Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 23 ( Calon Suami Syifa )


__ADS_3

Keesokan paginya, Dita dan Dika sudah bersiap untuk berangkat kerja. Mereka memutuskan untuk sarapan di luar karena saat ini suasananya masih panas, dan Dita tidak mau kalau sampai Dika dan Ayah Ilham kembali berselisih paham.


"Sayang, yuk berangkat," ujar Dika yang menghampiri Dita ke kamarnya.


"Yah, kita hari ini naik mobil saja ya supaya bisa menjemput Tante Syifa."


"Memangnya tadi Dita sudah memberikan kabar kepada Syifa kalau kita mau jemput?"


"Udah kok, tadi Dita juga ngajak Tante Syifa sarapan di luar sama kita."


"Kalau nanti Syifa nanya Ayah bawa mobil siapa? Ayah harus jawab apa?"


"Tadi Dita udah bilang kalau Ayah dikasih pentaris mobil sama Tuan Andhika Pratama buat kerja ke Rumah Sakit, jadi Tante Syifa tidak akan banyak tanya," ujar Dita dengan tersenyum.


"Bagus deh kalau begitu, Anak Ayah memang pintar," ujar Dika dengan menggandeng Dita turun dari lantai atas, dan Rangga yang dari tadi melihat interaksi Dita dan Dika dari belakang pintu, selalu merasa cemburu apabila Dita dekat dengan lelaki lain selain dirinya.


Meski pun Om Dika sudah menganggap Dita sebagai Anak kandungnya sendiri, tapi hatiku selalu saja merasa cemburu melihat kedekatan mereka. Mungkin karena Om Dika belum menikah. Semoga saja Om Dika segera menikah, ucap Rangga dalam hati dengan menghela napas panjang.


"Mas Rangga lagi ngapain ngintip di balik pintu?" tanya Kasih.


"Bukan apa-apa, aku hanya merasa aneh saja melihat Om Dika yang selalu bersikap berlebihan kepada Dita," jawab Rangga.


"Jangan bilang Mas Rangga cemburu kepada Om Dika?" goda Kasih dengan tersenyum.


"Sudahlah kita tidak perlu membahas semua itu. Sekarang aku mau pulang dulu ke rumah buat ganti baju sebelum berangkat ke kantor. Nanti siang aku akan mengantar kamu ke Rumah Sakit," ujar Rangga.


"Apa Mas Rangga tidak mau sarapan dulu di sini?"


"Tidak usah, nanti aku sarapan di rumah saja. Lagian gak enak juga sama yang lainnya, pasti aku akan merasa canggung jika bertemu dengan mereka."


"Ya sudah, kalau begitu Mas hati-hati ya," ucap Kasih dengan mencium punggung tangan Rangga, kemudian Rangga mengucap Salam sebelum berangkat.


Kasih menatap nanar kepergian Suaminya, karena sejak mereka berdua rumah tangga, Rangga bahkan hanya beberapa kali saja memberikan nafkah batin kepada Kasih, itu pun dalam keadaan mabuk, dan Rangga selalu menyebut nama Dita saat melakukan semuanya, tapi saat itu Kasih tidak tau kalau Dita yang Rangga cintai adalah saudaranya sendiri.


"Kapan kamu akan melihatku Mas, bahkan aku baru merasakan pelukanmu ketika kamu mengetahui kalau aku sakit, dan aku tau kalau itu bukan rasa cinta, tapi kamu hanya kasihan saja kepadaku. Padahal aku selalu memimpikan kamu mencium keningku ketika kamu akan berangkat kerja. Mungkin aku bodoh karena terlalu mencintaimu dan memilih untuk mempertahankan rumah tangga kita, padahal jelas-jelas aku tau kalau kamu tidak pernah mencintaiku," gumam Kasih dengan menitikkan airmata.


......................

__ADS_1


Saat Rangga tiba di parkiran, Rangga dan Dita saling berpandangan, apalagi semalam Dita terus saja mengkhawatirkan kondisi Rangga.


"Dita, makasih banyak ya, karena semalam kamu sudah merawatku, dan aku minta maaf karena semalam Ayah Ilham jadi salah paham terhadap kita," ucap Rangga, dan Dita hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Dika yang sudah berada di belakang kemudi terdengar berteriak kepada Dita supaya segera masuk ke dalam mobil.


"My Princess, cepat masuk, nanti jalanan keburu macet."


Dita akhirnya masuk ke dalam mobil Dika, dan Rangga terus saja melihat Dita sampai mobil yang Dita tumpangi menghilang dari pandangannya.


"Dita, aku tau kalau semuanya tidak akan mungkin kembali seperti dulu, tapi aku harap kita bisa memulai kembali dari awal," gumam Rangga yang masih mengharapkan cinta Dita.


Rangga akhirnya masuk ke dalam mobil, kemudian melajukan mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya.


Setelah sampai kediaman Argadana, Mama Wita terlihat menunggu kepulangan Rangga di depan teras, dan Mama Wita begitu terkejut ketika melihat wajah Rangga babak belur.


"Rangga, siapa yang sudah berani memukul wajah Anak Mama yang tampan ini? apa yang semua itu adalah Ayah Mertuamu?" ujar Mama Wita dengan mengelus wajah Rangga.


