
Dita dan Ahmad tidak habis pikir dengan pemikiran Kasih, karena Kasih terlihat ingin sekali Dita dan Rangga menikah.
"Kasih, kamu jangan bicara sembarangan, bisa-bisanya kamu ingin bercerai dengan Rangga supaya aku dan dia bisa bersatu. Apa kamu pikir aku mau menikah dengan Rangga meski pun kamu dan Rangga sudah bercerai?" ujar Dita yang marah terhadap Kasih.
"Aku tidak tau harus berbuat apa lagi Dita, aku ingin kamu dan Rangga bahagia, karena aku selalu merasa bersalah terhadap kalian."
"Jika kamu merasa bersalah terhadapku, kamu harus bahagia supaya pengorbanan cintaku tidak sia-sia. Aku juga tidak mau bahagia jika kamu menderita," ujar Dita dengan memeluk tubuh Kasih.
Kasihan Dita dan Kasih karena harus terjebak dalam situasi yang sulit, ucap Ahmad dalam hati.
"Kasih, sebaiknya sebelum berbicara kamu pikirkan dulu perkataan kamu, jangan sampai kamu menyesalinya, karena ucapan adalah do'a. Kalau Dita dan Rangga menikah, nanti bagaimana dengan kamu?" tanya Ahmad.
"Kasih masih memiliki Om Ahmad yang menyayangi Kasih dengan tulus, jadi Kasih tidak akan sedih," ujar Kasih, sehingga membuat Ahmad salah tingkah.
Seandainya ucapan kamu benar adanya, aku pasti akan sangat bahagia, karena dari dulu impianku adalah menjadi imam untukmu, ucap Ahmad dalam hati.
Dita menyuruh Ahmad pulang ke kediaman Pratama supaya Ahmad bisa istirahat, tapi Ahmad menolaknya, bahkan Ahmad menelpon Bunda Cinta bahwa dirinya akan menemani Kasih sampai Kasih diijinkan pulang dari Rumah Sakit.
"Om, sebaiknya Om pulang saja supaya bisa istirahat, biar Dita yang merawat Kasih."
"Tidak sayang, Om akan menemani Kasih sampai Kasih sembuh dan diijinkan pulang dari Rumah Sakit."
Kasih merasa bahagia karena Ahmad akan selalu menemaninya, karena dari semenjak Kasih kecil, Ahmad selalu memanjakan Kasih.
"Dita, bilang saja kamu iri kan karena Om Ahmad akan selalu menemaniku? Dari semenjak kita kecil, kita kan selalu rebutan Om Ahmad, bahkan kita berebut ingin menjadi pengantin Om Ahmad jika sudah dewasa, padahal jelas-jelas semua itu tidak akan mungkin terjadi," ujar Kasih dengan tertawa lepas.
Dita dan Ahmad ikut tertawa karena mereka bahagia melihat Kasih yang sudah bisa tertawa lepas.
"Kamu benar Kasih, aku tidak mungkin mewujudkan impian masa kecilku untuk menikah dengan Om Ahmad, karena aku adalah keponakannya, dan kami masih satu darah, tapi tidak dengan kamu, karena kalian tidak memiliki hubungan darah, jadi sekarang aku mengalah dan memberikan Om Ahmad untuk menjadi Pengantinmu," ujar Dita dengan tersenyum.
"Kenapa kamu tidak mengaku kalah dari sejak dulu saja Dita? coba kamu mengaku kalah sebelum aku menikah dengan Mas Rangga, aku pasti akan melamar Om Ahmad sebelum Om Ahmad direbut oleh perempuan lain."
"Sudahlah kalian jangan terus bercanda," ujar Ahmad yang merasa malu karena menjadi bahan obrolan.
"Kata siapa Kasih bercanda Om? Kasih serius, seandainya Kasih belum menikah, Kasih duluan yang akan melamar Om, karena tidak ada lelaki sesempurna Om Ahmad, dan perempuan yang menikah dengan Om adalah perempuan paling beruntung di Dunia ini."
__ADS_1
Degg
Jantung Ahmad berpacu cepat mendengar perkataan Kasih, karena Ahmad tidak pernah mengira sosok Kasih yang pendiam akan mengatakan semua itu.
"Kalau begitu aku tidak akan meninggalkan kalian berdua dalam satu ruangan, aku takut kalau Kasih sampai hilang kendali," goda Dita dengan terkekeh.
Dita dan Kasih terus saja bercanda, dan Ahmad tersenyum bahagia melihat semua itu, sampai akhirnya Kasih melontarkan pertanyaan yang membuat Ahmad merasa gugup.
"Om, apa Om Ahmad pernah jatuh cinta?" tanya Kasih.
Ahmad nampak terdiam karena perempuan yang membuat Ahmad jatuh cinta adalah Kasih.
