Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 20 ( Salahkah aku mencintaimu )


__ADS_3

Rangga menjatuhkan tubuhnya di atas lantai mendengar perkataan Dika, karena dia sadar betul jika selama ini dirinya sudah menyakiti hati Dita.


"Dita, salahkah aku mencintaimu?" teriak Rangga dengan menangis, dan rasanya Dita ingin sekali memeluk tubuh Rangga yang terlihat rapuh.


"Rangga, harusnya kamu sadar jika kamu sudah memiliki Kasih, dan kamu tidak boleh seperti ini," ujar Dika dengan membantu Rangga untuk berdiri, sedangkan Dita hanya diam mematung karena Dita sadar jika sekarang hubungannya dengan Rangga telah berakhir.


"Om, apa yang harus Rangga lakukan? Rangga sudah berusaha untuk mencintai Kasih, tapi ternyata semua itu tidak bisa Rangga lakukan, karena semakin hari cinta Rangga untuk Dita semakin besar."


"Om mengerti apa yang kamu rasakan, karena Om juga pernah berada di posisi kamu. Sekarang kamu harus berusaha untuk ikhlas melepas Dita, bukankah cinta tidak harus saling memiliki?"


Sebaiknya aku segera menikahkan Dita dengan Rizki, supaya Rangga tidak mengganggu Dita lagi, ucap Dika dalam hati.


"Sekarang sebaiknya kamu pulang, Kasih saat ini sedang membutuhkan kamu," ucap Dika, tapi tiba-tiba Rangga pingsan karena suhu tubuhnya panas.


"Rangga, bangun Rangga," teriak Dita dengan menangis memeluk tubuh Rangga, karena Dita tidak bisa menahan semuanya lagi.


Ternyata cinta Dita kepada Rangga begitu besar, sampai-sampai Dita lupa jika saat ini Rangga sudah menikah, ucap Rizki dalam hati, padahal Rizki berharap Dita akan mengobati lukanya.


Dika meminta tolong kepada Rizki untuk membantu membawa Rangga ke dalam kamar Kasih, karena melihat kondisi Rangga saat ini, Rangga tidak mungkin pulang ke rumahnya.


Setelah Rangga dibaringkan di atas kasur, Dita langsung mengobati wajah Rangga yang terlihat memar serta mengompres dahinya yang panas, sedangkan Rizki memilih untuk pulang karena Dita sama sekali tidak melihat keberadaannya.


"Rizki, maafin Dita ya, saat ini Dita masih belum bisa melupakan Rangga, tapi kamu tenang saja, Om pasti akan membantu kamu supaya mendapatkan cinta Dita," ujar Dika saat mengantar Rizki ke luar dari kediaman Pratama.


"Jadi Om mendukung Rizki dan Dita?" tanya Rizki dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja, bagaimanapun juga saat ini Rangga sudah menikah dengan Kasih, jadi Om tidak mungkin menyetujui hubungan Dita dan Rangga."


"Makasih banyak ya Om, Rizki pasti akan terus berusaha mendapatkan cinta Dita. Kalau begitu Rizki pulang dulu," ujar Rizki dengan mencium punggung tangan Dika, kemudian mengucap Salam sebelum pulang.


Dika memutuskan untuk menelpon Bunda Cinta dan menceritakan tentang Rangga dan Rizki yang berkelahi, Dika juga menceritakan tentang Rangga yang saat ini dalam kondisi pingsan, tapi Dika meminta supaya Bunda Cinta menutupi semuanya dari Kasih supaya Kasih tidak merasa khawatir.


"Bunda, siapa yang telpon?" tanya Kasih.


"Om Dika barusan telpon, katanya Bunda sama Ayah lebih baik menginap di sini saja supaya bisa menemani Kasih."

__ADS_1


"Makasih ya Bunda, sepertinya Mas Rangga bakalan lembur kerja, makanya sampai sekarang Mas Rangga belum pulang," ujar Kasih yang sebelumnya mengatakan jika Rangga sedang lembur ketika Ayah Ilham tidak melihat keberadaannya, padahal Kasih sendiri tidak mengetahui keberadaan Rangga.


Maafin Kasih karena telah berbohong kepada Ayah dan Bunda, padahal Kasih sendiri tidak mengetahui keberadaan Mas Rangga, ucap Kasih dalam hati.


Kasihan sekali Kasih, saat ini Kasih sedang sakit, tapi Rangga masih saja mengejar-ngejar Dita, ucap Bunda Cinta dalam hati.


Ayah Ilham dan Bunda Cinta menghampiri kedua orangtua Rangga yang baru saja pulang berbelanja.


"Jeng Cinta, kenapa mau datang ke sini gak ngasih kabar dulu? saya jadi gak enak malah pergi berbelanja, kalau tau mau ada tamu, kami tidak mungkin pergi ke luar," ujar Mama Wita ketika melakukan cipika cipiki dengan Bunda Cinta.


"Gak apa-apa kok Jeng, kami juga ke sini mendadak karena mendengar Kasih sakit."


"Memangnya Kasih sakit apa Ma? kenapa Mama tadi tidak mengatakan apa pun sama Papa?" tanya Papa Diki kepada Mama Wita.


"Mama juga gak tau Pa, Mama belum sempat bertanya, tadi Kasih kan pingsan," ujar Mama Wita mencoba mencari alasan, karena tidak enak kepada Ayah Ilham dan Bunda Cinta jika dirinya terlihat tidak peduli sama sekali kepada Kasih.


Kasihan sekali nasib Kasih, sepertinya Mertua Kasih tidak memperdulikan Kasih, bahkan mereka tidak tau kalau Anakku harus melakukan operasi pengangkatan rahim, ucap Ayah Ilham dalam hati.


