Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 45 ( Orangtua Asuh )


__ADS_3

Semuanya mengucapkan selamat kepada Rangga dan Dita secara bergantian, dan Dika yang paling merasa berat melepas putri angkatnya tersebut.


"Rangga, sekarang Ayah berikan tanggung jawab Dunia dan Akhirat Dita kepadamu, dan Ayah harap kamu tidak akan pernah menyakitinya. Semoga kalian berdua selalu diberikan kebahagiaan," ucap Dika yang di Amini oleh Dita dan Rangga.


"Rangga tidak bisa berjanji tidak akan membuat Dita menangis, tapi Rangga akan memastikan jika airmata yang ke luar dari mata Dita adalah airmata kebahagiaan."


Ayah Ilham sebenarnya merasa kasihan terhadap Kasih, tapi bagaimanapun juga Kasih dan Dita sama-sama sudah Ayah Ilham anggap sebagai Anak kandungnya sendiri.


"Rangga, tolong jaga dua Putri Ayah, karena Dita dan Kasih sama-sama penting untuk kami, dan Ayah harap kamu tidak akan pernah menyakiti mereka. Semoga kamu bisa bersikap adil kepada kedua istrimu, meski pun Ayah tau jika semua itu tidaklah mudah," ucap Ayah Ilham.


"Iya Yah, insyaallah Rangga akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Dita dan Kasih."


Ahmad memutuskan untuk membawa Kasih pergi dari Hotel, karena bagaimanapun juga Kasih pasti tidak akan sanggup terus melihat Rangga dan Dita yang berdiri di atas pelaminan.


"Kasih, apa bisa kamu ikut Om?" tanya Ahmad.


"Memangnya Om mau ngajak Kasih kemana?"


"Sudah, Kasih ikut saja, Om tidak mau Kasih merasa sedih jika terus-terusan berada di sini," ujar Ahmad, kemudian menarik lembut tangan Kasih ke luar dari Hotel.


Ahmad melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang sepi, bahkan tidak ada satu orang pun yang berada di sekitar tempat tersebut.


"Yuk turun," ajak Ahmad setelah menepikan mobilnya.


"Om, mau ngapain kita ke sini? kenapa Om mengajak Kasih ke tempat yang sepi?" tanya Kasih yang merasa heran.


Ahmad mendekatkan wajahnya, dan jantung Kasih berpacu cepat, sehingga replek Kasih memejamkan matanya.


"Kenapa mata kamu merem? memangnya Kasih pikir Om mau ngapain?" tanya Ahmad yang merasa heran, padahal Ahmad hanya membantu Kasih melepas sabuk pengaman pada tubuh Kasih.


Kasih membuka matanya, dan Kasih tersenyum malu karena sudah mengira Ahmad akan menciumnya.

__ADS_1


Ahmad membukakan pintu mobil untuk Kasih, kemudian Ahmad mengajak Kasih berdiri di pinggir jurang.


"Om ngapain ngajak Kasih ke sini? Kasih baik-baik saja Om, jadi Kasih tidak berniat untuk mengakhiri hidup Kasih.


Ahmad menyentil dahi Kasih karena merasa gemas terhadapnya.


Pletak


"Aww, kenapa Om menyentil dahi Kasih?"


"Supaya Kasih tidak berpikir macam-macam. Om ke sini mau ngajak Kasih melepaskan beban yang ada pada hati Kasih. Sekarang Kasih coba teriak, siapa tau dengan begitu Kasih akan merasa lebih tenang."


Kasih terlihat ragu, sampai akhirnya Ahmad berteriak terlebih dahulu.


"Kasih, aku sayang kamu," teriak Ahmad, dan Kasih terus menatap wajah Ahmad.


"Sekarang giliran kamu," ujar Ahmad.


Kasih terdengar beberapa kali berteriak, sampai akhirnya Kasih merasa lebih lega.


"Bagaimana sekarang? apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Ahmad.


"Makasih ya Om, sekarang Kasih sudah merasa lebih baik."


"Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang Om akan mengajak Kasih menginap di suatu tempat," ujar Ahmad dengan tersenyum, dan jantung Kasih selalu berdebar-debar melihat senyuman Ahmad, meski pun Kasih menampik semuanya jika itu adalah perasaan cinta.