"Om pernah merasakan jatuh cinta pada seorang perempuan yang sangat cantik dan baik hati."
"Lalu kenapa Om masih belum menikah? Om itu tampan dan mapan, perempuan yang Om cintai pasti langsung mau menerima cinta Om."
"Perempuan yang Om cintai tidak bisa Om miliki, karena dia sudah menikah."
"Sayang sekali, padahal dia adalah perempuan beruntung. Om yang sabar ya, cinta tidak harus saling memiliki, tapi pernikahan juga tidak menjamin sebuah kebahagiaan, karena percuma memiliki raga tapi tidak memiliki hatinya," ujar Kasih dengan tertunduk sedih.
Dita dan Ahmad sangat mengerti arah pembicaraan Kasih, tapi untuk saat ini mereka masih belum memiliki jalan ke luar, sampai akhirnya terdengar suara Salam, kemudian Rangga masuk ke dalam kamar perawatan Kasih.
"Rangga, kamu sudah selesai meeting nya?" tanya Ahmad.
"Sudah Om, makasih banyak ya sudah menjaga Kasih."
"Tidak kamu minta pun, Om akan selalu berusaha untuk menjaga Kasih."
"Kasih apa kamu sudah makan?" tanya Rangga.
"Sudah Mas, Om Ahmad sudah membantu Kasih makan dan minum obat," ujar Kasih dengan tersenyum bahagia, dan Rangga baru melihat Kasih sebahagia itu selama mereka menikah.
Sepertinya Kasih sangat bahagia dengan kedatangan Om Ahmad. Syukurlah kalau begitu, semoga saja kondisi Kasih segera membaik, ucap Rangga dalam hati.
"Om, barusan Rangga beli makanan, karena Rangga belum sempat makan siang, sebaiknya kita makan siang bersama," ujar Rangga dengan melihat ke arah Dita.
__ADS_1
Dita membuka paper bag yang dibawa oleh Rangga kemudian Dita mengeluarkan semua makanan yang ada di dalamnya.
Dita merasa terkejut ketika melihat coklat bentuk hati dengan memakai tulisan I Love You Dita.
Dita bergegas memasukannya ke dalam tas sebelum Kasih dan Ahmad melihat tulisan tersebut, dan Rangga hanya tersenyum kecil melihat Dita yang terlihat ketakutan.
Rangga benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia melakukan semua itu, bagaimana kalau sampai Kasih atau Om Ahmad yang melihatnya? ucap Dita dalam hati.
Ahmad dan Rangga mulai makan siang, tapi Dita terus saja terlihat melamun.
"Sayang, kamu gak makan?" tanya Ahmad kepada Dita.
"Tidak Om, Dita masih kenyang, tadi Dita sudah sempat makan di rumah Rizki."
Rangga terlihat kecewa karena Dita tidak mau memakan makanan yang ia beli, padahal Rangga sengaja membeli makanan kesukaan Dita.
Beberapa saat kemudian, Rizki mengetuk pintu kamar perawatan Kasih, dan Rizki berniat untuk mengajak Dita makan siang.
"Sayang, kita makan siang yuk, aku sudah lapar," ujar Rizki kepada Dita.
"Ki, sebaiknya kita makan siang di sini saja, barusan Rangga membeli banyak makanan," ujar Dita dengan memberikan makanan yang dibelikan oleh Rangga untuknya, sehingga membuat Rangga semakin merasa kecewa.
"Sayang, bukannya ini makanan kesukaan kamu?" tanya Rizki ketika membuka kotak makanan yang lauknya berisi rendang daging sapi, lalapan, sambal dan masih banyak sayuran lainnya.
Rangga ternyata masih ingat makanan kesukaanku. Maaf Rangga, tapi aku harus membuat kamu melupakanku. Mungkin dengan aku bersikap mesra terhadap Rizki, kamu akan membenciku, ucap Dita dalam hati.
"Ki, bagaimana kalau kita makannya satu kotak berdua saja? tiba-tiba perutku lapar saat melihat makanannya," ujar Dita yang saat ini duduk di samping Rizki.
"Tentu saja aku mau, bagaimana kalau aku saja yang menyuapi kamu?" tanya Rizki, dan Dita tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Rangga yang merasa cemburu langsung saja menyudahi makan siangnya, padahal Rangga baru makan beberapa suap saja.
"Rangga, kenapa kamu sudah selesai lagi?" tanya Ahmad.
"Tiba-tiba napsu makan Rangga hilang Om," jawab Rangga, kemudian berlalu ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Kasih dan semuanya tau betul penyebab perubahan sikap pada Rangga.
Kalian berdua saling mencintai, kenapa harus saling menyakiti? ucap Kasih dalam hati.