
Acara resepsi pernikahan Dita dan Rangga, juga Dika dan Syifa akhirnya selesai juga, dan semuanya berjalan dengan lancar.
Dika dan Syifa tadinya akan menginap di Hotel, tapi Syifa mual muntah terus sehingga Dika memutuskan untuk membawa Syifa pulang.
"Rangga, Dita, kami pulang dulu ya, kasihan Bunda Syifa dari tadi mual muntah terus," ujar Dika.
"Apa kami ikut pulang juga Yah? supaya Dita bisa membantu Ayah merawat Bunda," ujar Dita.
"Sayang, kamu itu bicara apa? malam ini adalah malam pertama kalian, masa pengantin baru langsung pulang. Dita tidak perlu khawatir, nanti Bunda Cinta yang akan merawat Bunda Syifa," ujar Bunda Cinta, dan Dita tersenyum malu ketika mengingat dirinya sudah menjadi istri dari Rangga.
"Oh iya Bunda, Kasih sama Om Ahmad pergi kemana? dari tadi kok mereka berdua tidak kelihatan?" tanya Dita yang tidak melihat keberadaan Saudara serta Om nya.
"Kasih sama Ahmad pergi ke Pesantren tempat dulu Ahmad mondok. Kasih tadinya ingin pamit dan minta ijin terlebih dahulu sama Rangga sebelum berangkat, tapi tadi kalian sedang sibuk menyalami tamu, makanya Kasih titip pesan," jawab Bunda Cinta.
Dita terlihat melamun karena merasa tidak enak terhadap Kasih.
Kasih pasti sedih melihat kami di atas pelaminan. Maaf Kasih, aku sudah menyakiti hati kamu, ucap Dita dalam hati.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rangga, dan Dita menganggukkan kepalanya serta tersenyum sebagai jawaban.
Setelah semuanya pamit pulang kepada Dita dan Rangga, Rangga menggandeng tubuh Dita untuk masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Jantung Dita berdebar-debar ketika Rangga mengangkat tubuhnya, kemudian membaringkannya di atas ranjang pengantin.
"Sayang, rasanya ini semua seperti mimpi, karena akhirnya impianku untuk menikahi kamu terwujud juga," ucap Rangga yang saat ini ikut berbaring dengan memeluk tubuh Dita.
"Tapi aku masih merasa tidak enak terhadap Kasih. Bagaimanapun juga Kasih pasti merasa sakit hati melihat Suaminya sendiri menikah lagi, apalagi dengan orang yang sudah Kasih anggap sebagai saudara kandung sendiri," ujar Dita.
"Sayang, kamu jangan terlalu banyak pikiran, Kasih pasti baik-baik saja, apalagi saat ini Kasih sedang bersama dengan Om Ahmad, karena aku lihat Om Ahmad sangat menyayangi Kasih," ujar Rangga.
__ADS_1
Rangga bicara seperti itu karena tidak mengetahui kenyataannya jika Om Ahmad mencintai Kasih, ucap Dita dalam hati.
"Apa kamu tidak cemburu terhadap Om Ahmad?" tanya Dita kepada Rangga.
Rangga tertawa mendengar pertanyaan Dita.
"Kenapa aku harus cemburu? Kasih adalah Keponakan Om Ahmad, dan yang pasti aku tidak cemburu karena aku tidak mencintai Kasih, dan hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai."
Dita bangun mendengar perkataan Rangga.
"Rangga, tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, Kasih adalah istri kamu juga. Kasihan dia jika mengetahui kamu tidak mencintainya."
"Sayang, Kasih tau tentang perasaanku, tapi dia sendiri yang memutuskan untuk bertahan dengan pernikahan tanpa cinta ini. Cinta tidak bisa dipaksakan, dan aku tidak mau terus berpura-pura mencintai Kasih."
"Rangga, kamu tidak boleh egois, buka mata hati kamu, lihat Kasih, dia adalah perempuan baik, bahkan dia rela mengorbankan perasaannya demi kamu."
Rangga menghela napas panjang, karena baru kali ini ada istri kedua yang membela mati-matian istri pertama, bahkan pada malam pertamanya Dita malah berdebat dengan Rangga.
