
Dita menghela napas panjang ketika mendengar pertanyaan Kasih, karena saat ini tidak akan ada orang yang bisa merubah keputusannya.
"Seandainya aku menikah dengan Rangga, apa kamu yakin akan ikhlas dipoligami?" Dita balik bertanya kepada Kasih.
"Aku yakin akan berusaha untuk ikhlas, apalagi saat ini aku sudah tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Rangga."
"Tapi aku tidak yakin Kasih, karena aku juga seorang perempuan, dan sesama perempuan, aku juga tidak mau jika cinta Suamiku terbagi dua. Lalu bagaimana dengan perasaan Rizki? aku tidak mau menyakiti hati lelaki yang tulus mencintaiku."
"Tapi aku ingin kamu dan Mas Rangga hidup bahagia, Dita."
"Begitu juga dengan aku yang ingin kamu dan Rangga bahagia. Jadi, biarkan aku berusaha melupakan masalaluku dengan Rangga, dan aku akan berusaha membuka lembaran baru dengan Rizki."
Rangga yang mendengar percakapan Dita dan Kasih dari dalam kamar mandi, merasa kecewa dengan keputusan yang Dita ambil, karena Rangga masih berharap Dita dan dirinya bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan.
Setelah Rangga ke luar dari kamar mandi, Dita memutuskan untuk kembali duduk di sopa.
"Sayang, maaf ya aku ketiduran," ucap Rizki.
"Gak apa-apa Ki, aku barusan sudah mengganti cairan infusan Kasih, aku juga sudah memberikan Kasih vitamin dan obat untuk mengurangi sakit."
"Ya sudah kalau begitu sekarang giliran kamu yang tidur, jangan sampai besok kamu bangun dengan mata seperti panda," canda Rizki.
"Aku belum ngantuk Ki, nanti juga kalau ngantuk aku bakalan tidur," ujar Dita.
Rizki menyandarkan kepalanya pada bahu Dita, dan Rangga selalu merasa cemburu melihat perlakuan Rizki terhadap Dita.
"Mas Rangga baik-baik saja kan?" tanya Kasih, karena Kasih tau kalau Rangga pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak ada alasan untukku merasa tidak baik. Yang penting untukku saat ini hanyalah kesembuhan kamu sayang," ujar Rangga dengan memeluk tubuh Kasih, karena Rangga sengaja ingin memanas-manasi Dita.
Aku tau kalau kamu memeluk serta memanggilku dengan sebutan sayang karena kamu cemburu melihat Rizki dan Dita, dan kamu ingin membuat Dita cemburu juga kan Mas? ucap Kasih dalam hati.
Saat ini Dita juga merasa cemburu melihat Rangga yang sengaja bersikap mesra kepada Kasih, tapi Dita mencoba menahan semuanya, sampai akhirnya Dita mencoba mengalihkan perhatiannya terhadap Rangga dengan memperlihatkan contoh-contoh undangan pernikahan kepada Rizki.
"Ki, lihat deh, undangan yang ini bagus gak?" tanya Dita.
__ADS_1
"Apa pun pilihan kamu pasti bagus sayang," jawab Rizki.
Dulu ketika aku masih berpacaran dengan Rangga, kami juga pernah mendesain undangan pernikahan, bahkan Rangga dan aku berdebat mengenai warna dan yang lainnya, tapi perdebatan kami malah membuat cinta kami semakin besar, karena pada akhirnya kami selalu mempunyai jalan keluar bersama, batin Dita.
Rangga juga teringat dengan undangan pernikahan yang dulu sempat Dita dan dirinya pilih, dan Rangga tertunduk sedih mengingat dirinya dan Dita yang sudah mendesain sendiri undangan pernikahan impian mereka.
Kenapa kalian berdua terus membohongi hati kalian sendiri? padahal jelas-jelas jika kalian masih saling mencintai, ucap Kasih dalam hati yang melihat Rangga dan Dita sama-sama saling cemburu.
......................
Keesokan paginya, setelah selesai membersihkan diri, Rizki dan Dita pamit pulang kepada Kasih dan Rangga untuk mengganti baju sebelum pergi ke rumah Rizki.
"Kasih, kalau ada apa-apa kamu minta tolong saja ya kepada Perawat. Aku juga pergi gak bakalan lama kok," ujar Dita.
"Kamu tenang saja, aku juga sudah merasa lebih baik, lagian di sini ada Mas Rangga."
"Iya, Kasih benar, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, Kasih juga memiliki Suami yang akan selalu ada untuknya," sindir Rangga.
"Syukurlah kalau kamu menyadarinya," ujar Dita yang menyindir balik Rangga.
Ketika Dita membuka pintu kamar perawatan Kasih untuk ke luar, ternyata di depan pintu sudah ada Ahmad yang baru saja tiba di Jakarta.
"Om Ahmad, kapan datang?" tanya Dita, kemudian berhambur memeluk Ahmad.
