Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 41 ( Membasmi bibit-bibit Pelakor )


__ADS_3

Syifa tersenyum ketika mendengar pertanyaan Dika, karena tadi Syifa tidak memberikan nomor Dika, melainkan nomor miliknya.


"Memangnya Mas pikir Syifa bakalan ngasih nomor handphone Suami Syifa sama perempuan ganjen? enak saja, jangan harap ada perempuan yang bisa mengambil Mas Dika dari Syifa," jawab Syifa dengan tersenyum.


"Lalu nomor siapa yang tadi kamu kasih?"


"Tentu saja nomor Syifa sendiri, supaya Syifa bisa membasmi bibit-bibit pelakor."


"Ternyata selain cantik istriku pintar juga ya," puji Dika dengan mengelus lembut kepala Syifa.


Setelah sampai di Bandara Lombok, Syifa mendapatkan chat dari Pramugari yang tadi sempat bertemu dengannya di dalam pesawat.


📥"Dika sayang, sekarang aku tunggu di Toilet perempuan ya," pesan dari Melani.


📤"Oke, tunggu sebentar, sebentar lagi aku ke Toilet untuk menemui kamu," balas Syifa dengan tersenyum penuh arti.


"Sayang, pesan dari siapa?" tanya Dika yang merasa penasaran.


"Dari bibit pelakor yang tadi bertemu di dalam pesawat. Mas tunggu sebentar ya, aku mau menemui dia dulu, sekarang pasti dia sudah menunggu Mas Dika," jawab Syifa.


"Mas antar ya," ujar Dika yang merasa khawatir kepada Syifa.


"Tidak perlu Mas, Melani juga ngajak ketemu Mas Dika di dalam toilet perempuan, mungkin dia ingin mengajak Mas Dika melakukan sesuatu," ujar Syifa sehingga membuat Dika bergidik ngeri.


"Sayang, kamu tidak cemburu kan sama Melani?"


"Hanya perempuan bodoh yang tidak cemburu Suaminya diganggu oleh perempuan lain. Jadi, sekarang waktunya membasmi bibit-bibit pelakor," ujar Syifa dengan tersenyum penuh arti.


Syifa melangkahkan kaki menuju toilet perempuan, dan di sana sudah terlihat Melani menunggunya dengan pakaian seksi.


Melani terlihat kecewa ketika yang masuk ke dalam toilet adalah Syifa.


"Mbak yang tadi sama Andhika kan?" tanya Melani.


"Iya, memangnya ada apa Mbak?" tanya Syifa berpura-pura tidak tau.

__ADS_1


"Andhika kok masih belum ke sini ya?" tanya Melani.


"Apa Anda tidak sadar kalau Anda saat ini sedang berada di dalam toilet perempuan? jadi tidak sepantasnya seorang lelaki masuk ke dalam toilet perempuan," ujar Syifa.


"Apa saya masuk saja ya ke dalam toilet laki-laki? kemudian saya ngajak ketemuannya di dalam toilet laki-laki?" tanya Melani.


"Sepertinya itu ide yang bagus, tapi perempuan yang punya harga diri tidak akan mungkin melakukan semua itu, apalagi mengajak Suami oranglain ketemuan."


"Andhika itu mantan saya, jadi saya berhak mengajak dia ketemuan. Memangnya kamu siapa berani ngatur-ngatur saya?"


"Kamu hanya mantannya kan? tapi saya adalah istri syah nya secara hukum Negara mau pun Agama," ujar Syifa, sehingga membuat Melani terkejut.


"Seharusnya Anda bisa menjaga harkat dan martabat sebagai seorang perempuan, apalagi Anda adalah orang terpelajar. Apa Anda tidak malu sudah berniat menjadi Pelakor? Bagaimana kalau ada perempuan lain yang mengganggu Suami Anda? Anda juga pasti tidak akan rela kan?" sambung Syifa.


Syifa yang sudah mengisi air dalam ember langsung saja mengguyurkannya pada tubuh Melani, sehingga membuat Melani yang masih diam mematung bertambah terkejut.


"Apa yang sudah kamu lakukan? aku bisa melaporkanmu atas perlakuan tidak menyenangkan," ujar Melani yang merasa geram terhadap Syifa.


"Ups maaf, aku sengaja supaya kamu sadar. Silahkan saja, aku juga bisa melaporkan kamu karena sudah menjadi Pelakor, kamu tau kan kalau merebut Suami orang juga ada undang-undangnya," ujar Syifa kemudian melangkahkan kaki ke luar dari dalam toilet meninggalkan Melani yang basah kuyup.


