
Saat ini Ayah Ilham bersikeras untuk membawa Kasih pulang ke kediaman Pratama, meski pun Papa Diki sudah meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh istrinya.
"Sekali lagi atas nama istri saya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya Tuan, dan Nyonya Pratama," ucap Papa Diki.
"Mungkin sebaiknya Kasih tinggal di rumah kami saja, karena di sini keberadaan Anak kami tidak dihargai oleh istri Anda," ujar Ayah Ilham yang masih merasa kesal, dan Papa Diki hanya bisa diam tanpa menjawab perkataan Ayah Ilham, karena selama ini beliau menyadari jika Mama Wita selalu menyakiti perasaan Kasih.
Bunda Cinta hanya bisa pasrah dengan keputusan Ayah Ilham, dan Bunda Cinta tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan kepada Ayah Ilham tentang Rangga dan Rizki yang sudah berkelahi, sehingga sepanjang perjalanan menuju kediaman Pratama, Bunda Cinta terus saja diam.
......................
Saat ini kondisi Rangga masih pingsan, dan Dika menemani Dita menjaga Rangga di kamar Kasih, karena Dika takut akan timbul fitnah jika meninggalkan Dita berduaan dengan Rangga dalam satu kamar, apalagi mereka saling mencintai, dan Dika tidak mau kalau sampai keduanya khilaf.
"Rangga, bangun Rangga, kamu jangan membuat aku khawatir," ucap Dita yang saat ini terus saja menangis.
Dita mengompres dahi Rangga yang masih panas, dan Rangga terus saja mengigau menyebut nama Dita.
"Dita, aku mencintaimu, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu," gumam Rangga.
"Aku di sini Rangga, aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Dita dengan menggenggam erat tangan Rangga.
Dika menghela napas panjang ketika melihat Dita dan Rangga, karena sebenarnya Dika tidak tega memisahkan dua orang yang saling mencintai, tapi bagaimanapun juga mereka tidak akan bisa saling memiliki.
Akhirnya Dita tertidur di kursi samping ranjang Rangga dengan terus memegang erat tangannya, begitu juga dengan Dika yang terlelap di atas sopa.
Beberapa saat kemudian, setibanya di kediaman Pratama, Kasih, Ayah Ilham dan Bunda Cinta masuk ke dalam kamar Kasih untuk mengantar Kasih beristirahat, dan mereka begitu terkejut dengan pemandangan yang saat ini ada di depan mata mereka.
"Dita, Rangga, apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Ayah Ilham yang melihat Dita dan Rangga tidur di atas ranjang yang sama dengan posisi saling berpelukan.
Dika, Dita dan Rangga terbangun ketika mendengar teriakan Ilham, dan mereka bertiga juga terkejut ketika melihat Dita dan Rangga berada dalam ranjang yang sama, padahal seingat Dita dan Dika, Dita duduk di kursi samping ranjang tidur Rangga.
"Kenapa aku bisa tidur sama kamu Rangga?" tanya Dita dengan bergegas turun dari atas ranjang.
"Aku juga tidak tau," jawab Rangga dengan memegang kepalanya yang terasa pusing, apalagi wajahnya masih merasa sakit.
__ADS_1
"Ilham, semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan, tadi Dita hanya merawat Rangga yang sakit," jelas Dika.
"Tapi mereka tidak harus tidur satu ranjang kan?" sindir Ayah Ilham dengan penuh penekanan.
"Dari tadi Dita duduk di kursi samping Rangga, dan aku lihat sendiri kalau Dita tidur di sana. Mungkin saat tidur, Dita tidak sadar pindah ke atas kasur," ujar Dika.
"Terus apa yang Rangga lakukan di sini? padahal jelas-jelas Kasih sedang sakit, tapi Rangga malah meninggalkannya. Apa kamu tau bagaimana sikap Mama kamu terhadap Kasih?"
"Yah, Rangga benar-benar minta maaf atas semuanya, tapi Rangga tidak bisa membohongi perasaan Rangga kepada Dita, karena Rangga sangat mencintai Dita dan tidak bisa melupakannya."
Plak
Tamparan keras mendarat pada pipi Rangga, sehingga membuat wajah Rangga yang sudah babak belur semakin bengkak. Ketika Ilham hendak menampar Rangga lagi, Kasih menghalanginya.
"Kasih, kamu tidak perlu melindungi pengkhianat !!" ujar Ilham
"Istighfar Yah, Ayah tidak boleh terbawa emosi," ujar Bunda Cinta dengan memeluk tubuh Ilham.
"Ayah kecewa sama kamu Rangga, kenapa kamu bersikap egois? kamu juga Dika, kamu jangan terus membela Dita, kalau memang Dita salah ya salah saja tidak usah kamu tutupi kesalahannya. Tega sekali Dita tidur dengan Suami saudaranya sendiri, padahal saat ini Kasih dalam keadaan sakit."
"Kamu juga tidur Dika, jadi kamu tidak tau apa yang sudah Rangga dan Dita lakukan. Kasih, kenapa tadi kamu bilang Rangga lembur di Kantor? apa kamu sengaja menutupi kelakuan bejat Rangga?" tanya Ayah Ilham yang semakin marah.
