
Dokter Asyifa dibawa oleh Bunda Cinta ke dalam kamar tamu, sedangkan Dika mengganti pakaian senada yang sudah Bunda Cinta beli untuknya dan Dokter Asyifa.
"Mbak, tolong rias Kakak saya ya," ujar Bunda Cinta kepada MUA.
"Iya siap Nyonya Pratama. Ayo Mbak cantik biar saya rias dulu," ujar MUA.
Kenapa Mbak nya menyebut Cinta dengan sebutan Nyonya Pratama? bukannya Pratama itu kepanjangan nama Tuan Dika? mungkin hanya nama mereka saja yang sama, ucap Dokter Asyifa dalam hati.
"Kak, Cinta ke luar dulu ya," ujar Bunda Cinta, dan Dokter Asyifa menganggukkan kepalanya serta tersenyum sebagai jawaban.
"Saya sangat beruntung karena bisa mendandani pengantin dari Tuan Andhika Pratama," ucap MUA, dan Dokter Asyifa hanya tersenyum, karena dia masih belum percaya tentang siapa Dika yang sebenarnya.
......................
Bunda Cinta mengetuk pintu kamar Dika, kemudian Bunda Cinta masuk setelah Dika membuka pintu kamarnya.
"Kak Dika, kalau pake baju itu yang benar," ujar Bunda Cinta dengan membetulkan kerah kemeja Dika.
"Cinta, makasih banyak ya atas semuanya," ucap Dika dengan memeluk tubuh Bunda Cinta.
"Kak Dika adalah keluarga Cinta satu-satunya, sudah seharusnya sebagai saudara, kita saling menyayangi, dan saling membantu. Cinta bahagia karena Kakak akhirnya memutuskan untuk menikah juga, karena selama ini Cinta selalu berdo'a supaya Kakak segera menikah dan mendapatkan kebahagiaan."
Ayah Ilham yang melihat Dika dan Bunda Cinta berpelukan, langsung saja menghampiri mereka.
"Ekhem, jangan lama-lama pelukannya, apa kalian sengaja ingin membuatku cemburu?" sindir Ayah Ilham.
"Ilham, kapan lagi aku bisa memeluk Cinta, setelah aku menikah, aku juga tidak mungkin memeluk Cinta lagi."
"Iya, karena kamu akan segera merasakan Surga Dunia, dan aku bahagia karena akhirnya kamu akan sold out juga, jadi kamu tidak akan mengganggu istriku lagi," ujar Ayah Ilham dengan terkekeh.
"Sudahlah Kak, tidak perlu mendengarkan perkataan Mas Ilham. Sebaiknya sekarang kita ke luar, Cinta juga akan melihat Kak Syifa sudah selesai dirias atau belum," ujar Bunda Cinta dengan menggandeng Dika ke luar dari dalam kamarnya.
"Sayang, kenapa aku ditinggalin sih," rengek Ayah Ilham yang selalu bersikap manja terhadap istrinya.
"Ayah, bisa jalan sendiri kan? malam ini adalah malam spesial untuk Kak Dika, jadi Ayah jangan protes."
Setelah Dika sampai di tempat acara akan berlangsung, Bunda Cinta menuju kamar tamu untuk melihat Dokter Asyifa, dan ternyata Dokter Asyifa sudah selesai didandani.
"Kak Syifa cantik sekali," ucap Bunda Cinta.
"Makasih Cinta, tapi kamu lebih cantik," ujar Dokter Asyifa.
"Mbak, terimakasih banyak ya bantuannya, kalau begitu kami permisi ke luar duluan," ucap Bunda Cinta kemudian menggandeng Dokter Asyifa menuju tempat acara.
__ADS_1
Mata Dika tidak berkedip melihat Dokter Asyifa yang terlihat begitu cantik, sehingga Dika menjadi bahan olokan Ayah Ilham.
"Ngeliatinnya gak segitunya juga kali, tuh mata kamu hampir saja copot," sindir Ayah Ilham.
Dokter Asyifa kini duduk di samping Dika, dan dirinya merasa malu karena Dika terus saja melihat wajahnya.
"Tuan Andhika Pratama, apa Anda sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Saya sudah siap Pak," ucap Dika dengan mantap.
Deg
Jantung Dokter Asyifa rasanya berhenti berdetak ketika penghulu menyebut nama lengkap Dika. Dokter Asyifa menatap wajah Dika, dan Dika hanya tersenyum.
Apa aku tidak salah dengar? kenapa Pak Penghulu menyebut nama Mas Dika dengan Andhika Pratama? batin Dokter Asyifa kini bertanya-tanya.
Dika menjabat tangan Pak Penghulu untuk melakukan ijab kabul, sedangkan Dokter Asyifa masih tidak fokus karena memikirkan tentang siapa Dika sebenarnya.
"Ananda Andhika Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Adinda Asyifa Puspita Bin Komar, dengan mas kawin uang tunai sebesar sepuluh milyar rupiah, dan emas seberat satu kilo gram dibayar Tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Asyifa Puspita Bin Komar dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai," ucap Dika dengan satu helaan nafas.
