
Ibu tiri Dokter Asyifa tertawa mendengar perkataan Dika, apalagi saat ini Dika memakai seragam OB.
"Memangnya kamu punya apa ingin menjadikan Syifa sebagai istrimu? Syifa itu harus menikah dengan orang kaya supaya bisa membiayai orangtua dan Adik-adiknya. Sedangkan kamu, lihat saja penampilan kamu di depan cermin, kamu hanya memakai seragam OB, pasti kamu cuma seorang OB kan? bahkan mobil yang kamu bawa juga paling milik majikan kamu," sindir Bu Susi dengan tersenyum mengejek.
"Ibu tidak boleh berkata seperti itu, di mata Tuhan semua manusia sama, yang membedakan hanyalah keimanannya, dan pekerjaan apa pun juga yang penting halal," ujar Dokter Asyifa, sehingga membuat Dika semakin kagum dengan kepribadian yang Dokter Asyifa miliki.
"Syifa, kalau kamu cari Calon Suami itu lihat dulu bibit, bebet dan bobotnya. Kita ini orang miskin, kalau kamu nikah sama orang miskin juga, kapan kita kayanya," teriak Bu Susi.
"Maaf Bu kalau saya sudah ikut campur, tapi sebagai orangtua, tidak seharusnya Anda membebani Syifa."
"Heh, denger ya OB, terserah aku mau memperlakukan Syifa seperti apa, jadi kamu gak perlu ikut campur."
Beberapa saat kemudian, Adik tiri Dokter Asyifa ke luar dari dalam rumah dengan berteriak minta dibuatkan teh.
"Syifa, mana teh nya, kenapa kamu tidak membuatkan teh untukku," teriak Adik tiri Dokter Asyifa dengan menghampiri semuanya di depan rumah.
Dika dan Dita begitu terkejut ketika melihat Adik tiri Dokter Asyifa yang ternyata adalah Mayang, yaitu perempuan yang dijodohkan dengan Rangga.
"Bukannya kamu Mayang?" tanya Dita.
Mayang yang sudah ketahuan kalau dirinya hanyalah orang miskin pura-pura tidak mengenal Dita dan Dika, apalagi selama ini Ibu tiri Dokter Asyifa telah berbohong kepada Mamanya Rangga dengan mengaku-ngaku sebagai orang kaya, sehingga Mayang takut jika kebohongan yang selama ini telah dilakukan oleh dirinya dan juga Ibunya terbongkar.
"Siapa kamu? aku tidak mengenal kamu, mungkin kamu hanya salah orang," ujar Mayang yang terlihat ketakutan.
"Tidak mungkin aku salah orang, kamu perempuan yang dijodohkan dengan Rangga kan?" tanya Dita lagi.
"Rangga siapa, aku tidak mengenalnya," ujar Mayang yang terus saja mengelak.
"Sudah-sudah, sebaiknya kalian pergi dari sini, tapi sebelum itu kamu harus memberikan uang kamu dulu Syifa," ujar Bu Susi.
Dika yang merasa geram dengan perlakuan Ibu tiri Dokter Asyifa, langsung saja memberikan uang sebesar sepuluh juta rupiah dari dalam tas nya kepada Ibu tiri Dokter Asyifa, sehingga membuat Ibu Susi mengembangkan senyuman.
"Gitu dong dari tadi, jadi aku gak perlu repot harus marah-marah dulu," ujar Bu Susi dengan mencium uang yang diberikan oleh Dika.
"Pak Dika, kenapa Bapak memberikan uang yang banyak kepada Ibu?" tanya Dokter Asyifa yang merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Syifa, aku ikhlas memberikannya," ujar Dika.
"Terimakasih banyak Pak, insyaallah setelah saya gajihan, saya pasti akan mencicilnya," ujar Dokter Asyifa.
Bu Susi yang merasa geram kepada Dokter Asyifa, langsung saja memarahinya.
"Heh Anak bodoh, seharusnya kamu bersyukur karena calon Suami kamu sudah memberikan uang kepada Ibu. Jadi, untuk hari ini kamu bisa selamat."
Mayang yang mendengar perkataan Ibunya jika Dika adalah Calon Suami Dokter Asyifa merasa terkejut, karena Mayang tau identitas Dika yang sebenarnya.
"Apa? jadi Tuan Dika adalah Calon Suami Syifa?" tanya Mayang.
Dika bergegas mengajak Dokter Asyifa dan Dita untuk segera berangkat sebelum Mayang buka mulut tentang identitas Dika yang sebenarnya.
"Syifa, Dita, sebaiknya kita berangkat sekarang mumpung masih pagi, kita juga harus sarapan dulu kan," ujar Dika, kemudian mereka bertiga berangkat menuju Rumah Sakit.
