
Hari ini Kasih memaksa ingin pulang, dan Dita terpaksa mengijinkan Kasih. Ahmad dan Dita membantu Kasih membereskan barang-barangnya, sedangkan Rangga akhir-akhir ini lebih memilih untuk menyibukkan diri di Kantor karena Rangga tidak mau melihat Dita dan Rizki yang selalu membuatnya cemburu.
Rizki masuk ke dalam kamar perawatan Kasih sebelum memulai prakteknya.
"Sayang, Kasih jadi pulang sekarang?" tanya Rizki.
"Jadi Ki, soalnya Kasih katanya gak betah di Rumah Sakit."
"Maaf ya aku gak bisa ngantar kalian, soalnya aku harus gantiin kamu praktek."
"Gak apa-apa Ki, makasih banyak ya, kamu udah bersedia gantiin aku."
"Aku kan calon Suami kamu, jadi kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih. Kalau begitu hati-hati ya, semoga Kasih cepat sembuh," ujar Rizki, kemudian melangkahkan kaki menuju ruang praktek.
Selama empat hari Kasih dirawat, Ahmad yang selalu setia mendampingi Kasih, bahkan Ahmad merawat Kasih dengan telaten, sehingga membuat hari-hari Kasih selalu bahagia.
"Om, kapan kembali ke Makasar?" tanya Kasih.
"Mungkin setelah Dita lamaran," jawab Ahmad.
"Kenapa cuma sebentar? Kasih kan masih kangen sama Om."
"Om kan punya tugas yang tidak bisa ditinggalkan, jadi mau tidak mau Om harus kembali ke Makasar."
"Kasih ikut ya," rengek Kasih.
"Kalau Kasih mau ikut, Kasih harus jadi istri Om Ahmad dulu."
"Kalau begitu sekarang saja kita nikah," canda Kasih dengan tertawa.
Dita dan Ahmad tersenyum kecut mendengar perkataan Kasih, karena Ahmad mengatakannya dari lubuk hati yang paling dalam, sedangkan Kasih hanya menganggap Ahmad hanya bercanda saja.
Setelah selesai beres-beres, Ahmad mengajak pulang Dita dan Kasih menuju kediaman Pratama.
"Beres-beresnya sudah selesai, sekarang kita pulang, Om sudah kangen sekali masakan Kak Cinta," ujar Ahmad dengan hendak membantu Kasih duduk di kursi roda.
"Om, Kasih jalan saja ya."
"Sayang, Kasih masih belum sehat betul."
"Tapi Kasih tidak mau memakai kursi roda."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu sekarang Om gendong Kasih," ujar Ahmad dengan membungkukkan badannya, dan mata Kasih langsung berbinar karena Kasih merindukan masa kecilnya yang sering digendong oleh ahmad.
Kasih naik ke atas punggung Ahmad, dan Dita menggelengkan kepalanya melihat Kasih yang kelewat manja kepada Ahmad.
"Om sih terlalu manjain Kasih, Kasih jadi ngelunjak kan," ujar Dita.
"Bilang aja kamu iri," celetuk Kasih dengan terus mengembangkan senyuman.
"Ketika Dita membuka pintu kamar perawatan Kasih, Mertua kasih ternyata datang, dan Mama Wita langsung saja melontarkan sindiran ketika melihat Kasih digendong oleh Ahmad.
"Pantas saja kamu betah di Rumah Sakit, ternyata kamu punya selingkuhan," sindir Mama Wita.
"Ma, jangan memperkeruh suasana," ujar Papa Diki.
"Pa, lihat saja kelakuan Menantu yang selama ini selalu Papa bela, di belakang Anak kita Kasih sudah berselingkuh."
Ahmad yang mendengar perkataan Mama Wita, merasa tidak terima, sehingga Ahmad langsung saja angkat suara.
"Maaf Nyonya, jaga bicara Anda. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Jika Anda tidak tahu apa-apa jangan asal bicara. Apa Anda tau siapa saya?" tanya Ahmad.
"Kamu tidak penting untukku, jadi aku tidak mau tau siapa kamu."
"Saya adalah Om nya Kasih, dan saya hanya membantu Kasih saja, padahal seharusnya ini semua adalah tugas Anak Anda."
Mama Wita yang melihat Dita di belakang Kasih dan Ahmad, langsung saja menghampirinya.
"Calon Menantu Mama bagaimana kabarnya, sehat kan?" tanya Mama Wita.
"Alhamdulillah Tante," jawab Dita yang merasa tidak enak kepada Kasih.
"Dita, kapan kamu dan Rangga akan menikah? kami sudah mengharapkan Cucu dari kalian."