"Maaf Tuan Ilham, memangnya Kasih sakit apa?" tanya Papa Diki.


"Innalillahi..Maaf sekali Tuan, saya sebagai Mertua Kasih tidak mengetahui tentang semua itu, apalagi belakangan ini saya sibuk bekerja," ujar Papa Diki.


"Tidak apa-apa Tuan, saya mengerti tentang kesibukan Anda, bahkan istri Anda yang berada di rumah saja tidak mengetahui tentang penyakit Anak saya," sindir Ayah Ilham, sehingga membuat Mama Wita tersenyum malu, dan Bunda Cinta menggenggam erat tangan Ayah Ilham supaya tidak emosi.


"Pa, Kasih kan tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Argadana, jadi Mama sudah mencari calon istri untuk Rangga, supaya Rangga bisa memiliki keturunan," ujar Mama Wita dengan wajah tanpa dosa.


Ayah Ilham yang mendengar perkataan Mama Wita langsung saja menggebrak meja sehingga membuat semuanya terlonjak kaget.


"Bisa-bisanya Anda mempunyai pemikiran seperti itu pada saat Anak saya sedang melawan penyakitnya. Dimana hati nurani Anda Nyonya? padahal Anda juga seorang perempuan, bagaimana kalau semua itu terjadi kepada Anda?" teriak Ilham karena tidak terima dengan usul Mama Wita.


"Yah, istighfar, kita bisa membicarakan semuanya baik-baik," ujar Bunda Cinta mencoba untuk menenangkan Ayah Ilham.


Papa Diki meminta maaf kepada kedua orangtua Kasih, karena Papa Diki juga merasa tidak enak dengan usul istrinya.


"Tuan, Nyonya, atas nama istri saya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya."

__ADS_1


"Pa, semua itu Mama lakukan demi keluarga kita juga Pa, Mama tidak mau kalau keluarga Argadana harus putus sampai Rangga. Kita juga harus mempunyai penerus Pa."


"Papa mengerti perasaan Mama, tapi tidak sekarang Ma, saat ini Kasih sedang sakit, dan kita sebagai orangtua seharusnya memberikan dukungan kepada Kasih untuk kesembuhannya."


Beberapa saat kemudian, Kasih yang mendengar keributan ke luar dari dalam kamarnya untuk menghampiri orangtua serta Mertuanya, dan Bunda Cinta yang melihat Kasih berjalan sempoyongan langsung saja menghampiri Kasih dan membantunya berjalan.


"Sayang, kenapa Kasih ke luar?" tanya Bunda Cinta.


Kasih yang melihat Ilham marah langsung saja menghampirinya.


"Yah, Ayah kenapa?"


"Nak, Ayah tidak rela karena Ibu Mertua kamu sudah mempunyai pemikiran mencarikan istri untuk Rangga."


"Yah, Kasih setuju dengan usul Mama, sekarang Kasih sudah tidak bisa memberikan keturunan untuk Mas Rangga, jadi Kasih ikhlas jika Mas Rangga ingin melakukan poligami, asalkan perempuan itu adalah perempuan yang Mas Rangga cintai, yaitu Dita," ujar Kasih, sehingga membuat Ayah Ilham semakin terkejut.


"Ja_jadi Kasih sudah mengetahui tentang hubungan Dita dan Rangga?" tanya Ayah Ilham.


"Iya Yah, seandainya dari dulu Kasih tau kalau Mas Rangga adalah kekasih Dita, Kasih tidak mungkin mau menikah dengan Mas Rangga, tapi sekarang semuanya sudah terlambat, dan mungkin penyakit yang Kasih alami merupakan takdir supaya Kasih bisa mengembalikan Mas Rangga kepada perempuan yang dicintainya."


"Nak, tapi semua itu tidak adil untuk Kasih, dan Dita tidak akan mungkin mau menikah dengan Rangga karena Dita pasti tidak mau menyakiti Kasih."


"Kalau memang Dita tidak mau menikah dengan Rangga, saya sudah punya calon yang lain kok untuk Rangga," celetuk Mama Wita.


"Ma, Mama jangan keterlaluan. Sekarang bukan saat yang tepat untuk kita membicarakan semua ini," ujar Papa Diki yang semakin merasa tidak enak kepada Ayah Ilham dan Bunda Cinta.


"Pa, Kasih sendiri sudah ikhlas Rangga melakukan poligami, seharusnya kita mendukung keputusan Kasih, lagian mereka sendiri kan yang menjalani rumah tangga, bukan kita. Seharusnya kita bahagia karena Kasih sadar diri," ujar Mama Wita, sehingga membuat Ayah Ilham semakin merasa geram.


"Kasih, sekarang juga kamu ikut kami pulang. Ayah tidak terima dengan sikap Ibu Mertua kamu yang sudah berbicara seenaknya."


"Yah, tapi Kasih tidak bisa meninggalkan rumah tanpa ijin dari Mas Rangga."


"Nanti Ayah yang akan meminta ijin kepada Rangga. Saat ini kamu butuh ketenangan, kalau Kasih terus tinggal di sini, yang ada Kasih akan semakin tertekan."


Bunda Cinta merasa bingung karena saat ini Rangga ada di rumahnya.

__ADS_1


Bagaimana ini, kalau Ayah mengajak Kasih pulang ke rumah, berarti Kasih akan tau kalau Rangga ada di sana, dan Kasih pasti akan merasa sakit hati jika mengetahui Rangga sampai berkelahi memperebutkan Dita, ucap Bunda Cinta dalam hati.


__ADS_2