Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 8 ( Menjaga jodoh orang )


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Rangga dan Kasih menghampiri Cinta, Dika dan Dita yang saat ini masih mengobrol di dapur, dan seketika Dita yang tadinya ceria langsung diam ketika melihat tangan Rangga yang berpegangan dengan Kasih.


Kenapa cinta sesakit ini? ternyata sulit sekali melupakan orang yang sudah tiga tahun mengisi hari-hari kita, dan sekarang aku harus menerima kenyataan jika selama ini aku hanya menjaga jodoh orang, bahkan tidak lain menjaga jodoh saudaraku sendiri, ucap Dita dalam hati.


Dita hendak melangkahkan kaki untuk kembali ke dalam kamarnya, tapi Dika mencegahnya.


"Kita tidak bisa terus-terusan menghindari masalah, hadapi kenyataan yang ada di depan mata kita, meski pun sesakit apa pun itu, tapi yakinlah semakin lama semua itu akan membuat kita menjadi terbiasa," bisik Dika pada telinga Dita.


"Kasih, katanya tadi Rangga sakit? bagaimana sekarang keadaannya?" tanya Bunda Cinta yang mencoba mencairkan suasana.


"Alhamdulillah Rangga sudah lebih baik Bunda."


"Alhamdulillah kalau seperti itu, kenapa Kasih sudah membawa tas?"


"Kami mau pamit pulang Bunda," jawab Kasih.


"Sebaiknya kalian makan siang dulu, Bunda sudah masak yang banyak untuk kita makan siang, Ayah sama Iqbal juga sebentar lagi pasti pulang," ujar Cinta.


"Kalau Kasih gimana Mas Rangga saja Bunda."


"Ya sudah kalau begitu kita tunggu Ayah sama Iqbal pulang saja, gak enak kalau kita tidak pamit kepada mereka sebelum pulang," ujar Rangga yang sebenarnya tidak ingin pulang, karena Rangga ingin terus berada di dekat Dita, dan saat ini Rangga terus saja menatap lekat wajah Dita yang tengah bersandar pada bahu Dika, dan semua itu membuat Rangga merasa cemburu, karena Rangga mengetahui jika Dita dan Kasih hanyalah Anak angkat di keluarga Pratama, apalagi sampai saat ini Dika belum menikah, karena Rangga tidak tau jika sebenarnya Dika adalah Ayah angkat Dita, bahkan Dika menyayangi Dita seperti Anak kandungnya sendiri.


"Dita, bukannya kamu dan Om Dika itu bukan muhrim?" tanya Rangga yang sudah tidak bisa menahan rasa cemburu pada hatinya.


Semuanya kini menatap Rangga yang terlihat cemberut, dan beberapa saat kemudian Kasih angkat suara.


"Sepertinya Mas Rangga cemburu kepada Dita dan Om Dika," goda Kasih dengan tersenyum kecut, dan Rangga hanya diam tanpa berbicara apa-apa lagi karena memang seperti itu kenyataannya.


Dita yang merasa kesal mendengar perkataan Rangga langsung saja angkat suara.


"Kalau bicara sebaiknya dipikir dulu, jika kamu tidak tau apa-apa tentang hubungan kami jangan asal bicara. Ayahku sayang, sebaiknya kita pergi dari sini, Dita mau ngajak Ayah makan di luar, kebetulan tadi Dokter Assyifa ngajak ketemu," ujar Dita dengan menarik tangan Dika ke luar dari kediaman Pratama, dan Rangga diam mematung mendengar Dita menyebut Dika dengan sebutan Ayah.

__ADS_1


"Cinta, Kakak pergi dulu ya. Kasih, Rangga, Om duluan," ujar Dika dengan setengah berteriak, karena Dita terus menarik tangan Dika.


"Mas, baik-baik saja kan?" tanya Kasih.


"Kenapa Dita memanggil Om Dika dengan sebutan Ayah?" tanya Rangga yang masih merasa terkejut sekaligus heran.


"Karena sebenarnya Om Dika adalah Ayah angkat Dita, sedangkan Ayah Ilham adalah Ayah angkat Kasih, meski pun kadang Dita memanggil Om Dika dengan sebutan Om jika di hadapan oranglain, supaya Om Dika tidak merasa malu karena status Om Dika masih belum menikah," jawab Kasih.


Apa yang sudah aku lakukan? Dita pasti semakin merasa kesal terhadapku. Bisa-bisanya aku terus menyakiti hati Dita. Maafkan aku Dita, aku tidak berniat menyakiti kamu, dan seharusnya aku bisa menahan rasa cemburuku, ucap Rangga dalam hati.