"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Alhamdulillah, sekarang Tuan Andhika dan Nyonya Asyifa sudah resmi menjadi Suami istri, semoga pernikahan kalian berdua menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah, dan warahmah," ucap Pak Penghulu yang di Amini semuanya.
Dika mengulurkan tangannya kepada Dokter Asyifa, dan Dokter Asyifa mencium punggung tangan Dika dengan khidmat, kemudian Dika mengecup kening Dokter Asyifa, dan setelah itu mereka saling memakaikan cincin pernikahan.
Semua yang berada di sana mengucapkan Selamat serta do'a kepada kedua mempelai.
"Selamat ya Kak, semoga pernikahan Kak Dika dan Kak Syifa selalu bahagia," ucap Bunda Cinta dengan bergantian memeluk Dika dan Asyifa.
"Makasih ya sayang, semua ini juga berkat do'a dan dukungan dari kalian," ucap Dika.
"Ayah, akhirnya Dita nambah Bunda lagi. Selamat ya, Dita tidak pernah mengira jika kalian berdua akan berjodoh, padahal saat pertama kali bertemu, kalian seperti tikus dan kucing," ujar Dita dengan memeluk tubuh Asyifa dan Dika.
Acara dilanjutkan dengan fhoto-fhoto, juga syukuran sebelum makan-makan, dan setelah Penghulu dan para Saksi pulang, Rizki juga akhirnya pamit pulang meskipun dia merasa berat meninggalkan Dita.
"Sayang, aku pulang dulu ya. Sekarang kamu udah mendingan kan?" tanya Rizki.
"Udah kok Ki. Kamu hati-hati ya," ucap Dita kepada Rizki ketika Rizki hendak masuk ke dalam mobil.
Rizki mengucap Salam, kemudian pergi meninggalkan kediaman Pratama.
__ADS_1
Ketika Dita hendak masuk ke dalam rumah, ada tangan kekar yang menarik tangannya, kemudian memeluk tubuh Dita dengan erat.
"Rangga, apa yang kamu lakukan?"
"Aku tidak bisa melupakanmu Dita, aku tidak bisa berpura-pura bahagia di depan Kasih. Kamu juga tidak bisa kan melihat aku bersikap mesra kepada Kasih?"
"Sudahlah Rangga, semua itu bukan urusan kamu. Kamu tidak perlu memperdulikan perasaanku," ucap Dita dengan memalingkan wajahnya.
"Lihat mataku Dita? katakan kalau kamu sudah melupakanku," ujar Rangga, tapi Dita tidak bisa melakukan permintaan Rangga, sampai akhirnya terdengar suara Kasih yang memanggil Rangga.
"Lepaskan aku Rangga, aku tidak mau Kasih sakit hati melihat kita seperti ini," ujar Dita, dan Rangga terpaksa melepaskan pelukannya terhadap Dita, kemudian Dita bergegas masuk ke dalam rumah.
......................
Dika saat ini mengajak Asyifa masuk ke dalam kamar pengantin mereka, dan masih banyak pertanyaan dalam benak Asyifa tentang siapa Dika sebenarnya.
"Kenapa diam terus heum?" tanya Dika dengan memeluk erat tubuh Asyifa dari belakang.
"Ke_kenapa Mas Dika berbohong tentang identitas Mas Dika yang sebenarnya?"
Dika membalikan tubuh Asyifa supaya menghadap kepadanya.
"Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah berpura-pura menjadi OB, itu semua aku lakukan karena aku ingin ada seorang perempuan yang menerimaku apa adanya bukan sebagai Andhika Pratama. Tadi sebelum kita ke luar dari dalam mobil, aku kan sudah bilang tentang identitasku yang sebenarnya, tapi kamu sendiri yang tidak percaya kepadaku."
Asyifa terus saja menundukkan kepalanya, karena saat ini dirinya masih merasa malu kepada Dika.
Dika mengangkat dagu Asyifa, dan menatap wajahnya lekat-lekat.
"Ternyata istriku cantik sekali," puji Dika, sehingga membuat Asyifa tersipu malu.
Secara perlahan Dika menurunkan resleting kebaya Asyifa.
"Mas, mau ngapain?" tanya Asyifa yang terlihat gugup.
"Memangnya Nyonya Pratama mau tidur dengan memakai kebaya? kamu tenang saja Syifa, aku tidak akan meminta hak sebagai seorang Suami jika kamu masih belum siap. Ya sudah, sekarang sebaiknya kamu ke kamar mandi dulu buat ganti baju, tadi Cinta memberikan ini untuk kamu," ujar Dika dengan memberikan paper bag kepada Asyifa.
Asyifa masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, dan Asyifa masih tidak percaya jika dirinya saat ini sudah menjadi Nyonya Pratama.
Rasanya semua ini seperti mimpi, aku seperti Cinderella yang menikah dengan Pangeran, ucap Asyifa dalam hati.
Asyifa merasa malu ketika memakai lingerie seksi yang diberikan oleh Bunda Cinta.
"Mas, apa tidak ada pakaian lain?" tanya Asyifa dengan malu-malu, dan mata Dika membulat sempurna ketika melihat keindahan tubuh Asyifa.
__ADS_1