Dita hanya terdiam ketika mendengar pertanyaan Mama Wita, karena Dita merasa tidak akan mungkin lagi menikah dengan Rangga, karena saat ini pernikahannya dengan Rizki sudah di depan mata.
"Seorang perempuan bukanlah alat pencetak Anak, atau pun sapi perah, jika memang Menantu Anda tidak bisa memberikan keturunan, tidak seharusnya Anda menyakiti hatinya, karena Anda sendiri adalah seorang perempuan. Seharusnya Anda berpikir, bagaimana jika Rangga yang mandul, Anda juga pasti tidak akan rela jika keluarga istrinya menghina Anak Anda," ujar Ahmad, kemudian menggendong Kasih menuju mobil tanpa menghiraukan Mama Wita yang terlihat kesal.
"Tante, Om, kalau begitu Dita duluan," ujar Dita menyusul Kasih dan Ahmad.
Mama Wita yang merasa kesal akhirnya mengajak Papa Diki pulang.
......................
__ADS_1
Hari ini akan di adakan acara pertunangan Dita dan Rizki, semua orang terlihat sibuk mempersiapkan semuanya, tapi Dita mengurung diri di kamar karena merasa sedih dengan pertunangannya.
Rangga diam-diam menyelinap ke kamar Dita, dan hati Rangga terasa sakit melihat Dita menangis.
"Kenapa kamu menangis? bukannya ini yang kamu mau?" tanya Rangga yang tiba-tiba berada di hadapan Dita.
Dita hanya diam karena Dita pikir itu hanya halusinasinya saja.
"Kenapa kamu diam saja? katakan kalau kamu masih mencintaiku?" ujar Rangga.
"Iya, kamu benar, aku memang masih mencintaimu, dan aku tidak bisa melupakan kamu. Sekarang kamu puas sudah membuat aku menjadi seperti ini? Pergi kamu Rangga, kenapa kamu selalu saja ada dalam ingatanku? kenapa aku selalu berhalusinasi melihat kamu dimana-mana?"
Rangga mendekati Dita, kemudian Rangga memeluk tubuh Dita yang masih saja menangis.
"Ini aku Dita, kamu tidak sedang berhalusinasi," ucap Rangga dengan mengelus lembut kepala Dita.
"Kenapa semua ini terasa nyata? apa benar aku tidak sedang berhalusinasi?"
"Tidak sayang, ini benar-benar aku," ucap Rangga yang merasa prihatin melihat keadaan Dita.
"Rangga, kenapa kamu di sini? sekarang kamu pergi sebelum ada orang yang melihatnya, aku tidak mau Kasih sampai sakit hati," ujar Dita yang terlihat panik.
"Dita, lihat aku. Kenapa kamu masih saja memikirkan Kasih? apa kamu tidak memikirkan hatimu sendiri? lihat diri kamu saat ini? kenapa kamu masih berpura-pura kuat?"
Dita akhirnya menumpahkan tangisannya dalam pelukan Rangga.
"Ternyata aku memang tidak sekuat itu Rangga, tapi aku berjanji jika ini adalah untuk yang terakhir kalinya aku menangisi hubungan kita yang harus kandas di tengah jalan."
"Baiklah jika itu keputusan kamu, mulai sekarang kita akan menjadi teman. Mungkin dengan begitu hubungan kita tidak akan pernah putus," ucap Rangga yang ikut menangis juga.
"Terimakasih untuk hari-hari bahagia yang telah kamu berikan. Semoga di kehidupan mendatang kita ditakdirkan hidup bersama," ucap Dita.
Rangga ke luar dari dalam kamar Dita lewat pintu balkon, dan Kasih yang melihatnya dari taman pura-pura tidak melihat Rangga, meski pun hatinya terasa sakit.
"Kasih, kalau kamu mau menangis gak usah ditahan," ujar Ahmad yang saat ini sedang membantu Kasih merangkai bunga, karena Ahmad juga melihat Rangga ke luar dari dalam kamar Dita.
"Airmata Kasih sudah kering Om, dan Kasih akan berusaha untuk selalu ikhlas menerima semuanya."
"Kamu memang perempuan spesial. Kalau begitu Om bakalan Kasih hadiah," ujar Ahmad kemudian melakukan trik sulap dan mengeluarkan coklat kesukaan Kasih, sehingga membuat Kasih kembali tersenyum.
"Terimakasih banyak Om, Om memang paling mengerti Kasih," ucap Kasih dengan memeluk tubuh Ahmad sehingga jantung Ahmad berpacu cepat.
__ADS_1
Lama-lama aku bisa jantungan jika terus berada di dekat Kasih, ucap Ahmad dalam hati.