"Maaf," ucap Dita dengan lirih, karena Dita menyadari kesalahannya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, seharusnya aku yang meminta maaf karena aku hanya manusia biasa yang pasti tidak akan bisa bersikap adil. Seandainya Kasih meminta cerai, aku pasti akan melepasnya, karena Kasih juga berhak bahagia_" perkataan Rangga terputus karena Dita menempelkan telunjuknya pada bibir Rangga.
Jantung keduanya berdetak kencang, karena saat ini jarak mereka begitu dekat, bahkan embusan nafas pada keduanya terasa menyapu wajah.
Secara perlahan Rangga mendekatkan bibirnya pada bibir Dita, dan mereka berciuman dengan begitu lembut.
Semakin lama ciuman itu semakin dalam, dan keduanya menginginkan lebih dari sekedar ciuman, karena kini hasrat pada keduanya sudah mulai bangkit.
Rangga dan Dita saling meraba dan membelai, hingga keduanya sampai lupa daratan dan atribut yang menempel pada tubuh mereka kini sudah hilang entah kemana.
__ADS_1
Saat ini keduanya sudah sama-sama polos, dan Rangga langsung menciumi titik-titik sensitif tubuh perempuan yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.
Dita terlihat ketakutan, ketika Rangga hendak memberikannya nafkah batin untuk yang pertama kalinya.
"Kenapa wajah kamu terlihat pucat sayang?" tanya Rangga.
"A_aku takut, katanya itu akan terasa sangat sakit kalau untuk pertama kali," jawab Dita dengan gugup.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, kamu bisa mencakar punggungku untuk mengalihkan rasa sakitnya," ujar Rangga, kemudian kembali mencium titik-titik sensitif pada tubuh Dita, sehingga terdengar rengekan manja dari Dita, dan akhirnya Rangga dan Dita melewati malam pertama yang indah, meski pun pada awalnya Dita sampai menangis kesakitan.
"Makasih sayang, kamu sudah memberikannya untukku," ucap Rangga dengan membawa Dita ke dalam pelukannya.
Rangga merasakan sensasi yang berbeda ketika memberikan nafkah batin kepada Dita, karena Rangga melakukannya secara sadar dan penuh dengan perasaan cinta, berbeda ketika Rangga melakukannya dengan Kasih, karena Rangga melakukannya dalam keadaan mabuk, sehingga Rangga tidak pernah mengingatnya.
Ternyata semuanya terasa berbeda ketika kita melakukannya dengan perempuan yang kita cintai. Maaf Kasih, selama ini aku sudah menyakiti kamu, tapi aku tidak bisa menyentuh kamu dalam keadaan sadar, karena dalam mata dan hatiku hanya ada Dita, ucap Rangga dalam hati.
......................
Saat ini Kasih termenung dengan menatap bintang di langit, Kasih terus saja memikirkan Rangga dan Dita yang saat ini pasti sedang melakukan malam pertama, sehingga airmata Kasih tiba-tiba menetes pada pipinya.
"Kasih, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ahmad dengan duduk di samping Kasih.
"Om, kenapa cinta harus sesakit ini? ternyata Kasih tidak sekuat itu. Hanya dengan membayangkan orang yang kita cintai menghabiskan malam dengan perempuan lain pun, rasanya Kasih sudah tidak sanggup."
"Bukannya itu keinginan Kasih sendiri? sekarang menyesal pun sudah tidak ada gunanya, karena semuanya sudah terjadi. Dari awal Om sudah bilang kalau Kasih harus memikirkannya baik-baik, jangan sampai Kasih menyesal."
"Astagfirullah, kenapa Kasih menjadi egois seperti ini? Kasih seharusnya bahagia karena akhirnya Mas Rangga dan Dita bisa bersatu. Dita adalah saudara Kasih, dan Kasih harus bahagia kalau Dita bahagia."
Ahmad memeluk tubuh Kasih dengan erat.
__ADS_1
"Kasih tidak perlu berpura-pura kuat. Menangislah jika semua itu bisa membuat hati Kasih merasa lebih tenang," ucap Ahmad, sampai akhirnya Kasih menumpahkan tangisannya dalam pelukan Ahmad.