......................


Dika melajukan mobilnya menuju satu tempat yang sepi, karena Dita terus saja menangis setelah mereka berada di dalam mobil.


"Sayang, sebaiknya sekarang kita ke luar," ujar Dika dengan membukakan pintu mobil untuk Dita.


"Kenapa kita turun di tepi jurang Yah? Ayah tidak berniat untuk mengajak Dita bunuh diri secara masal kan?" celetuk Dita, sehingga Dika menyentil dahinya.


"Memangnya kamu pikir Ayah tidak punya iman?"


"Sekarang Dita teriak, lepaskan semua beban yang ada dalam dada Dita, semoga dengan begitu perasaan Dita menjadi lebih baik," ujar Dika.


"Apa Ayah pernah melakukannya?" tanya Dita.


"Tentu saja, dan tempat ini adalah tempat favorit Ayah, karena di sini Ayah bisa berteriak sekencang mungkin tanpa ada oranglain yang merasa terganggu."


Dita merasa ragu, tapi tiba-tiba Dika berteriak lebih dulu.


"Cinta, aku selalu mencintaimu, kenapa kamu harus terlahir sebagai Adik kembarku," teriak Dika.


Dita menatap sedih wajah Dika yang terlihat meneteskan airmata, dan akhirnya Dita mengikuti Dika mencoba melepaskan beban dalam dadanya dengan berteriak sekuat yang dia bisa.

__ADS_1


"Rangga, aku membencimu, kenapa kamu mengkhianati cinta kita? tapi aku akan selalu berdo'a, Semoga kamu selalu bahagia bersama Kasih," teriak Dita dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.


Setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, Dita menatap Dika yang saat ini tersenyum di sampingnya.


"Bagaimana sekarang? apa sudah merasa lebih baik?" tanya Dika.


"Terimakasih Yah, Ayah memang yang terbaik," ucap Dita dengan memeluk tubuh Dika.


"Semua akan Ayah lakukan demi kebahagiaan kamu Nak," ucap Dika dengan mengusap lembut kepala Dita.


......................


Saat ini Ilham dan Iqbal sudah pulang ke kediaman Pratama, dan Cinta mengajak Ilham dan Iqbal untuk makan siang bersama Kasih dan Rangga sebelum mereka pulang.


"Sayang, kemana Dika sama Dita?" tanya Ayah Ilham kepada Bunda Cinta.


"Mereka makan siang di luar sama Dokter Asyifa Yah, sepertinya Dita berniat untuk menjodohkan Kak Dika dengan Dokter Asyifa, begitu juga dengan Kak Dika yang akan menjodohkan Dita dengan lelaki pilihannya," jawab Bunda Cinta.


Rangga yang mendengar Dita akan dijodohkan merasa terkejut, bahkan Rangga langsung tersedak makanan.


"Mas, kalau makan pelan-pelan," ujar Kasih dengan menepuk tengkuk leher Rangga serta memberikannya minum.


"Makasih," ucap Rangga dengan mencoba menetralkan debaran dalam dadanya.


Tidak, aku tidak rela jika sampai Dita menikah dengan laki-laki lain, dan aku tidak akan sanggup melihat Dita hidup bahagia dengan lelaki lain selain aku, ucap Rangga, karena perasaan cinta Rangga kepada Dita, sudah membuat Rangga egois serta ingin selalu memilikinya.


"Ayah bahagia mendengar Kak Dika akan dijodohkan oleh Dita dengan temannya, jadi nanti Ayah tidak akan ada saingan lagi," bisik Ilham pada telinga Cinta, dan Cinta memutar malas bola matanya mendengar perkataan Suaminya tersebut.


"Sepertinya Ayah bahagia sekali mendengar Om Dika akan segera memiliki pasangan hidup," ujar Kasih.


"Tentu saja Nak, Ayah kasihan kepada Om kamu karena belum merasakan Surga dunia," ujar Ilham dengan terkekeh, dan Cinta langsung mencubit pinggang Ilham.

__ADS_1


"Memangnya seperti apa Surga dunia itu? Iqbal juga ingin segera merasakannya," celetuk Iqbal.


"Makanya Ayah jangan bicara sembarangan kalau di depan Anak kecil," bisik Cinta pada telinga Ilham yang saat ini menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena Ilham bingung harus menjawab pertanyaan Iqbal seperti apa.


__ADS_2