Mayang langsung menangis seperti Anak kecil setelah Dika dan yang lainnya pergi, sehingga membuat Bu Susi terlihat bingung.
"Kenapa kamu malah menangis Mayang? harusnya kamu itu bahagia karena si OB sudah memberikan uang sepuluh juta untuk kita, jadi kita bisa shoping," ujar Bu Susi.
"Siapa yang Ibu sebut OB?" tanya Mayang.
"Jadi Ibu tidak tau kalau sebenarnya Calon Suami Syifa adalah Tuan Andhika Pratama?"
"Memangnya Tuan Andhika Pratama itu siapa? apa dia orang penting?" tanya Bu Susi.
"Tuan Andhika Pratama adalah salah satu pengusaha sukses sekaligus orang terkaya di Indonesia? bahkan Syifa bekerja di Rumah Sakit miliknya Bu," ujar Mayang yang merasa iri kepada Dokter Asyifa.
"A_apa? padahal tadi Ibu sudah menghinanya. Ibu harus bagaimana Mayang, pasti Tuan Andhika akan membuat perhitungan kepada Ibu," ujar Bu Susi yang sudah terlihat ketakutan.
"Ibu tenang saja, nanti Mayang akan merebut Tuan Dika dari Syifa, dan Mayang akan menikah dengan orang kaya seperti impian kita, bahkan lebih kaya dari Rangga," ujar Mayang dengan tersenyum licik.
"Bagus Mayang, kamu memang Anak Ibu yang paling pintar. Kita harus membuat rencana untuk mendapatkan Tuan Andhika dengan cara apa pun, atau kita nikahkan saja si Syifa dengan juragan Boim, apalagi hutang kita pada juragan Boim sudah banyak," ujar Bu Susi.
"Iya Bu, kalau si Syifa nikah dengan Juragan Boim, Tuan Dika pasti akan mau menikah dengan Mayang, apalagi Mayang lebih cantik dan lebih seksi," ujar Mayang dengan tersenyum licik.
__ADS_1
Ayah Dokter Syifa yang mendengar rencana licik Bu Susi dan Mayang merasa kasihan terhadap nasib Anaknya.
Kasihan Asyifa, selama ini Asyifa selalu saja hidup menderita. Aku tidak boleh membiarkan Susi dan Mayang berbuat jahat lagi kepada Syifa, ucap Pak Iwan dalam hati.
......................
Sejak masuk ke dalam mobil Dika, Dokter Asyifa terus saja diam karena terlalu malu kepada Dika dan Dita.
"Syifa kamu baik-baik saja kan?" tanya Dika yang melihat Dokter Asyifa mengelap airmata yang terus menetes pada pipinya.
"Saya baik-baik saja Pak, hanya saja saya merasa malu kepada Pak Dika, karena Ibu saya sudah bersikap keterlaluan," jawab Dokter Asyifa.
"Kamu yang sabar ya, kamu jangan terlalu banyak pikiran, aku tidak mau kalau sampai kamu sakit," ujar Dika dengan mengelap airmata yang menetes pada pipi Dokter Asyifa.
"Ekhem, sepertinya Ayah lupa kalau di sini ada Dita," goda Dita yang duduk di kursi belakang.
"Maaf Syifa, aku tidak bermaksud lancang," ujar Dika yang merasa malu karena Dita terus saja menggodanya.
"Yah, kita mau sarapan dimana?" tanya Dita.
"Di depan saja Nak, kebetulan ada warung bubur yang enak, letaknya juga tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit," jawab Dika.
Setelah sampai di depan warung bubur, Dika, Dita dan Dokter Asyifa ke luar dari dalam mobil, dan Dita begitu terkejut karena di sana sudah terlihat Rizki menunggu mereka.
"Yah, ini pasti kerjaan Ayah kan?" bisik Dita pada telinga Dita.
"Itu hukuman karena kamu godain Ayah terus," jawab Dika dengan tersenyum.
Saat berada di rumah Dokter Asyifa, Dika mengirimkan pesan kepada Rizki supaya menunggunya di warung bubur, tentu saja Rizki merasa bahagia karena bisa mendekati Dita, apalagi Rizki sudah mendapatkan dukungan dari Dika.
"Assalamu'alaikum," ucap Dika, Dita dan Dokter asyifa.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rizki dengan tersenyum, dan terus memandangi wajah Dita.
"Ekhem, jangan dipandangi terus Ki, nanti Dita jadi salting," goda Dika, dan Rizki tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Dita, apa kabar?" tanya Rizki.
"Alhamdulillah Ki. Bagaimana dengan kamu? sepertinya wajah kamu masih bengkak. Maaf ya karena semalam aku tidak sempat mengobati kamu," ujar Dita yang sebenarnya merasa tidak enak karena semalam Dita sudah mengacuhkan Rizki.