat pada Dita dan Rizki, dan acara pun berlangsung meriah meski pun hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja.


Pernikahan Rizki dan Dita sudah diputuskan akan dilangsungkan dua minggu lagi, dan Dita meminta pernikahan yang sederhana, tapi Dika ingin resepsi Dita di adakan meriah, sekalian dengan resepsi pernikahannya dan Syifa, sehingga Dika dan Dita terus saja berdebat.


"Yah, acaranya sederhana saja ya," rengek Dita.


"Tidak sayang, acaranya harus meriah, karena kita akan melakukan resepsi secara bersamaan, tadinya besok Ayah akan pergi ke luar negeri untuk berbulan madu, supaya Dita secepatnya memiliki Adik, tapi Bunda kamu ingin pergi ke Lombok dan Bali, jadi Ayah terpaksa mengalah" ujar Dika, dan Syifa langsung mencubit pinggang Dika.


"Sayang, kenapa pinggang Mas dicubit?"


"Mas, gak malu apa bicara seperti itu? di sini kan banyak orang," bisik Syifa yang masih merasa malu.

__ADS_1


"Untuk apa aku malu, kita kan sudah Syah menjadi Suami istri baik secara Negara mau pun Agama," ujar Dika, karena Dika sudah mendaftarkan pernikahannya di KUA setempat, sehingga pernikahan Dika dan Syifa sudah terdaftar secara Negara juga.


Dika dan Syifa sudah saling mencintai, apalagi mereka selalu melewati hari bersama untuk saling mengenal.


......................


Setelah acara pertunangan selesai, keluarga Rizki berpamitan untuk pulang, dan sepanjang perjalanan pulang, Rizki terus saja mengembangkan senyuman, sehingga Mama dan juga Kakaknya terus menggoda Rizki.


"Yang udah tunangan dari tadi senyum terus?" goda Adel.


"Tentu saja, karena Rizki sangat bahagia."


"Kamu beruntung Nak, karena keluarga Dita adalah orang yang sangat kaya dan juga dermawan, dan mereka sudah memiliki segalanya, jadi mereka tidak meminta macam-macam kepada kita," ujar Mama Lisa.


"Tapi tetap saja Ma, Rizki adalah seorang laki-laki, dan Rizki tidak mau kalau semuanya ditanggung oleh pihak perempuan, lagian Rizki sudah memiliki tabungan yang lumayan banyak untuk diberikan kepada Dita, meski pun Dita tidak memintanya."


"Ya sudah, bagaimana kamu saja, Mama akan selalu dukung keputusan kamu."


"Oh iya Ma, Papa kapan pulang?"


"Besok juga Papa kamu udah pulang, tadinya kemarin Papa sudah berencana untuk pulang supaya bisa hadir pada acara pertunangan kamu dan Dita, tapi Papa bilang kalau pekerjaannya masih banyak yang harus diselesaikan," ujar Mama Lisa, padahal kenyataannya Papa Dewo belum pulang karena mencari informasi tentang Tia yang telah menghilang tanpa jejak, karena entah kenapa Papa Dewo merasa sangat yakin kalau Dita adalah putri kandungnya dengan mendiang Tia, jadi Papa Dewo ingin mencari bukti terlebih dahulu sebelum Rizki dan Dita menikah.


"Apa sudah ada informasi yang kalian dapatkan?" tanya Papa Dewo ketika Anak buahnya datang untuk melaporkan hasil penyelidikan.


"Perempuan yang Bos cari ternyata sudah meninggal dunia karena pendarahan saat melahirkan seorang bayi perempuan," jawab Anak buah Papa Dewo.


Degg


Jantung Papa Dewo rasanya Berhenti berdetak ketika mendengar semuanya, dan Papa Dewo semakin yakin jika Dita adalah Anak kandungnya.


"Tia, maafkan aku karena tidak bertanggung jawab saat mengetahui kamu hamil, bahkan dulu aku malah menyuruh kamu untuk menggugurkan Anak kita," gumam Papa Dewo dengan airmata penyesalan yang terus mengalir pada pipinya.

__ADS_1


"Lalu, dimana keberadaan Anakku?"


__ADS_2