"Ilham, tega-teganya kamu berbicara seperti itu? aku dan Dita juga baru tidur sebentar saja, dan dari tadi aku menemani mereka berdua, bahkan tadi Rangga dalam keadaan pingsan," ujar Dika.
"Sepertinya mereka tidak bisa menahan perasaan cintanya, sampai-sampai mereka lupa dengan status mereka saat ini," sindir Ayah Ilham dengan tersenyum mengejek.
"Ilham, tutup mulut kamu !! Dita tidak serendah yang kamu pikirkan," teriak Dika yang tidak terima dengan perkataan Ilham.
"Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat, daripada yang kamu katakan, dan seharusnya kamu mengingatkan Anakmu supaya tidak menjadi orang ketiga dalam rumah tangga saudaranya sendiri," ujar Ayah Ilham.
Hati Dita berdenyut sakit, karena perkataan Ayah Ilham seolah menegaskan jika Dita bukanlah Anaknya.
"Apa selama ini Ayah tidak menganggap Dita sebagai Anak Ayah sendiri? Dita baru tau kalau selama ini Ayah hanya mengganggap Kasih saja sebagai Anak Ayah," ujar Dita dengan berlinang air mata, kemudian berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
Apa yang sudah aku lakukan? aku sudah menyakiti hati Dita. Kenapa aku sampai terbawa emosi? seharusnya aku mendengar penjelasan Dita terlebih dahulu, ucap Ayah Ilham yang menyadari kesalahannya.
"Dita sayang, tunggu Nak, maafin Ayah, Ayah tidak bermaksud seperti itu," teriak Ayah Ilham.
"Puas kamu Ilham, tega-teganya kamu menyakiti hati Dita," ujar Dika, kemudian berlari menyusul Dita.
Bunda Cinta sangat mengerti posisi Ayah Ilham saat ini, sehingga Bunda Cinta mencoba menenangkan Ayah Ilham.
"Yah, sebaiknya kita ke kamar dulu, sepertinya Ayah butuh istirahat. Dita pasti baik-baik saja, biar nanti Bunda yang menemuinya."
"Ayah sudah menyakiti hati Dita, Bunda. Saat ini Dita pasti membenci Ayah."
"Tidak Yah, Dita adalah Anak yang baik, Dita pasti mengerti posisi Ayah saat ini. Kasih, Rangga, sebaiknya kalian juga istirahat," ujar Bunda Cinta, kemudian menggandeng Ayah Ilham menuju kamar mereka.
......................
Dika langsung memeluk tubuh Dita yang saat ini terlihat menangis.
"Sayang, Dita jangan sedih ya, Dita masih mempunyai Ayah Dika yang selalu ada untuk Dita."
"Kenapa Ayah Ilham tega berkata seperti itu Yah? apa karena Ayah Ilham lebih menyayangi Kasih dibandingkan dengan Dita?"
"Tidak sayang, Ayah Ilham tidak pernah membedakan kasih sayangnya di antara Kasih atau pun Dita, bahkan kasih sayang Ayah Ilham kepada Dita dan Kasih, sama seperti kepada Iqbal," ujar Bunda Cinta yang baru saja masuk menghampiri Dika dan Dita.
"Tapi kenapa tadi Ayah berbicara seperti itu seakan-akan Ayah tidak menganggap Dita sebagai Anaknya."
"Tadi saat di rumah Mertua Kasih, Ayah Ilham merasa kesal terhadap Ibunya Rangga yang berniat mencari istri baru untuk Rangga, bahkan Bu Wita mengusulkan supaya Dita yang menjadi calon istri Rangga, karena beliau tau kalau kalian berdua saling mencintai. Makanya Ayah Ilham sampai marah dan membawa Kasih pulang ke sini."
"Kenapa Mertua Kasih tega sekali menyakiti hati Kasih? meski pun pada kenyataannya Dita dan Rangga masih saling mencintai, tapi Dita juga tidak akan mungkin menikah dengan Suami Kasih."
"Selama ini Ibu Mertua kasih terlihat tidak peduli terhadap Kasih, bahkan Bu Wita tidak memikirkan perasaan Kasih, makanya Ayah Ilham merasa kasihan terhadap Kasih, terlebih lagi saat kami pulang, Ayah melihat Dita dan Rangga tidur dengan saling berpelukan, makanya Ayah Ilham semakin murka. Dita maafin Ayah Ilham ya, saat ini Ayah Ilham terus saja menyesali perbuatannya terhadap Dita."
"Iya Bunda, Dita sangat mengerti perasaan Ayah, tidak seharusnya Dita juga bersikap egois, dan Dita akan meminta maaf kepada Ayah, karena sudah membuat Ayah salah paham. Bunda percaya kan sama Dita, kalau Dita tidak mungkin melakukan perbuatan serendah itu?"
__ADS_1
"Iya sayang, Bunda sangat percaya kepada Dita. Sebaiknya sekarang Dita istirahat ya," ucap Bunda Cinta dengan memeluk tubuh Dita.