"Om baru saja tiba, dan Om langsung ke sini karena mendengar Kasih baru selesai operasi. Selamat ya sayang, keponakan Om yang cantik sekarang sudah berhasil menjadi seorang Dokter. Akhirnya cita-cita Dita tercapai juga," ucap Ahmad.
"Alhamdulillah Om, Selamat juga karena Om sekarang sudah berhasil menjadi seorang Kapolres. Semoga Om selalu amanah ya dalam mengemban tugas."
"Amin, insyallah. Kita saling do'akan saja ya, semoga semuanya berjalan dengan lancar. Oh iya, siapa ini? apa ini Rangga kekasih Dita?" tanya Ahmad yang belum mengetahui jika Rangga sudah menikah dengan Kasih.
"Bukan Om, ini namanya Rizki, dan Rizki adalah calon Suami Dita. Rizki, kenalin ini Om Ahmad, Adik mendiang Mama aku."
Rizki menjabat tangan Ahmad, dan saat ini Ahmad terlihat bingung karena setahu Ahmad kalau calon Suami Dita adalah Rangga.
"Nanti setelah pulang dari rumah Rizki, Dita ceritakan semuanya kepada Om. Ya sudah, kalau begitu sekarang Dita antar Om dulu ke dalam untuk menemui Kasih," ujar Dita dengan menggandeng tangan Ahmad masuk ke dalam kamar perawatan Kasih.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Ahmad.
"Wa'alaikumsalam. Om, bagaimana kabarnya?" tanya Kasih yang terlihat bahagia melihat Ahmad, karena sejak kecil Ahmad yang sering mengajak main Kasih dan Dita.
"Alhamdulillah kabar Om baik. Bagaimana sekarang keadaan kamu? apa sudah lebih baik?" tanya Ahmad yang menatap Kasih dengan tatapan penuh kerinduan.
"Alhamdulillah Kasih sudah merasa lebih baik. Kasih kangen sekali sama Om," ucap Kasih dengan memeluk Ahmad, karena selama ini Kasih menganggap Ahmad sebagai Pamannya sendiri, tanpa mengetahui perasaan yang Ahmad miliki.
"Om juga kangen sama kamu. Maaf ya saat Kasih menikah Om tidak bisa datang," ucap Ahmad dengan mengelus lembut kepala Kasih, karena Ahmad saat itu merasa patah hati mendengar Kasih akan menikah dengan lelaki lain, makanya Ahmad sengaja mencari alasan supaya tidak bisa hadir.
"Tidak apa-apa Om, Kasih mengerti pekerjaan Om, sebagai seorang Abdi Negara, Om pasti sibuk kan. Om, kenalin, ini Rangga, Suami Kasih."
"Kenapa nama Suami Kasih sama seperti nama kekasih Dita ya?" tanya Ahmad, dan semuanya hanya diam tanpa ada yang bisa menjawab pertanyaan Ahmad.
"Om, Rangga hanya masalalu Dita, dan Rangga adalah mantan yang harus Dita lupakan. Mungkin Dita dan Rangga tidak berjodoh. Kalau begitu sekarang Dita dan Rizki pergi dulu ya," ucap Dita dengan mencium tangan Ahmad.
"Hati-hati ya sayang, Om juga sebentar lagi mau pulang ke kediaman Pratama."
Setelah kepergian Dita, Ahmad menanyakan kepada Kasih, kenapa Dita dan Rangga putus.
"Kasih, apa Kasih tau kenapa Dita dan Rangga sampai putus? padahal setahu Om, mereka sudah berpacaran selama empat tahun. Kasihan Dita, sepertinya Dita merasa sedih karena putus dari Rangga, dan Om sangat yakin jika Rizki hanyalah pelarian Dita saja."
Degg
Jantung Kasih dan Rangga rasanya berhenti berdetak mendengar pertanyaan Ahmad, tapi Kasih tidak mungkin menutupi semua kebenaran tentang siapa sosok Rangga kekasih Dita, karena suatu saat nanti Ahmad pasti akan mengetahui semuanya dari oranglain jika Rangga Suami Kasih adalah mantan Kekasih Dita.
"Apa sebelumnya Om tidak pernah meminta Dita mengirimkan fhoto Rangga?" tanya Kasih.
"Om sering meminta Dita mengirimkan fhoto Rangga, tapi Dita bilang kalau Rangga sangat tampan, jadi dia tidak mau Om melihatnya."
"Apa Om pernah berbicara dengan Rangga?" tanya Kasih.
"Tentu saja, Om sering mengobrol dengan Rangga saat Om menelpon Dita, karena Dimana ada Dita, di situ akan ada Rangga, makanya Om tidak percaya jika mereka berdua putus, karena Om sangat tau kalau Dita dan Rangga saling mencintai."
Rangga hanya diam mematung mendengar perkataan Ahmad, karena Rangga tidak tau harus berbicara apa.
__ADS_1
"Om, jika Rangga Kekasih Dita menikah dengan Kasih, apa Om akan marah kepada Kasih?"