Dika yang sudah menunggu di luar toilet bernapas lega ketika melihat Syifa berjalan ke arahnya.


"Aku baik-baik saja Mas, jadi Mas Dika tidak perlu mengkhawatirkanku."


"Apa rencana kamu berhasil membasmi bibit-bibit Pelakor?" tanya Dika.


"Tentu saja, pasti bibit Pelakornya malu untuk ke luar dari dalam kamar mandi karena pakaiannya basah kuyup," jawab Syifa dengan tertawa.


"Ternyata istriku ini nakal juga ya," ujar Dika dengan mencubit hidung Syifa.


Dika dan Syifa melanjutkan perjalanan menuju Hotel yang sebelumnya sudah Dika booking, dan mata Syifa terlihat berbinar ketika melihat keindahan pantai dari balkon kamarnya.


"Apa kamu suka?" tanya Dika dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Syifa.


"Tentu saja, pemandangannya sangat indah dan menyejukkan mata," jawab Syifa kemudian membalikan tubuhnya menghadap Dika.

__ADS_1


"Tapi tak seindah pemandangan yang saat ini berada di hadapanku," ucap Dika dengan tersenyum penuh arti, kemudian mengangkat tubuh Syifa dan membawanya ke dalam kamar.


"Mas mau ngapain?" tanya Syifa.


"Tujuan kita ke sini kan untuk berbulan madu," jawab Dika, kemudian melancarkan aksinya.


......................


Dika dan Syifa melewati hari dengan penuh kebahagiaan, meski pun banyak pasang mata yang selalu berusaha merebut Dika dari Syifa, terlebih lagi saat mereka berada di Bali, tapi Syifa selalu berhasil membasmi bibit-bibit Pelakor yang mendekati Suaminya dengan mudah.


"Kalau saja Dita nikahnya bulan depan, aku males pulang ke Jakarta, aku masih pengen tinggal di sini," ujar Dika yang saat ini sedang berbaring dengan memeluk tubuh Syifa, dan selama di Bali mereka sengaja tinggal di Vila milik keluarga Pratama supaya bisa lebih leluasa.


"Kapan-kapan kita masih bisa liburan ke sini kan sayang, sekarang kita harus mempersiapkan pernikahan Dita dan Rizki yang tinggal dua hari lagi," ujar Syifa.


"Nanti kita Baby moon ke sini lagi saja ya, semoga sebentar lagi hadir Dika dan Syifa junior," ujar Dika yang di Amini oleh Syifa.


Dika terlihat melamun saat memikirkan pernikahan Dita, karena Dika tau kalau Dita tidak mencintai Rizki, dan masih bisa melupakan Rangga.


"Mas kenapa melamun terus? Mas pasti lagi mikirin Dita kan?"


"Iya, aku khawatir Dita tidak bahagia dengan pernikahannya, karena Dita tidak mencintai Rizki. Selama ini pernikahan Kasih juga pasti tidak bahagia karena Rangga masih mencintai Dita. Kenapa Anak-anak kita harus terjebak cinta yang rumit?" ujar Dika.


"Sebagai orangtua, kita hanya bisa mendo'akan kebahagiaan Anak-anak kita. Apalagi Dita sudah mengambil keputusan untuk masa depannya, jadi kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk Dita selain mendo'akan supaya Dita bisa segera melupakan Rangga dan mencintai Rizki," ujar Syifa.


......................


Setelah selesai berbelanja oleh-oleh untuk semuanya, Dika dan Syifa langsung menuju Bandara, tapi kali ini mereka memutuskan untuk memakai jet pribadi supaya tidak ada lagi perempuan gatal yang mengganggu Dika.


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Syifa terus saja tertidur dalam pelukan Dika, karena tidak biasanya Syifa merasa pusing juga mual muntah selama naik pesawat, sehingga membuat Dika merasa khawatir.


"Sayang, sebaiknya kamu minum obat dulu supaya merasa lebih baik," ujar Dika.


"Nanti saja Mas, aku kayaknya cuma masuk angin aja, tidur sebentar juga pasti langsung baikan," ujar Syifa dengan terus menghirup aroma tubuh Dika.


"Kenapa sih dari tadi kamu cium tubuh aku terus? padahal aku belum mandi lho."

__ADS_1


"Gak tau kenapa aku lebih suka wangi Mas Dika yang belum mandi."


"Apa jangan-jangan sudah ada Dika atau Syifa junior di dalam sini?" tanya Dika dengan menunjuk perut Syifa.


__ADS_2