"Bukan Ma, Rangga juga tidak kenapa-napa, jadi Mama tidak perlu khawatir."


"Rangga sayang, Mama tidak rela melihat wajah kamu babak belur seperti ini. Rangga bilang sama Mama, nanti Mama akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani menyentuh Anak Mama."


Papa Diki yang mendengar keributan dari luar rumah mencoba menghampiri asal keributan.


"Kenapa lagi Ma, pagi-pagi sudah ribut?" tanya Papa Diki.


"Papa lihat sendiri wajah Anak kesayangan kita. Rangga sudah di aniaya oleh keluarga Pratama."


"Ma, berapa kali harus Rangga katakan, kalau bukan mereka yang melakukan semua itu."


"Kalau bukan mereka siapa lagi? semalam saja Ayahnya Kasih membawa Kasih pulang karena marah dengan perkataan Mama, jadi pasti dia membalas dendam dengan memukuli kamu. Rangga jujur saja, Mama akan memberikan perhitungan kepada siapa pun yang sudah memukuli Rangga."


"Rangga yang duluan memukul Calon Suami Dita. Mama puas, karena sekarang perempuan yang Rangga cintai akan menikah dengan lelaki lain, fan semua itu gara-gara Mama yang sudah menjodohkan Rangga dengan Kasih," ujar Rangga, kemudian masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan teriakan Mama Wita.


"Rangga tunggu, Mama belum selesai bicara !!" teriak Mama Wita.


"Sudah Ma, biarkan Rangga menenangkan dirinya terlebih dahulu, Rangga pasti syok mendengar Dita akan menikah dengan lelaki lain," ujar Papa Diki.

__ADS_1


......................


Saat ini Dika dan Dita telah sampai di rumah Dokter Asyifa yang terlihat sangat sederhana, bahkan jika dibandingkan dengan kediaman Pratama, hanya sebesar dapurnya saja.


Dokter Asyifa saat ini sedang terlihat menyuapi Adik-adiknya, karena dari pernikahan Ayahnya yang kedua, Dokter Asyifa memiliki enam Adik, begitu juga dari pernikahan Ibunya yang kedua, dan mirisnya kedua orangtua Dokter Asyifa membebankan semua kebutuhan Adik-adiknya kepada Dokter Asyifa, jadi Dokter Asyifa tidak memiliki waktu untuk memikirkan sebuah pernikahan. Jangankan untuk menikah, untuk sekedar berpacaran saja dia tidak pernah.


"Assalamu'alaikum," ucap Dika dan Dita secara bersamaan.


"Wa'alaikumsalam, Pak Dika, Dita, mari masuk," ujar Dokter Asyifa.


"Tidak perlu Syifa, kami di sini saja. Kamu sudah siap kan?" tanya Dika.


"Udah kok, bentar ya, aku ambil tas dulu," ujar Dokter Asyifa dengan melangkahkan kaki ke dalam rumah.


Beberapa saat kemudian, Dokter Asyifa ke luar dengan membawa tas selempang, dan Ibu tirinya yang bernama Susi terdengar berteriak, kemudian menyusul ke luar rumah.


"Syifa, mana uang buat belanja hari ini?" tanya Bi Susi.


"Bu, kemarin kan Syifa udah ngasih buat satu bulan. Syifa juga baru kerja satu hari, jadi belum punya uang lagi," jawab Dokter Asyifa.


"Syifa, kamu lihat Adik-adik kamu yang banyak ini, belum lagi Ayah kamu yang sakit-sakitan. Uang tiga juta mana cukup untuk satu bulan," teriak Bu Susi.


Dokter Asyifa merasa malu kepada Dika dan Dita yang melihat semuanya, tapi saat ini Dokter Asyifa hanya mempunyai uang untuk ongkos ojeg pulang pergi ke Rumah Sakit, kalau dia berikan kepada Ibu tirinya, dia tidak tau harus meminjam uang kepada siapa.


"Bu, saat ini uang Syifa hanya cukup untuk ongkos ojeg pulang pergi kerja, kalau Syifa berikan kepada Ibu, Syifa bekerja harus naik apa?"


"Kamu bisa kan jalan kaki? sini uangnya," ujar Bu Susi dengan menarik tas selempang Dokter Asyifa.


"Bu, jangan seperti ini, Syifa mohon."


Tas Dokter Asyifa sampai robek karena ditarik oleh Ibu tirinya, bahkan semua isinya berserakan di atas lantai.


Dika menatap iba melihat uang logam juga pecahan dua ribuan yang saat ini Dokter Asyifa kumpulkan, sampai akhirnya Dika angkat suara.


"Saya kira Ibu tiri yang kejam hanya ada dalam dongeng, tapi ternyata di kisah nyata pun ada," ucap Dika dengan membantu Dokter Asyifa memunguti barang-barangnya.


"Siapa kamu? berani sekali kamu ikut campur urusan keluarga kami?" tanya Bu Susi dengan nada yang tinggi.

__ADS_1


"Saya adalah calon Suaminya Syifa," jawab Dika sehingga membuat semuanya terkejut.


__ADS_2