Ahmad kembali melajukan mobilnya menuju Pesantren sekaligus Panti Asuhan tempat ia mondok dulu, di Pesantren tersebut banyak Anak Yatim Piatu yang masih kecil, dan Ahmad adalah salah satu Donatur tetap juga orangtua asuh untuk Anak-anak Yatim Piatu tersebut.


"Assalamu'alaikum," ucap Ahmad dan Kasih dengan menghampiri Anak-anak yang sedang bermain.


"Wa'alaikumsalam Abi," jawab Anak-anak dengan serempak.

__ADS_1


"Abi, siapa Kakak cantik yang Abi bawa? apa Kakak cantik ini adalah Umi kami?" tanya salah satu Anak yang masih kecil.


Ahmad hendak menjelaskan jika Kasih adalah Keponakannya, tapi tiba-tiba Kasih berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Anak kecil tersebut.


"Iya sayang, sekarang Kakak akan menjadi Umi kalian," ucap Kasih dengan memeluk tubuh kecil Anak perempuan tersebut.


Ahmad tersenyum bahagia karena Anak-anak di Panti Asuhan terlihat menyukai Kasih, bahkan mereka bergantian ingin memeluk tubuh Kasih.


Kasih yang keibuan langsung dekat dengan Anak-anak, dan Kasih tertawa bahagia bermain dengan Anak Yatim Piatu di Panti Asuhan Kasih Bunda tersebut, bahkan Kasih lupa tentang rasa sakit pada hatinya karena pernikahan Rangga dan Dita.


"Ternyata Kasih termasuk orang yang beruntung ya Om, meski pun Kasih Anak Yatim, tapi dari kecil Kasih sudah mendapatkan Kasih sayang dari Ayah Ilham dan juga mendiang Nenek Salma. Setelah Ayah Ilham dan Bunda Cinta menikah, bertambah lagi orang yang menyayangi Kasih, yaitu Bunda Cinta, Om Dika, Dita, dan yang paling spesial adalah Om Ahmad, karena sejak kecil Om Ahmad selalu ada untuk Kasih, dan menyayangi Kasih dengan tulus."


"Kasih harus selalu bersyukur ya, karena di luar sana masih banyak orang-orang yang hidup sebatang kara, bahkan mereka tidak pernah merasakan kasih sayang."


"Iya Om, insyaallah mulai sekarang Kasih akan lebih bersyukur lagi, kasihan Anak-anak di Panti Asuhan ini, mereka mengharapkan Kasih sayang dari orangtua yang tulus menyayangi mereka. Apa boleh Kasih menjadi orangtua Asuh juga untuk Anak-anak di sini?" tanya Kasih.


"Tentu saja, mereka pasti bahagia karena akhirnya mereka punya Umi," jawab Ahmad.


Kasih dan Ahmad memasak untuk Anak-anak di Panti Asuhan, dan Anak-anak ikut membantu Kasih dan Ahmad sebisa mereka, karena Ahmad selalu mengajarkan mereka supaya saling membantu dan belajar mandiri sedari kecil.


Ahmad terlihat terampil dalam mengolah makanan, dan Kasih semakin kagum dengan sosok Ahmad.


"Ternyata Abi pandai memasak juga ya," puji Kasih, karena jika di depan Anak-anak, Kasih akan memanggil Ahmad dengan sebutan Abi, begitu juga dengan Ahmad yang akan memanggil Kasih Umi.


"Umi baru tau ya? sejak kecil Abi sudah tinggal di sini, dan Abi sudah di ajarkan untuk mandiri. Jadi Anak-anak di sini sudah di ajarkan memasak serta belajar mandiri juga sedari kecil."


"Alhamdulillah, kita bisa melakukan sesuatu apabila sudah terbiasa," ujar Kasih.


Setelah semua masakan matang, Kasih dan Ahmad mulai makan dengan semua Anak-anak Panti, dan mereka tersenyum bahagia karena merasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Kasih dan Ahmad.


Ternyata bahagia itu sederhana, melihat Anak-anak tersenyum bahagia, hatiku ikut bahagia juga. Terimakasih Tuhan, karena telah memberikan kebahagiaan untuk kami, ucap Kasih dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2